
Monik berdiri di depan ruangan Kania yang terbuka. Ia ragu-ragu ketika hendak masuk. Dari depan pintu ia melihat atasan yang juga sahabatnya itu nampak tidak tenang.
"Permisi....saya...boleh masuk?" tanya Monik ragu-ragu sembari mengetuk pintu dengan pelan.
Kania terbangun dari lamunannya dan menyeka ujung matanya yang sedikit basah.
"Eh..Mon..gimana? Ada apa?" tanya Kania.
"Kak? Eh...Bu..." Monik agak bingung mendapati mata Kania yang basah.
"Masuk sini, Mon. Tutup aja pintunya"
"Kamu nggak apa-apa? Itu tadi aku lihat Selin buru-buru banget perginya! Kenapa?" tanya Monik heran.
"Gimana rapatnya? Jadinya jam berapa?" Kania justru balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ntar dulu, ini lebih penting daripada rapat. Sebenernya ada apa sih, Kak? Kemarin kamu bilang putus sama kak Reno. Sekarang aku lihat kamu kayaknya lagi ada masalah sama Selin. Ada apa sih, Kak?"
"Udah gak penting. Itu tadi jadinya rapat ditunda jam berapa?"
"Ntar dulu! justru karena ini rapat penting, makanya aku nggak mau kamu datang bawa masalah. Yang ada ntar kamu gak fokus di rapat. Selesaikan dulu masalahmu." Kali ini Monik mengabaikan pertanyaan Kania. Ia tahu bahwa sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Meskipun Kania berusaha menutupinya, Monik selalu tahu kondisi batin Kania sekalipun ia tidak bercerita. Monik adalah sahabat dan pengamat terbaik Kania.
"Emangnya rapat jadinya kapan sih?" tanya Kania menyerah.
"Aku sudah minta Anita buat gantiin, nanti kita tinggal terima report dari dia."
Kania tidak membantah keputusan sepihak dari Monik. Ia sendiri menyadari bahwa otaknya tidak seratus persen untuk menghadiri rapat.
"Kakak beneran putus sama Kak Reno?"
"Entahlah" jawab Kania dengan mengangkat bahunya.
"Ada masalah apa sih, Kak? Kok sampai mau putus segala. Nanti kalau Om Arman tau gimana?"
"Itulah, Mon. Aku juga bingung gimana ngomongnya ke Papa."
"Emang harus putus ya? Nggak bisa diomongin baik-baik? Biar ketemu jalan keluarnya tanpa harus putus"
"Dia selingkuh, Mon"
"Kak Reno selingkuh?!"
"Sama Selin"
Kania mulai menceritakan kejadian dua minggu yang lalu. Dimana ia tidak sengaja membaca pesan singkat yang muncul di layar handphone Reno. Sebuah pesan yang diawali dengan sapaan 'Honey' menimbulkan kecurigaan bagi Kania. Ditambah lagi sikap Reno yang selalu dingin ketika mereka sedang berdua. Dari situ ia mulai mengamati gerak gerik kekasihnya itu. Kecurigaannya semakin teryakinkan ketika Kania mengetahui bahwa seseorang telah menyimpan nomer Reno dengan nama 'My Honey Bee'. Ia lalu melanjutkan dengan melacak percakapan di handphone Reno melalui cloning aplication chat. Tanpa sepengetahuan Reno, Kania berhasil menyadap handphone pasangannya itu dan mengetahui isi chatnya. Tangan Kania bergetar ketika membaca satu per satu chat dari hp Reno. Apalagi setelah ia mengetahui sebuah nomer yang tersimpan di hp Reno dengan nama 'Sayang' dan itu bukan nomernya. Kania membuka foto profil yang ada di nomer tersebut, air matanya tak terbendung ketika melihat bahwa itu adalah Selin. Nafasnya tersengal, lututnya lemas seketika, namun jemarinya tak kunjung berhenti membuka percakapan itu. Dengan matanya yang basah dan dentuman jantung yang tak beraturan, Kania masih membaca pesan chat antara Reno dan Selin. Dari situ ia tahu bahwa ternyata selama ini mereka sering pergi berdua. Ia juga tahu tentang rencana keduanya yang akan berkencan di sebuah hotel berbintang.
Kania menata hatinya dan memberanikan diri untuk memergoki Reno. Ia sengaja datang lebih awal menggunakan taksi online ke hotel tersebut. Dengan mengenakan pakaian yang tak biasa dan masker dengan warna senada, Kania duduk di restaurant hotel yang menghadap ke arah pintu lobby. Dalam hati kecilnya ia justru menginginkan agar kecurigaannya tak terbukti. Ia berharap tak akan menemukan Reno dan Selin disini. Namun kenyataan berkata lain, sesaat kemudian sepasang lelaki dan perempuan yang saling bergandengan tangan datang menuju resepsionis. Mereka mengenakan pakaian dengan warna senada. Setiap yang melihatnya pasti akan mengira bahwa kedua orang itu adalah sepasang kekasih. Kania menyaksikan pemandangan menyakitkan itu dari kejauhan. Ia yang semula berniat menghampiri Reno dan memberikan kejutan justru terpaku di tempat duduknya. Kakinya gemetar tak sanggup beranjak, dadanya terasa sesak. Seperti ada yang menghimpit dan menyedot seluruh oksigen di ruangan ini. Hingga mereka berdua masuk ke dalam lift, Kania masih belum bergeser dari tempat duduknya.
Satu jam berlalu, Reno dan Selin belum juga terlihat kembali. Kania menghabiskan minumannya dan melangkah gontai keluar. Ia menahan tangis meninggalkan hotel, meskipun pada akhirnya satu dua butir tak terbendung oleh kelopak matanya yang mungil.
Monik yang sejak tadi menyimak cerita Kania tak kuasa menahan amarah. Spontan ia membanting berkas-berkas yang sejak tadi dibawanya.
"Brengsek banget sih tu orang!"
"Hei.. Santai dong!" Kania yang berada di sampingnya, terkejut dengan reaksi Monik.
"Harusnya waktu itu kakak samperin mereka! Kakak tendang aja biji tu cowok! Trus jambak-jambak ceweknya, cabik-cabik mukanya!! Anjing banget jadi orang!"
"Maunya juga gitu, Mon. Tapi jangankan buat ngejambak, berdiri aja susah! Tiba-tiba lemes aja gitu, nggak ada tenaga"
"Terus kak Kania udah tanya ke mereka soal itu?"
"Ya itu dia. Reno nggak mengelak waktu aku tanya soal hubungannya dengan Selin. Padahal kalau waktu itu dia berbohong, aku mungkin akan pura-pura percaya juga" jawab Kania sambil tersenyum getir.
"Sekarang rencana kakak gimana?"
"Nggak tahu, aku juga bingung. Kalau mau ngebatalin pernikahan sekarang juga kayaknya nggak mungkin. Aku kepikiran Papa."
"Emangnya Kak Reno mau membatalkan pernikahan kalian?"
"Ya dia sih justru maunya kita tetep nikah. Tapi masa iya aku harus nikah sama orang yang ternyata nggak cinta sama aku?"
"Terus kenapa dia masih tetep mau nikah kalau nggak cinta?"
"Bisnis mungkin. Yang jelas aku nggak mau nikah sama dia. Tapi aku juga nggak bisa membatalkan pernikahan ini. Ngomongnya ke Papa gimana?"
"Itu dia masalahnya. Gimana caranya ngomong ke Om Arman. Kakak nggak pengen cerita yang sebenarnya ke Om Arman?"
"Nggak mungkin lah Mon kalau cerita ke Papa. Tau sendiri kan kondisi Papa sekarang kayak apa"
Mereka berdua terdiam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Menceritakan masalah ini kepada papanya memang bukan pilihan yang tepat saat ini. Namun membiarkan pernikahan itu tetap terjadi juga berat bagi Kania.
"Kakak cari pacar baru lagi aja gimana?"
Kania sontak mengernyitkan dahinya sembari melihat ke arah Monik. Sepupunya itu tiba-tiba saja berceletuk seperti baru saja mendapatkan ide cemerlang. Ia balik menatap Kania sembari menaikkan alis beberapa kali.