
Sasya Grethania, cewek yang mengidam idamkan Keenan. Sosok cowok yang punya segalanya baginya, namun sayang ia sudah mempunyai seseorang yang tengah hamil disampingnya.
Dulu ia sangat buta, tak pernah memikirkan apa akibat perbuatan bejatnya pada Keina, seseorang yang Keenan sayangi.
Ia juga tak pernah memikirkan perasaan wanita hamil itu. Yang ada dipikirannya hanya mendapat Keenan dan mendapatkan Keenan.
"Lepasin gue Cak, Ren. Gue mohon Lepasin gue, jangan kasih gue ke Gery. Gue mohon, "
Reno dan Cakra yang sedang mencengkeram kedua lengan Sasya tak menyahut.
Gery Brexly, cowok dengan badan besar dan gagahnya yang mampu membuat kaum hawa langsung terpikat olehnya. Namun jangan salah dulu, itu hanyalah cover karena faktanya dia adalah cowok pedofiil yang suka bermain dengan wanita-wanita untuk bersenang senang.
"Ger,gue bawain mainan buat lo, "
Sasya bergidik ngeri saat melihat Gery yang sedang merokok menatapnya.
" Gue mohon lepasin gue. Gue janji nggak akan ganggu hubungan Keenan sama Keina lagi. Gue janji,"
"Nggak ada jaminan buat janji lo, "-sahut Reno membuat Sasya bungkam .
" Gue sama Reno duluan ya, "
Gery mengangguk lalu berjalan mendekat pada Sasya yang berdiri kaku dia bang pintu yang sudah tertutup.
GERVIDE memang punya ruangan khusus untuk menghukum anak - anak yang patut menerima hukuman dari mereka.
Seperti Sasya contohnya.
Gery mendekat lalu meraih tangan Sasya yang dingin karena ketakutan. Itu sudah biasa bagi Gery. Sasya bukan wanita pertama yang ia pegang tangannya. Dia sudah meniduri banyak wanita, namun Sasya adalah anak sekolah pertama yang akan ia tiduri saat ini.
Biasanya cowok itu meniduri wanita wanita bar. Hanya untuk bersenang-senang. Tak lupa ia selalu memakai pengaman. Ia tak ingin menjadi ayah muda, big NO untuknya.
"Nggak usah takut sama gue, "-ucap Gery pelan berharap wanita itu tenang.
" Gi-gimana gue nggak takut ka-kalo gue mau dipakai buat seneng seneng sama Lo, "
Gery terkekeh pelan lalu mengajak Sasya untuk duduk di sofa. Gery melanjutkan acara sebat menyebat rokoknya sedang Sasya meneliti ruangan yang baru pertama kali ia masuki itu dengan gugup.
Bulu kuduk Sasya merinding kala melihat kasur disitu.
" I-itu buat ap-apa ?, "
Gery menoleh melihat kearah tunjuk Sasya.
" Buat tidur anak-anak kalo nggak pada balik. Tiap malam selalu ada yang jaga disini, "
Sasya manggut manggut mengerti.
" Bu-buat lo ma-main juga?, "
" Ini pertama kalinya gue main sama anak sekolah,"-jujur Gery pada Sasya
"Ger gu-gue mohon lepasin gue. Gue mohon, gue nggak bakal ganggu hubungan Keina sama Keenan lagi. Gue mohon, "
Gery membuang rokok nya asal lalu berdiri dan menarik Sasya ke atas ranjang. Sasya langsung meringkuk, turun dari kasur. Ia tak ingin perawan nya diambil orang lain selain suaminya kelak.
" Ger, gu-gue mohon, "
Gery tak menyahut, ia langsung membuka kancing baju seragam yang Sasya pakai membuat Sasya berontak padanya.
" Ger, gue mohon. Lepasin gue, "
" Gue bisa lepasin lo Sya. Gue bukannya takut sama Keenan, gue cuman mau balas budi sama dia. Lo tau, dia yang selalu nolongin gue Sya. Dia yang selalu bantu gue pas gue jatuh, "-jelas Gery pada Sasya yang menangis.
" Ger, gue mohon. Lepasin gue kali ini aja,"
"Nggak bisa Sya. Gue janji gue pake pengaman, misi gue cuman buat lo nggak perawan bukan buat lo hamil, "
Gery langsung lari mengunci pintu dan mengambil pengaman dari saku celananya lalu memakainya.
" Ger, sa-sakit , "-adu Sasya disaat Gery baru saja memasukkan kejantanannya kedalam tubuh Sasya.
Gery tau. Ini pertama kalinya untuk cewek itu, terbukti dari bercak merah yang keluar dari keintiman Sasya.
" Gue tau,"
"Ger,"-rengek Sasya namun dengan nada sedikit melenguh
"Bentar Sya. Barengan, gue juga, "
Gery dan Sasya tumbang setelah pelepasan yang mereka lakukan.
OoO
Kejadian itu sudah berapa bulan silam semenjak Sasya keluar dari sekolah. Ia diusir oleh Papanya setelah itu.
Hidupnya kacau. Sangat kacau. Sampai waktu yang tak pernah ia bayangkan terjadi. Dimana Keina, sosok yang dulu sangat ia benci, sosok yang ia pikir merebut Keenan darinya.
Menjadi sosok yang membantu dirinya dikala ia jatuh. Ternyata benar apa yang selama ini Sasya dengar soal Keina.
Sasya akhirnya tinggal di ruko yang dulu Keina tinggali. Sasya disuruh untuk menjaga Cafe milik Keina. Sasya sangat bersyukur, ia mengucapkan terima kasih banyak pada Keina. Ia tak menyangka Keina akan seperti ini padanya.
"Lo hamil?!,"
Keina, Keenan, Diana, Cakra, Icha, Reno, Reina dan Vero sedang ada di Cafe milik Keina.
"Siapa yang ngamilin lo Sya. Bilang sama gue, "-ucap Reina pada Sasya yang memilin jemarinya gugup.
Hubungan Sasya dan anak-anak mulai membaik. Terlebih Reina yang semakin posesif dengan Sasya. Ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, tak tau apa-apa soal sahabat nya.
" Bukan Gery kan Sya?, "-Tanya Reno was was
" G-gery, "-jawab Sasya
Semua anak terpekik kaget.
" Sorry Sya. Maafin gue, itu semua salah gue, "-ujar Reno menyesal
" Bukan salah lo Ren. Gue hamil bukan gara-gara waktu itu, sebulan setelah kelulusan gue ketemu Gery pas gue pulang dari supermarket. Dia mabuk, gue anterin dia ke rumah sampek akhirnya dia melakukan itu tanpa pengaman,"-jelas Sasya sambil terisak
Flashback on
Sasya baru saja keluar dari supermarket untuk membeli mie instan.
"Loh Gery?, "
Mata Sasya terpaku pada seorang lelaki yang sedang tiduran ditrotoar jalan. Ia pikir pemulung tadinya, tapi lelaki itu menggunakan jaket GERVIDE.
" Ger bangun, "
Jalanan sudah sepi. Ini sudah pukul 11 malam. Tadinya Sasya juga tak mau keluar, tapi rasa laparnya yang memaksa dia untuk pergi ke supermarket terdekat.
" Elo, ya cantik boleh kenalan? Gue belom nikah, nikah sama gue ayo, "
" Ger, lo mabuk, "
Gery terus bicara ngelantur membuat Sasya bimbang harus gimana.
" Gue anterin apa ya?, "
" So-sorry ya Ger. Gue cuman mau ambil hp lo kok, "
Sasya mengambil ponsel Gery disaku jaket yang ia kenakan. Lalu bertanya pada temen temen Gery.
Setelah ada balasan Sasya menghentikan taksi yang lewat dan memapah Gery.
" Eh kuncinya mana, "
Sasya berusaha membuka pintu rumah Gery, namun tak bisa karena dikunci.
" Gery, kunci nya mana?, "
" Ger? Halo?, "
" Udah kobam ni anak. Minum berapa ember sih sampek kek gini,"
"Mon maaf ya Ger ya. Gue cuman mau nyari kunci doang, gabakal ngapa-ngapain gue, "
Sasya meraba raba tubuh Gery dan akhirnya ketemu juga disaku jaketnya.
" Yang mana nih kamar nya, "
" Udah sofa aja deh,"
Sasya menghempaskan tubuh Gery disofa dengan asal.
"Kayak angkat beban aja gue. Buset badan lo gede gini bisa teler juga, "
" Gue pamit ya Ger, "
Baru selangkah Sasya maju, Gery sudah mencengkeram tangannya lalu menghempaskan tubuh Sasya kesofa.
" Gery! Sialan jangan brengsek!, "
Gery seperti bisa dan tuli dia terus membuka kancing baju yang Sasya kenakan lalu bermain di gundukan besar membuat Sasya melenguh.
Sasya terus berontak sampai akhirnya Gery menyebar ****** nya didalam tubuh wanita itu. Dan ambruk diatas tubuh Sasya yang lemah.
Flashback off
Reina langsung memeluk sahabatnya itu.
"Gapapa Sya. Gue bakal cari Gery buat lo, gue buat dia tanggung jawab sama kelakuannya, "
Sasya menggeleng.
" Dia udah punya pacar Rei. Gue gamau jadi yang ketiga, mendingan gue kayak gini. Besarin anak gue sendiri daripada gue ngerusak hubungan dia, "-cecar Sasya
" Nggak dia harus tanggung jawab pokoknya! Kalian masih kontak kontakan sama Gery nggak?,"
Keenan, Reno dan Cakra menggeleng.
"Dia udah ganti nomor. Dia... Dijodohin, "
Duar. Seperti petir dimalam hari. Omongan Cakra langsung menusuk tepat dihati Sasya.
" Gapapa kok. Gue bisa besaran anak gue sendiri. Seenggaknya dia yang bikin gue nggak mati bunuh diri, "
Ucap Sasya sambil mengelus janin yang baru berusia 2 minggu itu.