
Muka Arya lesu, ia teringat hadiah dari paman NPC yang belum diterimanya. Namun, waktu keluar dari warnet langit sudah gelap, sehingga dia ingin cepat pulang karena lelah. Di satu sisi, dia masih ingin bermain game, tapi di sisi lain, dia tidak ingin membuat ibunya menunggu.
Di dalam rumah ibu Arya melihat sebuah catatan kecil, ia tahu tulisan Arya tidak seperti ini, ibu Arya teringat Yuna.
Ibu Arya merasa sedih melihat anaknya tidak seperti seumurannya, seolah-olah Arya harus dewasa lebih cepat. Sebelumnya, mereka berdua berusaha mati-matian mencari pelanggan untuk sambal petai buatan ibu Arya. Namun sekarang, ibu Arya sudah mampu menghidupi mereka berdua hasil dari kerja keras Yuna dan Arya waktu itu.
Yuna yang terlahir dari keluarga pengusaha mengetahui masalah mengapa sambal petai ibu Arya tidak dapat menghasilkan banyak uang sebelumnya. Ia menyadari bahwa ibu Arya hanya mentitipkannya kepada satu pedagang di pasar, sedangkan Arya waktu itu menjadi buruh angkut.
Yuna bertanya kepada mitra pedagang ibu Arya dan meneliti semuanya dengan detail. Ia menyadari bahwa ibu Arya terlalu bergantung pada pedagang tersebut, sedangkan pedagang sendiri lebih memprioritaskan dagangan ketimbang barang titipan. Yuna juga menyadari bahwa mental Arya belum cukup kuat.
Dari semua data tersebut, Yuna membuat sebuah rencana dan tujuan. Jika bukan karena usaha Yuna, ibu Arya mungkin tidak akan memiliki banyak pelanggan seperti sekarang. Selain itu, Arya juga belajar banyak dan mulai tumbuh menjadi lebih dewasa.
Bagi ibu Arya, Yuna adalah sosok kakak yang sempurna untuk Arya, karena ibunya tidak memiliki ilmu yang sama dengan Yuna. Air mata ibu Arya terjatuh mengingat momen singkat itu. Namun, ketukan pintu membuat ibu Arya membuang semua air matanya.
"Bu, Arya pulang," sapaan Arya sambil membuka pintu, melihat wajah ibunya yang memerah seperti habis menangis.
"Ibu kenapa? Jika ada masalah, cerita pada Arya," tanya Arya dengan sangat lembut. Melihat ibunya seperti itu membuat Arya juga sedih, tetapi sebagai laki-laki dewasa, dia memilih untuk bersikap manis di depan ibunya.
"Ibu tidak apa-apa, Arya sudah selesai bermain? Bagaimana kalau ibu membeli VR helm untuk anak kesayangan Ibu. Ibu punya uang lebih kok sekarang, mau ya?" Arya senang mendengar pertanyaan dan pernyataan ibunya, dia menyetujui dan memeluk ibunya.
Bagi Arya, kesenangan ibunya adalah nomor satu. Hari Senin telah tiba, penampilan Arya berbeda sembilan puluh derajat. Sekarang Arya tidak kusam dan dekil, dia terlihat rapih, bersih, dan sedikit manis, kata ibunya.
Semenjak momen itu, Arya pandai merawat diri. Ia rutin melakukan olahraga sore beberapa kali dalam seminggu dan selalu mandi dengan sabun rekomendasi Yuna sampai sekarang.
Sekarang Arya bersekolah di SMA Jenderal Sudirman. "Eh, murid baru itu manis juga yah, lumayan lah nggak malu-maluin kalau dibawa pergi" bisik-bisik gadis SMA di ruang kelas Arya.
"Pagi anak-anak, kita kedatangan murid pindahan. Ibu harap kalian bisa bergaul baik dengannya ya," ucap ibu guru.
"Sekarang kamu kenalkan dirimu dong?" sorak gadis-gadis di meja tengah. Ibu guru tersenyum mendengar suara gaduh itu, "silakan, kenalkan dirimu."
Sebenarnya Arya gugup, tapi mau tidak mau, ia harus mau!
"Hi!" ucap Arya.
"Hi!" sorak gadis-gadis di kelas bersamaan, membuat Arya semakin gugup.
"Panggil saja Arya, pindahan dari SMA Hatta," kata Arya datar, padahal tubuhnya panas dingin karena gugup.
Setelah perkenalan singkat, Arya disuruh duduk bersama gadis pendiam yang terlihat canggung tapi terlihat manis dimata Arya, mungkin karena faktor kacamata dan ikatan rambutnya saja." batin Arya.
Arya merasa senang melihat bapak guru yang baru masuk ke kelas menggantikan ibu guru. Dalam benaknya, bapak guru ini terlihat seperti seorang profesor yang tampan dengan jas putihnya yang rapi dan kacamata di wajahnya.