The Beautiful Demon

The Beautiful Demon
Putus atau Terus



Brakk!! Sebuah kecelakaan yang melibatkan dua mobil dan truk terjadi tepat di depan Kania. Untung kakinya segera sigap menginjak pedal rem, sehingga ia tidak ikut terlibat dalam kecelakaan beruntun tersebut. Kania seperti tersadar dari mimpi, diusapnya air mata yang membasahi wajah cantiknya. Perlahan ia menepikan mobilnya dan berputar balik. Ia berusaha menjernihkan kembali pikirannya yang kusut. 'Aku harus tetap waras' pikir Kania. Tentu saja ia tidak mau mati konyol hanya demi pengkhianat macam Reno dan Selin. Yang ada di benaknya kini hanya pusara mama, tempat dimana ia biasa mengadu cerita. Sama seperti dulu ketika mama masih ada, Kania selalu menceritakan semua masalah kepadanya. Kini setelah mama meninggal, ia masih kerap menyambangi pusaranya untuk berbagi kisah. Perlahan Kania mengemudikan mobilnya menuju makam mama. Baginya, itu adalah tempat terbaik untuk menenangkan diri.


Sebuah buket bunga mawar berwarna biru yang dipadu bunga sedap malam warna senada ia letakkan di pusara sang mama.


"Hai Ma...Kania bawain bunga kesukaan Mama. Kania juga bawa banyak cerita. Mama jangan bosan ya denger cerita Kania. Mama disana apa kabar? Baik ya? Kania... disini... sedang nggak baik, Ma."


Kania mulai terisak dan tidak mampu melanjutkan ceritanya. Tangisnya pecah tepat di sebelah pusara sang mama. Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk nisan mamanya.


"Mas Reno selingkuh Ma... Harusnya dulu Kania nggak minta buat dikenalin ke dia. Harusnya Kania menolak pertunangan ini. Sekarang Kania harus gimana, Ma? Kania bingung, Ma!"


Gadis yang selalu tampak tenang dan tegar itu kini terlihat rapuh di hadapan pusara mamanya. Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu pada saat pertama kali bertemu dengan Reno. Kania melihat Reno di pesta pernikahan kolega papa. Mereka saling diperkenalkan oleh kedua orang tuanya. Kania terpesona dengan paras tampan dan tubuh atletis Reno. Sepulang dari pesta, ia terus membahas tentang Reno. Menanyakan kegemarannya, sekolahnya, keluarganya, dan apapun tentang lelaki itu. Sinyal rasa penasaran Kania disambut baik oleh orang tuanya. Mereka sepakat untuk menjodohkan putrinya dengan Reno. Gayung bersambut, keluarga Suryatama ternyata juga memiliki keinginan yang sama dengan keluarga Laksana. Kania dan Reno bertunangan. Kania sangat bahagia dengan pertunangan itu, pun Reno juga tidak menolak dengan perjodohannya. Para kolega menyambut antusias pertunangan dua pewaris utama raksasa bisnis ini, beritanya menghiasi berbagai halaman media. Orang-orang menganggap mereka berdua adalah pasangan yang sempurna. Perpaduan gadis cantik, anggun, kaya raya dengan pemuda tampan dan mempesona.


Namun sayangnya pernikahan keduanya harus ditunda lantaran mama Kania meninggal. Beliau mengalami kecelakaan tunggal sewaktu mengendarai mobil di sebuah jalan bebas hambatan. Kania dan ayahnya sangat terpukul atas kejadian ini dan memutuskan untuk menunda pesta pernikahan. Bahkan sang ayah harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Kesehatan Arman Laksana semakin menurun semenjak kematian istrinya. Pernikahan Kania dan Reno belum terlaksana hingga hari ini. Hari dimana justru akhirnya Kania mengetahui bahwa Reno tidak pernah mencintainya.


Sebuah pesan singkat di handphonenya menghentikan tangisan Kania. Diraihnya telepon seluler yang sejak tadi diabaikan. Tujuh belas panggilan tak terjawab dari Monik, sepupu yang juga menjadi sekretarisnya.


'Kak, om Arman drop lagi. Sekarang dibawa ke rumah sakit. Kamu dmn?'


Bunyi pesan singkat dari Monik membuat Kania menghela nafas panjang. Tarikan nafasnya terasa semakin berat.


'Tuhan... Cobaan apa lagi ini?' bisik Kania dalam hati. Ia bergegas meninggalkan makam mamanya dan menuju Rumah Sakit.


Di depan sebuah kamar VVIP Rumah sakit, tampak Monik berdiri di depan pintu bersama dengan beberapa bodyguard. Ia menghampiri Kania yang datang dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Kania kepada Monik.


"Masa kritisnya sudah lewat. Dokter menyarankan untuk pasang stent satu lagi untuk jantungnya"


Pelan-pelan Kania membuka pintu kamar VVIP itu, ia melihat papanya tergolek lemah di ranjang penuh alat kesehatan. Kania mendekatinya, menatap wajah Arman Laksana yang sudah menua dan tampak lemah. Beberapa keriput yang tergurat semakin mempertegas usia senjanya. Membuat Kania semakin trenyuh, apalagi mereka jarang saling bicara. Hubungan Kania dengan papanya memang tidak terlalu dekat. Didikan keras dari papa tanpa disadari telah menggoreskan luka-luka kecil di batinnya. Menciptakan jarak yang membuat canggung antara ayah dan anak. Butuh waktu cukup lama bagi Kania untuk memahami bahwa didikan keras papanya itu demi kebaikannya, demi kesiapannya sebagai sang pewaris tunggal Luxury Group. Bahkan ketika Kania sudah menyadari hal itu, jarak yang sudah terlanjur tercipta terlalu panjang untuk dipangkas.


Kania meraih perlahan tangan keriput papa, digenggamnya tangan itu erat-erat. Ia sadar, seburuk apapun hubungan dia dengan papa, lelaki ini adalah orang tua satu-satunya yang ia miliki saat ini.


"Kania, kamu nangis?" suara serak Arman membuyarkan lamunan Kania.


"Pa, papa sudah bangun?" Kania balik bertanya sembari mengusap pipinya yang basah.


"Are you okay?"


"Harusnya Kania yang tanya itu, Pa. Papa gimana rasanya sekarang? Pusing? Yang sakit dimana Pa? Kania panggil dokter ya?!"


"Kan, Papa nggak apa-apa"


"Nggak apa-apa kok sampai pingsan sih, Pa!"


"Cuma capek aja."


"Dokter menyarankan, sebaiknya Papa pasang ring jantung satu lagi."


"Buat apa sih?!"


"Lho kok buat apa sih, Pa?! Ya untuk kesehatan Papa dong!"


"Papa ini cuma butuh hidup sampai kamu menikah. Apa itu perlu pasang stent lagi? Memangnya kamu mau nikah kapan?"


Kania menjawab dengan senyum tipis sembari menelan ludah. Pertanyaan papa membuat saliva Kania terasa pahit untuk ditelan.


"Papa istirahat lagi ya... biar cepet sehat, biar bisa temani Kania terus, biar bisa ketemu cucu Papa"


"Kania... Papa minta maaf ya!"


"Untuk semua kesalahan yang papa lakukan ke kamu. Untuk cara keras Papa mendidik kamu, untuk waktu Papa yang jarang ada buat kamu, untuk...."


"Pa... Jangan mikir yang aneh-aneh dulu deh. Pikirin aja kesehatan Papa ya.."


"Kan... are you happy?"


"Kania bahagia, kalau Papa sembuh. Okay?!"


"Aneh ya dengerin pertanyaan Papa barusan? Maaf ya.. Papa nggak pernah tanya soal keadaan kamu."


Kania merasakan kehangatan dari ucapan papanya. Kehangatan yang menjalar hingga pucuk gunung es yang selama ini melingkupi hubungan mereka. Jarak diantara keduanya terasa menciut. Namun rasa gengsi masih menghalangi langkah Kania untuk memeluk papa meskipun hatinya menginginkan.


"Kania anak papa, mulai sekarang, do what makes you happy. Papa cuma ingin melihat kamu bahagia." ucap papa sambil menggenggam tangan putrinya.


"Mulai sekarang, Papa istirahat dan dengarkan apa saran dokter. Supaya bisa melihat Kania bahagia."


"Eh.. Tadi kamu menangis kenapa? Kamu belum jawab tadi. Ayo dong, cerita sama Papa. Ada apa?"


"Enggak. Kania nggak apa-apa, Pa!"


"Nggak apa-apa kok sampai nangis gitu!"


"Papa...."


Tok..tok..tok. Suara ketukan pintu menghentikan percakapan keduanya yang mulai mencair. Seorang lelaki bertubuh tegap berkemeja warna navy muncul dari balik pintu.


"Hei... Masuk, Ren." Arman mempersilakan Reno masuk sambil memandang ke arah Kania.


"Gimana keadaannya Om? Apa perlu berobat ke luar negeri? Biar saya siapkan semuanya ya" sapa Reno.


"Tidak perlu. Memangnya Kania cerita gimana sih sama kamu? Sampai bikin panik gitu."


Reno tersenyum sembari melirik ke arah Kania.


"Ehm..Pa, mumpung ada Mas Reno disini, Kania keluar sebentar ya. Mau cari minum."


Kania berlalu pergi tanpa menghiraukan Reno. Ia menghampiri Monik yang sejak tadi masih berjaga di depan pintu.


"Kamu gimana sih? Ngebiarin orang lain masuk gitu aja!" bisik Kania kesal sambil menarik lengan Monik untuk menjauh dari kamar.


"Ya.. Dia Kak Reno kan. Bukan orang lain. Lagian tadi dia juga ketuk pintu dulu." jawab Monik yang justru bingung dengan reaksi Kania.


"Kamu yang menghubungi dia tadi?"


"Ya... Aku berkali-kali telfon Kak Kania gak diangkat. Ya aku telfon Kak Reno lah! Siapa tahu Kakak lagi sama dia. Dan ternyata bener, kan!"


"Mulai sekarang, kalau ada apa-apa jangan hubungi Reno lagi! Ngerti?!"


"Lah... Kalau keadaannya gawat kayak tadi gimana?"


"Pokoknya jangan!"


"Kenapa sih? Kalian lagi berantem ya?"


"Udah putus!"


"Hah?!.. Wait.. What?!"