
BENSYIANA & JAYDIR
JAYDIR- Aku tidak ingin menyentuh realita, aku juga tidak ingin realita
menyentuhku.
BENSYIANA- Apa ada seseorang yang membuat realita dapat menyentuhmu?
JAYDIR- Kenapa kau dapat mengetahuinya?
BENSYIANA- Ketika saya melihat ayah saya, realita menyentuh saya dan
saya terlekatinya hingga cukup sulit untuk membersihkanya.
JAYDIR- Sesulit itukah menyadari bahwa dunia ini di penuhi orang
bodoh?
BENSYIANA- Ketika kau sadar bahwa dunia di penuhi orang bodoh,
JAYDIR- saat itulah kau menyadari mimpi-mimpimu akan kandas.
BENSYIANA- Orang-orang bodoh beramai-ramai melomba mengkandaskan
mimpi,
JAYDIR- ketika pemimpi sendirian mengkabulkan harapan.
BENSYIANA- Mereka menganggap itu kasih sayang,
JAYDIR- padahal mereka takut melomba sendirian.
Jaydir memembuka matanya karena dia merasa kaget, dia kembali tertarik,
hingga tenggorokanya menyangkutkan sesuatu. Ketika dia membuka matanya, dia
sedikit kesal karena dia harus bangun pada tengah malam. Dia melihat ke langitlangit dan langit itu tidak ada kecuali bergoncang-goncacng, perlahan-lahan saja. Dia
melihat kemana saja dan merasakan guncangan, selembut-lembut saja. Dia agak
panik dan keluar menuju balkon, memantapkan pengelihatanya, melihat ke luar dan
sama sekali tidak ada air yang besar. Sepandang matanya memandang kedepan, sama
sekali tidak ada air yang luas. Angin sama sekali tidak bertiup sekencang di tengah
samudera, ketika dia sudah berdiri sendirian di anak tangga tertinggi. Sebelumnya dia
menganggap-ternyata dia berada di sebuah pesiar, namun kini dia sadar bahwa dia
tidak berada di kapal itu. Dia sama sekali tidak menyiram tanaman itu, namun semua
tanamanya tentunya tidak kembang. Dia juga sekali tidak menycekhokan hewan
ternaknya, lamun abstraknya tidak tumbuh.
TAHAPAN BUNTU
Mohamer lupa memberikan si Hitam makan malam, lalu si Hitam melarikan
diri ke tempat lain, sehingga seseorang yang iba memberikanya makan untuk tumbuh.
Mak Kea lupa menyiram halamanya, sehingga Tuhan juga lupa menghujani, sebab
semua tanaman layu kecuali kaktus.
Mohamer berpikir bahwa kucing itu akan kembali setelah dia menyiapkan
ikan lele goreng di mangkuk makanya, sehingga nanti setelah dia selesai memberi
makan Jaydir soto dari surganya, semuanya akan kembali.
Semuanya berada, duduk di meja-meja baris panjang di halaman kosong
terlantar, menunggu mangkuk-mangkuk sotonya di bawakan. Akan datang seorang
istri dari suami yang menjual soto dari surganya, bertanya kepada mereka apa
minumnya. Kembali kepada seorang suami hanya karena semuanya sama, dan kepada
halaman kosong hanya karena memberikan hal yang sama.
„Ayam kampung atau apa ini?‟
„Ini ayam, , , saya kurang tahu.‟
„Karena ini rasanya benar-benar nikmat, seperti ayam kampung,‟ jelas Jaydir.
„Karena ini harganya benar-benar murah, seperti ayam, , ,‟ jelas Mohamer.
„Saya tidak pernah makan ayam hingga saya makan tulangnya sebelumnya.‟
„Enak bukan? Ini soto dari surga.‟
„Saya bahkan tidak pernah suka ayam.‟
„Nih, abisin kuahku sekalian!‟
„Bahkan kuah ini, hanya di tambah tempe kering saja tetap enak.‟
„Rokok-an dulu.‟
„ .‟
„Ingin tambah minum kah?‟
„ .‟
„Pesan lagi saja, tidak apa-apa.‟
„ .‟
„Tidak bisa begitu!‟
„Kenapa?‟
„Jika membicarakan tentang sifat-sifat buruknya, masalah ini akan semakin
meluas.‟
„Contohnya?‟
„Nih, bahkan gula, lemak saja sudah buruk.‟
„Saya tidak minum gula dengan banyak dan saya makan lemak dengan
sedikit.‟
„Itukan kamu, akan tetapi tidak mungkin semua orang melakukanya.‟
„Lalu bagaimana?‟
„Kamu harus melihat masalah ini jauh lebih meluas agar paham.‟
„Bagaimana?‟
„Orang kota itu, terbiasa hidup dalam udara yang kotor dan makanan yang
buruk, berbeda dengan orang desa yang terbiasa hidup dalam udara bersih dan
makanan baik.‟
„Iya,‟
„Dan kita ambil contoh yang lebih sederhana; orang kota, merokok atau tidak
merokok, mereka akan terkena penyakit diakibatkan oleh makananya dan orang desa,
merokok atau tidak merokok akan sehat dan umurnya lebih panjang. Ingat satu hal
bahwa saya membicarakan desa yang sebenarnya, yang masih berbudaya dan
bertradisi, memakan dari apa yang dia tanam dan memakai dari apa yang mereka
rajut, karena sekarang sudah banyak desa-desa yang terkena sifat-sifat perkotaan.‟
„Jadi maksud situ, rokok itu tidak akan mengubah sesuatu dengan digunakan
atau di hentikan. Jika anda ingin tahu, saya hanya peduli dengan otak karena itu
adalah hal yang paling sulit diciptakan. Jika seseorang ingin menghancurkan
tubuhnya dengan mengirisinya satu demi satu, saya mungkin hanya menontonya
sambil tertawa karena ketika sedang memotong, dia menceritakan alasan-alasan
jeniusnya. Dan terkadang, alasan jenius terlalu konyol untuk dilakukan sehingga itu
menyebabkan kekacauan. Bahkan orang itu mungkin akan marah bila semua orang, ,
,‟
„Sebelum pembicaraan kita lebih jauh, lupakan dulu semua pemikiranmu,
karena pertama, pemikiranmu tidak mungkin di praktekan dan kedua, dengan
pikiranmu, semua penjelasanku akan langsung patah begitu saja, karena situ selalu
menjelaskan kebenaran sedangkan saya sedang menjelaskan kenyataan.‟
„Ya, baiklah, walaupun sebenarnya saya selalu ingin memotong.‟
„Tahan dulu dan dengarkan saya!‟
„Baiklah, saya senang mendengarkan seseorang bercerita, saya akan
menganggap situ sedang bercerita.‟
„Sebentar, sebelumnya saya ingin bertanya, bagaimana mungkin ada yang
ingin membunuhmu jika situ hanya berada di kamar saja,‟ ~ ~\_,‟nanti, beberapa tahun lagi akan banyak orang yang ingin membunuh saya.‟ ,‟masalahnya?‟ ~,‟masalahnya adalah; saya menghancurkan otak\-otak mereka.‟ „Bagaimana situ menghancurkan otak\-otak mereka?‟ ~~ „Dengan garpu!‟ ~~~ „Situ menghancurkan otak\-otak mereka dengan garpu!!‟ „Ya, tepat sekali. Saya memakanya, lalu mereka kesal karena itu bukan otakotak saya,‟ ~~ „Masalahnya?‟ ~ „Jika situ menyukai lelucon, barusan adalah lelucon yang terbaik yang pernah saya katakan bahkan saya pikirkan.‟ „Masalahnya?‟ „Masalahnya, situ tidak tahu otak\-otak.‟ „Tahu saya, otak\-otak yang dari ikan itu. Situ ingin otak\-otak?‟ „Saya tidak ingin otak\-otak.‟ „Apa yang situ ingin?‟ „Saya ingin ceritanya!!!‟ „Oke, ceritanya begini; Saya adalah seorang kaya raya. Saya menghisap pipa penuh dengan tembakau. Karena saya menyukainya. Saya adalah seorang berpenyakit. Andai saya mengkunyah piring penuh dengan, , , Karena saya menyukai, , , Saya mengeluarkan sedikit uang. Karena asap mengikat asam. Saya mengeluarkan banyak perhiasan. Andai karena, , , Keduanya menyebabkan, , , Saya memilih yang paling saya sukai. Karena saya menyukainya. Keduanya tetap membuat mati’ ‘Salah satunya menyebabkan kebodohan. Salah satunya menyebabkan kebodohan. Pemilihnya boleh saja andai\-pandai, lama kelamaan di bodohi. Pemilihnya boleh saja ceroboh\-bodoh, lama kelamaan di mati i.’ ‘Situ adalah seorang kaisar miskin melarat.’ ‘Situ adalah seorang pengemis kaya raya.’ ROUTINITAS MENYINGSING Apakah perang akan datang, apakah hari kiamat akan datang. Seseorang percaya berita\-berita itu palsu, seseorang percaya ayat\-ayat itu palsu. Apakah perang akan berakhir, apakah hari kiamat akan berakhir. Seseorang bertanya ketika sedang terbukti, seseorang mana bertanya ketika telah terbukti. Jika perang benar terjadi, saya ingin menjadi jendral, karena aku ingin menjadi kaisar. Jika perang benar\-benar terjadi, saya ingin menjadi kapten, karena aku ingin bebas. Jika perang terjadi, saya ingin tidak terlibat. Jika perang telah terjadi, aku ingin terlibat. Jika perang telah damai, aku tidak ingin terlibat. Jika hari kiamat, , , saya tidak sempat, , , Sebab membuka mata saya melihat. Tetap menutup mata saya melihat. Aku ingin tidak melihat, , , Sempat! \ Tempat! Tamat! Kasat! Asat!
Aku hidup di antara malas dan takut.
Aku jatuh kedalam cinta.
Aku hidup seperti sapi,
memakan rumput dan hidup di dalam peternakan. Sama sekali tidak
menyiram rumput-rumput, namun semua rumputnya tentunya tidak merambat. Juga
sekali tidak menycekhokan sapinya, lamun abstraknya enggan tumbuh.
Jaydir tidak tidur. Dia di lorong yang sudah bersih. Dia tidak melihat sebuah
peternakan, atau beberapa kandang yang berisi beberapa ekor sapi. Sekarang
bukanlah saatnya untuk tidur, dan tidak memberi makan beberapa ekor sapinya. Dia
sekalipun tidak pernah memberi sapi-sapi itu makan, mereka semua tidak sekalipun
tumbuh, membesar dan hidup seperti sekarang. Mereka bahkan tidak hidup, untuk
itulah Jaydir tidak tidur.
Jaydir yang sedang menaiki tangga tak sadar bahwa dia tidak merasakan
sedikitpun goncangan dari pesiarnya. Sebuah pesiar yang tidak pernah di belinya, di
buatnya ataupun di namainya sebagai, „Dewi Bensyiana.‟ Dia sangat mencintai
Bensyiana sehingga dia tidak pernah berpikir untuk berlayar, berkelana dan
berencana untuk membunuh beberapa macam jenis jelmaan. Dia bahkan tidak
terjatuh walaupun sebenarnya tidak ada goncangan yang diakibatkan ombak
sekalipun.
Dia sudah berada di puncak anak-tangga, puncak tangga. Tentu saja dia tidak
menyanyikan sebuah lagu karena; Ada suatu lagu yang selalu dinyanyikan oleh salah
satu agama di setiap fajar, lagu itu sedang dinyanyikan oleh semuanya dan sepertinya
setiap menara melancangkan landuanya. Lagu itu terdengar dari tempat yang jauh dan
semakin menggema-gema seperti semesitnya karena setiap menara saling bersautan.
Bukan hanya setiap orang yang bangun tapi ada juga yang tetap tidur karena ini
belum pagi dan ada pun yang memang masih membuka matanya. Tentu saja Jaydir
tidak berada di atas menara. Lagipula, ada baiknya menyadari bahwa Jaydir sama
sekali tidak melihat air di sepanjang sudut matanya karena dia tidak sedang berada di
tengah samudera. Jaydir juga tidak memiliki awak kapal sehingga dia tidak harus
peduli apakah mereka akan bangun dan bekerja jika dia tidak menyanyikan sebuah
lagu karena; Tidak ada suatu lagu, yang selalu dinyanyikan oleh salah satu anak buah
kapalnya di setiap fajar. Itu sebabnya, sama sekali tidak ada seseorang di atas menara
yang menyanyikanya. Masalah itu membuat Jaydir, yang bukanlah seorang kapten
pesiar, marah!
Tidak senang!
Marah!
Tidak puas!
Tidak bahagia,
marah! Mohamer bangun dari tidurnya seperti biasa, dia bangun dan tidak
menyadari bahwa dia tidak berpikir, „siapa juga yang bangun untuk menemui Kapten
Jaydir?‟ Lantas, sudah semestinya juga dia tidak mendengar seorang Kapten Jaydir
sedang mengamuk di atas menara pesiar. Namun, dia belum juga menyadari bahwa
Kapten Jaydir berteriak dengan puitis seperti;„Tak perlu ku patahkan tulang kalian
untuk takut kepadaku! Tak perlu ku labuhkan pesiar untuk menakutimu!
Perlukah aku merayu dengan kenyataan untuk menyeganimu?
Tak perlu aku mencampakan kalian untuk sayang kepadaku!
Haruskah aku hancurkan apa yang aku rangkai karena kalian?
Haruskah kalian memohon setiap serangkai patah?
Tidak akan ambruk semua ini karena kalian,
selamanya, selama aku seorang kapten. Itulah mengapa Mohamer yang
bukanlah seorang wakil, tidak perlu datang ke menara untuk berkata dengan puitis
seperti; „Bukan saya yang salah Kapten, saya lagi pula tidak tidur.
Kapten salah, yang bukan saya. Lagi pula saya tidur tidak?.
Bukan saya yang salah, Kapten saya pula lagi tidak tidur. Bukan begitulah
seharusnya awak kapal berbicara. Mereka bukanlah orang yang seram lagi berhati
mulia. Mereka tidak mencari harta karun melainkan tempat bertua. Ada sebuah peta
yang tentu saja tidak bisa berbunyi kertas bertulis layak pujangga terdengar; Ada
sungai.
Lenganya menari-nari dengan tak rahasia.
Airnya jernih,menyegarkan sama sekali.
Penuh dengan ikan dan di pesisirnya terdapat hutan-hutan kecil di penuh;
Buah-buahan,
beserta lebah yang memadukan di pohon tangkai.
Mungkin sebuah puisi;
aliran.
Ada
MENTARI TERBIT
Ketika Jaydir menuruni anak-tangga, tidak sama sekali anak tangga itu
melorong kedalam. Di sisi-sisinya tidak terlihat rak-rak dokumentasi anak-tangga,
dimana tidak seharusnya kandi-kandi berisi air itu mati, hanya menyisakan 8 saja.
Tidak ada sejarahnya kandi yang air terselam di dalamnya berbalik melesam
kandinya, sehingga dokumentasinya mati. Kenapa dokumentasi itu tidak dianggap
penting olehnya, baik Zermayah, Senggaya dan Riseke, semuanya tidak tahu. Hanya
Daysyun yang tahu-tidaknya mengetahuinya. Karena bukanlah seorang Dukun
Daysyun itu, dia hanya tidak bangun lebih awal seperti biasanya.
Mohamer yang sebelumnya sudah tidak ada, anehnya itu di sebabkan oleh
Jaydir yang tidak mengganti namanya sebagai La Humare\-Hurome. Tentu saja La
Humare-Hurome tidak mensetujuhinya dan tidak marah sehingga dengan tidak
adilnya, Jaydirpun tidak menamai dirinya sebagai Lala Sayozoyas. Kedua nama itu tidak terlalu pendek dan tidak terlalu menggembirakan karena Daysyun yang bukan lah seorang dukun tidak mengganti namanya tanpa ketidak setujuhan sisanya sebagai Azkhe\ Resmezkasedimjazramaendelou. Sejujurnya, itu adalah nama yang benarbenar tidak sangat panjang. La tidak berarti kapten. Lala tidak berarti kaptenkapten. Dan Azkhe tidak berarti kapten\-kapten\-kapten. Sebab Lalala berarti tidaktidak-tidak/kapten-kapten-kapten. Lalala Dena itu bukan siapa\-siapa. Dia hanya bukan seorang juru masak pesiar saja. Masakanya sama sekali tidak membunuh, bahkan kebun yang tidak berada di halaman pesiar tidak pernah di siramnya sekalipun, namun kebun yang tidak berbuah dan tidak bersayur itu malah tidak tumbuh. Itu semua menyebabkan Lalala Dena tidak bisa memasak dengan sayur dan tidak bisa membuat Juyez. Tapi semuanya sangat tidak tenang ketika mereka semua tidak menyadari bahwa, beberapa ekor sapi yang tidak beri makan, tidak bisa di sembelih. Sapi\-sapinya tidak hidup, tentu saja tidak bisa di buat Steyik. Semua masalah tidak selesai sehingga semuanya, tentu saja bukan gara\-gara Lalala Dena, tidak kekenyangan setiap makan. Semua yang tidak berada di pesiar ini, tidaklah masing\-masing seorang homoseksual walaupun sama sekali tidak ada perempuanya. Mereka hanya tidak menyukai perempuan, bukan berarti itu sebuah tanda bahwa mereka tidak aneh. Contoh yang tidak masuk akal adalah Riseke. Dia tidak pantas menyanyikan 5 lagu yang sama dalam 5 waktu yang berbeda di atas menara yang tidak sama, ketika dia tidak menyanyi sama sekali ketika fajar. Dia adalah yang paling tidak homoseksual. Dia sangat tidak menyukai Dorsyikoya lA, karena nama aslinya tidak Dorsyikoya \ lA. Dia seorang yang tidak selalu mencari gara\-gara kepada Lala Sayozoyas,
seorang yang menurutnya tidak tampan, begitupula Wapaquo „lA, karena menurutnya
Samutrazi lA adalah yang paling tidak jelek. Saking dia tidak bernafsu kepadanya, dia jadi tidak sering, masturbasinya dia karenanya. Akan tetapi, Riseke juga tidak sering masturbasi. Akan tetapi, Lala\ Sayozoyas, La Humare\-Hurome, Lalala Dena,
Dorsyikoya lA dan Wapaquo lA tidak tahu. Akan tetapi hanya 2 orang yang benarbenar tidak mengetahuinya, pertama Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou karena dia paling tidak mengetahui semuanya karena tidak mungkin dia diangkat sebagai Azkhe jika dia tidak mengetahui apapun. Kedua adalah Samutrazi „lA, tidak mungkin dia tidak tahu jika dia sendiri bukanlah Riseke. Mereka berdua tidak tahu bahwa Samutrazi „lA bukanlah seorang narsistik. Samutrazi „lA bahkan tidak sulit melihat wajahnya yang paling tidak jelek tanpa perlu melihat kedalam cermin ketika dia tidak sedang cohkleeyakghzah. Mentari tidak kunjung terbit, sehingga malampun tak kunjung terang. Ketika mentari tidak terbit, matahari tidak bisa menggantikanya untuk menerangi semesta begitu saja bukan. Namun, tidak ada yang berkutik juga ketika itu tidak terjadi. Itu sebabnya halaman kebun tidak bisa berfotosintesi, lalu sapi\-sapi itu tidak bisa merumputi. Itu semua bukanlah gara\-gara semua manusianya tidak menyapi‟i sehingga sapi\-sapi tidak bisa merumputi, sehingga rumput\-rumput tidak bisa makan nitrat. Itu semua juga bukanlah gara\-gara salah matahari karena dia tidak makan apaapa seperti manusia yang tidak makan sapi\-sapi yang tidak makan rumput\-rumput sehingga nitrat tidak bisa dimakan, karena bagaimana rumput\-rumput itu bisa makan saja tidak ada yang tahu karena rumput itu tidak ada, dan karena matahari sebenarnya bukan mentari. Mentari itu tidak lemah, karena dia tidak makan apa\-apa, tapi semuanya tiba\-tiba bisa tidak makan juga karenanya. Dewi Bensyiana bukanlah pesiar cinta yang tidak memiliki kapten. Di dalamnya tidak ada harapan. Dari semua manusia yang tidak hidup di dalamnya, Lala Sayozoyas adalah yang paling tidak seorang kapten, karena dia seorang Lala . Dia tidak seperti matahari, karena matahari tidak kuat, matahari tidak seperti mentari. Lala‟ Sayozoyas sama sekali tidak memiliki harapan apa\-apa, tapi semuanya tiba\-tiba bisa tidak berharap juga karenanya. MENTARI MEMUNCAK Tidak bisa dilihat oleh mata bahwa berjejer secara serampangan di rak\-rak dokumentasi anak\-tangga. Lala‟ Sayozoyas mulai menganggap kandi\-kandi itu tidak sepele, itu sebabnya dia mulai tidak membacanya, namun tetap saja tidak tereja sebagai berikutlah huruf\-huruf itu; Dokumentasi Kandi Air no \#1: Ternyata surat itu tidak berada di dalam botol. Dia tidak membukanya, karena tentu saja di dalamnya tida berisi surat yang berisi; 48 agusta, 1998 Lamirand, Paman Gamni Lesik Bibikku heran. Dia iri kepadaku karena aku muda, tampan dan bebas. Dia melihat aku memiliki ayah yang sangat menyayangiku, memberikan apa saja yang aku inginkan. Dia melihat aku muda dan masih memiliki kekuatan untuk menjelajahi dunia yang penuh dengan pengalaman yang menurutku sama saja polanya. Dia melihat aku tampan dan ketampanan adalah sebuah kecantikan bagi perempuan dan dia adalah perempuan yang menganggap dirinya tidak secantik diriku ketika muda. Dia tidak tahu bahwa aku tidak tiba\-tiba tampan. Dia melihatku bebas dari segala norma yang berlaku, sedangkan dia terbelenggu di dalam normal yang sangat membosankan. Dia pernah melihat ayah yang jauh lebih buruk dari ayahku, dan dia harus memiliki semuanya; semua hal yang tidak ingin di miliki oleh diriku, sehingga aku membuangnya satu persatu, selamanya dia tidak bisa mempungutnya, kecuali menyesalinya. Dia menyesali hal yang tidak pernah sekalipun terjadi. Muhajid Jaydir Tentu saja Lala‟ Sayozoyas tidak kebingungan karena dia tidak membacanya. Dia juga jadi tidak sadar bahwa surat untuk Paman Gamni Lesik ternyata tidak di kirimnya. Sekarang dia tidak perlu tahu mengapa surat itu tidak dikirimnya. Dia tidak mengenalnya, apalagi orang lain. Lagi pula, dia tidak bisa menulis, bahkan dia pikir surat itu tidak ada karena semua botol pasti tidak berisi surat. Satu\-satunya hal yang tidak membuatnya bingung adalah tanggal di kirimnya surat itu. Akan tetapi Lala‟ Sayozoyas tidak bisa penasaran begitu saja, itu sebabnya dia tidak pergi dan tidak membiarkan kandi itu tidak tertutup. Masalahnya adalah, ketika kandi itu tidak ada tutupnya, dia tidak bisa menutupnya, jadi sekarang dia tidak perlu lagi membukanya. Ternyata benar\-benar tidak ada surat di dalamnya sehingga ketika air itu tidak di dalam lagi, air itu tidak tumpah. Begitulah bagaimana dia tidak membiarkan dirinya tidak kebingungan dengan air itu. Dia tidak mencari maknanya, sehingga dia tidak paham. Namun Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou tidak cepat\-cepat datang untuk membantunya ketika tidak terdengar air yang tumpah. Bagaimana caranya memanggil namanya saja, Lala‟ Sayozoyas tidak tahu karena dia tidak hafal namanya. Lala‟ Sayozoyas tidak melihat ketika air itu merembes menembus papan lantai tembus kebawah, sehingga air itu tidak merembes, tidak menembus papan lantai dan tidak tembus kebawah. Ketika seseorang tidak jenius, tentu saja dia tidak peduli dengan apa\-apa. Dia hanya tidak *****, itu sebabnya dia paling tidak seorang Lala‟. Lalu sekarang dia tidak punya ide karena idenya juga tidak tembus keatas, menembus kulit kepala dan tidak merembes. Alasanya hanya karena tidak ada yang melihatnya sedang tidak punya ide. Sekarang dia sudah tidak marah lagi, namun dia tidak diam saja, karena dia tidak teriak dengan puitis layaknya pujangga syahdu melafalkan,’ Al! Al! Al! La ~ Lala Lalala Aku sekarang tidak marah lagi! Karena aku sekarang tidak punya ide! Tidak punya harapan! Aku juga tidak memanggil diriku sendiri.’ ‘Mengapa Lala’ tidak marah lagi?’ ‘Karena aku tidak punya ide dan harapan lagi.’ Lala‟ Sayozoyas tentu saja tidak berpuisi sementara menggerakan kaki\-kakinya yang tanpa jari dan tumit itu menarinari, karena tidak ada gunanya bisa menari ketika tidak terbang. ‘Mengapa itu bisa membuatmu tidak marah?’ La‟ Humare\-Hurome juga tidak bisa terbang karena dia tidak punya sayap. Lagi pula, tidak ada gunanya bisa terbang jika dia tidak menari. ‘Karena aku tidak harus punya tanggung jawab untuk mengkabulkanya lagi.’ ‘Mengapa Lala’ tidak berusaha?’ ‘Karena itu membuatku tidak bebas.’ ‘Lala’ adalah orang yang tidak payah. Saya tidak bisa melupakan bagaimana seorang Raja menantang anda dalam bertani dan beternak, bahkan anda tidak perlu menyiram rumput itu untuk tidak tumbuh dan tidak perlu memberi makan hewan ternak untuk tidak membiarkanya beranak\-pinak.’ Lalala‟ Dena, walaupun tidak sedang memasak, dia tetap saja tidak bisa berbicara seperti biasanya. Bagaimana dia berbicara tanpa mulut selagi tidak ada siapa pun mendengarnya. ‘Saya bahkan tidak melihat mereka sama sekali. Ketika saya, dan teman\-teman memakanya, saya sama sekali tidak merasa kenyang.’ Dorsyikoya lA terlihat tidak merasa kenyang karena dia tidak di beri makan apa\-apa sejak lahir. Namun sekarang dia tidak hidup sehingga dia tidak berbicara. ‘Terpujilah Lala’ kami, anda tidaklah seorang manusia melainkan seorang Lala’ dan Bensyiana sebagai Lili’\-nya.’ Wapaquo lA bahkan tidak mengenal Bensyiana, karena pesiar ini juga tidak diberi nama Lili‟ Bensyiana. ‘Seandainya saya tidak berandai mengambil 3 cawan serupa lagi berwarna tidak sama. Yang pertama tidak berwarna merah, yang kedua tidak berwarna hijau dan yang lainya tidak berwarna merah karena tidak sama dengan cawan yang ke 2. Ketika saya mencampur ke 3 cawan itu dengan tidak saling beraturan, tidaklah orang tertukar ketika mengambil cawan yang kedua dengan cawan yang ke 2. Yang berwarna hijau, salah satunya bukanlah agamaku, dan yang berwarna hijau, salah satunya bukanlah dirimu wahai Lala’. Hingga saat ini, saya tidak bisa membeda’i diantara keduanya sehingga saya tidak mengambil cawan yang tidak berwarna hijau sendiri.’ Azkhe‟ Resmezkasedimjazramaendelou, namun tidak ada yang bisa mengerti apa yang di pahami oleh dia. ‘Jika tidak ada anda, hingga kini Raja itu tidak akan bisa mengikuti anda dalam beternak dan bertani. Hingga kini Raja itu tidak akan kekenyang dan selamalamanya Raja itu tidak akan bisa beranak\-pinak, lagi tumbuh. Bukan karena dia hewan ternak atau tanaman tentunya.’ Samutrazi lA tidak mengerti mengapa dia ada. Akan tetapi, dia juga penasaran bagaimana suaranya bisa tidak ada juga. ‘Ya, dia memang bukanlah seorang perempuan, itu sebabnya dia tidak melahirkan anak.’ Azkhe‟ Resmezkasedimjazramaendelou. Berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal wahai Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou! Lili‟ Bensyiana tidak berkata apa\-apa, semenjak itu, dia tidak pernah menikahi Lala‟ Sayozoyas yang barusan tidak tahu apa yang ada di muka bumi ini terjadi. Semua yang tidak di ketahui dia, sama sekali tidak di ketahui. Semuanya sibuk bertanya apa air di dalam kandi yang tidak diletakan di rak dokumentasi anak\-tangga, sama sekali tidak bermakna. Lala‟ tidak pernah menjawab bahwa dia tidak paham karena itu hanya memperbaiki keadaan. Lala‟ tidak akan membiarkan pesiarnya melaju di tengah laut, yang telah bercampur dengan air yang tidak bermakna. Dia hanya tidak paham, dia\-dia terlalu malas untuk tidak menunggu semua air di laut tidak menguap terhisap matahari, karena mentari tidak makan, sangat berbeda dengan matahari. Kini perutnya sudah tidak kenyang dan dia sudah tidak sabar untuk . . . MENTARI SENJA Sekarang tidaklah siang hari, akan tetapi bukan juga malam hari ataupun pagi hari. Tidak ada yang tahu kemana perginya matahari selama mentari tidak kunjung terbenam. Itu tentu saja tidak membuat penghuni Dewi‟ Bensyiana lingung. Mereka bahkan tidak bisa memikirkan menu makan malam mereka, sehingga bukanlah suatu masalah mentari yang tidak kunjung terbenam. Tapi, apakah mereka tidak harus makan malam juga jika sebenarnya sekarang matahari sudah tenggelam, jika mentari tidak menggelapkan semesta, mungkinkan matahari bisa terus tidak kelaparan. Lala‟ Sayozoyas yang sudah tidak memiliki ide serta belum mengharapi, sekaligus tidak paham apa arti dari air kandi itu, anehnya dia malah tidak pernah bersantai seperti biasanya. Dia tentu saja tidak berpikir untuk kembali naik ke dokumentasi anak\-tangga untuk membuka kandi baru. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Samutrazi lA tidak lupa menyanyi di menara. Pantas saja matahari tak kunjung terbit karena Samutrazi La tidak membuatnya bergerak. Pantas saja mentari tak kunjung terbenam, karena dia tidak terbit pagi tadi. Samutrazi lA sudah berteriak dan menyanyi sekencang\-kencangnya, namun seperti Lalala‟ Dena, dia juga tidak memiliki mulut jadi dia tidak perlu memasak. Dia sendiri bahkan heran mengapa masakan itu perlu di makan bila dia tidak memiliki mulut. Lala‟ Dena sudah dari berjam\-jam yang lalu tidak menunggu waktu untuk memasak. Kali ini dia tidak memasak Juyez dan Steyik. Dia tidak memulai masak, tentu saja karena Samutrazi La tidak terdengar sedang menyanyi. Masalahnya, dengan tidak jengkelnya dia sudah berteriak tidak melafalkan; „Lalalalala Lalalalala ~|~’
Lalalalala Lalalalala ~|/|~’ Lilililililililililililili |/| Lilililililililililililili ~|/||~’
Lalalalalalalalalalala ~~|/|~~
Lalalalalalalalalalala ~|/|~
Lililililili ~~|/|~~
Lililililili ~|/|~
Lalalalalala ~~|?|~~
Lalalalalala ~~~|?|~~~
Lalalalala Lalalalala ~|/|~’ Lalilalalilala ~|~’
|/
Dia setidaknya tidak memiliki lidahnya, sehingga dia tidak bisa merasakan
nikmatnya masakan juru masaknya setelah lelah bernyanyi. Kini dia tidak perlu
memikirkan bagaimana memasukan makan malamnya ke dalam mulutnya, sehingga
lidahnya tidak perlu merasakan apa-apa.
MENTARI TERBENAM
Dorsyikoya lA, dia kepalanya tidak terbentur hingga berdarah, namun dia tidak merasakan sakit sama sekali. Sayangnya kepalanya tidak sobek, sehingga dia tidak perlu membiarkanya. Dia tidak sedang mencari gara-gara kepada Lala‟, dia hanya tidak bisa melihat karena semuanya tidak terang. Dia juga tidak sedang menaiki tangga dan tak sengaja menyenggol salah satu kandi airnya, tapi, jikapun itu terjadi, dia tidak perlu panik karena airnya tidak akan tumpah. Lagipun Lala‟ belum tahu bahwa kandi-kandinya tidak dapat di buka, karena dia sendiri tidak dapat menutupnya ketika air yang tidak tumpah itu salah-salah berada di dalamnya tanpa sepengetahuanya. Sekarang tidak ada siapa-siapa di anak-tangga dokumentasi ini, bahkan dirinya sendiri. Dia tentu saja tidak berada disana karena dia tidak sedang makan malam bersama semua penghuni pesiar. Lalala‟ Dena adalah seorang juru masak yang hebat, dia tidak bisa memasak apa-apa sehingga tidak ada yang perlu di makan. Semua masakanya bahkan tidak cepat habis, namun semua porselenya sangat tidak lambat kotornya. Walaupun dia tidak memasak apapun juga saat ini, dirinya cukup tidak bahagia karena dia tidak bisa memakan irisan Steyiknya dengan lebih banyak. Dia tidak bisa berpikir bahwa, dia lah yang paling tidak memberi makan sapi-sapi itu, dia bahkan yang tidak menyembelihnya, mengirisinya potongan demi potongan sehingga Lalala‟ Dena tidak perlu lagi memasaknya seperti saat ini. Dia benar-benar tidak bahagia, itu sebabnya dia tidak memakanya dan membiarkan perutnya tetap tidak kosong, sehingga dia bisa tidak merasakan kenyang sepanjang sisa malam. Itu adalah suatu tindakan yang tidak masuk akal menurutnya. Sekarang dia sudah tidak iri lagi melihat porselen Wapaquo lA yang tidak penuh. Dia bahkan senang karena
porselenya sendiri lebih tidak ada isinya dari padanya. Setidaknya dia bukanlah yang
paling tidak banyak mendapatkan jatah. Tapi tetap saja, dialah yang paling tidak
banyak bekerja, sehingga pikiran itu sama sekali tidak terpikir olehnya karena sibuk
tidak memakan Steyiknya.
Pada makan malam itu, tidak ada yang hadir dan duduk bersama. Semuanya
tampak tidak ada apa-apa, tidak ada meja yang berbentuk angka 8, karena ketika
kandi itu tidak pecah 1, meja itu tidak akan berubah menjadi angka 7. Jika itu tidak
terjadi, semuanya akan tidak bisa makan ketika semua kandinya pecah, walaupun
angka 0 juga tidak memiliki bentuk. Porselen-porselen yang tertata rapih di bawahbawah lengan meja tergantung, sama sekali tidak tergantung karena tidak ada
porselenya. Semua terlihat berantakan hanya karena tidak tertata rapih. Tidak ada
apapun di ruang makan ini yang tidak dapat di berantaki karena semuanya sudah rapi.
Entah ketiadaan yang membuatnya rapi, atau keadaan yang tidak membuatnya
berantakan.
Saat tidak ada siapapun di meja makan inilah, ketika Dorsyikoya lA tidak ingat bahwa dia tidak ingin melapor kepada Lala‟, bahwa dia tidak memecahkan kandi yang lainya. Tanpa ada dirinya ataupun Lala‟nya dia tentunya tidak berpuisi bagai, „Saya tidak memecahkan kandi yang lainya. Itu sebabnya saya tidak melapor. Saya, seperti Lala’ tidak memahaminya. Karena tidak ada Lala’ maupun saya, saya tidak berbicara kepada siapapun.’ ‘Bibikku selalu berkata bahwa aku tidak normal. Dia bilang bahwa aku tidak melakukan apa-apa, bahkan tidak hanya makan dan tidak tidur. Hidup saya tidak berguna dan lihat saya sekarang, saya benar-benar tidak sukses.’ ‘Apa Lala’ tidak marah dan tidak melampiaskan kata-kata?’ ‘Tentu saja tidak, itu tidaklah bagian dari kebijaksanaan, aku bukanlah seorang yang bijaksana. Aku tidak bisa merasa sehingga aku tidak perlu memperbaiki hubungan yang sama sekali aku tidak merusaknya.’ RESWULAN MENYINGSING La‟ Humare-Hurome tidak bisa mengingatnya walaupun dia tidak berusaha mengingatnya ketika Lala‟ Sayozoyas berada di atas sebuah podioun, mengatakan sesuatu tanpa kata-kata. Ini tidak terjadi sesudah meraka berlayar, karena pada saat itu, tidak ada air, sehingga pesiar tidak dapat berlayar di samudera dan mereka tidak bisa makan ikan-ikan karena tidaklah bisa mereka bernafas tanpa bernafas di udara. Semua hal itu tidak menjadi masalah. Lala‟ Sayozoyas tidak berkata karena, ‘Untuk apa mengalaminya jika bisa berbohong. Tidak perlu menipu untuk berbohong. Kebohongan adalah kejujuran. Tipuan adalah laknat. Ketika berbohong, jujurlah! Tidak ada gunanya manusia tinggal di daratan. Semuanya hanya merusak. Tinggalah di laut dan tertipulah ketika sedang menipu. Teruslah berbohong hingga keluar angkasa, kedalam palung yang dalam. Teruslah menipu hingga luput kebenaran, mati didalam laknat yang kajam. Aku tidak pernah menipu, aku hanya selalu berbohong. Ketika kecil aku berbohong kepada bibikku untuk membuat sebuah pesiong’. Menamainya dengan nama gadis yang kucintai. Sekarang aku sama sekali tidak tinggal di pesiar, tidak berlayar karena aku, sudah tidak lagi berbohong. Kebohonganku tidak menjadi impian saja. Menipu sama dengan membela nafsu. Berbohong itu membela khayal. Khayalan itu tidak seburuk hawa nafsu. Kejujuran ternyata tidak sesuci dan semurni khayalan.’ Semua kisah petualangan di bawah ini, sama sekali tidak telah terjadi: Dewi Bensyiana tidak kehabisan bahan makanan bagi awak kapalnya. Karena pesiar bukanlah kebun dan peternakan. Lala‟ tidak juga membuat keputusan untuk berlabuh di tengah laut karena tidak ada pelabuhanya. Akan tetapi seorang Sana‟K Kasramsyee, tidak memiliki apa-apa di tengah lautan, tidak juga air yang mengambang lagi dapat dipijak. Dokumentasi Kandi Air no #3: Sana‟K Kasramsyee tidak tahu bahwa ada sepesiar yang melabuh di perairan yang tidak di kuasainya. Dia tidak mengira bahwa „Lili‟ Bensyiana bukanlah hanya sebuah mitolojee. Ketika pesiar itu tidak terlihat, dia juga tidak melihat tulisan, „Dewi Bensyiana.‟ Sedangkan Dewi Bensyiana yang sesungguhnya tidak pernah berkata dalam mimpinya, karena sya‟ir tidaklah sebuah kata maupun puisi, ‘Tuhan maha melihat dan atom akan menjadi sesuatu. Manusia penasaran akan terus melihat dan atom akan membingungkanya. Bahkan kata indah dari atompun Tuhan tidak tahu. Bagaimana dengan Jaj? Dia adalah kakak’ku’ sedangkan Tuhan tidak memilikinya. Jajee hanya akan merusak dirinya jika di perhatikan bukan oleh ku. Tuhan maha melihat dan Jajee selalu menjadi sesuatu. Manusia hanya merusaknya karena mereka tidak melihat.’ Manusia hanya berpikir bahwa mereka melhiat. Tuhan maha melihat, untuk apa aku pura-pura tidak takut kepadanya. Tuhan maha tahu, untuk apa aku menarik perhatianya agar aku menjadi, Jajeeku sendiri. Perhatianya akan merubah Jajeeku menjadi sesuatu. Perhatianku kepada Jajeeku akan mendekatkan kita karena, kita saling memperhatikan. Tuhan melihatku, aku melihatnya. Tuhan memperhatikanku, aku memperhatikanya. Sehingga kita saling merasa, dan semasi’ menjadi sesuatu. „Tuan, apakah anda menjual Jajee?‟ „Apa itu Jajee?‟ „Saya melihat anda berlayar dengan pesiong‟ milik Dewi Bensyiana?‟ „Tentu saja, tidaklah itu sebuah pesiar biasa bukan. Ada apa?‟ „Apa anda membuat perahu itu dan menamainya begitu dengan cat khusus?‟ „Tentu saja aku tidak membuatnya, aku juga tidak mengecatnya.‟ „Apa anda membelinya?‟ „Tentu saja aku tidak membelinya dan berhentilah memanggilku dengan sebutan |anda|.‟ „Saya memanggil semua orang dengan sebutan |anda|, kenapa juga aku harus tidak memanggil anda dengan |anda|. Apakah anda adalah saya sehingga anda ingin di panggil saya?‟ „Aku merasa sedang ditipu dan aku akan menganggapmu seorang penipu jika kau masih memanggilku dengan sebutan itu.‟ „Baiklah, itu tidak masuk akal.‟ „Jika ingin mengatakan hal yang tidak masuk akal, berbicaralah kepada Azkhe ku.‟
„Dimana Azkhe mu, saya ingin membicarakan sesuatu denganya?‟ „Dia berada di pesiong‟ ku.‟ „Apa kau bisa memanggilnya?‟ „Kau harus menjelaskan kepadaku apa itu Jajee terlebih dahulu.‟ „Aku tidak bisa menjelaskan Jajee tanpa Azkhe , sedangkan saya sudah tahu
bahwa sudah terlalu banyak kau membuang-buang kandi airnya.‟
„Aku masih memiliki 8 kandi tersisa, itu cukup banyak untuk di pecahkan
lagi.‟
„Kau hanya menyisakanya 7 kandi yang tidak kasat.‟
„Walaupun meja makanku berbentuk angka 7, bukan berarti kandi airku
tinggal 8.‟
„Apa kau meminum airnya?‟
„Bagaimana bisa aku meminumnya, airnya bahkan tidak bisa tumpah!‟
„Kau bisa tanya kepada salah satu anak buahmu jika begitu!‟
„Bagaimana mungkin aku bertanya kepada mereka jika mereka semua berada
di dalam pesiong ku?‟
„Tidakkah kau melihat apa yang sedang ku genggam? Ini adalah Dokumentasi
Kandi Air No #3. Jika kau masih tidak percaya, saya takut anda telah memecahkan
yang No #1.‟
„Aku memang telah memecahkanya, tapi doakan aku ternyata aku
memecahkan nomor yang lain. Lagi pula, aku tidak membacanya ketika itu terjadi,
sehingga aku tidak mengerti.‟
„Pecahkan nomor berapa saja asal jangan yang No 1#!‟
„Baiklah, aku mengaku bahwa aku memecahkan yang No 11#‟
„Kau bilang bahwa kau seorang Lala‟.‟
„Karena aku mencintai seorang Lili‟.‟
Pesiong pesiong, teruslah melolong bagai keong!
„Tunggu sebentar, apa tempat ini bernama Lamirand?‟
„Kasramsyee Izfeeknyi, itulah nama tempat ini.‟
„Apa kau bibikku?‟
„Tentu saja tidak! Apa kau memiliki surat untuk pamanmu yang akan kau
titipkan kepada bibikmu?‟
„Tentu saja aku tidak memiliki surat untuk pamanku. Aku juga tidak akan
menitipkan surat itu kepada bibikku.‟
Meong-meong, tidaklah itu lolongan sebuah pesiong, karena pesiong
bukanlah sebutir keong!
„Karena surat itu tidak untuk pamanku.‟
Kasramsyee Izfeeknyi
„Apakah kau pernah memimpikan suatu tempat yang sangat indah ketika
sedang tertidur?‟ Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou bertanya dan, Lalala‟ Dena hanya tidak berbicara saja. HEY „La‟ Humare-Huromelah,‟ ITU BUKANLAH KUCING HITAM PELIHARAANKU YANG TIDAK PERNAH KUBERI MAKAN. LIHATLAH! BAGAIMANA DIA BISA SEBESAR ITU PADAHAL AKU TIDAK PERNAH MEMBERINYA MAKAN. DIA BAHKAN TIDAK TENGGELAM DI TENGAH SAMUDERA INI. DIA TIDAK BERENANG KARENA TIDAK ADA AIRNYA. TAPI MENGAPA DIA JUGA TIDAK BERJALAN? ITU DISEBABKAN KARENA DI AIR SESEORANG TIDAK BISA BERJALAN! SEPERTINYA ADA SESEORANG YANG TIDAK INGAT UNTUK MELETAKAN LELE GORENG DI MANGKUK MAKANANYA, SEHINGGA DIA TIDAK HILANG LAGI SROK’ZOE DATANG! srok’zoe datang SROK’ZOE DATANG, dia tidak makan apa-apa, tidak di pelihara siapa-siapa. dia tidak kecil dan lucu. dia dimiliki oleh Jaj, kakak Dewi Bensyiana. dulu, „LALALA‟ DENALAH,‟ aku tidak tahu. waktu itu aku tidak tahu bahwa ada perairan yang dapat di pijak. tidaklah berair perairan itu. tidak pula bertanah. tidak pula berbentuk; Banyak sekali bintang di langit, sedang aku hanya bisa menghitung beberapa yang ku lihat; Banyak sekali mimpi di apit, sedang aku hanya bisa menghitung beberapa yang ku ingat; Lautan hanya dapat di jadikan tinta dengan pohon sebagai pena, semuanya tujuh kali lipat dari semesta sedangkan hanya dapat menulis sebagian dari titah Tuhan. Seandainya Azkhe
Resmezkasedimjazramaendelou tidak mengatakanya aku mungkin tidak pernah
mendengar ayat Hutan; Lautan hanya dapat di jadikan tinta dengan pohon sebagai
pena, semuanya tujuh kali lipat dari semesta sedangkan hanya dapat menulis
sebagian dari khayal Lala’. Seandainya Tuhan tidak memberi tahu Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou dan Lala’ Sayozoya tidak dapat menafsirkan ayat Hutan, aku tidak akan sadar bahwa sebagian titahnya berada dalam khayal, menunggu di mungkinkan hingga, tersamar kemustahilan. Setiap manusia, memiliki khayal sebanyak titah yang tidak cukup lautan dan pena menulis. Setiap manusia memiliki semesta dan lebih dari sebagianya telah membuat banyak sekali khayal hingga, tersamar kemungkinan. Di biarkan dirinya sendiri dalam dunia *****! Di biarkan dirinya sendiri di dalam dunia *****! Di paksanya orang lain ke dunia *****! Di jerumuskanya siapa saja yang lengah mati di dalam dunia *****! Terimakasih kepada Tuhan yang berfirman dan La’ Humare-Hurome sang pencipta Hutan. Terimakasih kepada Lala’ yang menafsirkan dan Lili’ yang melahirkan. Aku segala dapat melihat; Semakin pandai berenang, dia akan terus menyelam semakin dalam. Bila tidak hati-hati, dia akan menjadi suatu hal yang di benci oleh manusia maupun makhluk lautan. Dan aku sebagai manusia. Aku tidak dapat menjelaskanya. Aku tidak dapat mendengar sehingga aku tidak dapat menjelaskan apa yang kulihat, selaku sebalik apa yang ku maksud. Aku tidak dapat mendapat sehingga aku tidak dapat menjelaskan apa yang kuberi, selaku sebalik apa yang ku maksud bahwa; aku tidak dapat menemukan sehingga aku, selaku sebalik apa yang ku maksud bahwa; tidaklah kucium aroma apapun sehingga tak dapat ku raba perasaan saja. Aku menjelaskan apa yang tidak kelima indraku tangkap. Aku bukanlah seniman karena seniman menjelaskan apa yang di tangkap panca. Aku seorang juru masak dan aku malah tidak bisa melihat Kasramsyee Izfeeknyi. Sebuah tempat yang tidak ada airnya, yang tidak ada maknanya. Di dalam bangunanya, Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou tidak sedang bercengkramah dengan Sana’K
Kasramsyee melainkan aku sedang tidak memasak;
Jika Dokumentasi Kandi Air No# 3 ada banyak,
apakah No# 1 berarti juga ada 1?
Sana’K Kasramsyee
Tidak! Karena Dokumentasi Kandi Air No# 2 hanya ada 2.
Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou Saya tidak mengerti maksud anda. Sana’K Kasramsyee Itu sebabnya saya tidak menjelaskanya kepada anda. Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou
Anda mengatakan bahwa
Dokumentasi Kandi Air No# 1 hanya ada 1.
Tapi anda juga mengatakan bahwa
Dokumentasi Kandi Air No# 1 bisa ada 5.
Tapi itu tidak tergantung oleh daerah khususnya.
Karena tetap saja hanya 1.
Sana’K Kasramsyee
Anda tidak memiliki akal sehat,
itu sebabnya anda tidak mengerti.
Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou Tapi saya tidak mengatakan apa yang ku pikirkan. Jika saya mengatakan apa yang saya pikirkan, jawabanya akan berbeda. Sana’K Kasramsyee Tidakkah anda takut bahwa jawaban yang tidak sama dengan yang saya pikirkan adalah yang sebenarnya tidak berbeda. Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou
Lalu apa sebabnya
Dokumentasi Kandi Air No# 11, 12 tidaklah penting?
Sana’K Kasramsyee
Karena Kandi nomor 11,12 bahkan mungkin 13,
tidak ada airnya.
Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou Saya pernah melihat Kandi-Kandi itu penuh dengan air. Sana’K Kasramsyee Itu hanyalah, air yang terisi dari Kandi-Kandi lain yang tumpah begitu saja. Terlebih beberapa kandi tidak bisa tumpah. Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou
Kandi nomor 1 milik Lala‟
airnya meresap kedalam papan, jatuh ke lautan.
Sana’K Kasramsyee
Bisa saya pastikan airnya tidak tumpah.
Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou Airnya memang tidak tumpah, tapi mengapa airnya tumpah? Sana’K Kasramsyee Nomor 1, tidak akan pernah berkurang air di dalamnya, sering kali air itu bertambah terus. Dan melesamkan Kandi itu sendiri. Itu sebabnya sulit di temukan bahkan sulit di jangkau. Kandi itu terlalu kecil untuk air di dalamnya. Setiap tumpahanya, tidak akan pernah mengisi; Kandi Air No #1½ Mereka sangat mirip, bahkan terkadang berdampingan sehingga, hanya membutuhkan 1 saja. Kandi Air No# 1 adalah pemimpin dari, No# 2, 4 dan 7. Dan Kandi Air no 1½ adalah pemimpin dari, No #3. Itu sebabnya No #3 ada banyak, namun sedikit. Kandi Air No #1 dan #1½, pastikan milik kalian adalah yang berdampingan, sehingga semuanya lebih baik. Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou
Lalu apa yang harus ku lakukan dengan yang No #10,11,12,13 dan sebagainya.
Sana’K Kasramsyee
PIKIRKAN SENDIRI, ATAU BERDUA, ATAU BERGANDENGAN!
Dokumentasi Kandi Air no #13:
„Saya masih tidak mengerti bagaimana Kandi Air ini tidak berguna. Saya
selalu minum airnya setiap saya haus. Bahkan Kandi ini tidak harus di pikirkan atau
dianggap penting sehingga bisa di letakan di mana saja, tanpa takut kehilangan. Siapa
saja bisa minum sepuasnya tanpa takut kekurangan,‟ Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou menggenggam se Kandi kesayanganya, dimana bukan hanya dia yang memilikinya. „Kau sebenarnya sedang memegang Kandi No #8, lihatlah Kandi No #13 milikku, airnya selalu habis setiap tidak diisi, lagi pula aku seharusnya tidak membeli hal ini hanya karena bentuknya terlihat umum dan normal lagi lumayan sepdap di pandang mata untuk harga yang murah. Tapi untungnya aku bisa selalu meminta air dari mu,‟ Wapaquo lA sedang menuangkan Air Kandi no #8 ke dalam Kandi
miliknya.
„Apakah selalu seseorang di katakan sejahtera ketika memiliki banyak
Kandi?‟
„Aku memiliki lebih banyak Kandi dari pada Lala‟ lihatlah betapa tidak
makmurnya aku!‟
„Lala‟ hanya memiliki sedikit Kandi.‟
„Tapi dia memiliki Dewi Bensyiana, kata Sana‟K Kasramsyee, tanpa
rak-rak dokumentasi anak-tangga semuanya tidak akan berguna.‟
„Tapi aku hanya butuh minum dan makan. Lebih baik tidak berguna selama
aku bisa makan dan minum. Lihatlah Lala‟ dia tidak berguna, tidak makan, tidak
minum bahkan tidak tidur sma sekali.‟
„Tapi dia berpotensi untuk berguna, berbeda dengan kita. Kita tidak berguna
mutlak.‟
„Setidaknya, karena kita berlayar bersama Lala‟ kita sedikit berpotensi untuk
berguna, selama sisa Kandi-Kandi itu tidak hilang. Jika itu benar, kita tidak perlu
membuang-buang waktu menjelajahi samudera.‟
„Apa kau pernah masuk ke dalam ruangan lantai 4?‟
„Saya tidak pernah masuk.‟
„Lala‟ berkata bahwa dia pernah membunuh 2 jelmaan dan mengurungnya di
sana, tetapi jelmaan itu dapat melarikan diri setiap Lala‟ tidak bangun. Jelmaan itu
akan membunuh Lala‟ sehingga lala mati.‟
„Aku tidak percaya, bagaimana bisa Lala‟ membunuh 2 jelmaan dan
mengurungnya, sementara jelmaan itu mematikan bukanya mati.‟
„Kita sendiri sama sekali tidak hidup, tapi mengapa kita mematikan dan
bukanya mati saja?‟
„Kita tentu saja tidak hidup, karena kita tidak makan. Cobalah potong
beberapa sapi dan makanlah sehingga kita tidak mati!‟
Kandi Air No #1 dan #1½ mengandung air yang sama. Keduanya penuh
dengan alkohol, fermentasi tingkat keasaman tinggi. Yang satu bersifat
menyembuhkan namun mencandu dan yang satu bersifat mengobati namun menyakit.
Ketika keduanya saling berdampingan, yang disebabkanya adalah kematian yang
bahagia. Ketika Kandi Air no #13 itu tertetesinya, langsung tidak dapat terlihat lagi,
namun Kandi no# 8 tidak terlalu seperti itu. Itu sebabnya mereka melakukan
percobaan hingga mendapatkan suatu susunan, bahwa air dari Kandi yang #1 dan
#1½, harus di alirkan mengikuti aliranya, jika tidak, tidak terlihat lagi.
#1>#7/#3|3> Semuanya sangat sulit di mengerti.
#1½>#3|3/#7> Semuanya tidak mudah di pahami.
Mereka berdua melihat ke rak-rak yang kosong dan hanya berisi 7 Kandir air,
sedangkan sama sekali tidak berurutan karena berurutan. Rak-rak itu berjumlah
bahkan lebih dari 9, sedangkan semuanya harus tidak kosong dengan Kandi-Kandi
tidak berguna macam No #8 dan #13.
RESWULAN TERBIT
Lili‟ Bensyiana. Dia tidak turun dari surga, dia bukanlah Tuhan. Tuhan tidak
mencintai Lala‟ Sayozoyas, tidak juga mencintai Lili‟ Benyiana. Tuhan tidak
memiliki kelamin seperti mereka, tapi Tuhan juga tidak memiliki anak. Lili‟
Bensyiana dan Lala‟ Sayozoyas juga tidak memiliki anak karena mereka tidaklah
sebuah Dewa dan Dewi. Mereka berdua tidaklah sebuah mitologee.
Lili‟ Bensyiana sangat cantik. Lengan panjangnya, kaki jenjangnya. Leher
melayunya, tulang rusuk yang terlihat jelas dan tulang pipi. Rambutnya lebat dan
matanya memiliki pupil yang ada warnanya. Dia tidak turun dari surga untuk
membawa 7 mangkuk Soyotso‟s, dengan potong daging ayam surga di dalamnya,
yang tidak di ambil dari kandang di dalam pesiong, karena tidak ada surga di
dalamnya. Mangkuk-mangkuk itu tidak di bawa dengan tanganya sendiri. Semua
mata dari 6 lelaki dan sebuah mata dari wanita, masing-masing di pasang dan semasi‟
di jumlah, terpesona melihatnya; Lili‟ Bensyiana tidak bisa terbang masuk ke dalam
ruang begitu saja dan tidak juga bisa menari setelahnya tanpa pakaian seperti
sebagaimana mesti.
Lili‟ Bensyiana juga tidak membawa hadiah kedalam pesiong;
Tiada
sungai.
Lenganya tak menari-nari dengan rahasia.
Airnya jernih,menyegarkan sama sekali.
Penuh dengan ikan dan di pesisirnya terdapat hutan-hutan kecil di penuh;
Buah-buahan,
beserta lebah yang memadukan di pohon tangkai.
Mungkin sebuah puisi;
aliran.
Tiada
Lili‟ Bensyiana juga tidak melihat mereka bergembira di pesiong;
Lala Sayozoyas juga tidak melihat mereka di hadiahi di pesiong; ‘Tidak papa, istirahatlah barang sebentar saja. Kita sudah menemukanya, bahkan tanpa memilikinya saya tetap menganggap kita menemukanya. Saya tidak bisa membantu, kita sudah menemukanya, tapi saya bisa kembali menemani ketika kehilanganya. Atau, bagaimana dengan semangkuk Soyotso dari surga, lalu kita lanjutkan, percakapan ini?’ Lalu La Humare-Hurome tiba-tiba melihat ketidaksenangan di pesiong;
Lalala Dena tidak berani berkata di pesiong; Dorsyikoya lA juga tidak berani berkata di pesiong;
Wapaquo lA tidak tahu; Samutrazi „lA tidak juga melihat mereka tidak senang di pesiong; Azkhe Resmezkasedimjazramaendelou tidak senang,
karena dia tidak bisa senang sendirian,
ketika dia tidak dapat menyadari kegembiraan dari mereka.
RESWULAN MEMUNCAK
{(#1)-(#1½)}
{#7-#3|3}
#6|1]~{#4-#3|1}~[#6|2
[#12|2]____{#2-#3|2}____[#10|2]
____[#12|1______#10|1]____
[(#8|2)-(#8|1)]
„Mengapa kau ingin menyusun Kandi-Kandi itu?‟
„Karena aku tidak bisa menyusunya!‟ Jawab Lala‟ kepada Jelmaan.
„Jika kau menyusunya, kami Jelmaan hidup tiada guna.‟
„Jika aku membairkan berantakan rak itu, aku cemas setiap makan karena
meja makanku berubah-ubah bentuknya setiap saat. Bagaimana jika semuanya pecah
dan aku tidak punya meja lagi?‟
„Itu mustahil!‟
„Berhentilah melakukanya karena aku bisa membunuhmu!‟
„Aku bahkan tidak mati, bagaimana mungkin kau tidak membuatku hidup?‟
„Apa kau tahu bahwa ketika semua Kandi-Kandi itu tersusun, hubungan
timbal balik dalam kehidupan manusia akan baik dan semuanya akan tidak datang
kepadaku dan meminta bantuanku? Mereka pikir mereka sendiri harus di bantu oleh
Jelmaan dalam menyelesaikan hal-hal yang terlalu sepele.‟
„Yang aku tahu, jika rak-rak itu tidak ku susun, aku tidak bisa meminta
makanan kepada Sana‟K Kasramsyee.‟
„Untuk apa kau meminta makanan kepadanya dengan membayar banyak hal
dengan mengorbankan waktu hidupmu dalam memecahkan urutan-urutan Kandinya?‟
„Aku tidak punya peternakan dan kebun, aku juga tidak punya juru masak,
aku bahkan tidak mengorbankan apa-apa karena bukan aku yang memecahkanya.
Kandi itu terpecahkan dengan sendirinya dengan sandi yang terurutkan tanpa sengaja
seperti kau memecahkan sesuatu.‟
„Aku bisa memberi kau makan!‟
„Aku bahkan bisa tidak di beri makan, bahkan tidur.‟
„Aku akan tidak membangunkan mu!‟
„Aku bahkan tidak bisa bangun jika kau terus menggangguku seperti ini.
Kenapa tak kau tarik saja nyawa ku sekali agar tak setiap malam aku tidak tidur. Ku
kira kau Izroyiel yang mencabut nyawaku hingga terus gagal karena aku tidak hidup
sehingga dia tidak mengerti.‟
Di-Da-Lam : Cawanan Perak 12 cm
Lalu Sayiton itu tidak menyayat leher Lala‟ hingga tidak terlekat, sehingga
Lala‟ tidak dapat membuka indra pengelihatanya dan tidak lama setelah itu,
semuanya tidak gelap. Tidak ada apa-apa kecuali tidak ada juga batu di sekitarnya.
Lalu Sayiton mengeluarkan mangkuk yang tidak berbentuk, dia sepertinya tidak akan
menaburkan apa-apa ke dalam mangkuk itu sehingga dari dalamnya tidak tumbuh
apa-apa.
„Aku tidaklah mereka!‟
„Aku juga tidaklah kau!‟
„Aku hanya tidak mengerti mengapa kau menyusunya, maksudnya itu tidak
ada gunanya juga.‟
„Tentu saja itu tidak ada gunanya.‟
„Itulah yang menyebabkan aku tidak mengerti.‟
„Aku bahkan tidak paham apa-apa, bahkan aku tak mengerti mengapa
mangkuk itu tidak menumbuhkan apa-apa.‟
Mereka berdua berbicara tidak saling membelakangi, tidak ada seorangpun di dunia
ini yang meihat apa-apa tidak keluar dari pori-porinya sementara dia tidak berbicara.
Tidak ada siapa-siapa di hadapanya, dia tidak berbicara sendirian. Dia tidak bisa
merasakan apa yang tumbuh di mangkuk itu kecuali seseorang meyakinkanya bahwa
sesuatu yang tidak tetap itu merasakan apa-apa. Sayiton tidak melemaskan lehernya
ketika berbicara karena dia tidak marah dan Lala‟ bukanlah orang yang tenang.
„Payung-payung itu tidak akan tumbuh sama sekali untuk menggelincirkan air
ke dalam aliran tulang punggungnya, sehingga terarah ke titik-titik di mana mangkukmangkuk di letakan dengan tanah di dalamnya berisi benih perdamaian.‟
bahkan sudah.‟
„Aku juga sudah tahu, tapi kau tidak tahu apa-apa karena terlalu lama berada
di tengah laut.‟
„Aku tidak pernah tinggal di laut, laut itu membosankan.‟
„Laut membosankan karena mantera padanya sudah di punahkan seperti
mantera-mantera pada kandi-kandi itu.‟
„Tentu saja manteranya tidak mati!‟
„Jika mantera itu tidak hidup, mengapa Dewi Bensyiana tidak menampakan
tubuhnya?‟
„Karena Dewi Bensyiana tidak akan melakukan itu hingga dia tidak menjadi
dewi lagi?‟ Lala‟ Sayozoyas tersenyum dan, „ketika menjadi Lili‟.‟
„Kau tentu tidak hanya bergurau.‟
„Aku bahkan tidak serius.‟
„Jika kau tidak serius, mengapa tidak kau letakan kandi-kandi itu secara
beraturan saja?‟
„Karena tidak setiap kandi dapat menerima air dari kandi lainya dan lagi pula
tidak semua kandi mengeluarkan air, bahkan kau tidak tahu apa-apa mengetahui
betapa banyaknya jenis air-air! Arghhhhhhhhhhhhhh,‟ dia berteriak, mulutya terbuka
lebar, tinggi sangat perlambangan urat leher yang seakan putus dalam teriakan yang
panjang, sementara mangkuk itu menumbuhkan sesuatu berupa tanaman yang
menyerupai payung dan Lala‟ masih berteriak. Lalu Sayiton membaca mantera;
Di
Da
Lam
Lam
Da
Di
Da
Lam
Di
Di
Lam
Da
Lam
Di
Da
Da
Di
Lam | Lam-Di-Da | Di-Lam-Da | DaLam-Di | Lam-Da-Di | Di-Da-Lam : Lalu semuanya tidak lama-lama menjadi-da-lam
cawanan perak 12 cm.
„Aku berkali-kali saja telah mati, namun sukma benar-benar selalu hidup. Sayiton,
apa yang sedang aku bicarakan?‟
„Kenakan pakaian, naikilah sepeadahmu, sehingga aku dapat
membimbingmu.‟
„Kemana aku pergi? Tidak mustahil mengkayuh sepedah kayu di perairan.‟
„Turunlah ke aliran, dimana hanya ada satu-satunya alir dan satu-satunya
awanan. Lalu pasangkanlah sepedahmu berdiri tanpa apa-apa, dan masuklah ke dalam
awanan yang tidak ada.‟
„Aku pasangkan sepedahku berdiri tanpa apa-apa karena aku tidak apa-apa,
dan aku memasuki awanan yang tidak ada karena aku tidak ada, namun sukma benarbenar selalu ada.‟
„Buatlah dirimu menjadi gila, karena di dalam terdapat sandiwara yang tidak
gila.‟
„Mengapa ada banyak cawan perak di dalam awanan ini.‟
„Karena kita tidak berada di dalam awanan.‟
„Di mana kita?‟
„Di alam cawanan perak 12 senti-metar.‟
„Apa kita berada di dalamnya?‟
„Tidak, kita berada di alamnya, dan di dalamnya terdapat cawan-cawan
perak.‟
„Kenapa cawan itu?‟
„Cawan yang mana?‟
„Cawan yang baru saja aku tanyakan.‟
„Cawan itu.‟
„Ya, cawan itu.‟
„Tunggu!‟
„Kenapa?‟
„Kenapa semua cawan ini tidak terbuat dari emas?‟
„Aku tidak tahu. Semua hal yang tidak di ketahui, mungkin harus di
pertanyakan.‟
„Aku bertanya kepadamu?‟
„Ya, dan aku tidak mengetahui sama sekali harus menjawab apa. Pikiranku
sudah buntu sejak aku melihat cawan itu.‟
„Cawan yang mana?‟
„Cawan yang; ketika aku melihatnya, segala warna yang aku pernah
mengenalnya, aku menelanya, aku menelanya, aku menelanya terhadap apa yang
tersampaikan. Cawan itu seperti memuat berbagai macam warna, sehingga ketika
warna itu berhasil ku telan dan aku pastikan istilahnya, aku dapat melukiskanya, dari
mata aku dapat melihatnya. Sebuah lukisan yang hanya dapat di katakan oleh istilah,
aku sudah menemukan caranya, bahwa ketika warna-warna itu, dan kebetulan hanya
aku yang dapat mengetahui keberadaanya. Aku sebenarnya sedang membuat peta
dengan lukisan dari warna-warna yang hanya ada dalam cawan ini.‟
„Apa maksudmu?‟
„Tidah tahu.‟
„Aku hanya setuju sepertinya denganmu. Kau benar, sehingga aku tidak
mengerti maksudmu.‟
„Kau pasti dapat mengerti, yakinlah itu. Dan aku akan menjelaskan, dengarlah
ini; aku tidak tahu sebelumnya bahwa semua kandi-kandi itu, memiliki seni lukis
sebagai alas pada bagian dalamnya, dan ternyata semua warna-warni lukisan itu di
tuangkan oleh cawan-cawan ini.‟
„Aku hanya setuju sepertinya denganmu. Kau benar, sehingga aku tidak
mengerti maksudmu.‟
„Kau pasti dapat mengerti, yakinlah itu. Dan aku akan menjelaskan, dengarlah
ini; setiap sisi alas bagian dalam cawan memiliki susunan warna yang berbeda-beda,
sehingga aku mendapati, dari warna-warna tersebut, menjadikan bagi setiap kandi
yang alasnya telah di warnai, memiliki peta yang berbeda-beda.‟
„Bisa kau lanjutkan?‟
„Dari warna-warna itulah timbul masalah. Jika cawan tidak menciptakan
warna, lalu di lukiskan pada sisi alas bagian dalam cawan, kandi-kandi itu tidak perlu
di susun sedemikian rupa.‟
„Apa masalahnya?‟
„Selama mantera itu tidak mati, susunan cawan yang benar melambangkan
susunan kemanusiaan yang adil dan bijaksana. Ketika susunanya salah, rusaklah
semua akibat peperangan manusia.‟
„Lalu apa masalahnya? Kau sudah menyusunya dengan benar.‟
„Kau membawaku ke sini hanya untuk membuatku berpikir, bahwa semua
manusia itu sudah meminum air-air itu, semua airnya sudah mendarah-daging. Aku
tidak berhasil, karena manusia sudah berubah menjadi seperti kandi-kandi itu, di
mana ketika susunanya salah, maka ada kandi yang selalu kosong dan ada pula yang
selalu menumpahkan. Ada kandi yang kekeringan sehingga pecah, ada kandi yang
terkucuri terlalu keras hingga berlubang hingga bahkan meleleh. Ada kandi yang
bahkan bisa membanjiri dan menenggelamkan pulau. Aku tidak berhasil.‟
Setelah tertawa licik, Sayiton berkata, „itulah gunanya tinta kawan, tinta itu
telah bercampur dengan air.‟
„Pantaslah mantera dan susunan kandi itu masuk akal, karena manusia dan
kandi itu sudah menjadi kesatuan yang terpisahkan, namun tersatukan oleh mantera.
Mereka benar-benar tidak bisa benar selama kandi itu tersusun tidak salah.‟
„Itu tepat seperti apa yang tidak di katakan Tuhan kepada Iblise.‟
„Itu karena Iblise tidak pernah menyembahku.‟
„Apa yang di sembah oleh Iblise?‟
„Tentu saja bukan Dewi Bensyiana.‟
„Lantas apa?‟
„Iblise tidak menyembah apa-apa. Tampaknya pelukis abstrak,
melukis tamparan tinta pada halus/kasar kanvas,
nyatanya semesta
di lukis titahan atom pada kosong/hilang dimensi;
saya tidak mengetahui apakah pelukis itu tahu terlebih dahulu terhadap apa
yang di lukisnya atau tahu setelah membiarkan hidup lukisanya terlebih dahulu.
Itu sebabnya saya hanya dapat mengira-kira semesta adalah suatu lukis yang
di ketahui terlebih dahulu sehingga dapat di pastikan hidupnya sejak di biarkan.
Hidupnya jas/ad/mani dalam semesta,
membantah hidupnya dalam lukisan.
Hidupnya sukma dalam jas/ad/mani,
memungkinkan hidupnya dalam lukisan.
Saya tidak dapat mengira-kira bahwa itu benar, karena saya hanya dapat
menyadari bahwa semua itu terjadi dalam lukisan titah atom pada kosong/hilang
dimensi. Manusia hidup dalam lukisan dan pelukisnya tahu sehingga ada sebuah
tanggung jawab.
Pestrekinsk hidup dalam lukisan tampar tinta pada halus/kasar kanvas,
namun pelukisnya hanya berpengetahuan sedikit,
karena dia hanya seorang yang pelu dalam hidup sehingga mengkisah.
Titik menyilaukan yang berjumlah tidak lebih banyak dari memori/momentum
yang telah saya lupakan, adalah inti dari hidup pelukisnya, karena sisa titik-titik
yang lainya hanya sebagai fondasi dalam sistem kebijaksanaan, atau tangga
pemahaman. Saya sendiri tidak tahu bagaimana cara saya memilih kastil
kebijaksanaan/pemahaman dalam serebrum+pribadi milik saya. Saya juga tidak
mengetahui, apakah bima-sakti adalah sesuatu yang di pilih, karena saya sendiri
hanya membiarkan memori/momentum itu menangga-tanggakan/memondasifondasikan sehingga terbentuk dengan sendirinya kastil kebijaksanaan/pemahaman –
yang saya sendiri tidak/belum pernah sampai/berada di dalamnya— Artinya; saya
menganggap membiarkan adalah tinggkah-laku yang saya terlalu lemah untuk
melakukanya dan mengatur/memaksa/memilih/menghendak adalah tingkah-laku
yang saya tidak cukup kuat untuk melakukanya. Saya hanyalah seorang yang
menyaksikan apa yang terjadi, saya mati karena saya tidak pernah hidup, begitu juga
yang lainya. Dan kenikmatan firdaus di janjikan hanya karena saya tidak melakukan
apa-apa, bukanya saya melakukan apa-apa. Saya hanya bisa mengira-kira bahwa
bima-sakti adalah sesuatu yang di pilih karena di situlah jelas perbedaanya.
Menyadarinya adalah harapanya,
tangga menuju firdaus.
Untuk itu saya yang telah menyaksikanya hanya dapat memberikan
pengetahuan/ilmu sebagai berita.
Seniman yang tidak berumur itu tidak pernah butuh seseorang untuk memahami
karya seninya.
Seniman itu berharap semua orang memahami karya seninya,
karena saya adalah salah satu karikaturnya,
saya sedang memahami diri saya.
Saya melihat surya dan saya merasakan flasmanya.
Saya dapati salah satu indra kegemaran saya,
membaui rambut berkeringat yang debu lengket padanya,
mengering dan saya gemar menghirup aromanya.
Saya membencinya hanya saat keringat lagi muncul melunturkan.
Saat itu saya merasakan majhnet,
hanya karena mata terlindungi selaput kelopak.
Hanya karena saya menyadarinya,
hal itu saya anggap nyata,
itulah kesalahanya.
Bahkan Jaydir pun berkata kepada Bensyiana, bahwa jin sering berimigrasi
bersama angin. Saya hanya sendirian ketika memahami bahwa,
jin-jin itulah angin itu.
Jin-jin itulah yang memutarkan bumi pada rotasinya,
mengitarkan pelanet pada orbitnya
dan memaksakan planet-planet di dalam galaksie
tertata pada sang surya,
air pada wadahnya bumi,
karena jin itu sendirilah,
hidup sebagai medan majhnet,
dia adalah alasan dari sebab-akibat majhnetis.
Surya hanya flasma dan majhnet.
Maksudnya adalah, surya adalah neraka, sebagai medan flasma terbesar
dalam galaksie. Jin adalah makhluk terbuat dari api dan hidup sebagai medan
majhnet. Surya yang telah di penuhi oleh jin terbelenggu sebagai flasma, dengan
medan majhnet besarnya akan menarik setiap jin yang tidak
menempatkan/mensibukan medan majhnetnya sendiri pada
orbitnya/pancangnya/tugasnya masing-masing, lebih parah bagi jin-jin
pembangkang lagi penguntit sehingga di periam bagai tabrakan galaksie. Satu hal
yang dapat saya katakan untuk membuatnya sedikit lebih mudah di pahami adalah,
bahwa ketika asteroid periami jin-jin, maka surya telah menunggu sebagai belenggu,
sehingga badai surya terjadi kalanya.
Alam semesta memiliki galaksie,
yang
tidak
lebih banyak
dari memori/momentum
yang
telah
di lupakan | Bima-sakti adalah sesuatu yang di pilih | Surya flasma
bermajhnetik, alasan manusia dalam hidup, yang dapat menjerumuskan jin-jin |
Nafsiya api berhiffienotik, yang dapat menjerumuskan manusia, alasan jin-jin dalam
hidup | Semua hanya berpengetuan sedikit,
selama sang surya masih bersinar,
hingga semuanya sadar telah berada di jalan yang lurus,
menuju flasma/api majhnetik/hiffienotik.
Semuanya yang hidup adalah Pestrekinsk,
dan Pelukisnya hanya ingin Pestrekinsk tahu akan hal ini,
hanya karena dia adalah Tuhan.
Semua hidup bergantung pada benda mati yang menghidupkan
dan semua mati anehnya bergantung pada hal hidup yang mematikkan
dan semua mati.’
„Iblise manapun, belum pernah menjelaskan kepada jin manapun akan,
bahkan sekata dari pada hal itu.‟
„Hanya manusia sejati yang dapat mencuri berita dari langit ketujuh.‟
„Dengan apa, kau kendarai?‟
„Dengan Barokh!‟
„Aku hanya pernah di ceritau tentang burokh.‟
„Burokh hanya untuk Nabi, sedangkan Barokh untuk siapa tahu!‟
„Seandainya aku dapat meminum air dari kandi itu, dan seandainya pula
seseorang sepertimu berhasil menyusunya.‟
„Aku tidak pernah mengandaikan keberhasilan.‟
„Suatu hidup mencari kebahagiaan, seperti seorang anak kecil mencari
kerang, pada permukaan pantaian. Saya bukanlah suatu hidup, saya adalah anak
kecil yang membuat kebahagiaan, seperti sedang mencari kerang sahadja, di
kedalaman lautan.’
‘Sekarang sudah sepatutnya kau mengerti, bahwa untuk mencari batuan pada
ketinggian antariksa, seperti anak kecil yang membuat kebahagiaan dari serpih
kerang-kerang sahadja, aku harus hidup dalam ketidak-hidup.’
RESWULAN FAJAR
Suara mesin ketik itu berbunyi sehingga tidak terdengar suaranya. Ketika
tidak berbunyi kit-kit-kit-kit-kit-selama-tic~tic~tic~tic~tic berbunyi tumbuh,
meretekan sedikit-demi sedikit permadani kayu pesiong. Tidak mungkin halaman
pesiong itu memiliki, selama La‟ Humare-Hurome tidak mengtekitan apa yang Lala‟
Sayozoya tidak ingin tidak tumbuhkan. Dia sementara tidak menginginkan hutan.
Tidak banyak burung yang berkumpul di taman yang mengitari halaman, di
dahan-dahan pohon, mereka semua bercikau-cau~kau-cau~kau-cai! dengan sangat
berisik hingga reswulan mulai terbenam, tidak di sudut pesiong. Burung-burung tidak
melayang-layang di langit mulut, menikmati waktu untuk pergi karena mentari tidak
terbit di sudut pesiong. Burung-burung itu tidak berada di dalam mulut Samutrazi
La, sehingga dia tidak membiarkanya pergi ketika sedang menyanyi di atas menara. Tentu saja dia tidak sendirian, Lala‟ Sayozoyas, tidak seperti kemarin, membangunkanya dan menuduhnya tidak mati. Sehingga kini mereka berdua saling bersuit\-saut~suit\_suit~saut\-„Lalalalala Lalalalala \ ~|~’’
‘Lalalalala Lalalalala ~|/|~’’ ‘Lilililililililililililili |/| ’ ‘Lilililililililililililili ~|/||~’’
‘Lalalalalalalalalalala ~~|/|~~
‘Lalalalalalalalalalala ~|/|~ ’
‘Lililililili ~~|/|~~ ’
‘Lililililili ~|/|~ ’
‘Lalalalalala ~~|?|~~ ’
‘Lalalalalala ~~~|?|~~~ ’
‘Lalalalala Lalalalala ~|/|~’’ \-Lalila ~|~’lalilalaSamutrazi `La |/ Lala‟ Sayozoyas
RESWULAN TERTUTUP
Secarik Dialek Bensyiana & Jaydir
„Bagaimana mungkin aku dapat memilikinya?‟
„Karena kau sudah berhasil mendapatkan kandi yang pertama.‟
„Ketika aku berada disana, semuanya berjumlah 9 lengkap, bahkan yang
pertama ada di sana, karena jika tidak, semuanya berjumlah 8.‟
„Kau tidak mengerti.‟
„Tolong berikan kepadaku alasan yang tidak masuk akal, mengapa aku tidak
mengerti.‟
„Kau harus memiliki Dokumentasi Kandi Air No #0.‟
„Aku tidak pernah memilikinya, bahkan aku tidak pernah menemukanya,
sehingga aku tidak berpikir jika itu ada. Memang apa isi kandi yang pertama itu?‟
„Air.‟
„Aku sudah tahu jika kandi-kandi itu berisi air, tapi jangan berikan aku
jawaban yang masuk akal, aku akan terlihat bodoh.‟
„Kandi itu memang berisi air.‟
„Aku sudah tahu, buatlah aku tidak mengerti agar aku paham.‟
„Semua ini tidak akan berhasil tanpa Kandi yang pertama, sedang semua
orang lupa kepada hal itu. Mereka kira kandi yang pertama adalah No 1#, padahal
yang pertama adalah No 0#.‟
„Lalu di mana kita mencarinya, tapi jika aku memilikinya, mungkinkah kandi
itu memang harus tidak di cari agar kita dapat menemukanya?‟
„Kau benar, untuk menemukanya, kau harus tidak mencarinya itu sebabnya itu
adalah kandi yang pertama dan yang paling penting hingga paling sulit di temukan
bahkan di sadari ada.‟
„Apakah aku menemukanya karena aku tidak mencari semua kandi-kandi itu?‟
„Tidak!‟
„Lalu bagaimana? Berikanlah aku alasan yang tidak masuk akal!‟
„‘Bibikmu selalu berkata bahwa kau tidak normal. Dia bilang bahwa kau
tidak melakukan apa-apa, bahkan tidak hanya makan dan tidak tidur. Hidup kau
tidak berguna dan lihat kau sekarang!
‘Saya benar-benar tidak sukses.’
„Anda benar-benar menemukan apa yang orang-orang sukses itu
sesungguhnya cari.‟
„Banyak orang yang memiliki jauh lebih banyak kandi dari saya.‟
„Kau tidak mengerti.‟
„Berikanlah aku alasan yang tidak masuk akal!‟
„Apa yang berisi di dalam kandi-kandi orang-orang sukses itu?‟
„Air.‟
„Apa Lalala‟ mu mencintai Lilili‟. Sepertinya kau harus mulai mencarinya
untuknya agar dia tidak kesepian ketika tidak sedang memasak.‟
„Untuk apa aku mencarinya. Tidak ada Lilili‟ dan Lalala‟ bahkan tidak bisa
memasak.‟
„Jika kau tidak memiliki perkebunan dan peternakan di atas pesiong mu aku
dapat mempercayainya.‟
„Jika aku tidak makan, mengapa aku butuh juru masak?‟
„Tentu saja untuk tidak memasak.‟
„Sekarang mengerti juga kau. Jika aku tidak memiliki Lalala‟ siapa yang akan
tidak memasak di dalam pesiong ku.‟
„Apa kau tahu bahwa setelah semuanya berlalu, hitungan telah bertalu dan
keputusan telah berpalu, setiap orang tidak harus di paksa lagi?‟
„Apa kita tetap terpaksa ketika masuk ke dalam surga?‟
„Seseorang sepertimu akan terpaksa masuk kedalam surga, dan malas tinggal
di dalam neraka.‟
„Apakah itu tidak adil?‟
„Tentu saja itu tidak adil.‟
„Apakah Tuhan itu tidak adil?‟
„Tuhan tentu saja adil, manusianyalah yang bodoh hingga tidak membuat
surat keterangan.‟
„Apa aku tidak perlu menulis surat keterangan?‟
„Tentu saja, kau hanya perlu tertinggal.‟
„Tidak kah itu masuk akal?”
„Kau hanya perlu tertinggal ketika segerombolan berbondong-bondong masuk
kedalam surga dan segerombolan bersahut-sahut masuk terdalam neraka.‟
„Lalu apa aku akan mati seperti yang telah lama kuimpikan.‟
„Tuhan akan bertanya kepadamu, mengapa kau tidak peduli kepadanya?‟
„Lalu apa yang akan aku jawab?‟
„Aku hanyatahu apa yang aku jawab ketika itu, tapi mungkin saja itu tidak
berarti aku tidak tahu apa yang kau jawab.‟
„Aku menginginkan kematian.‟
„Sepertinya jawaban kita berbeda.‟
„Mengapa?‟
„Aku telah salah menilaimu, banyak orang semacam dirimu, ketika itu mereka
meminta kematian.‟
„Lalu mengapa kau tidak meminta kematian?‟
„Kematian adalah sebuah istilah bagi sebuah tempat, di mana tempat itu
tersembunyi walaupun terhampar jelas. Orang-orang yang hidup dapat tinggal
bersamanya karena mereka membutuhkanya, akan tetapi kematian dihuni oleh orangorang yang tidak ingin tinggal bersama orang-orang hidup walaupun mereka
membutuhkanya.‟
„Aku pernah mendatangi sebuah tempat ketika Sherry menenggelamkan diri
di sebuah aliran sungai. Lalu ternyata sungai itu adalah sebuah danau. Sebaliknya
sungai itu tenggelam di ketenangan danau. Nyatanya danau itu adalah sebuah
samudera. Aku tertipu. Aku tidak akan meminta kematian lagi.’
„Apa yang akan kau katakan?‟
„Pertama aku akan membacakan sebuah puisi; bukan, ini bukanlah sebuah
puisi karena Sya‟ir tidaklah seperti itu;
Silahkan!
Tolak kebaikan
Silahkan!
Tolak keburukan
Silahkan katakan apa ingin!
Menyatu,bersama didalam apa
Silahkan pikirkan apa belum!
Terpisah, berbeda diluar apa
Silahkan sadari kesudahan didalam kesudahan!
Sadar akan kebeluman diluar kebeluman
„Itu adalah secarik dialek seorang hamba dan Tuhan.‟
„Ketika hamba itu di persilahkan menikmati surga, dia menolaknya. Ketika
hamba itu di undangnya tersiksa di neraka, dia menolaknya. Ketika di persilahkan
hamba itu untuk menyatakan apa yang diinginkanya, dia ingin menyatu, mengalir di
dalam aliran darahnya, menjadi bagian dari dirinya yang berhubungan. Ketika dia
diperintahkan untuk berpikir, dia tidak memberikan jawaban yang benar. Ketika
hamba itu di beri sebuah kesadaran, dia menyadari bahwa selama ini dia sudah
menyatu, bersama denganya. Hamba itu, selama hidupnya berusaha menyatukan
dirinya, semuanya sudah di tulis oleh Tuhanya di dalam carik-carik. Di dalam
aliranya, hamba itu merasakan kebahagiaan.‟
„Lalu bagaimana dengan mu?‟
„Dapatkah aku meminta diriku tinggal di dunia yang baru, sebagai seorang
petualang di mana aku tidak pernah mati di dalamnya. Dunia permaianan dimana
dosa dan pahala hanya di peruntukan bagia figur-figur di dalamnya yang tidak
berpengetahuan sehingga aku dapat membunuh mereka sesuka hati karena aku tahu
semua manusia sebenarnya sudah mati.‟
„Kau dapat bermain di dalam duniaku.‟
„Apa kau memiliki dunia?‟
„Tentu saja, setiap manusia memiliki dunia, sebagian manusia melumatkanya
begitu saja.‟
„Bagaimana, kau dapat?‟
„Ketika aku tertinggal dalam rombongan, aku berkata kepadanya bahwa aku
tahu dia bukanlah Tuhan. Lalu dia membelah kepalaku, rasanya sakit sekali. Ketika
sesuatu yang sangat besar, menyelam di sesuatu yang sangat kecil, tetapi seumur
hidup sesuatu yang besar itu tidak di beri kesempatan melesam sesuatu yang kecil itu.
Saat itulah aku merasakan sakit yang demikian dalam, bercampur dengan kenikmatan
ketika beban itu di lepas. Aku menangis karena bahagia, aku sedih karena
kehilanganya juga. Aku tidak tahu apa yang akan Tuhan palsu itu lakukan. Lalu dia
berkata bahwa dia memang bukan Tuhan, lalu aku juga bukan Tuhan di katakanya
kepadaku. Pada saat terakhir, dia menjelaskan, bahwa Tuhan telah memberikanya
kewenangan untuk melesamkan diriku di dalam sesuatu yang besar itu dalam
kepalaku, itu adalah sebuah dunia. Lalu dia menjadikanku Tuhan bagi dunia itu.‟
Dan seluruh kisah petualangan yang tidak telah terjadi ini tidak di ceritakan
seperti, semestinya; Sebagaimana mestinya.
Apa aku pernah sakit hati?
Aku tidak pernah sakit hati.
Masalahnya?
Sakiti terus hati, hingga diri-sendiri tidak tahu bagai’ rasanya sakit.
Bagai’?
Ketika kecil aku masih, bersekolah bermukim sebagai’ santri.
Bagai’?
Semua santri menamai hal-milik dengan nama diri-sendiri.
Bagai’?
Aku menamai hal milik dengan namanya semasi’.
Seperti?
Kunama dengan ejaan, ‘Ciduk,’ sebuah ciduk dan kunama dengan ejaan,
‘Porselen,’ sebuah porselen.
Jadi’i?
Semua santri tertawa jadi’i, ketika aku sedih menyadari si Fulan menama
dengan eja, ‘Fulan,’ pada sebuah ciduk ‘sisi.
Apa si Fulan juga menama dengan eja, ‘Fulan,’ pada ‘sisi sebuah porselen?
Aku semakin sedih, ketika aku sadari bahwa tidak hanya sebuah porselen
yang dinama dengan eja seperti’.
Aku di tertawai oleh santri yang menamai dengan eja seperti’, ketika aku
menamai dengan eja semasi’,
Apa aku dapat sakit hati?
Hati terus tersakiti, hingga terasa mati.
Apa aku di tertawai?Aku juga menertawai.
Manusia meninggalkan nama setelah mati, pada hal-milik.
Gading meninggalkan gajah setelah mati, pada-hal milik.
Aku meninggalkan gelak tawa, di dalam semasi’ hati, pada-hal-mati.
Dan tidak seluruh kisah petualangan yang terjadi ini, di ceritakan seperti tidak,
semestinya; Sebagaimana mestinya