
Arga keluar ruangan dengan perasaan kesal. Langkah kakinya panjang tidak mempedulikan Dini yang tergopoh-gopoh berusaha mengejarnya.
"Ga...Arga tunggu!" Dini berusaha meraih lengan Arga untuk menghentikannya.
"Bisa bisanya kamu mutusin masalah ini gitu aja, Din! Kalau kamu udah gak cinta lagi sama aku, ya nggak gini juga caranya!" suara bariton Arga terdengar meninggi.
"Ga, ini tu bukan masalah cinta atau enggak. Tapi kesempatan! Duit lima ratus juta dalam satu bulan kita mau dapat darimana?!"
"Ya kan masih bisa diusahakan, Din! Aku juga lagi usaha. Kamu nggak percaya sama aku?!"
"Mau diusahakan sampai kapan, Ga? Ini kita udah lewat dari tanggal jatuh tempo. Debt collector juga hampir tiap hari datang ke panti. Kamu nggak tahu kan, gimana paniknya bu Asri, paniknya anak-anak kalau mereka datang?"
Arga memegangi kepalanya yang terasa semakin berat. Ia berlalu meninggalkan Dini yang masih berdiri mematung.
Tanpa mereka sadari, Kania memperhatikan sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu dari bibir pintu ruangannya. Dalam hati ia merasa bersalah karena menyeret mereka ke dalam masalahnya.
"Masih yakin mau lanjut sama security tampan itu? Pacarnya galak tuh!" Monik yang tiba-tiba muncul, berbisik tepat di belakang Kania.
"Kita ngobrol di dalam aja." kata Kania sembari menutup pintu ruangannya.
"Menurutmu ini terlalu jahat nggak sih Mon, melibatkan mereka kedalam masalahku?" tanya Kania.
"Ya, win win solution lah, Kak. Mereka kan juga lagi butuh duit."
Kania tersenyum getir mendengar jawaban dari Monik. Sebagian dirinya merasa setuju, namun ada sisi lain yang membuat perasaannya cemas. Pikirannya sibuk menerka-nerka apa yang akan terjadi kepada sepasang kekasih itu. Sepasang kekasih yang sepanjang perjalanan pulang ke panti tak saling mengucap sepatah kata pun.
Sesampainya di panti Arga langsung mengunci diri di kamar. Sambutan hangat dari anak-anak panti hanya dibalas dengan senyum tipis olehnya. Ia tidak keluar dari kamarnya hingga bu Asri memanggilnya untuk makan malam. Suasana makan malam hari ini juga terasa sepi. Tak ada obrolan-obrolan ringan yang mewarnai seperti biasanya. Beberapa pertanyaan Bu Asri hanya dijawab 'baik' atau 'iya' atau 'tidak' oleh Arga.
Usai makan malam Arga tak juga bergabung dengan anak-anak. Ia memilih menepi ke halaman, duduk dibawah pohon dan menyalakan sebatang rokok yang sudah lama tak pernah ia sentuh. Berharap nikotin yang ia hirup dapat menjernihkan otaknya yang sedang kusut. Dini yang sejak tadi memperhatikan kekasihnya itu diam-diam menyusul ke halaman.
"Kamu masih marah?" tanya Dini sambil merangkul pundak Arga. Lelaki muda itu tak menjawab. Ia hanya menghembuskan kepulan asap dari mulutnya secara perlahan.
"Ga, bukan cuma kamu lagi yang menderita atas keputusan ini."
Arga masih bergeming, seolah tak mendengarkan Dini.
"Hei!" Dini meraih dagu kekasihnya itu dan mengarahkan kepadanya.
"Aku gimana? Kamu pikir gampang buat aku, merelakan kamu, merelakan orang yang aku cintai menikah dengan orang lain?! Jujur aku nggak bisa bayangin apa yang bakalan terjadi antara kamu sama perempuan itu. Sakit banget rasanya, Ga!" Suara Dini terdengar parau menahan tangis.
"Aku nggak bisa bayangin, gimana kalau kamu tiba-tiba pelukan sama dia, ciuman sama dia, tidur sama...."
Arga memeluk Dini erat, membiarkan gadis itu menumpahkan tangis di dadanya. Keputusan ini ternyata tak hanya berat bagi Arga, tetapi juga untuk Dini. Setelah tangisnya mereda, Arga mengajak Dini kembali ke dalam rumah. Tanpa saling berbicara, mereka berdua langsung menuju kamar masing-masing. Melewatkan malam yang terasa lebih panjang, larut dalam kegelisahan bahkan hingga pagi menjelang. Pagi yang kembali mempertemukan Arga dengan Kania.
Di sebuah restoran mewah, Kania duduk berhadapan dengan Arga. Ia menyodorkan secarik kertas berisi poin-poin perjanjian pernikahan kontrak mereka. Arga mengamati kertas dihadapannya dengan pikiran kosong. Cukup lama ia tertegun dengan pulpen di genggamannya yang tak kunjung bergerak. Kania melirik dibalik kacamata hitam yang ia kenakan.
"Kalau kamu ragu, kita masih bisa membatalkan ini." kata Kania sembari menarik kertasnya. Seolah tersadar dari lamunan, Arga menahan kertas itu.
"Eh..iya..eh..enggak..anu..maksud saya akan saya tanda tangani."
"Sudah kamu baca?"
"Sudah"
"Pacar kamu nggak ikut?"
Arga hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Kania.
"Kalau kamu sudah tanda tangan, itu artinya kamu tidak bisa membatalkan ini sampai semuanya berakhir sesuai kesepakatan. Sekali lagi aku tanya, kamu sudah baca semuanya?"
"Iya, sudah" Arga mengangguk sembari membubuhkan tanda tangannya. Yang ia lihat dari surat itu hanyalah nominal uang yang tertera. Uang yang akan menyelamatkan ia dan seluruh penghuni panti dari kesulitan finansial. Arga menyerahkan kembali secarik kertas bertanda tangan itu.
"Okey! Karena ini sudah ditanda tangani, kontrak dimulai hari ini. Sekarang kamu ikut aku." Kania beranjak dari tempat duduknya.
"Kemana?"
"Ketemu Papa. Nanti apapun yang aku bilang di depan Papa, kamu iyain aja. Oh, sebelumnya kita ke butik dulu. Tampilan kamu perlu diupgrade."
"Bu, tapi..untuk uang ehm.. Maksud saya hutang panti di bank apa bisa diselesaikan hari ini?" tanya Arga ragu-ragu.
"Monik yang akan menyelesaikan semuanya. Pokoknya setelah kamu pulang nanti, masalah panti sudah beres. Kamu meragukan kemampuan saya?" Kania balik bertanya sembari melepas kacamatanya. Memperlihatkan bola mata indah berwarna cokelat yang menatap tepat ke netra Arga. Membuat siapapun yang beradu pandang akan terkesiap, termasuk Arga. Ia bahkan tak sanggup menjawab pertanyaan itu dan segera mengalihkan pandangan. Kania mengenakan kembali kacamatanya dan melangkah keluar diikuti oleh Arga.
Mereka berdua mampir ke sebuah butik pakaian pria sebelum ke rumah papa Kania.
"Kamu langsung ganti aja semuanya, terserah mau pilih yang mana. Pokoknya harus meyakinkan untuk seorang CEO startup. Jangan terlalu casual" perintah Kania. Tak butuh waktu lama bagi Arga untuk memilih, ia mencomot setelan yang tergantung di etalase. Baginya, semua baju disini sangat mahal, jadi pasti semuanya juga bagus. Beberapa menit kemudian Arga keluar dari kamar ganti dengan penampilan barunya. Selera lelaki satu ini memang tak main-main. Setelan jas warna maroon berpadu dengan kaos turtleneck warna hitam membuat penampilannya nyaris sempurna tanpa cela. Tidak terlalu formal, namun terlihat sangat profesional. Bahkan para penjaga butik terpana melihat Arga yang berjalan bak manekin bernyawa. Beruntung Kania masih mengenakan kacamata hitamnya. Sehingga matanya yang melotot mengagumi penampilan si manekin hidup ini tak terlihat oleh Arga.
"Kita...ehm..langsung aja ke...rumah papa. Yuk!"
Sayangnya, suara Kania yang gagap tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Kania mempercepat langkah dan mengusap dahinya yang tiba-tiba sedikit berpeluh. Ia hampir tak percaya bahwa pria yang mengikutinya di belakang itu adalah seorang security di kantornya.