
Dekorasi bunga warna putih dan biru muda menghiasi gedung resepsi pernikahan Kania dan Arga. Kedua mempelai tampak serasi dengan pakaian berwarna senada. Pengantin perempuan mengenakan gaun menjuntai warna putih, sedangkan sang pria dengan setelan jas warna silver. Penampilan bak raja dan ratu itu mengundang decak kagum mereka yang hadir.
Para tamu undangan mulai berkasak kusuk membicarakan sang mempelai pria. Ada yang heran, sebagian merasa ragu, namun tak sedikit pula yang kagum dengan parasnya. Pada saat keluarga Suryatama datang, mereka justru semakin santer membicarakan. Beberapa pasang mata tertuju kepada tante Widya dan juga Reno ketika memasuki gedung. Mereka saling berbisik, saling menelisik.
"Harusnya kamu yang ada di samping Kania sekarang, bukan lelaki kampungan itu!" bisik tante Widya kepada Reno yang berjalan di sebelahnya. Langkahnya tetap tegak sembari melempar senyum kepada tamu undangan yang menyapanya.
"Sampai kapanpun mama tidak akan merestui kamu dengan ****** itu!"
"Ma, kita nggak harus bahas itu sekarang kan?!" sela papa Reno menenangkan istrinya.
Keluarga Suryatama berjalan menuju tempat kedua mempelai untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya Pak Arman. Sayang sekali kita tidak jadi berbesanan ya!" ucap tante Widya ketika bersalaman.
"Terimakasih Bu Widya, Pak Surya. Semoga ini tidak membuat hubungan kita rusak ya Pak, Bu" jawab om Arman menerima uluran tangan tamunya.
"Kita masih tetap saudara, Pak. Selamat ya Kania"
"Terimakasih Om, Tante."
"Kan... Selamat ya! Kayaknya, aku juga belum sempat minta maaf" kata Reno sembari menjabat tangan Kania. Namun Kania buru-buru menarik tangannya.
"Terimakasih. Kasih selamat juga dong, ke suamiku." Kania merapatkan tubuhnya kepada Arga. Tangannya menggelayut mesra pada lengan pria itu. Reno menatap Arga dan mengulurkan tangan. Ia tak mengucapkan apapun kepada sang mempelai pria.
Sementara dari kejauhan Dini memperhatikan gelagat pasangan pengantin itu. Matanya sempat beradu pandang dengan kekasihnya yang kini berdiri sebagai mempelai. Adegan gelayut mesra Kania kepada Arga membuat dadanya terasa panas. Ada yang menggelayut di pelupuk matanya dan hampir tumpah. Dini memalingkan muka dan meminum mocktail yang ada di genggamannya dengan sekali tenggak. Sayangnya air dingin yang ia teguk tak mampu memadamkan bara api cemburunya.
"Pulang, yuk!" bu Asri yang seolah paham dengan apa yang terjadi, memeluk pundak Dini dari belakang. Ia mengajak anak asuhnya itu menjauh dari kerumunan. Dini tersenyum getir dan hanya pasrah mengikuti ajakan bu Asri. Mereka berdua keluar dari gedung megah itu.
Arga menatap nanar punggung Dini yang kian menjauh. Kakinya ingin melangkah menyusul, namun genggaman tangan Kania yang kian erat membuatnya tak mungkin melakukan itu. Ia hanya bisa tertunduk lesu melihat kekasihnya pergi.
Melihat perubahan sikap Arga, Kania tersadar dan melepaskan genggamannya.
"Sorry" ucap Kania lirih.
"Setelah acara ini selesai, kita bisa susul pacar kamu"
"Saya bisa kok Bu, ke panti sendiri"
"Ya kamu pikir saya ngikutin kamu karena takut kamu ilang? Kamu nggak lihat apa orang segini banyak? Terus kalau mereka tahu kita jalan sendiri-sendiri mereka bakal gimana coba?!"
Arga hanya terdiam dan menggigit bibirnya sendiri.
"Ingat ya, bersikap romantis dihadapan orang lain itu tertulis dalam surat perjanjian. Makanya aku bilang kemarin, baca! Oh, satu lagi, mulai sekarang kita jangan terlalu formal. Biasakan untuk tidak memanggil saya 'Ibu'."
"Saya harus panggil apa, Bu? Eh.."
"Apa aja, kek! Harus aku juga yang mikir masalah beginian?"
Arga sadar bahwa mulai hari ini dirinya telah terikat oleh perjanjian yang telah ia tanda tangani dengan sadar. Namun bersikap biasa, apalagi romantis kepada perempuan yang selama ini menjadi atasannya itu bukan hal yang mudah. Ada rasa canggung pada dirinya, terutama ketika ia teringat dengan Dini. Rasanya tidak pernah terfikir olehnya tentang bagaimana bersikap romantis kepada wanita selain Dini. Kali ini ia tak hanya menggigit bibir, melainkan ujung jari jempolnya. Memikirkan tentang sapaan apa yang harus ia gunakan untuk Kania, istrinya diatas kertas.
"Hei! Jaga sikapmu! Masih banyak tamu. Jangan sampai perjanjian kita batal di hari pertama!"
Kania menyenggol Arga agar menurunkan tangannya. Lelaki itu tersadar dan segera memperbaiki sikapnya.
Pesta pernikahan telah usai. Seperti yang dijanjikan oleh Kania tadi, mereka berdua segera bergegas menuju panti asuhan Arga.
"Kamu yang nyetir mobilnya" Kania menyerahkan kunci mobil Lexus LC miliknya.
"Saya?" tanya Arga ragu-ragu.
"Kamu bisa bawa mobil kan?"
"Bisa tapi, saya pikir akan sama sopir Anda biasanya"
"Oh...iya. Baik...B... Kan"
"Kamu panggil nama sama aku?!"
"Eh, saya bingung. Harusnya panggil gimana?"
"Ah..ya sudahlah, terserah!" Kania mulai kesal, karena ia sendiri sebenernya juga bingung.
Sekedar masalah panggilan saja kenapa begitu merepotkan. Ia bertambah kesal ketika Arga tidak berinisiatif membuka pintu mobil untuknya.
"Bukain! Kamu nggak lihat itu satpam dari tadi merhatiin kita?"
"Ah..iya" Arga buru-buru membukakan pintu mobil untuk Kania.
"Terimakasih sayang!" ucap Kania dengan suara yang sengaja dilantangkan.
Deg! Jantung Arga serasa berpindah tempat mendengar teriakan Kania. Apalagi Kania mengucapkan sembari mengerlingkan mata ke arahnya. Manis sekali! Arga sempat tertegun sejenak, sebelum akhirnya masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan mereka berdua tidak saling bicara. Arga sibuk dengan pikirannya tentang Dini, sementara Kania lebih memilih untuk tidur. Sesampainya di panti asuhan, Kania memilih untuk tidak ikut turun.
"Aku tunggu disini saja, mau lanjut tidur, capek." kata Kania.
Arga mengangguk dan bergegas meninggalkan Kania di mobil
"Hei, kamu! Jangan lama-lama. Tidak baik bagi tulangku kalau tidur dalam posisi ini terlalu lama. Ngerti?" teriak Kania sebelum Arga menutup pintu. Arga menangguk pelan dan meninggalkan Kania. Ia berlari kecil masuk ke dalam panti.
Sambutan hangat anak-anak panti membuat Arga merasa semangat. Mereka mengerubuti Arga berebut memeluk.
"Mas Arga makin ganteng ya setelah jadi pengantin" celutuk Mia, salah satu penghuni panti.
"He..he..terimakasih Mia. Kamu juga makin gede makin cantik. Ehm, mbak Dini mana?" tanya Arga kepada anak-anak.
"Cie.. Mas Arga, udah nikah tapi belum bisa move on" sahut anak-anak lain menggoda Arga.
"Ih..kalian ini masih kecil kayak ngerti artinya move on aja! Dimana mbak Dini?" tanya Arga sekali lagi.
"Itu di dapur. Lagi nyuci piring tadi."
Arga meninggalkan anak-anak itu dan segera menuju ke dapur. Dilihatnya sang kekasih sedang sibuk mencuci. Arga memeluk pinggang Dini dari belakang.
"Hai!" sapa Arga lirih.
"Eh, ada pengantin baru" jawab Dini yang masih terus melanjutkan kesibukannya.
"Kok gitu sih ngomongnya. Kamu kan sudah janji gak akan marah soal ini"
"Gak marah bukan berarti gak cemburu juga kan, Ga"
"Sayang!" Arga memutar tubuh Dini dan menghadapkan kepadanya. "Aku itu kesini karena pengen kangen-kangenan sama kamu. Tapi kamunya malah ngambek gini sih!"
"Ya wajar kan kalau aku cemburu lihat kejadian tadi."
"Iya..sorry. Sini peluk, biar cemburunya ilang"
"Tangan aku basah"
"Ya udah kalau gitu cium aja"
Arga hendak mendaratkan bibirnya ke mulut Dini. Namun keduanya segera saling menjauh ketika mendengar langkah seseorang yang hendak masuk ke dapur.
"Ga, itu di mobil ada orang? Ibu pikir kamu sendirian tadi. Kamu sama siapa kesini?" tanya bu Asri.