
"Tok..tok..tok.."
Terdengar seseorang yang mengetuk ruangan Kania. Dari dalam ruangan Monik menyuruh orang itu masuk. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan membawa buket bunga lili berwarna putih. Parasnya yang tampan sempat menyihir kedua perempuan itu. Dalam beberapa detik Kania dan Monik dibuat terpesona dengan wajah pria asing pembawa bunga itu.
"Permisi Bu, ada kiriman untuk ibu....Kania" Pria itu membaca sepucuk kartu yang terselip dalam buket.
"Ah..iya. Letakkan disitu." kata Monik yang masih tak mengalihkan pandangannya. Suara baritonnya semakin membuat berdesir kedua perempuan di hadapannya.
"Kamu siapa?" tanya Kania dengan sigap.
"Saya security, Bu."
"Nama kamu?"
"Arga, Bu"
"Sudah punya pacar?" pertanyaan spontan dari Kania sontak membuat pria itu hampir menjatuhkan buketnya. Bukan cuma dia, Monik juga terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh sahabatnya itu. Ia langsung beralih menatap Kania.
"Kak?!"
"Eh...anu..maksudnya gimana Bu?" Pria itu balik bertanya dengan terbata-bata.
"Iya.. Kamu. Sudah punya pacar apa belum?"
"Sudah, Bu"
"Putusin gih, besok kamu pacaran sama aku. Oh..nggak, bukan pacaran. Kita akan menikah, secepat mungkin!"
"KAK!" Monik tiba-tiba memekik saking terkejutnya. "Kamu, siapa tadi namamu?"
"Arga"
"Ya..itu. Kamu segera balik aja ke tempat kamu ya. Udah sana!" Monik mengusir Arga agar segera keluar dari ruangan.
"Tunggu! Aku serius. Besok pagi kita ketemu untuk membicarakan ini. Kamu tau kan siapa bos di kantor ini?" tanya Kania mengintimidasi.
Arga mengangguk pelan sambil berjalan keluar. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Pikirannya menari-nari dipenuhi khayalan tentang pernikahan dengan bos cantiknya itu. Perasaan geli yang menelusup membuatnya tersipu-sipu. Hingga akhirnya suara dering gawai membuyarkan lamunannya. Sebuah nama dengan emoticon love tertampil di layar.
"Hallo!....iya, nanti aku mampir beli kebutuhan anak-anak... Iya, sekalian obatnya Bu Asri. Diusir?...tapi kalian aman kan?....iya, aku segera pulang, nanti kita bicarakan di rumah". Arga menutup telepon dengan rasa cemas. Suara lembut dari seberang mengabarkan bahwa panti akan segera diambil alih oleh pihak bank. Kabar itu mengaburkan lamunannya, menyuguhkan kenyataan bahwa ia sedang dalam masalah berat. Panti asuhan tempat ia tinggal dan dibesarkan selama ini terancam hilang. Sejumlah penghuni panti yang kini menjadi tanggung jawabnya juga tengah khawatir akan nasib masa depan mereka. Arga selama ini banting tulang dan bahkan harus rela putus kuliah untuk bekerja demi kelangsungan operasional panti. Apalagi mereka saat ini tdk memiliki donatur tetap. Sebagai anak yang paling tua, Arga tentu harus mengambil alih tugas ini. Karena tidak mungkin lagi mengandalkan bu Asri yang sudah tua dan sakit-sakitan.
Arga kembali ke pos security dengan pikirannya yang semrawut. Sebagian angannya terbang ke panti, memikirkan kondisi adik-adiknya. Di sisi lain ia harus mencari penghasilan tambahan agar secepatnya panti bisa ditebus dari bank.
Sementara di ruangan Kania, Monik sedang mempertanyakan keputusan gila sepupunya itu.
"Kak, jangan main-main dong! Kasihan kan anak orang dimainin!" kata Monik memohon kepada Kania.
"Aku serius, kok! Seperti saran kamu kan, cari pacar baru." Jawab Kania santai.
"Lebih cepat lebih baik, Mon. Papa juga inginnya aku cepet nikah."
"Okey! Tapi nggak harus sembarangan orang kayak gini dong, Kakak!"
"Kenapa emangnya? Dia tampan, lebih tampan dari Reno malah. Badannya juga bagus, tinggal dipakein outfit keren, jadilah itu. Jujur deh, kamu tadi juga terpesona kan sama dia? Ngaku?!" Kania mengarahkan telunjuknya ke hidung Monik. Perempuan itu menggigit ujung bibirnya dan tersipu.
"Ya...okey.. Dia emang menarik sih, tapi...om Arman.."
"Udah lah, papa biar aku yang urus. Sekarang kamu cari profilnya dia di HRD atau dimana aja. Besok suruh dia temuin aku disini. Okey?"
Kali ini Monik tak dapat menolak perintah Kania. Dalam sekejap Kania sudah mendapatkan info tentang pria itu. Latar belakangnya, pacarnya, keluarganya, hingga masalah yang sedang dihadapi oleh Arga. Kania berencana menggunakan semua itu untuk menekan Arga supaya ia mengikuti keinginannya.
Keesokan harinya di ruangan Kania, Arga menghadap bos cantiknya itu. Ia datang bersama pacarnya, lebih tepatnya Dini yang memaksa untuk ikut setelah mendengar cerita dari Arga.
"Jadi gimana, kalian sudah putus?" tanya Kania tanpa basa basi.
"Maksudnya gimana ya? Saya nggak ngerti!" jawab Dini tidak kalah ketus. Sorot matanya yang penuh kebencian menatap tajam ke arah Kania.
"Oh..jadi dia belum cerita ke kamu?"
"Yang saya nggak ngerti itu maksud Anda! Kenapa tiba-tiba mau ngrebut pacar orang?!" kata Dini dengan nada yang mulai meninggi. Arga yang disampingnya berusaha menenangkan pacarnya.
"Okey. Saya perjelas. Saya tahu, kalian sedang kesulitan keuangan untuk mengurus panti. Saya akan bantu itu, saya lunasi semua hutangnya dan sertifikat panti bisa kalian ambil lagi. Saya juga bisa jadi donatur tetap kalian. Pokoknya selama ada saya, biaya operasional panti aman."
"Syaratnya?"
"Dia harus menikah dengan saya." Kania menunjuk ke arah Arga. Kalimat itu membuat telinga Dini terasa panas. Denyut jantungnya terpacu lebih cepat seperti mau meledak. Namun ia tetap berusaha mengatur emosinya yang kian membuncah.
"Jadi saya harus menukar pacar saya dengan sejumlah uang, begitu?"
"Selama dua tahun. Saya hanya butuh menikahi pacar kamu selama dua tahun. Setelah itu, kami akan bercerai dan semuanya selesai. Atau kalian juga tidak perlu putus. Karena yang saya butuhkan hanya status pernikahan, bukan orangnya."
Suasana menjadi hening sejenak, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana? Sepakat? Toh kalian masih bisa...."
"Satu tahun. Saya akan memberikan Anda waktu satu tahun untuk menikah dengan Arga. Tidak lebih dari itu. Sepakat?" Dini memotong penjelasan Kania tanpa meminta kesepakatan Arga. Dua perempuan itu saling beradu pandang, sementara Arga justru semakin bingung. Sejenak Kania menghela nafas lalu mengulurkan tangannya.
"Deal! Tapi selama pernikahan, jangan pernah sedikitpun memperlihatkan kepada publik bahwa kalian pacaran."
Dini menyambut uluran tangan Kania. Mereka sepakat dengan perjanjian pernikahan yang dibuat tanpa persetujuan Arga.
"Din?!" Arga menatap nanar ke arah pacarnya. Logikanya tidak bisa menerima percakapan dan kesepakatan kedua perempuan itu.