The Beautiful Demon

The Beautiful Demon
Pengkhianatan



Kania menyeruput ice americano di hadapannya yang tinggal separuh. Membiarkan cairan hitam pahit itu memenuhi rongga mulutnya. Lidahnya mencerap rasa pahit es kopi itu, merasakannya dan menelan perlahan bersama dengan beban di dadanya. 'Ah, ini rasanya lebih manis daripada kalimat yang akan aku dengar dari mulut lelaki itu' pikir Kania.


"Kamu masih diet gula?" tanya lelaki berkemeja warna navy di hadapan Kania.


"Ini masih lebih manis daripada kata-katamu"


"Kania, kamu itu cantik, badan kamu juga sudah bagus. Sudahlah nggak perlu diet, nikmati saja hidup"


"Tapi nyatanya itu juga nggak bisa membuatmu bertahan hanya dengan aku, kan?!"


"Jadi selama ini kamu melakukan itu untuk aku? Harusnya kamu nggak usah melakukannya, berhentilah!"


"Kenapa? Apa karena sekarang kamu sudah bersama wanita lain?"


"Kania, come on! Hubungan kita ini cuma karena perjodohan, kita sama-sama tahu itu kan! Jadi kamu nggak perlu lah berpura-pura! Seolah-olah kamu sudah jatuh cinta sama aku"


"Ah, jadi selama ini kamu hanya berpura-pura mencintaiku?"


"Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama?!"


Kania menghela nafas dan berusaha tetap tenang, membenahi posisi duduknya dengan menyilangkan kaki. Ia kembali menyeruput ice americano nya, berharap air mata yang hendak tumpah sedari tadi kembali tertelan bersama dengan air pahit itu. Nafasnya sedikit tak beraturan mendengar pertanyaan Reno. Pertanyaan yang menegaskan, bahwa lelaki yang selama ini ia anggap sebagai kekasih, ternyata hanya bersandiwara. Namun Kania tetap berusaha tenang, agar ia bisa menyusun kalimat dengan tepat untuk menjawabnya. Ia tidak mau terlihat terlalu emosional.


"Well, setidaknya aku melakukannya dengan sangat baik. Aku menjaga komitmen ini dari awal sampai sekarang, dan nggak pernah mencederainya"


"Komitmen?! Kan, kita nggak pernah berjanji apapun"


"Tapi kamu juga nggak menolak perjodohan ini kan, Mas? Kamu menerimanya dari awal! Kamu bahkan memperlakukan aku dan keluargaku dengan sangat baik. Kamu sering sekali datang ke rumah dan berperilaku layaknya seorang calon menantu. Itu artinya apa? Artinya kamu, sepakat dengan apa yang sudah direncanakan orang tua kita!"


"Tapi apa pernah aku mengatakan bahwa aku mencintai kamu?"


"Dan kamu juga nggak pernah sekalipun mengatakan kepadaku, bahwa kamu mencintai orang lain!"


"Apa itu perlu?!"


"O ya jelas! Supaya aku juga bisa membatalkan pertunangan ini dari dulu!"


"Kamu...nggak akan melakukan itu sekarang kan?"


"Why not?!"


"Jangan gila kamu, Kan! Undangan kita sudah tinggal disebar! Semua kolega juga sudah tahu kita akan menikah! Apa kata mereka nanti kalau tiba-tiba batal?!"


"Kamu yang gila! Kenapa kamu baru kepikiran sekarang, Mas?! Kemarin waktu kamu selingkuh pikiranmu kemana?! Oh..satu lagi, kenapa harus Selin? Kamu tahu dia sahabatku, kamu kenal dia juga dari aku, kenapa...diantara sekian banyak wanita yang bisa kamu pacarin, kamu justru memilih sahabatku sendiri?! Otakmu dimana?!"


Belum sempat Reno menjawab pertanyaan-pertanyaan Kania, seorang perempuan melambaikan tangan ke arah mereka dari pintu masuk kafe. Perempuan yang mengenakan dress selutut berwarna pink itu menggandeng seorang pria muda dan berjalan ke arah Reno dan Kania. Sementara Kania membalas lambaian tangan itu dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Ia adalah Selin, sahabat Kania yang juga selingkuhan Reno.


"Harusnya aku yang mengundang dan mempertemukan kalian disini. Supaya terasa lebih dramatis seperti cerita telenovela" Kania bergumam dan menyeruput kembali ice americanonya.


"Hai Kania...Reno...sorry aku telat. Kalian berdua udah nunggu lama ya? Maaf ya, macet soalnya." Sapa Selin sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Reno dan memeluk Kania. Masih dengan senyum yang dipaksakan, Kania berdiri dan membalas pelukannya.


"Apa kabar, Sel?" tanya Kania basa basi.


"Baik. O ya..kenalin! Ini pacar aku, namanya Vino. Sayang, ini teman-teman aku, Kania sama Reno. Mereka berdua ini mau nikah"


"Oh...pacar baru? Sudah putus sama Mas Reno? Sejak kapan?"


Serbuan pertanyaan tak terduga dari Kania membuat Selin salah tingkah. Ia tak menyangka akan mendapatkan sambutan pertanyaan yang menusuk dari Kania.


"Ehmm..eh, gimana ya maksudnya?"


Kania tersenyum dingin sambil mempersilakan mereka duduk. Sementara Reno hanya bisa tertunduk lesu tidak mampu menatap kedua perempuannya.


"Silakan duduk, Sel. Urusanku dan Mas Reno sudah selesai. Silakan kalian lanjutkan, aku pergi dulu. Have fun ya!"


Kania mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Langkahnya tetap tenang, meskipun batinnya berkecamuk. Ia mengenakan kacamata hitamnya, menutupi pelupuk mata yang sudah mulai banjir air mata.


"Honey? Ini maksudnya gimana sih?!" tanya Selin bingung sekaligus panik. Ia mengambil tempat duduk tepat di sisi Reno dan melepaskan genggaman tangannya.


"Dia udah tahu semuanya" jawab Reno datar.


"Kania tahu darimana? Dia cek hp kamu? Kok bisa sih kamu kecolongan?!"


"Kok kamu jadi nyalahin aku sih? Lagian kamu juga kenapa telat banget! Kania jadi punya waktu mencecar aku. Harusnya kalau tadi kamu datang lebih cepat, dia gak akan mutusin gitu aja! Paling nggak kita punya waktu lah buat basa basi mengalihkan perhatian dia!"


"Ya sorry, aku kan juga harus dandanin dia supaya lebih meyakinkan untuk jadi pacar aku! Biar gak ketahuan juga kan kalau dia sopir." Selin menunjuk ke arah pria yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.


"Ini sopir baru kamu?" tanya Reno sambil mengamati pria itu dari atas hingga ujung kaki.


"Iya" jawab Selin disertai anggukan kepala.


"Suruh dia berhenti! Mulai besok, kamu nggak usah kerja lagi. Kamu cari kerja di tempat lain!"


"Hah?!! Saya dipecat?! Ini saya dipecat, bu?! Salah saya apa?!" Pria yang dari tadi diam mematung itu, mulai panik. Ia semakin tidak mengerti dengan kerumitan yang terjadi dihadapannya.


"Ris..kamu pulang dulu aja. Bawa mobil saya, besok kamu datang lagi seperti biasa ya"


"Baik bu. Tapi, saya tidak dipecat kan, bu?" tanya pria yang ternyata bernama asli Haris itu.


Selin hanya menggeleng pelan, menjentikkan ujung jemarinya untuk memberikan isyarat kepada Haris agar lekas pergi. Ia kembali menggelayut di pundak Reno, mencoba menenangkan kekasihnya.


"Kamu jangan cemburu gitu dong sama Haris. Dia itu cuma sopir aku. Lagian kamu juga yang menyarankan skenario ini. Terus sekarang gimana?"


Reno sendiri juga tak memiliki jawaban, kedua tangannya memijit-mijit kepalanya yang mulai pusing.


"Yang jelas, pernikahanku dengan Kania tidak boleh batal"


"Kamu jatuh cinta ya sama Kania?"


"Sayang, ini bukan masalah cinta atau enggak. Kamu tahu kan, mamaku gimana. Kalau sampai aku batal nikah sama gadis pilihannya, itu artinya aku juga batal jadi pewaris utama perusahaan papa!" Reno melingkarkan tangannya ke pundak Selin. Ia meraih tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya. "Kamu nggak mau kan, kita hidup menderita seperti Bang Ryan yang diusir mama?"


"I know..aku akan menemui Kania nanti untuk menjelaskan semuanya. Membujuk dia supaya mau kembali sama kamu. Ya...meskipun sakit sih, melihat kamu jalan sama Kania. But, i'll do it for us, Honey." Selin membalas pelukan Reno, ia merapatkan tubuhnya. Sebuah kecupan mesra dari Reno mendarat di keningnya. Sepasang selingkuhan yang sedang gelisah itu berusaha saling menenangkan.


Sementara di tempat lain, Kania memacu mobilnya sangat kencang. Energi kemarahan yang sejak tadi tertahan seolah tercurah pada kaki kanannya. Air matanya tak henti-henti meleleh. Kania tak menyangka dua orang yang begitu ia percaya tega menghancurkan dirinya. Konsentrasinya buyar setiap kali mengingat kejadian satu minggu yang lalu, dadanya penuh sesak, kakinya semakin kuat menginjak pedal gas. Dan tiba-tiba...brakkkk!!!