The Fight For Fairness In Gaming

The Fight For Fairness In Gaming
Memasuki Dungeon



"Arya, kenapa kamu begitu lambat? Kami sudah bosan menunggumu," omel Farah dengan suara cempreng yang membuat Han merasa malu.


Sambil menunggu, beberapa pemain lain memperhatikan kelompok Arya dengan skeptis. "Dasar pemula," gumam seorang pemain sambil memegang pisau kecil di tangannya.


Arya dan Han merasa tidak nyaman dengan komentar yang tidak sopan tersebut, tetapi Farah merasa lebih terhina. Dia merunduk dan memendam wajahnya di dada Han, kesal karena tidak bisa berkata-kata.


"Hati-hati, Farah," tegur Han dengan lembut. "Farah memang agak pemalu, tapi dia sangat berharga bagi kita."


Han memandang Arya dengan rasa bingung. Apakah Arya ingin pergi memancing? Atau apa yang ada di benaknya?


Han melirik ke arah Arya yang duduk di sebelahnya. "Arya, kamu mau memancing?"


Arya tersenyum lebar. "Ayo!"


Farah menatap mereka dengan wajah tak bersemangat. "Tidak, mengapa kita harus memancing? Lebih baik kita mencari dungeon saja."


Arya menghela napas pelan. "Maaf, Farah. Aku lebih suka memancing."


"Aku juga setuju dengan Farah," ucap Han. "Lebih seru dan tantangannya lebih besar."


Farah mengangguk setuju. "Pasti lebih menyenangkan daripada duduk-duduk di tepi sungai."


Arya tersenyum mengalah. "Oke, kita cari dungeon saja. Lain kali mungkin bisa memancing bersama."


"Aku setuju, kita memang butuh healer dalam party kita," ucap Han sambil menatap Arya.


Arya tersenyum, "Tentu saja. Kita bisa membeli peralatan baru untukku juga."


Han melihat peralatan baru Arya dan berkata, "Baju itu sangat cocok dengan tubuhmu, kau terlihat lebih keren dengan tongkat sihir di tangan."


Arya tersenyum bangga dan mengangguk, "Terima kasih."


Setelah membeli peralatan baru untuk Arya, mereka mulai mencari dungeon di sekitar kota Chan. Han berhati-hati memilih zona putih karena ia tahu Arya masih pemula dalam peran penyembuh dan peralatan mereka juga masih terlalu sederhana. Han tidak ingin mengambil risiko yang terlalu besar.


Han mengambil buku misi dari sakunya. Ia memegang buku itu dengan hati-hati, kulit buku yang terawat dan bertuliskan emas tampak begitu elegan. Arya melihat ke arah buku itu, terlihat jelas bahwa itu bukan hanya buku misi biasa. Beberapa kalimat tersusun rapi di atas kertas berkualitas tinggi, dengan tinta hitam yang menunjukkan tingkat urgensi misi.


"Sebelum kita masuk, ambil dulu misi," kata Han sambil menyerahkan buku itu kepada Arya. "Kita bisa mencari dungeon yang cocok dengan level kita."


Arya mengambil buku itu dengan penuh semangat dan membukanya. Halaman pertama menunjukkan peta dungeon yang rumit, lengkap dengan petunjuk dan tanda-tanda. "Siap," ujarnya.


Dalam beberapa menit, mereka sudah berada di depan mulut gua yang merupakan pintu masuk ke dalam dungeon. Mulut gua itu terlihat luas dan gelap, seperti menganga menanti untuk menyambut mereka. Dinding di sekitar mulut gua terhiasi ukiran hijau yang unik, menggambarkan sosok Goblin Lord yang mengerikan. Suara gemuruh dan tangis misterius terdengar samar-samar dari dalam gua, membuat suasana semakin menegangkan.


Tiga teman itu memasuki dungeon dengan hati-hati, mereka merasakan suasana dingin dan lembab yang menyelimuti ruangan tersebut. Cahaya obor yang mereka bawa menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam ruangan yang gelap gulita tersebut.


Di sekeliling mereka, terdapat sebuah labirin yang berliku-liku dan sesekali mereka mendengar suara-suara aneh dari kejauhan. Suara-suara itu semakin dekat dan semakin kuat saat mereka mendekati sebuah lorong sempit yang terdengar seperti memiliki echo yang misterius.


Tiba-tiba, mereka merasakan suhu di sekelilingnya semakin dingin, dan mereka merasakan angin dingin yang bertiup lewat lorong sempit itu. Han mengeluarkan pedangnya dan menempatkan obor di dekat teman-temannya. Arya dan Farah juga siap dengan tongkat sihir dan busur mereka, menanti monster yang akan muncul.


Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki dari arah yang tidak diketahui. Suara itu semakin dekat, dan mereka bisa melihat bayangan hitam yang semakin jelas. Itu adalah monster besar yang memiliki tanduk tajam dan kulit yang keras seperti baja. Mereka siap untuk melawan monster itu dan berharap bisa mendapatkan hadiah yang berlimpah.