The Beautiful Demon

The Beautiful Demon
Cerita Selin



Setelah satu minggu dirawat di Rumah Sakit, hari ini papa diizinkan untuk pulang. Dokter akhirnya berhasil membujuknya untuk pasang stent satu lagi. Kania dan Monik sudah bersiap-siap mengantarnya pulang.


"Kamu nggak kerja hari ini, Kan?" tanya papa kepada Kania yang sedang mendorong kursi rodanya.


"Setelah ini Kania balik lagi ke kantor, Pa. Kania mau antar Papa dulu sampai rumah."


"Biar aku aja yang antar. Kamu bisa kembali ke kantor sekarang, Kan. Selamat pagi, Om!" Reno yang tiba-tiba muncul bak pahlawan, menyapa mereka berdua. Kania hanya melihat sekilas namun tidak bereaksi terhadap tawaran Reno. Ia justru menatap ke arah Monik. Matanya sedikit melotot seraya mengisyaratkan tanya 'siapa yang memberitahunya?'. Sementara Monik hanya menjawab dengan mengangkat bahu sebagai tanda bahwa ia tidak tahu.


"Pagi, Reno! Kok kamu tahu kalau hari ini Om sudah boleh pulang?" Om Arman membalas sapaan Reno dengan ramah.


"Iya, Om.. Kemarin Kan...."


"Pa, kita pulang sekarang ya. Mobilnya sudah siap." Kania terus mendorong kursi roda papa menuju ke mobil. Ia sengaja memotong pembicaraan dan mengabaikan tawaran bantuan dari Reno. Lelaki itu diam mematung dan hanya memandangi rombongan yang mengantar om Arman berlalu menjauh. Hal ini tentu saja membuat papa Kania itu merasa aneh.


"Kamu, ada masalah sama Reno?"


"Nggak ada Pa."


"Nak, kamu yakin nggak mau cerita apa-apa sama Papa?"


"Besok ya, Pa. Sekarang kita pulang dulu, Papa istirahat biar cepat pulih. Ingat kan kata dokter, jangan kecapekan, jangan terlalu banyak pikiran"


"Yaudah kalau kamu masih belum mau cerita. Yang jelas, kamu harus ingat, kamu.. Masih punya orang tua." Papa menggenggam erat tangan putri semata wayangnya. Kania tersenyum tipis dan membalas genggamannya.


"Iya, Pa." jawab Kania.


***


Setelah mengantar papanya pulang, Kania segera bergegas kembali ke kantor. Di dalam ruangannya, sudah ada Selin yang sejak tadi duduk menunggu Kania.


"Hai, Kan! Om Arman apa kabar?" tanya perempuan itu sambil berdiri setelah mengetahui kedatangan Kania.


"Monik!!" alih-alih menjawab sapaan Selin, Kania justru berteriak memanggil sekretarisnya.


"Aku datang sebelum Monik. Dan aku sengaja langsung masuk ke ruangan ini untuk nunggu kamu. Karena kalau di rumah, aku yakin kamu nggak mau menemuiku" Selin dengan cepat menjelaskan maksud kedatangannya.


"Kalau kamu seyakin itu, kenapa kamu masih memaksa untuk ketemu?"


"Kania, aku...."


"Ada apa, Kak, eh.. Bu?" Monik datang dengan tergopoh-gopoh dan memotong pembicaraan mereka. Ia memandangi kedua perempuan yang saling menatap itu secara bergantian. Wajah polosnya tampak bingung mencerna situasi dihadapannya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kedatangan tamu istimewa?"


"Eh..anu..tadi itu, ini.." jawab Monik terbata-bata karena dirinya juga tidak mengerti.


"Mon, tolong jangan biarkan orang masuk ke ruanganku. Karena aku ada urusan penting dengan sahabatku ini" Kania tak mengalihkan tatapan dinginnya kepada Selin.


"Baik, Bu. Kira-kira sampai jam berapa ya, Bu? Soalnya hari ini kita ada janji meet..."


"Perlu menambah staff khusus untuk mengatur ulang jadwal meeting?"


"Silakan duduk. Jadi, cerita apalagi yang harus aku dengar kali ini?" Kania mengambil tempat duduk di sofa tepat dihadapan Selin.


"Aku, mau minta tolong sama kamu untuk tidak membatalkan pernikahanmu dengan Reno"


Kania terkejut dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Ia tak menyangka bahwa Selin justru akan memintanya kembali dengan Reno.


"Aku pikir kamu masih punya hati lho untuk minta maaf" kata Kania sembari melipat tangan. Wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa heran atas kalimat yang keluar dari mulut Selin.


"Kalau itu jadi syarat agar kamu nggak membatalkan pernikahan, i'll do it"


"Do it right now!"


"Okey, aku minta maaf"


"Untuk?"


"Semuanya. Apapun itu, yang membuat kamu marah, yang membuat kamu ingin membatalkan pernikahan, untuk itu semua, aku minta maaf"


"Ya apapun itu apa? Sebutin dong!"


"Kamu ingin aku minta maaf, atau ingin pengakuan dari aku?" Selin balik bertanya kepada Kania.


"Kalau kamu nggak bisa menyebutkan kesalahanmu, itu artinya kamu nggak merasa bersalah. Jadi untuk apa minta maaf? Percuma!"


Selin hanya menelan ludah mendengar ucapan Kania. Kata-kata Kania membuat lidahnya serasa kelu dan tak berkutik.


"Lagipula bukannya kamu harusnya senang jika pernikahan ini batal. Kamu berhasil menyingkirkan aku, dan memiliki Mas Reno sepenuhnya."


"Well, sebagai kekasihnya mungkin iya. Tapi aku tahu, kalau sampai pernikahan ini batal, itu akan mengganggu bisnis kalian. Dan aku nggak mau itu terjadi, terutama kepada bisnis Reno."


"Takut miskin? Takut salah rebut orang?" tanya Kania dengan nada sinis.


"Aku tidak pernah merebut Reno! Dia yang datang padaku!"


"Dan kamu menyambutnya dengan tangan terbuka!"


"Ya itu karena kamu tidak pernah memberikan sambutan yang....!"


"Sambutan yang dengan gampangnya diajak keluar masuk hotel begitu maksudmu?!"


Selin tertegun dengan kalimat Kania yang serasa menusuk ulu hatinya. Kelopak matanya terasa panas dan berembun.


"Kamu nggak pernah berubah ya, Kan" suara Selin terdengar parau, dibarengi dengan butiran air yang meluncur di pipinya.


"Ya, Aku nggak akan berubah menjadi murahan!"


"Kamu nggak pernah mau mendengarkan orang lain. Buatmu, nggak ada yang lebih penting daripada hidupmu dan masalahmu. Semua harus tentang kamu! Kamu nggak pernah mau mengerti orang lain! Daritadi kamu nggak pernah tanya kan, kenapa Reno ninggalin kamu? Oh, tidak...bukan..bukan ninggalin kamu, lebih tepatnya KENAPA RENO TIDAK PERNAH MENCINTAI KAMU!" Selin meraih tas dan bergegas meninggalkan ruangan Kania. Kali ini giliran Kania yang tertegun membisu. Apa yang diucapkan Selin tadi tak hanya terngiang di telinga, tetapi kali ini mampir sejenak di hati dan menyentil egonya. Selama ini tak ada yang pernah mengatakan itu. Tak seorang pun yang meminta Kania untuk mendengar. Kedua orang tuanya pun juga tidak mengajarkannya. Maka ketika hari ini ada yang mempermasalahkan, hal itu membuat batinnya terusik. Kania menggigit ujung bibirnya, tangannya mengepal berusaha menahan gelisah. Dirinya tersinggung, namun tak juga menampik apa yang disampaikan Selin. Cukup lama Kania terdiam dalam kecamuk batinnya. Kebenaran yang terkandung dalam ucapan Selin justru membuat hatinya serasa tercubit, egonya memberontak menolak. Lamunan Kania terbuyarkan oleh sebuah sapaan seseorang yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya yang terbuka.


"Permisi... saya...boleh masuk?"