The Princess

The Princess
PART 1



Di sebuah pohon di atas bukit terlihat seorang gadis tengah berbaring dibawah pohon itu sambil menikmati sinar matahari dengan angin yang berhembus sejuk. Beberapa helai daun berjatuhan menandakan musim gugur sebentar lagi akan tiba, daun-daun berterbangan tertiup oleh angin.


Sesekali dia memejamkan matanya karena silau matahari menembuskan cahaya melewati ranting-ranting pohon itu mengenai wajahnya, tapi tidak membuatnya risih sebaliknya gadis itu sangat menikmati setiap hembusan angin dengan ditambah kicauan burung yang merdu semakin membuat gadis itu betah berlama-lama disana.


Dibawah pohon sakura yang indah, kelopak-kelopak bunga berterbangan kesana kemari sambil mengikuti irama angin berhembus.


Beberapa helai kelopak bunga sakura mendarat di telapak tangan seorang pria yang tampan dengan balutan pakaian bangsawan yang melekat di tubuhnya, yang menandakan dirinya bukan orang biasa. Wajahnya yang begitu tampan dengan tatapan matanya yang setajam elang membuatnya selalu di hormati oleh orang.


Bagaimana dirinya tidak di senggani oleh semua orang, karena dirinya adalah putra mahkota di Kerajaan Obeylia. Pangeran Lion Obey.


Merasa hari semakin gelap gadis itu pun bangkit dari tidurnya sambil meregangkan otot-otot tubuhnya agar tidak kaku.


Mata yang jernih, rambut panjang yang diikat ekor kuda dengan balutan pakaian sederhana semakin mempercantik dirinya.


Tapi balutan pakaian itu bukanlah pakaian wanita melainkan pakain pria, gadis itu sudah menyamar menjadi pria sejak dirinya menginjakkan kakinya di ibukota Kerajaan Obeylia.


"Hormat pada Yang Mulia" ucap Pangeran Lion dan Pangeran Hans bersamaan dengan berlutut hormat di depan Kaisar Agung Yang Mulia Abran Obey ayah dari kedua Pangeran itu.


Sambil menganyunkan tangannya tanda menerima hormat kedua Pangeran.


"Berdirilah,"seru Yang Mulia Raja.


Kedua Pangeran itu berdiri sambil menatap lurus kearah Yang Mulia Raja.


"Aku ingin kalian mengurus pesta perjamuan Putri Ihris Hiran dari Kerajaan Horean!"tegas Raja Abran.


"Baik Yang Mulia," sambil hormat dengan sopan."Yang Mulia kami akan melakukan yang terbaik."ucap Pangeran Lion selaku Pangeran tertua.


PRANG...


Terlihat kedua pelayan wanita itu ketakutan melihat amarah Tuan Putri mereka, sambil membanting semua barang yang ada di kamar itu.


"Aku tidak mau menjadi selir dari Raja jahat itu!!" tangis Putri Ihris Hiran sambil memukulkan kedua tangan ke meja.


Sebenarnya Raja Ahui Hiran tidak ikhlas memberikan Putri kesayangan pada Raja Abran dari Kerajaan Obey untuk di jadikan selir.


Itu adalah kesepakatan perang saat Kedua Kerajaan itu saling merebut kekuasaan, tapi Raja Abran yang memimpin Perang itu memenangkannya, sebagai syarat perdamaian, Raja Abran Obey meminta Putri Ihris Hiran menjadi selirnya.


Tangis pilu yang di keluarkan Putri Ihris membuat kedua pelayannya yang setia itu ikut menangis, mereka sedih dengan nasip Tuan Putri mereka yang akan menjadi selir.


Raja Ahui yang tidak bisa berbuat apa pun hanya bisa dengan tunduk menyerahkan Putri kesayangannya.


Raja Ahui menyalahkan dirinya sendiri karena sudah bertindak gegabah sehinggah membuatnya kehilangan Putrinya.


Putri Ihris dengan mata yang sembab menaiki kereta kuda yang sudah di siapkan oleh Raja Ahui untuk mengantarnya sampai ke Kerajaan Obeylia.


Dengan berat hati Raja Ahui menghembuskan nafasnya yang berat setelah melihat kereta kuda yang di naiki Putri semakin menjauh.


Perkataan Raja Ahui semalam masih mengiang di benak pikiran Putri Ihris.


"Ayah sangat menyanyangimu, Ihris. Tapi, janji adalah janji. Ayah tidak bisa berbuat apapun." dengan tatapan penuh amarah sambil memberikan sebungkus obat."Ambil ini dan berikan pada Raja Abran, buat dia tergila-gila padamu."Putri Ihris masih tidak mempercayai apa yang Raja Ahui katakan pada dirinya*.