The Legend Of The God's Destiny

The Legend Of The God's Destiny
Takdir dewa 3



Karena Yuanjun sudah setuju untuk menjadi ketua selanjud nya dari perguruan bukit batu. semua murid di kumpulkan di halaman perguruan, kakek tua itu duduk du kursi roda kayu.


"Saya mengumpulkan kalian semua di sini, untuk mengumumkan karena saya sudah tua dan penyakitan. Saya ingin mengundurkan diri dari dunia persilatan, dan digantikan oleh Yuanjun." Kata kakek tua itu.


Semua murid perguruan bukit batu bingung dan bisik-bisik satu sama lain.


"Tetua, kenapa posisi ketua tidak di berikan pada senior Wan, yang merupakan murid pertama di perguruan kita ini?." kata seoramg murid protes.


"Aku setuju dengan keputusan tetua, dan aku berjanji tidak ada dendam di kemudian hari." Jawab Wan.


"Karena kakak pertma sudah menyetujui nya, maka kami semua pun setuju!!." Jawab semua murid serentak.


"Karena semua sudah setuju, mari kita mulai acara pengangkatan." Kata tetua.


"Untuk pengangkatan ketua baru. Tetua menyerahkan lencana bukit batu, dan pedang Batu merah delima!!""


Wan membantu di acara pengangkatan Yuanjun. Yuanjun dalam posisi hormat pada tetua dan menerima lencana dan pedang dari kakek tua itu.


Setelah serah terima, Yuanjun berdiri dan menghadap ke seluruh murid. kemudian mengangkat pedang nya.


"Aku, tidak tau bagai mana cara meminpin perguruan ini. Tapi aku bersumpah akan tetap setia seumur hidup untuk perguruan bukit batu!!." Teriak Yuanjun.


"Hormat kepada ketua Yuan." Wan memberi hormat pada Yuanjun.


"HORMAT KEPADA KETUA YUAN!!!." semua murid perguruan bukit batu serentak memberi hormat pada Yuanjun.


Setelag acar pengangkatan kakek tua, Yuanjun, Wan, kembali ke ruangan ketua.


"Kakek tua, hari sudah sore aku harus pergi ke hutan kabut. Dan sampai di sana paling lambat besok sore." kata Yuanjun.


"Sebelum itu, aku harus menteransfer teknik beladiri bukit batu ke dalam ingatn mu." Kata kakek tua itu.


"Baik lah." Yuanjun duduk dengan gaya semdi di sepan kakek tua, untuk menteransfer tehnik bela diri itu.


"Yuanjun, aku sudah mentansfernya, perlahan kamu akan bisa menguasai nya." Kata kakek tua Itu.


"Terima kasih kakek tua. Aku pergi dulu, takut nya keburu waktu." Kata Yuanjun.


"Baik, pergilah bawa keharuman bagi perguruan kita." Kata kakek tua itu.


Yuanjun pun pergi meninggal kan perguruan bukit batu, dan di temai oleh Wan beserta 3 murid senior lain nya.


Dalam perjalanan mereka tidak istirahat bahkan sebentar saja pun tidak ada, karena waktunya sudah mepet. Setelah menunggangi kuda sampai jam 3 sore, baru lah mereka sampai di hutan kabut.


Dari kejauhan terlihat orang-orang yang 8ngin pergi ke dunia dewa untuk berguru, mereka datang dari berbagai sekte, dan kerajaan. Semua yang datang terlihat berbakat.


Sebelum sampai di kerumunan Yuanjun berhenti, di ikuti oleh yang lain nya.


"Antar sampai di sini saja, Wan urusan perguruan akan kuserahkan padamu. Ingat setiap ada masalah pada perguruan atau kakek tua kamu harus mengatakan nya pada ku." Kata Yuanjun.


"Baik ketua." kata Wan.


"Baik lah, aku akan kesana kalian istirahat duku sebelum kembali keperguruan." perintah Yuanjun.


"Baik ketua, keberhasilan menyertai ketua." Wan memberi hormat pada Yuanjun


"Keberhasilan menyertai ketua Yuan.!!" Di ikuti murid lain nya.


Yuanjun pun meninggal kan mereka dan mengampiri kerumunan itu, disana dia hanya duduk di atas batu karena kelelahan naik kuda selam perjalanan.


"Hei nona, kamu dari sekte mana." seorang peria dan wanita menghampiri Yuanjun.


"Tidak dari sekte mana pun, hanya dari perguruan kecil saja." Jawab Yunjun santai.


"Aaah, dari perguruan kecil ya, kami bedua dari dataran tianxun." kata Peria itu lagi.


"Oh, tapi.siapa nama dua saudara?." tanya Yuanjun.


"Ah, nama saya Xiaodi." Jawab wanita itu."


"Dan nama saya Wei. Kami dari pergurun yang sama. Nama saudara siapa?." Tanya Wei


"Nama saya Yuanjun, dari perguruan bukit batu."


"Hahahha, mungkin karena perguruan sangat kecil makanya kami tidak tau." Timpal Wen


"Hahhahahahh, mungkin saja." kata Yuanjun


" Tentu saja kalian tidak tau, itu adalah perguruan yang tersembunyi." Kata Yuanjun dalam hati.


Saat mereka sedang asik berbicara tiba-tiba ada keributan, seorang wanita dan peria.sedang bertarung di sana.


"Ada apa ini?." Tanya Wei pada seorang di sana.


"Entah lah, mereka berkelahi karena perdebatan yang akan menjadi murid dewa Yuwen jun." jelas seseorang di sana.


"Tindakan yang sangat bodoh dan sia-sia." Yuanjun berkata dingin.


Perkelahian berhenti dan wanita yang bertarung tadi menghampiri Yuanjun.


"Apa maksudmu dengan sia-sia dan konyol?." Kata wanita itu dengan mengayunkan pedang nya ke wajah Yuanjun.


"Bukan kah sia-sia, kalian bertarung di sini untuk berdebat, ujian saja belum dimuali. Bukan kah para dewa yang menentu kan nya." Kata Yuanjun sambil mendorong pedang wanita itu.


"Aku Bai qinsang, dari sekte Bai pasti akan jadi murid dari dewa Yuwen jun!." Teriak wanita itu.


"Hahaha, semangat yang bagus." Yuanjun menertwa kan nya.


"Kau, bernainya menertawa kan ku."Qinsang marah dan menyerang Yuanjun.


Yuanjun mengelak, bukan karena dia sebelum nya belajar beladiri. Namun karena seni beladiri bukut batu dalam ingatan nya membaut nya dapat mengelak.


Karena belum pernah di pelajari Yuanjun masih kalah dari Qinsang, perut nya terkean tendangan wanita itu. Dan terdorong jatuh.


"Heh, dengan kemampuan seperti ini berani menertawai ku, dan berguru di dunia dewa. sangat di sayang kan." Kata Qinsang.


Iya mengeluarkan jurus nya ingin membunuh Yuanjun denga sekai serang.


"BERHEBTI!!." utusan dewa datang


Pertarungan berhenti dan semua orang melihat ke sumber suara.


"Berhenti membuat keributan, sudah waktu nya mari ikut saya ke dunia dewa." Kata utusan itu


Semua murid mengikuti nya.


"Saudara Yuan?. kamu baik-baik saja kan?." Xiaodi kembantunya berdiri.


"Aku baik-baik saja."


"Wanita itu sungguh arogan dan sombong." Timpal Wei.


"Sudah lah, lebih baik kita masuk. Masalah balas dendam akan ku lakukan di area pertarunagn." Kata Yuanjun tegas.


Semua murid sudah masuk ke dunia dewa dan berkumpul di tempat latihan,


"Untuk latihan pertama sampai perekutan murid aku yang akan mengawasi kalian." kata seorang dewa.


"Kamu harus memanggil mu dewi apa.?" Tanya Qinsang.


"Kalian boleh memanggil ku Dewi hujan" kata wanita itu.


"Untuk latihan pertama, kalian harus bisa menguasai tehnik awan terbang." Kata dewi hujan


Dewi hujan menunjukan contoh nya dan menaiki awan terbang. Semua murid yang melihat itu sangat takjub saat dewi hujan terbang diatas mereka.


"Sekarang giliran kalian men cobanya." kata Dewi hujan.


Semua murid memperaktek kan nya, Qinsang tidak memerlukan waktu lama untuk menguasai nya, begitu juga denag Xiaodi dan Wei.


Sedang kan Yuanjun mencoba dan mencoba namun hasil nya gagal, dia memang bisa memanggil awan tapi sdetik kemudian awan tersebut hilang lagi.


Qinsang yang melihat nya menertawai nya dan meremeh kan nya.


Bersambung........