
Di aula pertemuan para dewa dan sekte di dunia dewa, sudah berkumpul para tetua dan ketua-ketua sekte.
"Dewa langit, kita harus bertindak karena duani iblis sudah membuat langkah." Ketua sekte Bai angkat bicara.
"Betul dewa, mereka mungkin hanya membuat langkah kecil. Tapi kemungkinan dalam wakti dekat akan ada langkah besar." Timpal ketia sekte Lang.
"Benar, tapi kami berncana membuat langkah setelah perekutan murid tahun ini." kata dewa langit.
"Saya harap saat perekutan murid baru, dewa Yuwenjun memilih murit yang hebat untuk mendampinginya menghadapi takdir dewanya." Kepala sekte Sun angkat bicara.
"Saya menyaran kan, Bai Qinsang untuk menjadi murid dari dewa Yuwenjun." ketua sekte Yun.
Semua orang di dalam aula membenar kan saran ketu Yun, begitu juga ketiga tetua dewa Langit, Malam, dan Gunung
"Dewa Yuwenjun, bagai mana pendapat mu?." Dewa Malam bertanya.
"Bukan maksud saya menolak permintaan pare tetua dan ketua sekte. Tapi saya punya cara pengujian untuk menjadi murid ku. Tapi tidak menutupi lemungkinan Bai qinsang untuk terpilih." dewa Yuwenjun tegas.
"Baik lah, jika itu keputusan Dewa yuwenjun." Ketua sekte Bai menerima keputusan Yuwenjun.
"Untuk pertemuan selanjut nya, kita adakan setelah pengangkatan murid." Dewa Langit menutup pertemuan.
Semua ketua sekte pergi dari tempat itu dan kembali ke sekte masing-masing. Tapi ketua Bai pergi menemui putri nya Qinsang.
"Ayah!!?." Qinsang berteriak dan berlari memeluk ayah nya.
"Bagai mana, keadaan mu putri ku?."
"Qinsang baik-baik saja ayah. Ayah bagai mana dengan pengangkatan murid nanti?."
"Sudah ayah saran kan, tapi Yuwenwei tidak langsung setuju, tapi kamu tenag saja kamu pasti di terima."
"Wah, terima kasih ayah, aku kan berrusaha untuk menjadi dewa Yuwenjun." Qinsang sangat bersemangat saat bebicara seperti itu.
"Hahahahha, Ayah percaya pada mu. Tapi ayah harus pergi sekarang karena ayah masih ada urusan di sekte."
"Baik lah, ayah hati-hati ya."
Ketua Bai pergi meninggal kan putri nya disana, dan kebali ke sekte nya. Semua orang di sana kagum dan menghormati nya karena dia putri salah satu ketua sekte.
Yuanjun melihat dari kejauhan ke akraban anak dan ayah itu, membuat nya menjadi rindu keluaragan ya di kerjaan Qin. Yuanjun mengambil seruling goil pemberian ibunya dan memain kan nya di atas pohon, dia memain kan melodi yang indah, lembut, tapi ada ksedihan disana.
Setelah selesai mainkan melodi itu dia atas pohon, Yuanjun merasa kesrinduan nya berkurang.
"Belum puas kah untuk melihat nya?." Yuanjun tiba-tiba berkata.
"Ternyata kamu menyadari nya." Peria itu keluar dari balik pohon.
"Manusia, sebesar kamu bagaimana tidak melihat." Yuanju cuek.
"Melody mu indah, namun tersirat kesedihan." Kata peria itu lagi.
Yuanjun kaget mendengar nya, karena tidak dia sangka akan ada yang menyadari kesedihan dalam melody itu.
"Bagai mana kamu tau?." Yaunjun tersenyum samar.
"Ya, apa kah kamu sedang merindukan seseorang?." Tanya peria itu lagi.
"Ya. Aku sedang merindukan keluarga ku di sana." kata Yuanjun seakan menerawang jauh.
"Lalu apa tujuan mu datang ke dunia dewa ini?." Tanya peria itu lagi.
"Aku juga tidak tau, hanya saja untuk mencari sebuah jawaban." Yuanjun menyentuh punggung tangan nya yang di tutupi.
"Jawaban seperti apa?, dan mengapa harus dunia dewa?." Tanya nya lagi.
"Aku tidak tau. Dan kamu terlalu banya bertanya." Yuanjun turun dari pohon dan langsung pergi dengan tidak sopan, dia tiadak tau bahwa peria itu Yuwenjun.
Yuwenjun tersenyum tipis dengan tingkah laku tidak sopan dari Yuanjun.
"Sengguh tidak sopan, aku penasaran bagaiman wajah mu nantinya saat mengetahui aku siapa." Yuwenjun pergi dari sana.
"Aku, latihan di sana sebentar."
"Mau latihan sekeras apa pun, tidak akan bisa jadi murid dewa Yuwenjun." Qinsang datang dengan sombong.
"Qinsang, karena kamu sangat ingin menjadi murid dewa Yuwenjun maka mari kita bertaruh." Ajak Yuanjun denga tegas dan kseal dengan sifat Qinsang.
"Baik!. Dengan kemapuan ku sekarang aku pasti diterima." Qinsang sombong.
"Terserah kamu mau bilang apa, yang penting besok kita kan tau siapa yang menag." Kata Yuanjun dan pergi dari sana.
"Cih!! Sungguh merasa diri sangat hebat." Qinsang masih meremehkan Yuanjun dan pergi dari sana.
Yuanjun di ikuti Wen dan Xiodi pergi ke arah danau tempat mereka biasa latihan.
"Yuanjun!. Kemampuan Qinsang hebat, apa kag kamu yakin menantang nya?." Wen ragu dengan kemampuan Yuanjun.
"Aku juga ragu." Yuanjun senyum polos.
"Ragu!! Lalu kenapa kamu berani menantang nya!!?." Teriak Wen dan Xiaodi bersamaan.
"Sudah lah itu tidaj penting. Sekarang lebih baik kita berlatih untuk pemilihan besok." kata Yuanjun dan menjauh dari mereka dan pergi berlatih di atas batu-batu di tepi danau untuk menyempurnakan ilmu bela diri bukit batu.
Dia berlatih sampai malam, Wen dan Xiaodi sudah lebih dulu pulang. Tinggal dia sendiri di sana, Yuanjun terus berlatih menguasai, membiasakan, dan memyempurnakan jurus-jurus nya.
"Bukan kah, sudah cukup berlatih nya?." seseorang datang ke sana.
"Siapa di sana!!?." Yuanjun langsung waspada.
"Tenag lah ini aku." Seorang peria menampak kan diri nya.
"Siapa kamu?. Kenapa kamu selalu muncul di saat aku sendiri?." Yuanjun curiga
"Kamu akan tau aku siapa saat pemilihan besok. Dan ini memang tempat ku biasa mencari angin." Kata peria itu.
"Oh, kalau begitu maka aku akan pergi." Yuanjun beranjak pergi.
"Kalau kemampuan tidak cukup, mengapa berani menantang." kata peria itu santai.
Yuanjun kaget karena peria itu tau taruhn nya dengan Qinsang tadi siang.
"Itu bukan urusan mu, jadi jangan ikut ampur." Yuanjun kesal.
"Itu memang bukan urusan ku, tapi aku mengingatkan jangan sampai malu." Peria itu menertawai nya.
"Aku Yuanjun, tidak akan pernah berrmtaruh jika tidak ada kemungkinan untuk memang." Yuanjun bicara tegas.
"Sungguh gadis yang arogan."
"Itu terserah ku. Lebih baik kamu nikmati angib malam mu, jangan jadi dewa masuk angin." Kata Yuanjun dingin.
Setelah berkata seperti itu, dia pergi meninggal kan orang itu di sana sendirian dan kembali ke kamar nya.
"Hempp, sungguh wanita yang menarik, aku sangat menantikan bagai mana caramu mengalah kan nya besok." Peria itu tersenyum samar.
Hari ini adalag hari yang di nanti kan oleh semua murid dan para dewa.
"Hari ini, kalian akan menujukan kemampuan kalian untuk menggerak kan para dewa-dewi untuk mengambil kalian jadi murid nya." Dewi hujan memberi penjelasan.
Setelah itu para tetua dewa, dewa yang ingin merekut murid, beserta Yuwenjun datang dan duduk untuk melihat penampilan para murid.
Yuanjun sangat kaget karena peria yang dia temui waktu itu adalah seorang Dewa. Dia merasa sangat sial, karena waktu itu tidak menyadari nya.
Dewa itu melihat nya dan menertawa kan Yuanjun karena kebodohan nya waktu itu.
"Cih, dasar dewa sial." Gumam Yuanjun kesal karena senyuman mengejek Dewa Yuwenjun. Dan di bals dengan tatapn tajam.
Bersambung.......