THE LAST PAIR

THE LAST PAIR
GERY SIDE FLASHBACK 2



"Mama mau sampek kapan sih kita kek gini?," - Tanya Fira pada Nara yang malah asyik membaca majalah.


"Sabar dong Fira. Pelan pelan, kamu fokus aja buat Gery jatuh cinta sama kamu, "-kata Nara membuat Fira mendengus mendengarnya.


" Aku tuh udah nggak tahan ya Ma! Masak tiap hari harus kesini terus sih, capek!, "-sungut Fira sambil memandang sinis Ayah mertuanya yang sedang terbaring lemah.


" Udah deh cepet bunuh  aja sekarang. Aku tuh mau nikah sama Gery buat bisa seneng seneng Ma!, "


" Sabar dong Fira! Mama juga udah males ngurusin dia tapi mau gimana lagi. Mama lagi malsuin surat surat wasiat dia kayak surat wasiat jodohin kamu itu, "-kata Nara enteng.


" Ya udah deh nggak lebih dari sebulan ya Ma. Aku udah muak sama dia, "-ujar Fira yang diangguki Nara.


" Apa sih yang enggak buat anak Mama, "-kata Nara.


Tanpa sepengetahuan mereka Gery mendengar perkataan mereka dari awal bahkan ia merekam kejadian barusan.


Tangan Gery mengepal, ternyata selama ini ia dibohongi.


Gery langsung berlari keluar dari rumah sakit. Melakukan mobilnya ugal-ugalan menuju Cafe.


Didepan Cafe Gery melihat Veri sedang bermain sendiri.


"Halo ganteng, "-kata Gery mendekati Veri dan berjongkok didepan anak itu. Mengelus lembut rambutnya untuk pertama kalinya.


" Halo Om, "-kata Veri sambil menatap Gery senang.


" Veri ikut Om yuk, "-kata Gery yang diangguki Veri.


Veri bukan anak yang menurut, ia bahkan suka takut jika bertemu dengan orang asing.


" Veli kau bilang sama Mama, "-kata Veri yang langsung berdiri akan masuk kedalam namun langsung Gery gendong.


" Nanti biar Om yang bilang sama Mama,"


Gery langsung membopong Veri, meninggalkan mainan milik Veri yang tergeletak begitu saja.


"Om kita mau kemana?, "-Tanya Veri melihat Gery yang sedang fokus menyetir.


"Kita mau ke rumah Papa sayang,"


"Papa?, "


" Iya Papa. Om ini Papanya Veri, "-jelas Gery sambil menghentikan mobilnya didepan supermarket.


" Tapi kata Mama Papa ada di sulga, "-polos Veri


" Iya sekarang Papa udah pulang sayang, "


Veri langsung berdiri, memeluk Gery erat lalu terisak.


" Papa,"


"Iya ini Papa sayang,"


"Jangan pelgi lagi, "


" Iya Papa nggak akan pergi lagi, "-ujar Gery menahan sesak dada nya.


" Veli nggak mau dikatain nggak punya Ayah sama temen temen, "-kata Veri menatap Gery yang mencelus hatinya mendengar penuturan sang anak.


" Iya Papa disini sekarang,"


"Jangan pelgi,"


"Iya Papa nggak akan pergi lagi, "


" Promise?, "


" Iya janji. Udah sekarang turun, Veri beli apa aja terserah Veri ayo, "


Gery lalu keluar dari mobil setelah menciumi pipi Veri.


" Pa ini, "-kata Veri membawa banyak bungkus makanan mendekati Gery.


" Iya apa lagi?, "


Veri dengan senang mengambil makanan sedang Gery tersenyum melihatnya. Andai saja Sasya ada disini, semuanya akan lengkap.


Gery menghembuskan napasnya lalu mengambil ponselnya dari saku dan menulis sesuatu disana.


" Pa udah, "


" Udah?, "-Tanya Gery memastikan yang diangguki Veri.


"Ya udah ayo,"


Gery lalu mengantri di kasir sambil menggandeng Veri yang tampak senang.


pokoknya lo berdua harus jadi milik gue. - batin Gery sambil memandang sang anak.


To:Sasya


Veri ada sama aku


-*-*-*-*-*-*-*-*-*-


"Veri mau makan?, "


Veri menggeleng membuat Gery menghembuskan napas nya.


Sudah beberapa kali ia membujuk sang anak untuk makan, tapi tetap saja tidak mau.


" Mama Pa, "-kata Veri yang digelengi Gery.


" Makan dulu, "-kata Gery namun tetap digelengi Veri.


Sudah 2 hari Veri Gery culik. Veri bukan tinggal dirumah Papanya, tapi apartemen yang dulu menjadi tempat ia kabur dari rumah.


Semua kebutuhan Veri sudah Gery belikan termasuk pakaian dan juga babysitter.


Gery tiap malam tidak tidur disini, hanya menemani Veri hingga ia tertidur lalu kembali lagi untuk membalas perbuatan Ibu tiri dan wanita ****** yang mau mengambil harta Papanya.


" Papa jahat!, "-Teriak Veri lalu kembali masuk kedalam kamar.


"Saya mau pergi dulu. Veri harus sudah makan nanti kalo saya sudah pulang,"


"Iya tuan, "


Gery lalu melajukan mobilnya menuju rumah, ia akan melancarkan aksinya hari ini.


Ia sudah muak dengan drama yang mereka lakukan.


" Mas?, "-kata Fira melihat Gery masuk kedalam ruangan sang Ayah.


Brakk


Nara dan Fira terkejut melihat Gery membanting sebuah map berisikan dokumen dokumen yang sudah Gery siapkan.


" Yang sopan Gery!, "-kata Nara yang membuat Gery terkekeh.


" Mas apa-apaan?, "-ujar Fira memandang netra gelap milik Gery yang sudah nyalang.


" Nggak usah drama! Saya sudah muak dengan kalian, "-kata Gery dingin namun malah membuat Nara tersenyum.


" Oh kamu udah tau? Terus mau apa? Perusahaan sudah menjadi milik saya, "-kata Nara bangga karena apa yang ia inginkan sudah tercapai.


" Benarkah? Apa anda tidak curiga dengan dokumen-dokumen atas nama Ayah saya yang anda bakar?, "-kata Gery memperlihatkan dokumen asli yang masih ada padanya.


" Maksud kamu?, "


" Yang anda bakar itu dokumen plagiat yang saya buat Nyonya Nara, "-kata Gery mengejek lalu tersenyum melihat Nara yang pias.


" Mas, "-kata Fira


" Diem kamu ******! Seharusnya saya tau hanya dengan menyebut nama kalian kalau kalian adalah keluarga. Seharusnya saya juga mencari tau tentang kamu dulu, "-sinis Gery


" Tapi aku bener bener cinta sama Mas,"


Gery terkekeh.


"Tapi saya tidak. Dan juga saya sudah memiliki seorang anak asal anda tau, "


"A-anak? Mas Bohong kan? Mas selama ini cinta sama aku kan?," - kata Fira membuat Gery semakin terkekeh.


"Cinta? Saya nggak bakal cinta sama mantan ******* kayak kamu, "


" Silahkan masuk Pak, "


Beberapa polisi langsung masuk keruangan ruangan, membuat Nara dan Fira langsung terkejut bukan main.


" Gery saya ini ibu kamu!, "


" Bukan anda bukan ibu saya. Saya nggak pernah menganggap anda adalah ibu saya, "-kata Gery membuat Nara menggeleng tak percaya lalu berjalan mundur menuju ranjang Ayah Gery dan mencabut selang pernapasan membuat tubuh Ayah Gery kejang seketika dan terdengarlah suara Ventilator membuat Gery kesetanan.


" Ayah Yah bangun Yah, "


" Ayah dengar Gery kan? Yah Ayah, "


Gery mengguncang-guncangkan tubuh Ayahnya namun beberapa polisi langsung menariknya karena dokter yang datang untuk menangani.


" WANITA SIALAN!!, "-Teriak Gery pada Nara yang sedang memberontak dibawa polisi.


" AYAAAAAAH!, "


GERY langsung memeluk Sang Ayah setelah dokter menggeleng tak bisa menyelamatkan Ayahnya.


" Yah bangun Gery sendiri Yah. Yahh, "-pilu Gery dengan air mata yang mengalir deras dikedua pipinya.


Dunianya runtuh, tak ada lagi orang yang menemaninya. Semuanya pergi meninggalkan dia.


-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-


"Gue turut berduka cita Ger," - kata Keenan dan teman teman yang datang.


"Lo masih ada kita, "-imbuh Cakra yang diangguki lemah Gery.


" Dimana Veri sekarang? Lo harus temuin Veri sama Sasya Ger. Lo ngga bisa egois, Veri masih minum ASI milik Sasya, "-kata Reno memberi pengertian.


" Suruh dia keapartemen gue dulu. Veri ada disana, "-kata Gery lalu berjalan meninggalkan pemakaman Ayah nya dengan hati yang terbelah.


Sebagian dirinya sudah hilang, kakinya seperti hilang satu membuat ia kesusahan untuk berdiri tegak seperti hari hari lalu.


-*-*-*-*-*-*-*-*-*-


"Ini gaji kamu. Silahkan pergi, "


Gery langsung berlalu menuju kamar meninggalkan babysitter yang melongo.


" Veri,"-lirih Gery melihat sang anak tertidur pulas diranjangnya.


Mengelus rambut Veri sayang. Sudah 2 hari dia tidak pulang dan menelantarkan anaknya itu.


Hanya dia sekarang yang menjadi tujuan Gery saat ini.


"Papa, "-kata Vero terbangun dari tidurnya.


" Iya ini Papa. Maafin Papa ya sayang, "


" Papa, "-tangis Veri memeluk ayahnya yang tidak pulang dari kemarin.


Gery menepuk punggung Veri sayang. Dia memasang cctv dirumah dan Veri selalu menunggunya didepan rumah.


" Papa nggak akan ngga  lagi sayang. Maafin Papa, "


Keduanya terhanyut dalam suasana rindu.


-*-*-*-*-*-*-*-*-*-


" GERY VERI!, "