
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Putri Ihris tiba di Istana Kerajaan Obeylia dengan di sambut oleh beberapa pelayan wanita dan beberapa menteri. Salam hormat dan pujian sampai di telinga Putri Ihris, dirinya cukup muak dengan sikap penjilat para mentri ini.
Setelah sampai di ruangan singgasana Raja Abran Obey, Putri Ihris berjalan dengan anggun sambil memberikan hormat pada Baginda Raja Abran. Senyuman indah yang di paparkan putri Ihris adalah palsu, pasalnya dirinya sangat membenci Raja Abran.
Ornamen-ornamen naga terukir sangat indah di kursi Baginda Raja, aura ke agungannya mampu membuat orang yang melihatnya tunduk kepadanya. Siapa tidak akan menyangkah Raja Abran masih sangat gagah dan tampan walau usianya sudah tidak muda lagi, kini usia Raja Abran memasuki 45 tahun.
Wajah yang tegas, tatapan mata yang dingin sehingga dapat menusuk ke dalam hati siapa saja yang berani beradu menatap matanya.
"Hamba Putri Ihris Hurian dari Kerajaan Horean memberikan salam hormat, kepada Yang Mulia Raja Abran Obey."terdengar sangat lembut nan merdu suara Putri Ihris, dirinya membungkukkan tubuhnya dengan anggun bak seorang dewi yang turun dari surga. Raja Abran yang menerima hormat Putri Ihris pun berdiri dari singgasananya.
"Hari ini, Putri Ihris dari Kerajaan Horean aku angkat menjadi selir tingkat perak! Istana dingin akan menjadi kediaman dari selir Ihris!" Umuman Raja Abran sontak membuat seisi orang-orang yang berada di sana kaget, mereka kaget dengan perintah dari Raja Abran, pasalnya jika seorang selir tingkat perak dan di tempatkan Istana dingin merupakan titik terendah seorang selir, bagaikan seekor burung yang di patahkan sayapnya!
Mendengar dirinya di buang ke Istana dingin, hati Selir Ihris sangat sakit, tubuhnya gemetaran bahkan air matanya harus ia tahan agar tidak mengalir. Harga dirinya seperti terinjak-injak, mengangkat dirinya menjadi selir sudah cukup mempermalukan Keluarga Kerajaan Horean, apalagi Raja Abran membuang dirinya ke istana dingin yang menjadi ketakutan setiap selir di Istana Obeylia ini.
Tapi, Raja Abran yang masih memberikan muka pada Kerajaan Horean, dia mengadakan pesta penyambutan yang cukup meriah.
Di perjalan menuju ke istana dingin, selir Ihris sempat bertemu dengan beberapa selir. Bukan memberikan salam, dirinya mendapat hinaan dari selir-selir itu.
Marah tapi dirinya tidak bisa sembarangan meluapkannya! Sambil memandangi cermin yang memantulkan bayangan dirinya, selir Ihris meneteskan air matanya.
Pelayan yang sedari tadi menyiapkan perlengkapan selir Ihris tidak berani berkata apa-apa.
Suasana di ruangan perjamuan cukup berisik, terlihat semua pelayan cukup sibuk dengan jamuan kali ini. Pangeran Hans yang di percaya untuk memastikan semuanya sempurna dengan telitinya mengamati setiap kerjaan pelayannya.
Merasa tidak ada yang tertinggal dan kurang, Pangeran Hans pun menuju kediaman Pangeran Lion.
Pangeran Lion yang sedang duduk di meja kerjanya sambil membaca beberapa gulungan kertas, alis matanya sesekali terangkat ke atas seakan tidak percaya dengan apa yang di bacanya.
"Kakak, apa yang kau baca?!" suara tanya Pangeran Hans cukup membuat Pangeran Lion terkejut dan memandangnya dengan sedikit rasa kesal.
"Apa kau tidak ada kerjaan?" tanyanya sambil meletakkan gulungan kertas, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku sudah mengerjakan semua pekerjaan dengan sempurna!"Pangeran Hans cukup geram dengan perkataan kakaknya, sebenarnya kakaknya hanya mengisengi dirinya saja.
"Lakukan seperti apa yang aku jelaskan tadi!"sambil memberikan satu gulungan kertas yang ada di mejanya, mata Pangeran Hans cukup terbalalak saat membacanya.
"Ini..?" Pangeran Hans tidak melanjutkan perkataannya, bahkan dirinya lebih memilih pamit dari kediaman kakaknya.
Malam yang di nantikan pun tiba. Yang Mulia Raja Abran sudah duduk di kursi Rajanya dengan di ikuti oleh kedua Pangerannya yang duduk saling berhadapan.
Perasaan kalut masih menyelimuti hati selir Ihris. Tanpa ragu dirinya berjalan dengan anggun sambil memberikan hormat kepada Raja Abran. Selir Ihris duduk di kursi yang dekat dengan Raja Abran. Tanpa selir Ihris ketahui, sesekali Raja Abran menatap sendu kepadanya.
Dentuman musik mulai menyelimuti suasana indah malam ini, beberapa penari dari Kerajaan Horean juga di pertunjukkan dan diikuti penari penari lainnya sampai seterusnya.
Sedari awal pertunjukkan sampai di penghujung acara Pangeran Lion tidak menikmatinya, rasanya dia ingin cepat-cepat kabur dari tempat acara ini, tapi apalah dayanya. Raja Abran pasti marah kalau dirinya tiba-tiba hilang.
"Pemerah bibir ini sangat cantik!" ucap Calista sambil memakaikan pemerah itu di bibirnya. Dirinya sudah siap dengan dandannya, setelah selesai dirinya memakaikan gelang kaki yang yang terdapat kerincingnya, kini suara kerincing itu mengikuti setiap langkah kakinya.
Tak lupa dirinya memakai penutup wajah yang cukup transparan tanpa menghilangkan ke cantikkannya.
Dengan langkah kaki yang di ikuti suara kerincing Calista berjalan ke luar sambil di ikuti beberapa penari lainnya.
Mata Pangeran Lion langsung tertuju ke arahnya, begitu juga Pangeran Hans.
"Salam Yang Mulia Raja Abran, terimalah tarian kami " ucap Calista sambil membungkukkan badannya diiringi penari lainnya.
Suara musik pun di mainkan lagi, tarian Calista mampu membuat semua orang terbuai dalam tariannya.
"Gadis itu, sepertinya tidak asing!"guman Pangeran Lion sambil terus menatap Calista yang sedang menari.
~Bonus
*Calista Agrey