The Legend Of The God's Destiny

The Legend Of The God's Destiny
Takdir dewa 4



Hari sudah gelap semua murid sudah pergi kekamar masing-masing untuk beristirahat, tapi ada satu mutid yang maaih terus berlatih jurus awan terbang.


Ditengah malam yang berangun dan dingin, murid itu tidak menyerah. Dia terus berusaha dan bekerja keras.


"Yuanjun, hari sudah gelap sebaik nya kamu sudahi berlatih untuk hari ini." Xiaodi menghampirinya di halaman.


"Ya, lagi pula aku sudah menguasai nya sedikit." Jawab Yuanjun lelah.


Mereka kembali ke kamar, Yuanjun sekamar dengan Xioaidi dan Qinsang.


"Mau berlataih sekeras apa pun, jika tidak berbakat maka tidak ada gunanya." Sindir Qinsang saat Yuanjun masuk ke kamar.


"Kau..!" Sebeluk Xiaodi selesai berbicara, Yuanjun menghalanginya.


"Sudah lah Xiaodi, tidak usah pedulikan perkataan nya." Kata Yuanjun dan langsung rebahan di ranjang nya, karena tenaga nya habis beserta tuubuh nya lelah.


"Hemmp"


Qinsang kesal dengan reaksi Yuanjun, karena hari sudah gelap iya tidak mau membuat keributan.


Saat hari sudah subuh Yuanjun bangun dan pergi ke danau yang tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Yuanjun pergi dan mulai melatih tubuh nya agar terbiasa dengan seni pedang, dan supaya dia bisa menguasai tehnik bela diri bukit batu.


"Hah..hah...hah.., ternyata jurus ini sulit di kuasai. Ditambah lagi pedang ini juga sulit di gunakan." Kata Yuanjun setelah mencoba mempelajari.


Karena kelelahan iya duduk di atas batu, di tepi danau untuk bersemedi. Supaya tenagana nya kembali pulih, dan menjernih kan pikiran-nya.


"Xiaodi, dimana Yuanjun?." Tanya Wen karena tidak melihat nya.


"Aku juga tidak tau, tadi saat kami bangun dia sudah tidak ada di kamar." Jelaa Xiaodi pada Wen.


"Sebentar lagi, latihan akan di mulai jika dia tidak datang bisa-bisa dia di hukum." kata Wen lagi.


"Mungkin Yuanjun malu, karena cuman sirinya yang belum menguasai jurus awan terbang." Qinsang bicara dengan nada meremehkan.


"Walau pun dia belum menguasai nya, bukan berarti tidak akan bisa." Jawab Wen songong.


"Hehh, jangan terlalu berharap, nanti kecewa lo." Kata Qinsang lagi.


"Cih, merasa di ri hebat saja." kata Xiaodi menantang.


"Eh, eh. Bukan nya itu Yuanjun?." Kata Wen melihat Yuanjun detang mengahampiri mereka.


"Yuanjun, ayo cepat, sebentar lagi latihan akan di mulai." Panggil Xiaodi.


Yuanjun mempercepat langkah nya dan menghampiri Wen dan Xiaodi sambil senyum ceria.


"Kak Yuan, kamu dari mana saja." Kata Xiaodi.


"Aku tadi ada urusan sedikit." Kata Yuanjun riang.


"Semua murid, sekarang kaliam semua harus menguasai jurus awan terbang hari ini. Jika tidak maka silahkan pergi dari sini." Dewi hujan datang dan berkata dengan tegas.


"Yuanjun bagai mana ini?." Tanya Wen panik dan kahawatir.


"Tenag saja, aku tidak bisa gagal di sini." kata Yuanjun sedikit ragu.


"Habis lah kau Yuanjun." Qinsang datang dan menyumpahinya.


"Qinsang, aku tidak akan gagal di sini. Dan aku pasti di terima menjadi murid di sini." kata Yuanjun tegas dengan nada menantang.


"Jangan merasa hebat kamu, aku akan membuat mu gagal." ancam Qinsang.


"Heh, kamu terlalu meremeh kan ku Qinsang, kamu tidak akan pernah bisa menghentikan ku." Yuanjun berkata dengan nada seakan menerima tantangan Qinsang.


"Berhenti berdebat, lebih baik kalian tunjukan kemampuan kalian." Dewi hujan mengehenti kan mperdebatan mereka.


Semua murid mulai memperaktek kanjurus itu, karena Yuanjun berusaha dengan keras samapi malam iya bisa menguasai nya.


"Ternyata hasil tidak pernah menghianati kerja keras." Kata Yuanjun senad saat dia bisa terbang menggunakan awan terbang.


"Walu belum bisa menguasai, tapi ini sudah jadi bukti aku tidak akan gagal." Jawab Yuanjun senyum dan terbang menjauh dan turun.


"Murid yang belum bisa menguasai jurus ini, maka silahkan pergi dari sini." Kata Dewi hujan tegas tanpa memberi kesempatan tawar-menawar.


Semua orang yang gagal keluar dari dunia dewa, sekarang hanya tinggal 20 orang yang maju ke latian selanjut nya.


"Karena kaliam sudah menguasai jurus ini, itu tandanya kekuatan dewa kalian bisa di asah.


Sejarang kalian pilih lah satu senjata yang cocok dengan kalian." Jelas dewa hujan sambil menunjuk kebelang tempat senjata itu.


Semua murid mulai memilih senjata nya, bentuk,jenis, dan berat nya. berbeda-beda. Yuanjun mengambil pedang ber warna hijau dan pedang itu sangat ringan.


" Wen, kamu pilih yang mana?." Yuanjun menghampiri Wen yang sedang asik memandang senjata nya.


"Aku pilih tombak." Jawab Wen sambil menunjukan tombak nya berwarna merah,dan tombak itu cukup berat tapi kuat.


"Wahh, tombak mu sangat bagus." Kata Yuanjun terpesona sambil menatap tombak itu.


Tak!!!, tiba-tiba ada yang menyerang mereka dengan cambuk, dengan cepat mereka berdua mengelak.


"Xiaodi!! apa yang kau lakukan!!." Wen membentak nya karean kaget.


"Ehehehe. Maaf aku sedang mencoba cambuk ku, ternyata bagus juga." Xiaodi memuji senjata nya sendiri.


"Ya, ya bagus." Jawab Wen masih kesal.


"Gitu aja marah gak asik. Eh kamu pilih apa?." Kata Xiaodi menatap Yuanjun.


"Ini aku pilih pedang ini, tajam, dan sangat ringan." Yuanjun menunjukan pedang nya.


"Wahhh, benar sangat ringan." Wen menyentuh pedang itu dan takjub dengan keringanan nya.


"Karena kalian sudah memilih senjata yang sesuai dengan kalaian?." Dewi hujan menghampiri mereka.


"Sudah dewi." jawab semua murid serentak.


"Sekarang kalian coba menguasai senjata kalian, dan perlajari cara untuk menggunakan seenjata kalian masing-masing." Kata Dewi .


Semua murid mencoba menggunakan senjata mereka, sampai senjata itu sudah selaras dengan detak jantung mereka.


"Latihan hari ini sampai hari ini saja, besok kita akan berburu gunung. Jadi kalian persiapkan semua yang kalian perlukan di perburuan besok." Jelas dewi hujan.


Semua murid pergi mempersiap kan keperluan mereka untuk berburu. Begitu juga denag Yuanjun.


"Yuanjun, belum terlambat untuk mundur, sebelum kamu menyesal karena mati konyol saat berburu besok." Ejek Qinsang yang sedang membersihkan pedang nya.


"Qinsang, bukan kah lebih baik kamu yang mundur, karena takut akan kalah dari ku." Balas Yuanjun senyum sinis.


"Yuanjun oh yuanjun, jangan memanggap diri sendiri hebat." Qinsang menertawakan Yuanjun.


"Qinsang, kenapa kamu selalu mencari masalah dengan Yuanjun?." Tanya Xiaodi kesal.


"Tidak ada, hanya saja aku memang tidak suka dengan nya, dan lebih tidak suka dia berhasil jadi murid di dunia dewa ini."


"Apa, tanpa alasan yang jelas kamu ingin menghalangi Yuanjun?." Xiaodi kaget dengan kata-kata Qinsang.


"Sungguh konyol dan bodoh." Yuanjun bicara sambil beranjak pergi dari kamar menaraik Xiaodi.


"Apa, kamu bilang!!?." Teriak Qinsang.


Namun Yuanjun tidak mendengarkan dan langsung pergi, meninggal kan Qinsang karena malas berdebat dengan nya.


"Xiaodi, ayo kita berlatih untuk persiapan berburu besok." Ajak Yuanjun setelah mereka sampai di danau.


"Iya, agar Qinsang tidak meremehkan mu lagi." Kata Xiaodi.


Mereka masih berlatih sendiri-sendiri. Yuanjun kembali mempelajari Teknik pedang perguruan bukit batu. Karena pedang yang di gunakan jauh lebih ringan dari pedang merah delima, Yuanjun merasa lebih mudah menguasai jurus itu.