The Love You Gave Me

The Love You Gave Me
Devan vs Alula




"Huftt..." alula menghela nafasnya ia mencoba tenang dari gugup nya.


ia meredarkan pandangannya ke sekeliling sudut kamar pribadi Devan. kamar itu nampak gelap dan suram dengan nuansa hitam yang melambangkan kegelapan yang dimiliki oleh Devan. bagi alula kamar itu terlihat sangat menyeramkan.


"menyeramkan seperti pemilik kamar nya" ucap alula yang merinding melihat kamar itu, dengan ajah mengemaskan.



"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!!?" ucap Devan dari belakang.


entah sejak kapan Devan berada di dalam sana, alula mendengar suara itu pun terbelalak ia takut Devan mendengar ucapan nya barusan. ia semakin takut melihat tubuh Devan yang kekar dengan tangan yang menampakkan otot-otot tangan Devan. tubuh alula seketika membeku dan mematung, bibir nya ia tutup dengan tangan mungil nya.



alula melangkah mundur ketika Devan mencoba melangkah mendekati nya, alula terus menerus berjalan mundur dengan tubuh yang mematung tanpa bersuara. ia ketakutan melihat senjata api yang berada di dalam saku celana Devan. jantung nya berdetak dua kali lipat bagaikan lari maraton.


"ja-jangan mendekat aku mohon..." alula menutup rapat-rapat kedua matanya ketika ia sudah tidak bisa berjalan mundur lagi akibat sebuah dinding yang berada di belakang nya.


tangan Devan mengunci tubuh alula, ia himpit tubuh alula dengan tangan dan tubuh kekar nya. Devan menatap wajah alula yang ketakutan dengan mata yang ditutup nya rapat-rapat, perlahan-lahan pandangan Devan turun menatap bibir alula, ia sedikit terpesona dengan bibir mungil itu.


perlahan-lahan alula membuka mata nya, keduanya pun saling bertukar pandang. detak jantung alula tidak karu-karuan, jarak bibir keduanya sangatlah dekat membuat alula semakin tak karuan.


"Ka-kamu mau apa?" tanya alula gelagapan ketakutan.


Sretttttt!!...


Devan menodongkan sebuah lembar kertas kepada alula dengan wajah dinginnya. kertas itu berisi kontrak pernikahan yang harus ditandangani oleh alula. perlahan alula mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...kontrak pernikahan...




perjanjian pertama adalah, tidak mencampuri pribadi masing-masing




perjanjian kedua adalah, bekerja dengan devano mavendra Erlangga di mansion sebagai pelayan pribadi Devan




perjanjian ketiga adalah, mematuhi setiap perintah devano mavendra Erlangga




perjanjian keempat adalah, tidak menuntut apapun pada devano mavendra Erlangga




perjanjian kelima adalah, memenuhi semua permintaan devano mavendra Erlangga tanpa ada penolakan




perjanjian keenam adalah,devano mavendra Erlangga berhak atas segalanya, semua yang akan dilakukan pada Alula queenza arrabelle. tidak boleh menuntut atau penolakan untuk semua Devan lakukan




^^^..........^^^


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti itulah yang tertulis dalam kontrak pernikahan didalam kertas putih tersebut, mata alula nampak melebar ketika membaca seluruh perjanjian itu paling utama perjanjian yang terakhir yang membuat alula merasa tidak setuju. karena semua perjanjian itu merugikan dirinya. tapi ia tidak mungkin protes karena baginya ia sudah sah menjadi seorang istri dan sudah kewajiban nya untuk menghormati suaminya.


"Baiklah...,aku setuju. aku akan mendatangani perjanjian ini, tapi aku minta sesuatu kepada kamu" ucap alula.


"APA?!" Tanya Devan.


"Emm..aku ingin kamu tidak menyentuhku tanpa seizin ku" alula menundukkan kepalanya


"Fine!"


Devan melemparkan pena ke arah alula, dengan sigap alula mengambil pena itu kemudian menandatangani isi kontrak sesuai dengan perintah Devan.


"Ikut aku!! dan bawa barang-barang mu" tegas Devan kepada alula


alula mematuhi perintah Devan dengan senang hati karena ia sudah menandatangani kontrak itu, dan sudah kewajiban nya memenuhi setiap isi perjanjian itu ya walaupun itu akan sangat merugikan dirinya.


"Kemana?..." Tanya alula yang kewalahan karena mengenakan dress wedding dan membawa kopernya sendiri tanpa dibantu oleh Devan.


"Bisakah kamu berjalan pelan-pelan?...aku kesusahan berjalan karena dress yang aku kenakan.." keluh kesah alula yang sedikit kesal karena langkah kaki Devan begitu cepat ia hanya khawatir akan tersesat di mansion seluas dan semegah itu.


mereka berdua berhenti di sebuah kamar yang memang dekat dengan jarak kamar Devan, kamar itu bernuansa white and gray dengan perpaduan warna gold yang terlihat sangat elagant. terlebih lagi percahayaan di ruangan itu tidak gelap seperti kamar Devan yang membuat alula sedikit terpesona dengan keindahan kamar itu.



"Kamar tidur mu!" Ucap Devan kemudian pergi begitu saja tanpa melihat sedikitpun alula.


"Aneh..." alula sedikit tercengang melihat betapa aneh nya Devan.


"Dia menakutkan tetapi terkadang dia juga baik" ucap nya lagi.


alula memasuki kamar tidur itu, ia takjub betapa rapinya kamar itu. terlebih lagi warna cat kamar itu adalah warna kesukaan nya yaitu white dengan pencahayaan yang lumayan mempercantik kamar tidur tersebut.


"Setidaknya tidak menyeramkan seperti kamar sebelumnya..." alula sangat berterima kasih karena dia tidak akan tinggal di kamar tidur yang suram seperti kamar Devan yang tadi.


"Huft...aku akan berganti pakaian, gaun ini sangat berat" Gerutu alula yang kesusahan dengan gaun pengantin nya yang memang sangat berat akibat lapisan permata yang ada dalam gaun itu.



alula mengganti gaun nya dengan gaun sehari-harinya yang selalu ia kenakan pada saat di rumah ayahnya, kemudian ia juga merapikan pakaian nya dan memasukan nya kedalam lemari agar terlihat sangat rapi. bukan hanya itu, ia juga menghapus make up nya, ia lebih nyaman jika ia tidak mengenakan sedikit pun riasan wajah.



"Hari ini sangatlah melelahkan..." Alula membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. rasanya tubuh nya sangat remuk hari ini.


Alula menatap langit-langit atap, yang perlahan-lahan membuat nya tertidur. ia nampak kelelahan wajah nya terlihat sangat lemas. ia tertidur dengan sangat pulas. rasanya sudah lama ia tak tidur setenang ini.


disisi lain Devan tengah terdiam dibawah hujanan air di dalam bathroom, entah kenapa ia membayangkan alula didalam benak nya. ia sedikit aneh, ia sangat jarang tertarik dengan seorang gadis, tapi ketika ia melihat Alula untuk pertama kalinya rasanya seperti ada sebuah ikatan dan daya tarik yang menarik nya untuk masuk kedalam kehidupan alula.



"Mengapa aku membayangkan wajah gadis itu" ucap Devan sembari memukuli dinding dengan tangan nya sendiri.


suara gemericik air memenuhi ruangan tersebut, uap air melekat di balik kaca bathroom. Devan berdiri di bawa aliran air yang membasahi seluruh tubuh nya dengan air yang dingin, rambut nya terlihat sangat basah. ditambah dengan sixpack nya yang terlihat sangat menggoda membuat seluruh wanita akan terpesona jika melihat tubuh Devan yang kekar dan gagah


Bughhh...


Devan memukuli dinding, entah kenapa setiap kali ia memejamkan matanya selalu ada wajah alula didalam benak nya. rasanya aneh ia tidak pernah merasakan hal seperti ini, selama ini ia tidak pernah tertarik dengan satupun wanita. tetapi ketika ia bertemu dengan alula untuk pertama kalinya rasanya ada ikatan dan daya tarik yang membawanya untuk masuk kedalam kehidupan alula.


"Shittttt!!.." Devan menggerutu ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.


continued...