
"Sekarang mari kita mulai acara nya, para dewa silah kan menilai nya." Dewi hujan memberi tahu kan.
"Dewi hujan, jangam berlam-lama lagi. Cepat langsung saja mulai." Dewa Gunung sudah tidak sabar.
Acara pun di mulai para murid mulai berarung satu lawan satu di arena, siapa yang lebih dulu jatuh dari arena, atau menyerah maka dia kan di katan kalah.
"Sekarang Wen dan Xiaodi masuk ke dalam arena." Dewi hujan memberi inturuksi.
"Kaliam semangt lah, jaangan ada yang mengalah sebelum ada yang kalah." Yuanjun samgat bersemgat melihat pertaruangn mereka.
"Tak kusangaka akan tiba saat nya kita beetarung melawan satu sama lain." Wen angkat bicara.
"Ya. Tapu jangan harap aku akan mengalah pada mu." kata Xiodi tegas.
"Kamu juga sangat berharap aku akan mengalah." balas Wen dengan menantang.
Mereka bertarung satu sama lain dengan sangat serius, dan mengeluarkan semua kemapuan mereka semaksimal mungkin.
Pertarungan terjadi cukup lama, dan sengit. Tidak ada yang maumengalah dan memberikan celah satu sama lain. Dewa, dewi pun sangat menikmati pertarungn ini.
Dengan jutus terakhir dan serangan terakhir mereka, membuat Wen dan Xiaodi sama-sama terpental keluar arena.
"Pertarungan ini di anggap seri."Dewi hujan menentukan hasil pertarungan
"Sekarang giliran Bai qinsang melawan Yuanjun." Dewi hujan memberi intruksi.
Yuanjun naik ke atas arena dengan percaya diri bahwa dia akan menang. Sedang kan Yuwenjun tersenyum tipi melihat kepercayaan Yuanjun.
"Yuanjun, sekarang mari kita tentukan taruhan kita." Qinsang nampak sangat bersemangat.
"Heh. Silah kan tunjukan kemampuan mu nona." kata Yuanjun menantang.
Pertarungan mereka sangat sengit, setiap serang dari lawan bisa mereka tahan dengan jurus yang mereka kuasai.
"Tak kusangaka Yuanjun sudah berkembang sejauh ini di bading waktu pertama bertemu. Tapi aku tidak boleh kalah." gumam Qinsang dalam hati.
"Aku tidak boleh kalah." guman Yuanjun dalam hati.
Mereka bertarung lebih serius lagi, dan pedang mereka hancur saar melakukan serangan tenaga dalam.
Semua oramg yang melihat itu sangat terkejut, namun menikmati nya.
"Tak kusangka kamu memiliki sedikit kemampuan." guman Yuwenjun.
"Pedang mereka sudah hancur. Apa kah pertarungan masih bisa di lanjut kan?." tanay Dewi hujan.
"Kalau mereka masih memiliki pedang yang mereka simpan, maka suruh keluarkan dan lanjutkan pertarungan." Dewa Langit memberi ijin.
"Dewa langit sudah memberi ijin, jika kalian memiliki pedang maka keuarkan dan lanjutkan. Jika salah seorang yang punya maka dia lah pemenag nya." Dewi hujan memberi intruksi.
"Aku masih memilikinya, tidak tau dengan mu." Qinsang berbicara dan menyombongkan pedang nya.
"Sebenar nya aku tidak ingin menunjukan pedangku di depan umum, tapi aku tidak sudi mengakui kekalahan padamu." Yuanjun berkata sambil mengeluarkan pedang merah delima nya.
"Yuwenjun bukan kah pedang itu terlihat tidak asing." Man bo teman Yuwenjun angkat bicara.
"Betul, tapi mengapa pedang itu ada padanya?." Yuwenjun terlihat bingung.
Tig!! Tang!!! Ting!!! Ting!!!Ting!!!!.
Yuanjun dan Qinsang melanjutkan pertarungan nya, kali ini lebih seru lagi karena kekuatan yang mereka keluarkan lebih besar.
Qinsang menusuk tajam kearah Yuanjun dengan sigap di tahan dengan pedang nya.
Ting!! tersengar suara pedang saling bertabrakan.
Yuanjun mendorong pedangnya kerah Qinsang, dan di tahan Qinsang dengan kuat.
Dan mereka terhempas beberapa langkah kebelakang.
"Yuanjun, terima kekalahan mu." Qinsang bersiap menyerang.
"Qinsang, jangan terlalu sombong karena kau putri dari ketua sekte." Yuanjun bersiap menera seranngan Qinsang.
Qinsang menyerang Yuanjun, namaun Yuanjun hanya mengelak dari serangan nya, dan tidak ada perlawanan dari Yuanjun.
"Yuwenjun, menurut mu apa yang di rencankan Yuanjun itu." Man bo bertanya tidak tau.
"Dalam hal kekuatan dia kalah, makanya dia sedangbuat celah." Kata Yuwenjun mengamati dengan serius.
"Membuat celah??." Man bo bingung.
"Wen, apa yang di lakuka Yuanjun, apa di terdesak." Xiodai sangat kahawatir.
"Tenag lah, dia sedang merencanakan sesuatu." Wen tampak menikmati pertarungan itu.
"Kenapa kamu sangat percaya pada Yuanjun?." Xiaodi penasaran.
Xiaodi menertawai Wen yang berbicara seperti itu.
Dan Yuanjun yang hanya mengelak dari serangan Qinsang, membuat Qinsang merasa remeh dengan Yuanjun sehingga melepaskan pertahanan nya dan menyerang membabi buta.
"Kesempatn!." gumam Yuanjun dengan senyum tipis.
Dia menaham pedang Qinsang dan memendang perut Qinsang dengan kuat hingga terjatuh.
Qinsang yang kaget karena berhasil di jatuhkan Yuanjun, tidak berdiri untuk menerang. Yuanjun memanfaat kan kesempatan itu mengarah kan pedang nga ke arah Qinsang.
Namun di hentikan di sana, karena Yuanjun tidak berniat membunuh Qinsang.
"Kamu sudah kalah, itu pelajaran agar kedepan nya jangan meremehkan lawab mu." Yuanjun menarik pedang nya dan berbalik ingin pergi.
Qinsang sangat marah dan kesal, iya berdiri dan mengumpulkan kekuatan nya untuk menyerang Yuanjun dari belakang.
"Aku belum menyerah atau keluar dari arena pertarungan." Qinsang melopat untuk menyerang.
"Yuanjun!!!. Hati-hati!!?." Teriak Xiaodi.
Yuanjun yang kaget karena di serang dari belakang. Tanpa sadar menarik pedangnya dan menebas Qinsang dengan tenaga dalam hingga terpental jauh dari arena. Bahkan tiang di sekitar arena hancur.
"Akh!!!" Qinsang yang terpental muntah darah.
Semua orang di sana sangat kaget, bahkan Yuanjun sendiri kaget dengan kekuatan yang dia keuarkan sendiri.
"Yuanjun memengkan pertarungan ini." Dewi hujan memberi pemguman kemenagan.
"Apa kah itu kekuatan pedang itu." Man bo bertanya pada Yuwenjun.
"Bukan, itu tenga dalam milik nya, tapi dia belumenguasai nya sedikit pun." kata Yuwenjun lalu pergi dari sana.
"Belum menguasai sedikit pun sudaj sekuat itu?.." Man bo bingung.
"Sekarang kalian, pergi ke aula dewa untuk pengangkatan murid." Dewi hujan memberi intruksi.
"Baik dewi!." semua murid bergegas kesana.
"Qinsang, minum obat ini. Agar lukamu langsung sembuh." Dewi hujan memberi botol obat.
"Terima kasih dewi." Qinsang langsung meminumnya dan mengikuti yang lain ke aula dewa.
"Selamat datang di aula dewa para murid." dewa Langit menyambut mereka.
"Hormat murid pada dewa!." semua murid sujud di hadapan mereka.
"Yuwenjun, sekarang kamu angkat Qinsang jadi murid mu." dewa Malam menyuruh nya.
"Maaf dewa malam, bukan maksudku untuk menolak. Tapi aku hanya akan mengakat orang itu jadi murid bila salah seorang dari mereka di akui tuan oleh pedang ini." Yuwenjun mengeluarkan pedang itu dan meletakanya di hadapan mereka semua.
"Kenapa tanganku bereaksi dengan pedang itu?." gumam Yuanjun bingung.
"Qinsang sekarang kamu coba mengambil pedang ini." Dewa Langit memberi saran.
"Baik dewa."
Qinsang berdiri dan ingin mengambil pedang itu namun, dia tidak bisa mengangkat nya. Dia terus memaksa hingga terpental jatuh.
"Qinsang maaf, kamu tidak bisa mengangkat mu menjadi muridku." Yuwenjun berkata tegas.
"Baik lah, selanjut nya." dewa Langit menyuruh murid yang lain mencobanya satu persatu.
Namun semua orang mengalami nasip yang sama dengan Qinsang merasa berat, dan terpental jatuh.
"Sekarang giliran mu Yuanjun." Yuwenjun melihat Yuanjun dengan sedikit berharap.
Yuanjun berdiri dan melangkah ke arah pedang itu. Dia merasakan getaran gecik setiap dia lebih dekat selangkah dengan pedang itu.
Yuanjun mengurkan tangan nya dan mengankat pedang itu dengan sangat mudah, bahkan tidak ada sedikit pun penolakan dari pedang itu.
Semua sangat kaget bahakan para dewa pun, hanya Yuwenjun yang tersenyum tipis.
"Bagai mana mungkin, aku tidak percaya itu." Qinsang perotes dengan hasil itu.
"Betul, aku tidak percaya dia akan menjadi murid mu." dewa Langit ikut tidak percaya.
"Jika dewa Langit tidak percaya, maka coba ambil pedang ini. Aku sendiri juga tidak bisa mengangkat pedang ini dari kotak nya." Yuwenjun menjelas kan.
Yuanjun meletak kan kebali pedang itu, dan sewa Langit mencoba mengambil nya. Pedang itu terasa berat dan memental kan tubuh nya.
"Apa?!!." Semua dewa dan murid berteriak secara bersamaan, karena dewa Langit pun tidak bisa mengambil pedang itu.
Bersambung.....