Sya`Ir Bensyiana

Sya`Ir Bensyiana
Bab Enam (Unedited)



: semuA B/MENARi.


Bensyiana berpikir mengapa dia harus melakukanya. Ini adalah hal yang


sangat bodoh. Kenapa dia rela melakukan hal bodoh demi orang bodoh.


Tuhan! Berikanlah aku kesempurnaan.


Tidak, dia akan memberikanku kesempurnaan dan aku akan terlena.


Tuhan! Berikanlah aku kesempurnaan dan aku akan rela menerima dosanya


bila terlena.


Tidak dia akan memberikanku kesempurnaan dan aku akan mengira dosa itu


pahala.


Tuhan! Aku melakukan apa saja yang ingin kau perbuat terhadapku.


Kamu bukanlah miliku dan aku tidak peduli apakah aku milikmu atau tidak.


Tuhan, aku tersesat.


Selamatan aku!


______________:Kenapa gdjfagbdakj gldjagnladng ljangadg ljdga ljg dalj galdjg


aldjg algtneuag lajd gladj galdj glajdgnaprignl gladg laejgnfadm fladgjnaj dmg aljd


_________:Jiwhvk dokumentasi anak-tangga? Delapan sudah air kita setiap kandi


dokumensi mati selam lesam terekonstruksi gladg laejgnfadm fladgjnaj dmg aljd


_____:Bensyiana bangun tidur pada malam hari. Syariana datang ketika Bensyiana


ingin berangkat, Bensyiana makan lalu setelah itu berangkat. Dia berniat menaiki bus,


tak peduli sambung-meneyambung atau sekali perjalanan dan menolak saran ibunya


untuk menaki kereta besok hari saja: Telefone Senja :sekarang adalah 10 hari


sebelum hari-raya, pukul 06:00 p.m, Bensyiana masih tertidur. Telefone sudah


berdering, lagipula sudah di dengarkanya, tiap tubuhnya belum merespon untuk


menganggap. Ketika datangnya Syariana yang berbicaranya,


„Adik sudah membatalkan?‟


„Belum. Adik masih tetap ingin.‟


„Kenapa belum makan? Jika adik ingin makan, adik bisa membeli keluar atau


makan apa yang ada di dalam kulkas.‟


„Adik hanya ingin tidur,‟ Bensyiana menutupnya.


Bensyiana tidur kembali setelah memutar ulang Saltz Adago molto e canteble sekalikali. Dia kembali mengingat-ingat mimpinya yang terdistraksi: Makan Malam


:pukul 08:00 p.m, Syariana pulang dari kantornya, mengetuk pintu walaupun


akhirnya dia sendiri yang membukanya dengan kuncinya sendiri. Bensyiana sudah


bangun sejak ketukan pertama, Syariana menawarinya makan walaupun dia tidak


membawa apa-apa.


„Adik ingin makan apa?‟


„Tidak tahu, tidak juga yang lainya.‟


„Biar ibu buatkan telur dengan saus.‟


„Baiklah.‟


„Adik ingin telurnya di rebus atau digoreng?‟


„Di goreng.‟


Syariana menggoreng telur dadar yang berbentuk seperti semestinya dengan


ukuran tebal dan bulat tebal, diatasnya di tuangkan saus buatanya sendiri yang


mengandung bawang bombai, daging-daging kecil, tomat dan terlihat berwarna


merah kental.


„Pakai nasi atau tidak?‟


„Tidak!‟


Bensyiana menerima piring, memakanya dengan senang hati. Dia merasa ini


adalah telur dadar terbaik yang pernah dia makan. Syariana kembali ke dapurnya,


mengiris-iris pepaya untuk dirinya sendiri, sedangkan Bensyiana tetap di ranjang,


ketika papaya itu di sirami madu.


„Adik jadi berangkat malam ini?‟


„Jadi tentunya.‟


„Apakah masih ada kendaraan?‟


„Adik akan naik bus.‟


„Mengapa tidak berangkat besok saja? Supaya bisa naik kereta.‟


„Adik lebih suka naik bus.‟


„Bukanya lebih nyaman naik kereta?‟


„Jika kereta berangkat malam ini, lebih nyaman naik kereta. Tapi karena tidak


ada kereta lagi, jadi lebih nyaman naik bus.‟


„Jika busnya tidak ada bagaimana?‟


„Adik akan naik bus kemana saja, sambung-menyambung. Yang paling


penting adik pergi.‟


„Bukanya lebih nyaman satu kali perjalanan?‟


„Jika ada bus satu kali perjalanan malam ini, lebih nyaman satu kali


perjalanan. Tapi karena adik tidak tahu, jadi adik tidak peduli.‟


Syariana duduk di permadani, menikmati papayanya.


„Tolong biarkan adik melakukan apa yang adik inginkan! Lagi pula, jika


busnya pun tidak ada, mungkin saja adik akan pulang, berpikirlah! Mengapa ibu


selalu berusaha memperlihatkan kepedulian padahal ibu sendiri tidak akan membantu


sepenuhnya. Bukan ibu saja, akan tetapi semua orang selalu begitu,‟ Bensyiana


berbicara dengan dingin.


„Ya,‟ Syariana tersenyum, „ibu memang tidak mungkin mengantar adik


malam ini. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik.‟


„Jika ibu hanya bisa berdoa, jangan pernah ikut campur lagi.‟


Syariana terdiam, dia merasa bersalah akan tetapi perasaannya merasa


berdosa. Selama ini Bensyiana selalu mengatakan bahwa dirinya selalu menghambat


Bensyiana. Syariana tidak pernah tahu bahwa Bensyiana adalah anak perempuan


yang berbeda dari semua kasus anak perempuan yang di hadapinya. Dia sadar bahwa


siklus irama kasus yang berlalu-lalu dan sama belum tentu akan terus berulang-ulang.


Dia kembali kedapur, kali ini mengiris-iris mangga yang terlihat sangat segar.


„Adik sebenarnya baru kepikiran sesuatu.‟


Syariana tidak menjawab karena madu-madu itu manis.


„Sebenarnya adik ingin tinggal di tengah laut. Jika ibu bisa menjadikan adik


seorang nelayan, mungkin adik akan menghabiskan di tengah lautan selama satu


tahun penuh.‟


„Adik tidak pernah mengalami detik-detik kematian.‟


„Adik tidak peduli dengan kematian.‟


„Jika adik sudah mengalaminya, adik tidak akan ingin berdampingan dengan


maut.‟


Syariana, melihat kesempatan untuk membawa Bensyiana untuk menemui


neneknya, sehingga dia tersenyum. Dia kembali ke permadani dan menikmati


mangganya yang terlihat jingga berkilau. Saat gigitan pertama dia mulai berkata


dengan,


„Asyem,‟ sambil menyipitkan matanya, rasa asamnya menambah pikiran


positif, „jika adik menginginkanya, ibu bisa membawa adik ke pesisir dan mengajak


berkenalan dengan nelayan.‟


„Adik baru ingat sesuatu lagi.‟


„Apa?‟


„Adik tidak akan bisa mengendarai sepedah di tengah laut. Adik akan


berangat seakarang.‟


Bensyiana masuk ke dalam kamar mandi, bersiap-siap dan dengan cepat


sudah siap dan keluar.


„Adik tidak berangat besok saja?‟ tanya Syariana.


„Ibu, mengapa tidak pernah mengerti? Adik juga tidak ingin melakuan ini


semua,‟ tampak jengkel.


„Ya baiklah,„ mereka berdua bersalaman dan Bensyiana mencium tangan


ibunya. Syariana melihat Bensyiana dengan pandangan tidak percaya. Syariana selalu


berharap dirinya bisa seperti anak


perempuanya:_________________________________________________________


_________Rasanya bertumpu pada bagian bawah hidung, di atas rahang bagian


depan.


________INi bukan perasaanku. Ini adalah perasaan orang lain yang berada sangat


jauh.


____Efeknya terasa di tengah-tengah kedua bola mata, hingga ke bagian dahian


dalam.


_______SEseorang yang kukenal dulu sekali. Perasaan itu sedang di alami oleh


orang itu.


Telinga menjadi tuli dan mata menjadi kabur……:SEhingga kini aku tiba-tiba


‘kut merasakanya. Orang’tu menyesal telah memperlakuanya seperti ‘tu dan aku


tAhu.


__Jantung selalu berhenti berdetak-detak, sekujur tubuh terasa menari di dunia


Orang ‘tu sadar jika dirinya adalah seorang yang berbeda dan akU:…….diam yang


tAhu.


Hati selalu menjadi sumber air mata penyesalan yang tertutup.......:Orang itu


mengenang masa lalu yang dalam bersamanya dan merasa bersalah dan meminta


maaf ke pada dirinya sendiri, lalu membodoh-bodohi dirinya karena baru sadar dan


Bensyiana tahu. Orang itu dulu takut kepadanya dan sekarang Bensyiana tahu.


Bensyiana kosong. Apa yang dirasakanya adalah selalu bukan miliknya karena dia


selalu tahu apa yang seharusnya dia rasakan, bukanya mengapa. Yang jauh ataupun


dekat. Yang tampak ataupun yang halus. Terkadang Bensyiana belum paham arti


perasaan yang singgah, itu hanya sebuah perasaan. Terkadang dia setengah sadar


ketika merasakanya dan menganggap itu perasaanya. Sangat jarang dia paham. Dia


lebih sering berenang-renang di dalam air dari pada singgah di pulau pemahaman,


menapaki telapak. Sehingga, ketika dia tapakan permukaan kulit telapak di daratan


pulau, ketika dia, memahaminya dia akan bertindak. Daindi! Seorang gadis besar.


Dianggap bodoh karena pintar.


Bensyiana! Seorang pemurung.


Dibebas kurungan hingga terkurung.


Siapa sadja mencari perhatian keduanya. Siapa sadja, saja siapa?


Saja tahu pertemuan mereka terlalui,


dini.


kini.


Sadja hanya terlalui hingga sini,


BENSYIANA & JAYDIR & DAINDI. Siapa sadja, dia siapa?


BENSYIANA- Dia hanya seseorang yang harusnya jika kita berkenalan saat


ini, kita akan bersahabat sangat erat.


JAYDIR- Apa yang membuat begitu?


BENSYIANA- Dulu kami terlalu kecil, sehingga begitu bodohnya dia ingin


menyaingiku dan begitu bodohnya aku tidak menganggapnya.


JAYDIR- Apa yang membuatnya begitu?


BENSYIANA- Sekarang dia sudah semakin pintar dan ingin berteman,


menyadari bahwa hubungan masa lalu dipenuhi iri dan aku


sudah sadar bahwa aku seharusnya dulu membantunya,


bukanya menemaninya.


JAYDIR- Apanya yang membuatnya begitu?


BENSYIANA- Aku lemah dan aku tahu apa yang harus dikatakan atau di


JAYDIR- Apanya yang membuatnya sebegitu?


BENSYIANA- Aku lebih sering berenang-renang di dalam air dari pada


singgah di pulau pemahaman, menapaki telapak. Sedangkan,


Daindi lebih sering berusaha menapaki telapak pada


permukaan air sehingga dia selalu tenggelam.


JAYDIR- Apanya yang membuatnya sebegitunya?


BENSYIANA- Dulu aku kira itu perasaanku, ternyata itu perasaanya.


JAYDIR- Perasaan apa?


BENSYIANA- Perasaan takut dan marah. Aku kira aku takut kepadanya dan


memendam amarah kepadanya yang sangat besar. Sekarang


aku tahu mustahil memendam amarah yang sangat besar tanpa


alasan dan mustahil takut tanpa sejarah. Dia takut kepadaku


dan dia ingin menantang dirinya sendiri untuk berani,


sedangkan dia memendam amarah yang besar kepada


sejarahnya dan dia iri melihatku terlalu tenang bukanya


murung.


TAHAPAN BUNTU


Jaydir memejamkan matanya karena dia kira dia membuka matanya.


Jaydir membuka matanya karena dia kira dia mengedipkanya.


„Ada apa dengan saya?‟


Jaydir merasa tertipu, beberapa detik yang lalu dia melihat malam dan


beberapa tahap yang nanti dia akan melihat matahari terbang.


„Saya berada pada tahapan buntu, di mana helaian otak saya sendiri sudah banyak


terputus hingga ketika tidur saya hanya merasa baru mengedipkanya. Ketika saya


mengantuk saya langsung terlelap. Saya merasa telah melupakan banyak hal. Saya


tidak dapat berpikir karena tidak ada data sama sekali. Pengelihatan semakin tajam,


raga semakin bugar sehingga semua indra menjadi lebih berguna dari pada


sebelumnya. Saya menyadari bahwa saya memiliki walkman yang dikirim oleh


paman saya, tikar bambu yang lebar dan panjang dari kakak saya, semua pengulangan


ini sangat baru bahkan untuk cermin itu. Saya menyadari bahwa kulit-kulit saya


mulai terkelupas, kulit pada bagian hidung, dada dan paha. Semuanya terlihat seperti


penyakit pano. Rambut saya memerah dan kering hingga kaku, tapi saya malah


semakin menyukainya. Saya hanya panik karena kulit saya dan saya mulai menyadari


betapa banyaknya saya sudah turun berat badanya. Nanti sore saya berencana


membeli susu, singkong mentah, telur mentah dan tomat mentah lalu nanti petang


saya berencana meminum susu, memakan singkong matang, telur matang dan tomat


mentah, karena itu adalah saran terbaik dari Naeden. Saya merasa gerah dan


berkeringat, biasanya saya tidak peduli kini saya berharap mandi, berendam dengan


air dingin dan menyanyi. Saya mencium debu dan keringat, biasanya saya tidak


peduli kini saya berharap mandi, berendam dengan air dingin dan menangis. Saya


sekarang sudah dapat berpikir kembali setelah memiliki sedikit data bahwa; saya


telah mampu menggunakan 5 indra saya lebih baik sementara saya kehilangan 1 yang


lainya, yang saya belum tahu itu yang keberapa.‟


Jaydir memejamkan matanya karena memang dia membuka matanya.


Jaydir membuka matanya karena memang dia mengedipkanya.


Jaydir menangis di kamar mandi hanya dengan hembusan nafasnya.


„Saya merasa telah dilupakan. Saya merasa sedih karena saya mengingatnya sehingga


saya tahu bahwa saya dilupakan. Kenapa tidak saja saya di biarkan lupa bahwa saya


pernah mengingat sesuatu dari pada saya di biarkan ingat bahwa saya pernah


melupakan banyak hal.‟


Di kamar mandinya, tersandar Sya‟ir Bensyiananya di pojok ruangan,


sehingga di pojok ruangan, kitab suci terbuka sepenuhnya tersamping, kamarnya.


ROUTINITAS MENYINGSING


Setelah mendengar sesuatu yang terdengar sebagai musik karnaval yang sangat


berantakan dan kasar, di penuhi segala horor yang patut di bayangkan seperti palu,


kuping, telinga, paku, kampak, buku harian, telanjang dada, borok, buruk, busuk dan


bosok. Di tambah suara sumbang Mohamer yang me‟lodikan segala instrumental


kromatik karnaval, suara yang di keluarkan pita suaranya terdengar sebagai , , , , lalu


berhenti secara serampangan , , , , dan dia mulai menuntun dengan;


„Sepertinya situ membaca kitab suci dengan cara menafsirkan ayat-ayatnya


sendirian.‟


Jaydir yang hanya sedang membaringkan tubuhnya di kamar Mohamer,


memandangi langit-langit tak menjawab apa-apa kecuali menarikan lenganya secara


rahasia.


„Menurut situ, apa lebih baik menafsirkanya sendiri atau mempelajarinya dari


kitab seorang ahli, atau mempelajarunya dari seorang guru?‟


Jaydir menengok dengan lincah, lalu tersenyum dan matanya bersinar.


Mohamer mengira dia senang dengan pertanyaanya, akan tetapi bila ada seseorang


yang paham, dia benar-benar terlihat putus asa dan senang karena mendapatkan


hiburan.


„Bagaimana Raden Jaydir?‟ Mohamer tersenyum lebar dan bergembira, salah


satu lenganya menari dengan tidak rahasia menunggu jawaban.


„Saya tahu bagaimana cara menafsirkanya dan saya akan belajar dengan guru


jika memang ada guru itu dan saya akan mempelajarinya dari seorang ahli jika


memang ada ahli itu.‟


„Situ bisa ke pesantren untuk mempelajarinya dan situ bisa membaca tafsir


karangan seorang ahli atau langsung mendatangi ahlinya.‟


„Apa situ bisa memberi saya bukti terlebih dahulu sebelum saya mendatangi


mereka bahwa mereka benar-benar seorang ahli dan mereka benar-benar dapat


mengajar?‟


„Ya jelas saja mereka dapat mengajar dan seorang ahli, karena mereka sudah


pasti telah lulus dari jenjang pendidikanya.‟


„Saya bisa memberi bukti kepada situ bahwa saya seorang ahli dan saya dapat


mengajar dengan memberi situ rumus sederhana dalam menafsirkanya, akan tetapi,


anda tidak akan sama sekali tertarik dengan rumus dan tafsiran saya sehingga anda


tidak mungkin mempelajarinya.‟


„Bagaimana Raden Muhajid?‟


„Ketika tafsiranya membuat anda melakukan hal yang menyebabkan anda


akan menderita demi orang lain tanpa mempedulikan bahwa orang lain itu akan


menemani penderitaan. Bukanya tafsiranya membuat anda memilih hal yang


menyebabkan anda akan mendapatkan keadilan demi keadilan orang lain, tanpa


mempedulikan bahwa orang lain itu akan curang. Bukanya tafsiranya membuat anda


mendapatkan keuntungan yang menyebabkan ketenangan tanpa mempedulikan


bahwa orang lain selalu cemas.‟


Mohamer terlihat sangat puas dengan jawabanya, „saya percaya, tapi Tuhan


telah memberikan kenikmatan untuk di nikmati, asalkan tidak melampaui batas. Jika


situ berharap semua orang mengikuti ajaran situ, masa situ berharap semua orang ikut


menderita. Masa kita tidak boleh makan dengan garam dan minum dengan gula.‟


„Mana yang lebih bijaksana diantara orang yang yang memaksakan


kehendaknya kepada orang lain bukanya dirinya dan orang yang memaksakan


kehendaknya dan melawan orang lain demi kebebasanya.‟


Mohamer tahu itu bukan pertanyaan, akan tetapi dia selalu tertantang untuk


mencari celah dan dia semakin gembira di pagi yang menyegarkan ini lalu, „tunggu


sebentar, jangan terburu-buru seperti itu. Saya akan memberikan contoh, seandainya


ada sungai,‟ lenganya menari-nari dengan tak rahasia ketika, „airnya jernih, sama


sekali menyegarkan, penuh dengan ikan dan di pesisirnya terdapat hutan-hutan kecil


di penuhi buah-buahan beserta lebah yang memadukan di tangakai pohon. Situ


tinggal disana, masa situ hanya terus berjuang dan beribadah, serta mengabaikan


semua nikmat yang di berikan Tuhan. Bukankah itu artinya tidak bersyukur?‟


„Sepertinya situ membaca kitab suci dengan cara menafsirkan ayat-ayatnya


sendirian. Situ benar bahwa saya melakukanya, seperti saya tahu bahwa situ adalah


seorang perokok.‟


„Saya sekarang sudah mengurangi.‟


„Saya sebenarnya menyukai aroma rokok, akan tetapi ketika hanya satu orang


yang merokok, karena jika sekumpulan orang merokok, baunya sangat menjijikan.‟


„Kakakmu selalu menasehati saya tentang rokok, katanya inilah, katanya


itulah, tapi saya hanya,‟ mengangkat sebatang, di perhatikan dengan teliti,


„menikmatinya. Tuhan sudah membuat tembakau dan tidak diharamkan untuk


menghisapnya.‟


„Apakah anda seorang penikmat seni?


„Situ sangat berlebihan ketika berbicara seperti ini hingga menggunakan kata


“Anda,” selalu,‟ Mohamer tertawa penuh canda karena melihat wajah serius Jaydir,


dimana apabila dia paham, itu adalah wajah putus asa yang selalu menangis dengan


nafasnya.


„Saya juga tidak tahu, itu membuat saya merasa semua yang saya katakan


bukan saya yang mengatakanya dan itu menenangkan saya dan menenangkan anda


juga karena saya terlalu muda untuk mengatakan hal-hal yang terdengar sangat sesat.‟


„Ya, silahkan saja, terserah anda,‟ lalu dia ikut tertawa, sambil menghisap


rokoknya dan menyenangkan sekali hidupnya pagi ini.


„Apakah anda akan sangat bahagia ketika anda tinggal di tempat yang anda


ceritakan tadi?‟


„Bagaimana saya bisa tidak bahagia, anggap saja di balik pepohonan itu


terdapat gunung yang terpandang sangat indah dan dekat dengan air terjun yang


menyenangkan untuk di lompati.‟


„Anda telah menjelaskan cara menikmati suatu ciptaan Tuhan dengan sangat


masuk akal.‟


„Ya memang masuk akal.‟


„Saya memiliki satu ciptaan Tuhan yang sangat saya syukuri dan saya


nikmati. Anda sebaiknya bertanya apakah hal itu setelah saya selesai berkata.


Jaydir memandangi langit-langit dengan penuh pesona kerapuhan.


Mohamer menunggu dia selesai berpendapat.


Jaydir tidak berpendapat sama sekali.


Mohamer baru menyadari bahwa dia sudah selesai, dia mematikan rokoknya,


lalu tersenyum sangat gembira, „apa itu?‟


„Saya sekarang sudah kehilanganya jadi tidak perlu di bicarakan,‟ ~ „Bisa di cari lagi kan, atau di temukan yang baru. Terlalu lama dalam penyesalan karena telah menghilangkan hal yang berharga sama saja diam untuk kenyang. Jika kebetulan ada yang memberi makan, ya beruntunglah dan jika menolak untuk makan, yang laparlah.‟ „Seandainya, kita berada di tempat yang anda ceritakan, anda akan merusaknya dan saya akan merawatnya sehingga ketika saya meninggal, tempat itu akan jauh lebih baik. Banyak orang seperti anda tanpa sadar, tepatnya di masa lalu, merusak sungai-sungai, laut, gunung, pohon, sarang lebah, air jernih, ikan dan sekarang ketika semuanya sudah rusak mereka masih saja menemukan sesutu untuk di rusaknya.‟ „Ya tidak bisa di katakan seperti itu juga, sebagian terjadi karena tidak sengaja seperti yang anda katakan. Keterbatasan pikiran manusialah yang membuat sesuatu sering terlanjur hingga sulit di perbaiki. Akan tetapi bukanlah semua hal-hal itu yang akan di mintai pertanggung jawaban, tapi kita sebagai manusia.‟ „Apa anda ingin saya sadarkan?‟ „Ya, jika itu akan membuat saya lebih baik kenapa tidak. Saling mengingatkan memang baik.‟ „Ini hanya akan membuat anda lebih buruk, karena anda akan kehilangan banyak hal lebih banyak lagi.‟ „Memangnya apa itu?‟ „Seandainya saya di berikan kenikmatan tempat tinggal seperti yang anda ceritakan; seandainya ada sungai,‟ lenganya menari-nari dengan tak rahasia ketika, „airnya jernih, sama sekali menyegarkan, penuh dengan ikan dan di pesisirnya terdapat hutan-hutan kecil di penuhi buah-buahan beserta lebah yang memadukan di tangakai pohon. Saya tinggal disana, masa itu tidak ada kesalahan sehingga saya tidak perlu berjuang dan masa itu terlalu banyak hal untuk di nikmati hingga saya selalu ingat beribadah. Saya akan mengembalikan semua itu kepada Tuhan, jauh lebih indah dari pada apa yang dia ciptakan. Semestinya saya di berikan kenikmatan segulung otak; semestinya ada aliran,‟ nafasnya menari-nari dengan rahasia ketika, „menuju hati sehingga hati itu dapat merasa dengan lembut, sama sekali mengharukan, penuh dengan keikhlasan dan di pikiranya terdapat khayalan-khayalan kecil yang di penuhi intuisi-intuisi beserta perhitungan yang keras. Semua orang pasti memilikinya ketika baru lahir, kini saya menghilangkanya ketika seharusnya saya mengembalikanya dalam, jauh lebih abstrak dari pada apa yang di lukiskanya. Dan sekarang di depan saya ada seseorang yang dengan senang hatinya merusaknya dengan pikiran-pikiran nikmat dan racun.‟ „Kebenaran tidak selalu harus diungkapkan.‟ „Jika situ benar, saya akan merasa berdosa karena memendamnya sendirian.‟ „Saya tidak masalah dengan anda yang menjelaskan kebenaran dan ajaran anda kepada saya, akan tetapi bagaimana dengan orang lain yang hidupnya sudah menderita tanpa tahu ajaran situ yang penuh dengan penderitaan, ketika seseorang tidak boleh makan, tidak boleh merokok, tidak boleh bermain dan selalu tidak boleh.‟ „Saya menjelaskan sesuatu kepada orang yang bertanya dan saya hanya memaksa diri saya untuk mengikuti ajaran saya bukanya orang lain. Lagipula bagaimana orang yang sudah menderita bisa lebih menderita lagi. Mungkin ini semua di sebabkan karena saya terlalu bahagia hidupnya hingga saya bosan merasa bahagia dan memilih untuk menderita. Tapi saya baru ingat, bagaimana bisa seseorang bahagia tanpa bersyukur?‟ „Ampun Tuan!‟ Mohamer tersenyum dengan sangat bangga dan gembira, menepuk-nepuk pundaknya layak berkata, „Raden Jaydir-Raden Muhajid.‟ „Tapi saya sendiri sudah menghilangkanya,‟ wajahnya kini benar-benar terlihat putus asa, alisnya menempel, suaranya tidak berintonasi, lenganya menari tanpa rahasia sedangkan nafasnya terdengar seperti tangisan yang hilang. „Tidak papa, istirahatlah barang sebentar saja. Nanti situ akan menemukanya lagi, bahkan barusan saya tetap menganggap situ memilikinya. Ingin saya teraktir lagikah? Perpustakaan yang kemarin tutup, atau saya belikan buku, atau pinjam buku saya. Saya tidak bisa membantu situ menemukanya, tapi saya bisa menemani situ ketika kehilanganya. Atau, bagaimana dengan semangkuk soto dari surga, lalu kita lanjutkan percakapan ini?‟ ROUTINITAS TERBIT Senggaya „Ya, silahkan saja, dulu lorong itu sebenarnya bersih, tapi karena gunung Tolampanaya meletus, abunya ke sini dan belum di bersihkan, lalu . . .‟ „Lalu apa?‟ „Lalu mengapa situ meminum kopi yang pahit itu?‟ „Apa situ mencobanya?‟ „Saya tidak mencobanya, saya hanya melihat warnanya.‟ „Cobalah!‟ „Tidak.‟ „Jika situ mencobanya, situ akan tahu bahwa kopi ini jauh lebih pahit dari pada kepahitan yang anda bayangkan ketika melihat warnanya.‟ „Kopi itu memang terlihat sangat pekat, tapi aku tidak berpikir bahwa situ juga membuatnya tanpa gula.‟ „Bahkan bukan saya yang membuatnya.‟ „Lalu mengapa situ minum kopi yang pahit itu?‟ „Apa situ tahu jika setiap lidah saya merasakan pahit kopi ini, saya langsung merasa berada dalam realita. Karena seperti buah palapa, saya akan terus berjuang hingga kopi ini menjadi manis. Itu sebabnya ketika saya meminum kopi ini, saya sadar bahwa saya tidak mungkin berhasil.‟ „Jika itu tidak mungkin, berhentilah!‟ „Bagaimana saya mungkin berhenti bila saya terus meminumnya?‟ „Cobalah dari hal yang terkecil, situ masukan gula dan kurangi sedikit demi sedikit bubuk kopinya!‟ „Itu hanya membuat apa yang saya minum menjadi manis.‟ „Ya memang, situ tidak mungkin membuat kopi itu menjadi manis, namun situ bisa membuat sedikit tipuan agar kopi itu terasa manis di lidah. Sampai kapanpun kopi itu tetap pahit dan gula itu tetap manis.‟ „Sampai kapan pun, kopi itu tetap manis dan gula itu tetap pahit.‟ „Jika kopi itu memang membuatmu senang, teruslah berjuang walaupun mustahil membuatnya manis!‟ „Tentu saja mungkin membuat kopi ini menjadi manis, saya hanya mengatakan tidak mungkin.‟ „Jika situ seorang jenius itu mungkin saja membuat kopi itu menjadi manis.‟ „Dan jika situ seorang jenius, situ akan tahu bahwa yang mustahil adalah, selama kopi yang saya minum ini pahit, itu artinya masih ada orang yang merasakan penderitaan.‟ „Jika situ adalah seorang yang sangat mulia itu tentu saja tidak mustahil.‟ „Tentu saja seseorang akan sangat sulit untuk menjadi jenius bersamaan dengan menjadi mulia.‟ „Saya bisa membantumu dengan menjadi peran sebagai mulia dan situ menjadi peran sebagai jenius.‟ „Jadi situ berpikir bahwa semua orang hanya memerankan dirinya masingmasing terhadap apa yang di sukainya?‟ „Tentu saja. Dan saya sangat senang bisa bertemu dengan orang sepertimu karena terlalu banyak orang membuang waktu dengan percakapan yang tidak saya mengerti.‟ Riseke „Saya hanya ingin membuat suatu kesepakatan?‟ „Apa itu?‟ „Saya akan sangat sering berada di lorong ini karena berbeda dengan situ dan yang lainya, saya tidak berkuliah. Jadi, karena lorong ini sangat kotor, saya akan membersihkanya dan bahkan menjaga kebersihanya. Dan tugas situ hanya meletakan alas kaki anda di tempat yang akan saya sediakan sebelum masuk ke lorong ini. Bagaimana?‟ „Ya, silahkan saja, dulu lorong itu sebenarnya bersih, tapi karena gunung Tolampanaya meletus, abunya ke sini dan belum di bersihkan, lalu . . .‟ Zermayah ‘Apa yang lain akan ikut membantu?‟ „Tentu saja tidak.‟ „Mengapa?‟ „Karena saya tidak memintanya.‟ „Situ sendiri tidak memberitahu saya kapan ingin membersihkanya.‟ „Jika situ benar-benar ingin membantu, situ akan membantu saya ketika melihat saya mulai menyapu seperti sekarang.‟ „Itu sebabnya saya kaget karena situ tiba-tiba mulai menyapu tanpa mengajak saya. Lalu, sudah berapa kali situ di tarik ketika sedang tertidur?‟ „Sampai saat ini, setiap malam. Dan entah mengapa saya selalu di tarik pukul 12 malam.‟ „Memang biasanya, bahkan saya sendiri, setiap saya pertama kali tidur malam di suatu tempat yang masih asing bagi saya, mereka akan memberi isyarat tentang keberadaan mereka. Itu seperti, kebahagiaan bisa berkomunikasi dan di ketahui keberadaanya. Itu membahagiakan karena hanya sebagian orang yang dapat merasakan hawa mereka.‟ „Itu memang benar, dan ini adalah malam yang paling banyak selama saya hidup bahkan dengan adegan yang selalu sama. Biasanya hanya berlangsung satu malam.‟ „Menurut saya, situ mungkin bisa benar-benar memahami mereka. Situ mungkin tidak menyadarinya tapi situ memang benar-benar bisa dan mereka mengetahuinya. Apa situ pernah memberikan suatu lelucon kepada orang yang tidak mengerti?‟ „Saya tidak tahu siapa yang mengerti ketika saya belum memberikan suatu lelucon.‟ „Itu sebabnya, mereka menganggap situ satu-satunya yang tertawa paling berlebihan ketika mereka memberi lelucon dibandingkan orang yang lain.‟ „Saya bahkan berpikir itu adalah Izro‟il yang sedang mencabut nyawa saya namun selalu gagal karena saya merasa sesuatu dari dalam saya di tarik hingga ubunubun saya, lalu tersangkut di tenggorokan saya seakan menunggu saya mengucapkan kalimat tauhid.‟ „Mungkin saja! Dan saya sangat senang bisa bertemu dengan orang sepertimu karena terlalu banyak orang membuang waktu dengan percakapan yang tidak saya mengerti.‟ ROUTINITAS MEMUNCAK Ministri Spiritual „Apa situ tahu kenapa laki-laki memiliki benjolan di lehernya sedangkan perempuan tidak?‟ „Kenapa?‟ „Karena laki-laki selalu mengangguk sedangkan perempuan tidak.‟ „Kenapa perempuan selalu menggeleng sedangkan mereka tidak memiliki benjolan di lehernya?‟ „Karena menggeleng atau mengangguk itu sama saja artinya. Jika laki-laki mengangguk, itu artinya dia menggeleng pada suatu hal yang di tolaknya dan jika dia menggeleng, itu artinya dia mengangguk pada suatu hal lainya.‟ „Itu artinya perempuan tidak menggeleng ataupun tidak mengangguk.‟ „Mereka hanya diam.‟ „Lalu mengapa perempuan memiliki 2 benjolan di dadanya.‟ „Karena satu benjolan untuk menampung penderitaan dalam anggukan dan satu benjolan untuk menampung kebahagiaan dalam gelengan. ‟ „Berarti, setiap hal yang di perbuat laki-laki akan berdampak pada perempuan.‟ „Bahkan setiap hal yang di perbuat perempuan pun akan berdampak pada lakilaki.‟ „Jadi apa maksudnya?‟ „Perempuan bisa hidup tanpa benjolan di lehernya, akan tetapi manusia akan mati tanpa 2 benjolan pada dada perempuan.‟ „Saya masih tidak mengerti kenapa kebahaigaan justru disebabkan oleh gelengan.‟ „Karena, ketika seseorang menggeleng untuk hawa nafsunya, dia akan menggeleng juga pada hawa nafsu orang lain.‟ „Lalu apakah akan mengerti jika saya mengerti mengapa penderitaan ada di dalam anggukan.‟ „Kau akan tetap kebingung.‟ „Apa karena jika seseorang mengangguk untuk hawa nafsunya, maka dia akan tetap menggeleng juga pada hawa nafsu orang lain.‟ „Ya, itu adalah sebabnya, apa kau sudah mengerti?‟ „Tidak, saya masih bingung.‟ „Saya juga entah mengapa tetap masih bingung. Karena jika saya mengerti, keadilan berarti bukan hanya sebuah propaganda.‟ „Lalu, apa Tuhan itu adil?‟ „Bahkan Tuhan saja tidak adil?‟ „Kenapa Tuhan bisa tidak adil jika kata adil saja ada?‟ „Karena Tuhan terlalu baik pada kebaikan dan terlalu apatis pada keburukan. Orang yang berbuat buruk akan berdosa dan orang yang berbuat baik akan berpahalapahala.‟ „Menurut saya Tuhan itu adil.‟ „Bagaimana mungkin?‟ „Karena kebaikan dan keburukan hanya propaganda, itu sebabnya keadilan di dalamnya pun propaganda, berbeda dengan kebenaran dan kesalahan yang di dalamnya berisi keadilan yang hakekat.‟ „Siapa yang memberitahumu akan hal itu?‟ „Seseorang.‟ „Sampaikan terima kasih saya, karena orang itu telah membuat saya berhenti bingung. Dan terimakasih kepadamu karena rela berpura-pura bingung bersama saya demi membuat saya mengerti.‟ Entah siapa yang menjadi Ministri Spiritual karena Jaydir mengangkat Daysyun menjadi Ministri Spiritual ketika Daisyun mengangkatnya menjadi Ministri Spiritual walaupun tanpa mengetahui istilah tersebut. Jaydir mengangkatnya karena Daysyun membuatnya bingung sedangkan Daysyun mengangkatnya kerena membuatnya mengerti. Kebingungan Jaydir akan akibat yang sama dalam 2 penyataan yang saling berbanding terbalik tetap sama, sedangkan pemahaman Daysyun bahwa ada keadilan yang bukan propaganda tetap membuatnya tetap tidak mengerti akan 2 penolakan yang selalu diakibatkan oleh 2 penyataan yang saling berbanding terbalik. Entah bagaimana mereka berdua saling bersama terlantik tanpa kesadaran. Ministri Kehutanan Mohamer adalah Ministri Kehutanan bukan karena, dia beranda-andai tentang sebuah tempat, mungkin sebuah pusisi; Ada sungai. Lenganya menari-nari dengan tak rahasia. Airnya jernih,menyegarkan sama sekali. Penuh dengan ikan dan di pesisirnya terdapat hutan-hutan kecil di penuh; Buah-buahan, beserta lebah yang memadukan di pohon tangkai. Mungkin sebuah puisi; Ada aliran. tetapi karena dia memang seorang


mahasiswa fakultas


kehutanan.


ROUTINITAS SENJA?Aku sekali sajaROUTINITAS TERBENAM?Mengukir samudera, membekukan lebih jauh.


ROUTINITAS BERLARUT?Hanya pahatan sarang terowowong awang.


BENSYIANA & JAYDIR?aKU HANYA INGIN KAU TAHU!


TERMANJAKAN DI DALAMNYA, TENGGELAM!


TUNGGU SAMPAI MATAHARI *******!


SEMUA ANGAN MEMPESONA!


SEMUA AKAN MERESPONYA!


: semuA B/MENARi