The Loser'S Punch

The Loser'S Punch
Bab 5 : Zian.



Keesokan Harinya di Sekolah, Aku dan Izam semakin akrab, Kami sering melewatkan waktu berdua, itu membuat Kami mengabadikan foto masing masing.


"CEKREK!." Suara kamera itu,Aku menoleh ke Izam, Ia terlihat cengengesan.


"IZAM!, DASAR KAU MENGAMBIL FOTOKU DIAM DIAM?." Ucapku pada Izam sambil mengejarnya


"AHAHAHA SERIUS BANGET BELAJARNYA." Gurau Izam kepadaku


Izam berlari sangat kencang,Kami bahkan berlari hampir nengitari seluruh Sekolah.Setelah itu bel berbunyi,Izam dengan cepat menggunakan jalur pintas ke Kelas kami, melewati Air mancur sekolah kami.


Aku dengan cepat mengejarnya, Izam benar benar sangat cepat sekarang Aku mengerahkan semua kemampuanku untuk mencapai nya, Tak lama setelah itu, Izam berhenti mendadak membuatku menabraknya.


"BRUK!!"


"OI SAKIT LAH SA!." Teriak Izam kepadaku.


"SIAPA SURUH BERHENTI MENDADAK." Jawabku


"Kalian berdua! kenapa masih bermain diluar kelas?, Kembali ke Kelas kalian!." Teriak salah satu guru.


"Baik pak, Kami pergi dulu ke Kelas kami." Jawab Izam sambil berdiri, begitu pun Aku kami bergegas kembali ke Kelas kami.


Sesampai di Kelas beruntung Guru belum datang, Aku dan Izam bergurau saat kembali ke Meja.


"Hei kenapa Kau berhenti mendadak tadi?." Tanyaku pada Izam.


"Karena tikungan tadi berada di dejat kantor Guru,jika belok Aku takut ada Guru, bukankah lebih buruk jika Aku menabrak guru?. Ucap Izam sambil minuman yang Dia bawa.


"Benar juga." Ucapku sambil meminum minuman yang kubawa.


"Jangan lupa nanti sore Kau akan memakai Alat itu." Ucap Izam kepadaku.


"Memangnya Alat ap-" belum sempat Aku bertanya detail Guru Kelasku masuk.


"Selamat pagi Anak-Anak." Sapa guru itu.


"Pagi Pak." Jawab kami serentak.


"Hari ini Kita akan belajar berkelompok, silahkan bentuk satu kelompok berisi anggota tiga Orang." Jelas guru tersebut


"Baik pak." Ucap kami


Anak dikelas kami dengan cepat membuat kelompok mereka, seperti biasa Aku bersama Izam, tinggal satu Orang untuk mengisi Kelompok kami.


"Zian? Kenapa Kau tidak bergabung dengan yang lainnya?." Tanya guru kepada Zian yang melihatnya sendirian.


"Anak Anak itu tidak ingin bersamaku." Ucap Zian ketus.


"Anak Anak adakah kelompok yang masih kurang?." Tanya guru itu.


"Tidak pak." Ucap seluruh murid


"Kami pak!, Masih kurang satu Orang!."Ucapku lantang


"Zian, Silahkan bergabung ke Kelompok Izam dan Aksa." Ucap guru tersebut.


Zian pun perlahan mendekat dan bergabung dengan Kelompok kami.


"Baik Anak-Anak tugas kalian adalah mengamati tempat yang bermanfaat bagi manusia dan mempotret nya, untuk tempat tidak ada batasan mau dimanapun, untuk itu tugas ini akan dikumpulkan pada pertemuan kita selanjutnya."


"Pak, apakah tidak apa apa di Lingkungan sekitar rumah?." Tanya salah satu murid.


"Tentu boleh." Jawab guru tersebut.


"Kalau di Amerika pak?." Celetuk salah satu murid.


Seluruh siwa tertawa dengan celetukan bodoh tersebut termasuk Guru kami.


"Tidak apa apa jika Kau pergi kesana bersama temanmu, Asalkan bawakan oleh oleh untuk Guru ini ya." Jawab Guru tersebut sambil tertawa tipis.


"Baiklah kalian sudah paham bukan Anak-Anak? silahkan kalian berdiskusi, Saya akan keluar." Ucao guru tersebut


"Sudah pak." Ucap kami semua.


"Baik Bapak keluar dulu." Ucap guru tersebut


Setelah itu Murid lain langsung berdiskusi dimana tempat yang Bagus untuk dijadikan projek kali ini.Sedangkan Izam.


"Kenapa Kau mengajaknya?, Bukankah lebih baik kita berdua saja? Dia pernah mengganggu mu loh." Bisik Izam kepadaku.


"Jika kalian tidak menerimaku Aku bisa pergi dari kelompok ini." Ucap Zian menatap kami.


"Tentu pergi-" Hampir Izam membuat Zian pergi.


"Tidak kok, Kami menerimamu." Ucapku pada Zian.


"Diamlah, apa kau tidak kasihan kepadanya? Dia dikucilkan oleh teman teman tahu." Bisikku pada Izam


Izam hanya cemberut lalu menatap Zian.


"Jika tidak keberatan tolong jangan tatap Aku seperti itu, Membuatku risih saja." Ucap Zian kesal ditatap oleh Izam.


"Sudahlah kalian berdua, daripada itu mana tempat yang akan kita teliti?." Tanyaku pada mereka berdua.


"Perpustakaan boleh bukan? itu tempat yang menarik karena sering dikunjungi oleh orang orang." Ucap Izam.


"Perpustakaan sudah pasti diincar banyak orang di Kelas, kenapa tidak memikirkan Tempat yang Anti-Mainstream saja?." Ucap Zian kepada kami.


"Kau tau apa Zian." Ucap Izam melotot padanya.


"Meskipun Aku lebih lemah bukan berarti Aku lebih bodoh." Ucap Zian melotot balik ke Arah Izam


Memang benar, Zian sebenarnya pintar, hanya saja lingkungannya yang membuat kepintarannya tidak terlihat.


"Aku setuju dengan ide Zian, bukankah beda membuat kita keren?." Ucapku pada Izam dan Zian.


"Huh, Aku menyetujuinya karena Aksa, jangan salah paham." Ucap Izam.


"Tidak ada yang ingin meledekmu Izam, Kau terlalu ge-er." Ucap Zian.


"KAU!." Ucao Izam kesal.


"Diamlah Izam, Dan Zian Aku mohon kalian dapat Akrab setidaknya selama tugas ini berlangsung." Ucapku pada mereka berdua.


"Dia terlalu sensi." Ucap Zian santai.


"Huh, Kalau bukan karena Aksa akan kupukuli kau." Ucap Izam kepadanya


"Oh iya Zian, Aku tidak tau kau bisa Taekwondo, darimana kau mempelajarinya." Tanyaku pada Zian.


"Memangnya kenapa?Kau mau belajar?." Ucap Zian kepadaku.


"Tentu saja! Aku sudah berlatih dengan Izam." Ucapku padanya


Zian menatapku.


"Dengan tubuhmu sekarang Kau tidak akan bisa, mungkin beberapa waktu lagi Kau baru bisa mempelajarinya." Ucap Zian.


"Aksa apakah tempat itu bisa kita jadikan bahan penelitian?." Ucap Izam bertanya.


"Tempat itu?." Tanyaku pada Izam.


"Tempat Kita berlatih." Jelas Izam.


"Benar juga, bukankah itu menarik, tidak akan ada yang bisa menyangka bahwa tempat itu bisa digunakan untuk berlatih." Ucapku pada Izam.


"Baiklah kalau begitu nanti sore sekalian Kau berlatih?." Tanya Izam


"Tentu, Zian apakah Kau ada waktu nanti?." Tanyaku pada Zian.


"Ada." Ucap Zian


"Baiklah nanti sore kita bertiga sepulang Sekolah berkumpul di depan Gerbang Sekolah, Setuju?." Tanyaku pada mereka berdua.


"Setuju." Ucap Izam


"Ya." Ucap Zian.


"CEKREK!." Aku memotret Izam yang lengah, Membuat Dia marah dan mengejarku.Sekilas Aku melihat Zian tersenyum kepada Kami berdua,bukan senyum licik, tapi senyum tulus.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah pulang Sekolah kami memutuskan untuk pergi langsung ke tempat rongsok tersebut.Sesampainya disana.


"Lelucon macam apa ini? bagaimana mungkin tempat rongsok bermanfaat bagi manusia?." Ucap Zian kepadaku dan Izam.


"Hei, tempat rongsok ini dapat membentuk tubuhku seperti ini tau." Ucap Izam memamerkan perut dan tangannya yang besar dan sixpack.


"Itu benar, bukankah Orang kenangan hanya memandang tempat rongsok sebagai tempat pembuangan?, padahal jika mau, dari bahan bahan rongsok ini Kita dapat membuat peralatan Gym versi lite." Ucapku panjang lebar.


"Kalau begitu bagaimana cara kita Memotret bukti manfaatnya?." Tanya Zian.


"Nah, Aku sudah memikirkannya." Ucap Izam.


"Ha? bagaimana?." Tanyaku pada Izam, Ia selalu membuatku penasaran.


"Karena ini waktu latihan, kenapa tidak Memotret Aksa yang sedang berlari menggunakan Ban, dan pemberat kaki? bukankah itu menarik?." Ucap Izam dengan idenya yang cermelang.


"Boleh saja, tapi Aku malu dipotret." Ucapku pada Mereka berdua.


"Demi kepentingan bersama, cepat Aksa kau harus dipotret." Ucap Zian.


"Hei kenapa tidak Izam saja, bukankah Ia lebih cocok dengan foto model begini?." Ucapku pada mereka.


"Hei kita mencari hal yang Anti-Mainstream tau, mana bisa Aku yabg dipotret, bukankah dengan Kau yang dipotret kita dapat menaruh caption 'Seorang Anak yang berusaha mencapai tubuh impiannya.' begitu?." Ucap Izam.


"Dia benar Aksa, kau harus menjadi Model tugas kita." Ucap Zian.


"Tcih baiklah, Aku akan ganti baju dahulu."


Setelah Aku berganti baju, Aku disuruh untuk lari mengitari tempat rongsok tersebut menggunakan Ban dan pemberat kaki yang diberikan Izam.


"Bagus Aksa, kurang beberapa foto lagi ya g menarik maka tugas kita selesai, teruskan lari mu!." Teriak Izam.


Aku sudah berlari enam kali mengitari tempat ini, mungkin putaran ketujuh ini menjadi yang terakhir.


"CEKREK!" Suara kamera memotret.


"Bagus Aksa, sudah cukup." Ucap Izam menyodorkan minumannya.


"Boleh Aku melihat gambarku?." Ucapku pada mereka.


"Tentu." Kata Zian.


"Wow, Aku tidak tahu kau pandai memotret Zian." Ucapku padanya.


Zian malu malu menolak pujianku, Itu membuat Izam gemas dan memukul punggungnya


"Aw sakit tau." Ucap Zian sambil memegangi punggungnya.


"Hahaha salah sendiri Muka tsundere mu itu terlihat jelek sekali." Ucap Izam tertawa.


Aku tersenyum, mungkin Zian bisa menjadi lebih baik dengan kami.Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya menjadi temanku dan Izam.


"Zian, apakah Kau tidak mau berteman dengan Kami?." Ucapnu pada Zian.


"Benar, Kau tidak sejahat yang Kukira." Ucap Izam.


"Eh, Aku.." Ucap Zian perlahan.


"Bukankah teman temanmu menjauhimu setelah kalah dari Izam?." Ucapku pada Zian.


"Benar..." Ucapnya.


"Maka bertemanlah dengan kami." Ucap Izam menjabat tangan.


Hening, Aku tidak tau bagaimana perasaan Zian, tapi Aku cukup yakin bahwa Ia akan menerima ajakan kami.


"Baiklah, Aku akan bergabung dengan Kalian." Ucap Zian menjawab jabatan tangan Izam.


Akhirnya, Teman kami bertambah satu, Dengan Zian sebagai mantan pembully ku, mungkin Ia bisa mengajarkan beberapa teknik beladiri kepadaku.


"Baiklah Aku akan pulang, Bagaimana dengan kalian teman?." Ucap Izam.


"Yah, Aku akan pulang." Ucap Zian


"Aku juga, Aku ingin mengistirahatkan badanku." Ucapku pada mereka berdua.


"Ini tidak seberapa Aksa, Kau besok akan menjalani pelatihan yang lebih keras." Ucap Izam nyengir


"Apakah Aku boleh ikut?." Ucap Zian.


"Tentu,Kau sudah menjadi Teman kami, Kau boleh ikut mulai besok." Ucap Izam


"Baiklah, Terimakasih semua." Ucap Zian menatapku dan Izam.


"Tentu,sama sama Zian, Baiklah sampai jumpa semua." Ucap Izam


"Yah sampai jumpa juga Izam." Ucap ku dan Zian.


"Sampai jumpa Zian,Hati hati." Ucapku pada Zian.


"Tentu, Kau juga Aksa." Ucap Zian tersenyum padaku.


Aku membalas senyumannya, Akhirnya Kami bertiga pulang kerumah masing masing.



Izam memotret Aksa.



Aksa memotret Izam.