
BENSYIANA & JAYDIR
Bensyiana
Jaydir, dia menutup matanya dan melihat Bensyiana dalam gelap. Pandangan mata Jaydir mendekati Bensyiana dalam redup cahaya bulan. Danau itu terlihat gelap, tapi terang karena airnya sebening cermin dan memantulkan cahaya bulan. Pandangan Jaydir bertumpu pada tiap lekuk tubuh Bensyiana yang berada di tengah danau itu, danau kecil yang tak bertepi. Bensyiana, ia tidak perlu menutup matanya, untuk menatap Jaydir. Bensyiana menggerakkan kakinya, menari sebuah tarian yang lebih indah karena ia melayang di atas air. Mengepakkan tangannya, berputar-putar dan melompat. Jaydir terpesona karena ketika kecil dia senang melihat bulu-bulu angsa yang terbang dan jatuh lembut ke atas air, lalu mengambang seperti semestinya.
Jaydir
Bensyiana, selagi ia menari, ia melihat Jaydir, yang masih kecil, hanya berumur sekitar 4-tahunan. Bensyiana tidak yakin ia sedang berada di mana, ia bergerak masuk dan keluar bayangan. Jaydir, sedangkan dia masih menjadi anak kampung yang selalu berteriak-riak ketika dia ingin berteriak. Tangannya menyentak-sentak karena dia sedang berbicara dengan keras, kakinya lincah bergerak karena dia senang seperti itu, dia sedang memberi sambutan baginya, tidak kepada siapapun berupa;
'selamat hidup, wahai segala ciptaan Tuhan. Ini adalah sebuah kebahagiaan bisa berdiri disini, berbicara kepada ciptaan-ciptaan yang tak-karuan. Sejujurnya, sebuah kebahagiaan tersendiri saya bisa berdiri dan bahkan berbicara! Saya tidak pernah melihat bulu yang berjumlah tak terbatas itu hanya terlepas satu helai dan jatuh ke danau sekecil ini, kecuali ketika saya melihat Bensyiana menari di atas danau kecil tak bertepi. Bulu itu sama sekali bisu, tapi Bensyiana bertanya kepadaku, "tidak pernahkah kamu melihat aku menari?" Saya menjawab, "saya sudah melihat ribuan bulu, dari hanya sehelai, sepasang helai, dua pasang helai hingga berhelai-helai secara serempak jatuh ke permukaan air dan mengambang. Kamu satu-satunya yang tidak hanya bisa mengambang, itu sebabnya saya sangat senang. . ."'
Jaydir, menarik dan menghembuskan nafas dengan sangat cepat lalu, 'ketika aku mengira bulu-bulu itu sedang menari, aku tahu bahwa kamu adalah Bensyiana, dan aku yakin itu. Begitulah sebab saya bisa sebahagia ini.'
Bensyiana & Jaydir
Jaydir, dia menutup matanya dan melihat Bensyiana dalam gelap. Bensyiana, ia tidak perlu menutup matanya, untuk menatap Jaydir.
BENSYIANA : Kamu sudah bosan melihatku menari?
JAYDIR : Aku senang berbincang denganmu setelah menikmati tarianmu.
BENSYIANA : Anehnya aku tak pernah bosan mendengar sambutanmu.
JAYDIR : Bensyi,
BENSYIANA : Apa?
JAYDIR : Bensyi, aku akan menikahimu.
BENSYIANA : Aku hanya menikahi orang yang berbeda.
JAYDIR : Aku sedang berusaha berbeda.
BENSYIANA : Kamu akan tetap sama.
JAYDIR : Apa kamu menganggap aku masih sama seperti ketika aku berumur 4 tahun.
BENSYIANA : Ya, kamu masih sama. Kamu selalu berada di belakangku, selalu terlambat, merasa berdosa setiap aku meninggalkanmu dan merasa kesempurnaan adalah kesalahan ketika berada di sampingku.
JAYDIR : Aku sedang berubah untuk jauh lebih berbeda dari sebelumnya, walaupun aku tetap berakhir menjadi kesamaan menurutmu, aku akan terus seperti ini walaupun kamu memang benar.
BENSYIANA : Aku memang benar, dari kata-katamu saja kamu memang memutuskan untuk menjadi hal yang sama. Walaupun kamu berbeda dari orang lain, bukan berarti kamu berbeda dari dirimu sendiri.
JAYDIR : Lalu aku harus bagaimana?
BENSYIANA : Kamu memang ditakdirkan berbeda, itu sebabnya kamu selalu sama. Kamu memang ditakdirkan untuk berbeda, agar tak ada yang menyangkamu sama.
TAHAPAN BUNTU
Jaydir hanya mendengar suara yang sama dengan irama lama yang teratur. Suara itu berbunyi seperti semestinya, yaitu suara hentakan yang keras dan aneh, ada beberapa nada yang tidak harmoni, disentakkan dalam ketukan yang sama, dan beberapa nada yang harmoni diletakkan sebagai penutup setelah hentakan sebagai gema seperti sebagaimana mestinya. Hingga akhirnya:
Pantai
Pantai pada sore hari, dengan intensitas matahari yang aneh hingga pantainya terlihat seperti lukisan bergerak. Di pantai ada seekor kepiting berwarna merah, kepiting itu cukup besar hingga dapat membawa kelapa. Kepiting itu membawa kelapa itu ke air, hingga kepiting itu dapat terbawa ombak lalu mengambang.
Laut
Laut berada di kedalaman, sinar matahari masih dapat menembusnya dan perairan ini tetap terlihat seperti lukisan. Walaupun ubur-ubur berlomba-lomba mengiringi kepiting itu, mereka lari tiba-tiba karena ada ikan hiu. Hiu ini adalah jenis hiu yang dapat memakan kepiting berukuran apapun, dan kepiting ini telah ditunggu-tunggu olehnya. Ketika melihat ubur-ubur pergi, itulah sebabnya hiu itu tetap mengincar kepiting. Kepiting itu sayangnya ikut pergi, menjauh, berenang lebih cepat dari pada hiu, dia tetap membawa kelapanya.
Palung
Palung ini sangat dalam dan gelap, tapi semua kejadianya tetap dapat diketahui. Ketika semua kegelapan ini tetap terlihat seperti lukisan, semuanya menjadi jauh lebih indah karena ada arus yang secara beraturan, tertinggal ketika ikan paus pemakan kelapa berenang dengan cepat, walaupun tetap terlihat lambat. Hiu yang sudah berambisi memakan kepiting itu akhirnya ketakutan ketika menyadari ada hal yang jauh lebih besar darinya. Paus itu memang besar seperti sebagai mana mestinya. Kepiting itu menyadari kedatanganya, akhirnya dia dapat melepaskan bebanya, kelapa itu dilepaskanya, dibiarkan mengambang. Paus itu lekas memakan kelapa yang sangat kecil itu. Tepat ketika kelapa itu masuk ke dalam mulut paus, artinya paus itu telah masuk ke dalam mulut kepiting itu juga. Semakin dalam kelapa itu masuk kedalam perutnya, semakin dalam paus itu masuk ke dalam perutnya juga.
ROUTINITAS MENYINGSING
Bukan hanya manusia yang mulai sepagi ini dan sebagian tetap terlelap, makhluk hidup lainnya juga mulai sepagi ini dan sebagian tetap terlelap seperti sebagaimana rasanya.
Kamar Mandi
Jaydir berada di dalam kamar mandi, duduk di kloset, membaca buku yang selalu sama, berjudul, 'Sya`ir Bensyiana.' Kali ini halamannya kosong, dia memperhatikannya kosong demi kosong, bibirnya mengikuti apa yang dibacanya, mengecap-ngecap seperti sebagaimana mestinya. Air panas mengucur terus, ditungguinya hingga penuh dengan membaca buku itu.
Kamar mandi yang luas dengan 1 tempat berendam, dan kaca penutupnya. Bak berendam itu kali ini digunakannya sebagai bak air, lalu ada sebuah ember yang diisi air panas. Kamar mandi tempat kloset, memiliki satu cermin yang digantung dengan bingkai yang bagus dari kayu, berikut penutup cermin itu sendiri yang menggelayuti bingkai seperti sebagaimana mestinya. Air panas itu terdengar luber, diletakkan bukunya lalu Jaydir masuk, menutup penutup kacanya dan uap mulai menyelimutinya.
'Seluruh hidup saya, selalu saya letakkan alasan demi alasan agar semuanya memiliki tujuan yang jelas, sehingga semua tujuannya telah saya atur sedemikian rupa agar sama. Saya tidak percaya bahwa manusia harus memiliki satu tujuan, atau harus mengikuti lika-liku kehidupan sebagaimana mestinya tanpa tujuan dan melakukan yang terbaik. Saya hanya percaya bahwa, semua lika-liku itu harus dikumpulkan sedemikian rupa, direncanakan satu persatu dan dibengkokkan lika-liku itu agar ke tujuan yang saya tentukan. Itulah mengapa saya memiliki lika-liku yang banyak untuk dituju walaupun tujuannya tetap sama. Saya memang sedang membengkokkan lika-liku itu semau saya agar saya bisa ke arah mana semau saya. Pertama kali saya menyadari kesalahan saya adalah ketika sebelum tidur. Itu adalah waktu di mana saya memiliki pikiran-pikiran sejati, entah kenapa semakin lama pikiran dipakai dan dibiarkan lelah, semakin dahsyat saja pikiran itu dapat berpikir, masalahnya tubuh saya sudah terlalu lelah dan jika saya membiarkan diri saya terus berpikir, saya akan terus terjaga hingga saya muak dan memaksa diri saya untuk tidur. Tidur memang sudah menjadi hal yang sulit jika waktu tidur yang telah dibiasakan dilewatkan begitu saja, apa lagi untuk berpikir bukannya melakukan aktifitas fisik. Kedua kali saya menyadari kesalahan saya adalah ketika bangun tidur. Itu adalah waktu di mana pikiran saya mati, hingga selama beberapa pasang jam saya harus membuatnya berjalan seperti semestinya kembali dan itu memang butuh waktu yang cukup lama. Pikiran saya yang sudah sangat sejati harus saya tidurkan demi hidup saya, lalu ketika bangun, saya harus ikut menyejatikannya kembali dari awal. Itu semua sama dengan seseorang yang sudah sangat sejati-dirinya dan baru melakukan sedikit, harus mati, lalu seseorang yang lain harus bodoh ketika baru lahir. Dan saya baru sadar bahwa itu sedikit berbeda, karena kelahiran baru itu mungkin akan terus bodoh selamanya bukannya menjadi sejati yang baru dan melanjutkan laku yang sedikit itu. Itu semua harus terjadi demi berlangsungnya dunia. Orang sejati lahir seperti cerita telur yang menetaskan angsa kecil yang berada di antara telur-telur yang menetaskan bebek-bebek kecil. Dia sendirian dan bebek-bebek itu tidak akan dapat merubahnya.'
Uap semakin menipis, di dalam uap itu, Jaydir membuka pintu membuat uapnya mengerumuni ruangan. Dia tidak mengeringkan dirinya dengan handuk, dia lalu mondar-mandir sambil menyikat giginya di dalam kamar mandi, hingga dirinya mengering bukannya malah semakin berkeringat. Tentunya, dia berkumur dengan air panas juga.
Kamar Tidur
Jaydir harusnya sudah kering, namun dia malah masih berkeringat. Dia sedang mengamati tubuhnya pada cermin yang tinggi itu, sehingga semua tubuhnya terlihat. Dia melihat rambut pendeknya, mulai bercabang, lalu melihat matanya yang kehitaman mulai menghilang sedikit dan jerawat yang masih banyak. Dia melihat lemak yang masih menyekujuri tubuhnya dan kulit yang malah merah terbakar, belum lagi bintik-bintik skabiesnya.
'Satu hari berlalu dan perbedaan belum muncul sama sekali. Jika melakukan ini seumur hidup, baru mungkin terlihat bedanya.'
ROUTINITAS TERBIT
Setiap pagi, banyak burung yang berkumpul di taman yang mengitari halaman, di dahan-dahan pohon, mereka semua berkicau dengan sangat berisik hingga matahari mulai memuncak.
Mak Kea
Mak Kea sedang merebus air panas untuk kopi Jaydir. Wajahnya terlihat suci kala menunggu air mendidih. Selain menunggu air mendidih, dia juga menunggu giliran berbicara, itulah yang membuat wajahnya terlihat suci, karena sesungguhnya bayangan apa yang akan dibicarakannya membuatnya senang.
'. . . dak kuliah, tidak bekerja juga saya Mak,' kata Jaydir.
'Saya juga sama seperti situ, buka warung bukan karena cari untung. Saya sebenarnya sudah memiliki penghasilan dari hal lain, jadi seperti situ, saya melakukan ini selain karena saya senang, karena. . .'
'. . . karena ibadah?'
'Iya, karena ibadah. Dapat melihat anak-anak muda disini yang sedang menuntut ilmu, dan mereka bisa makan lebih murah disini. Lihatlah!' Tangannya yang sudah keriput menunjuk 6 buah meja berbentuk lingkaran yang bisa diisi oleh 5 orang
di setiap mejanya. Di pagi seperti ini, banyak orang-orang yang sarapan pagi, 'situ tidak sarapan, hanya minum kopi setiap pagi?'
'Tidak.'
'Kenapa?' Air sudah mendidih, Mak Kea mengangkat panci itu, dan memeganginya saja diatas meja.
'Saya suka lapar, karena rasanya bebas.'
'Bebas apa? Bukanya ketika lapar orang malah tidak bebas karena harus makan?' Gelas besi diisi air mendidih sementara telinganya tetap mendengarkan, terdengar air mengucur dan terlihat asap menguap.
'Bagi orang yang senang kelaparan, bebas dari kenyang itu menyenangkan.'
'Dulu, saya sendiri,' tanganya mengaduk kopi, 'memang pernah miskin, tapi dulu sekali. Situ pasti belum lahir. Sekarang saya bersyukur sudah punya sawah yang luas sehingga uang mengalir deras begitu saja sampai saya sendiri,' sendoknya diketukan di sisi gelas, 'tidak tahu harus diapakan. Saya pikir membuka kedai seperti ini salah satu jalan keluar,' gelas diletakan di mangkok, lalu diberikan sambil berkata, 'ini, kopi panas mendidih.'
'Terimakasih banyak. Mendidih supaya matang kopinya. Sebenarnya saya suka kopi yang dingin, tapi itu cepat habis.'
Zermayah
Jika masuk dari pintu masuk tangga depan bagian pertama, maka setelahnya adalah tempat putaran tangga dimana terdapat pintu menuju balkon lantai 2. Di balkon lantai dua itulah pintu masuk lorong lantai 2, dimana kamar pertama di lorong itu adalah kamar Zermayah. Kamar Jaydir berada di baris yang berbeda dengan Zermayah tentunya. Semua penghuni lantai 2 akan selalu melewati balkon tentunya pula.
Gramaphone terdapat di sudut ruangan, berjejer piringan-piringan hitam Bossanowa di sebelahnya. Di sudut ruangan yang lain terdapat ember yang dituju oleh pipa-pipa yang diletakan secara fisikawi, agar kamarnya terhindar dari banjir ketika bocor di waktu musim hujan. Di sudut ruangan yang lainnya, ada ruang tambahan karena sebenarnya ruangan tambahan itu adalah ruang kosong dari sisi bawah tangga, sehingga terlihat rahasia seperti semestinya ketika ditutup dan seperti semestinya dapat digunakan sebagai tempat bersemedi ketika dibuka. Zermayah membukanya dan menggunakanya sebagai hal yang tak berguna.
Ketika Jaydir melihat sekeliling ruangan, terdapat lukisan-lukisan di temboknya, salah satunya lukisan yang belum selesai. Jaydir sedang berada di kamar itu, kamar yang selalu bau kemenyan karena Zermayah membakarnya, bahkan dia sendiri membakar rokok yang menambah aromanya semakin pekat.
'Setuju saya, dulu lorong itu sebenarnya bersih, tapi karena gunung Tolampanaya meletus, abunya ke sini dan belum di bersihkan,' jawab Zermayah, 'terus, situ tadi malem lagi tidur ada yang goyangin situ, paling dia mau kenalan. Saya baru dapet dari teman saya di Natembet, perempuan soalnya, cantik. Biasanya dia gak pernah iseng.'
'Ya, nanti ketika yang lain sudah ada di kamarnya, saya akan beri tahu mereka juga.'
'Nanti situ akan saya bantu membersihkanya juga.'
'Ya terimakasih.'
'Kapan rencana dibersihkannya?'
'Ketika saya sudah memberitahu yang lainnya.'
'Ya, kasih kabar ke saya saja!' mereka bersalaman dan laki-laki muda yang sudah beruban itu, ditinggal untuk melanjutkan hal yang sebelumnya dilakukanya.
Dia sedang mencari-cari sesuatu dari dalam lemarinya, sebuah cangkir besi yang besar, terdapat ukiran bertuliskan 12 cm.
Senggaya
Alarm jam berbunyi, Senggaya membuka pintu kamarnya, pintu kamarnya adalah satu-satunya kamar yang memiliki sepasang pintu, tapi dia membiarkan yang satunya tetap tertutup. Dia melihat punggung kursi, beserta punggung Jaydir yang sedang duduk. Senggaya meregangkan tubuhnya, menutupi matanya dengan lengannya karena silau dan masuk kembali karena alarm jamnya masih berbunyi. Setelah itu, dia menutup pintunya lagi, dan beberapa saat kemudian alarm itu mati, tapi, tetap terdengar musik Bosanowa dari kamar Zermayah.
Riseke
Riseke membuka gerbang, masuk dengan motor bebeknya. Di halaman, dia memarkirnya, meninggalkanya untuk masuk, menaiki tangga. Setelah itu, pertama kalinya dia melihat Jaydir yang sedang duduk, mereka saling bertatap muka, saling tersenyum dan saling meninggalkan. Jaydir melihat laki-laki muda berbadan mungil dengan kacamatanya, membuatnya terlihat cerdas dan alangkah niatnya membawa tas sebanyak itu.
Jaydir tentunya tidak dapat melihat apa yang terjadi ketika Riseke membuka pintunya dengan kunci dan melihat kamarnya, dimana selalu ditinggalkannya setiap minggu. Tentunya Jaydir memiliki alasan yang jelas karena dia sedang sibuk dengan buku yang selalu sama dibawanya, berkonsentrasi melihat kertas kosong itu akan terbaca seperti apa nanti. Dia mulai mengecapkan bibirnya seraya membaca sya'ir kosong dengan;
Masa lalu, masa depan dan masa kini, masa lini
Kebanggaan, kesesatan dan kemungkinan dan impian
Terasa mengelabuhi sebagai ilusi
Terlihat murni sebagai imaji
Terdengar, itu sebabnya rapuh
Terbaca, itu sebabnya lumpuh!
ROUTINITAS MEMUNCAK
Mulai Pukul 09:45
Burung-burung melayang-layang di angkasa, menikmati waktu untuk pergi. Burung-burung itu akan kembali dan Jaydir yang sedang melihat burung-burung itu beterbangan di langit, berkumpul dan memutari apa saja yang tak kelihatan, mengetahui akan hal itu.
Jaydir, sedang menutup matanya, yang terlihat hanya jingga, akibat bias sinar matahari terhadap kelopak matanya. Di antara suara serangga dan burung berkicau, telinganya tajam menangkap suara dari menara berupa suara bapak-bapak; ' . . . yang penting rokok, terima kasih banyak. Untuk yang ingin beramal, silahkan, karena beribadah ada banyak caranya salah satunya dengan beramal, sumbangkan apa saja. Ya Ibu, terimakasih. . .' dan menara lainnya berupa suara ibu-ibu; ' . . . suk neraka. Jadi caranya supaya bisa masuk surga, seperti di katakan di kitab suci, di mana mengalir sungai yang berisi susu, madu dan khamar yang tidak beralkhol, bidadari yang sedap di pandang mata, mereka tidak liar matanya, caranya dengan banyak beramal dan beribadah. Ada banyak cara beramal dan beribadah, salah satunya denga . . .' Dan menara lainnya berupa seorang laki-laki yang sedang membaca sesuatu dalam bahasa timur tengah dengan bernada dan merdu.
'Entah mereka menghapal semua kalimat-kalimat itu dari suatu buku atau selembaran lainnya, tapi semua kalimatnya hanya membuat manusia mengira jelmaan-jelmaan benar-benar beramal bukannya untuk menarik hati agar manusia terpesona dan terperangkap. Lagi pula apa arti beramal saja tidak semua orang mengetahuinya, bukannya semena-mena memberikan sebagian uang mereka saja. Beribadah, membaca bahasa secara mistis seperti itu, membahagiakan, kupikir itu semua hanya sugesti.'
Mulai Pukul 01:01
Ada sebuah ruangan di depan kamar Mohamer, ruangan itu tentunya berpintu, namun selalu tanpa kunci. Di dalam ruangan itu ada seekor kucing warna hitam pekat, dengan seiris putih di lehernya. Badannya kokoh, berisi otot bukanya lemak, apabila dielus, terasa keras dagingnya di balik bulu lembutnya. Saat ini dia tidur, tapi beberapa saat lagi dia bangun, karena Mohamer meletakan ikan di depan kamarnya, tepatnya di tempat makan Sihitam. Ruangan tempat Sihitam tidur ini adalah ruang masuk tangga depan bagian kedua, yaitu tangga menuju lantai 4, dimana hanya ada 1 kamar di dalamnya.
Sihitam, pintu yang tidak terkunci terbuka sedikit memunculkan kepala Sihitam yang masih mengantuk. Dia melihat ikan yang beberapa saat lagi sudah habis hingga tulangnya, dia melihat Mohamer yang mengelusi kepalanya, namun dia tidak dapat melihat dirinya yang mengelusi dirinya sendiri ke kaki-kaki Mohamer, yang meninggalkannya menuju tangga belakang. Mohamer membawa plastik hitam.
'Situ tidak kepanasan?'
'Saya senang kepanasan. Karena saya berkeringat dan itu membuat saya merasa sehat sehingga saya bisa lebih bebas.'
'Keringetan karena olahraga itu baru sehat.'
'Kemarin sore saya keringetan karena olahraga, berarti saya sudah sangat sehat.'
'Situ tidak makan? Sakit nanti. Nanti saya dimarahi kakakmu.'
'Tidak ada sejarahnya orang sakit karena tidak makan.'
'Makan itu sehari 2 kali.'
'Makan bahkan 3 kali sehari, 4 kali, 5 kali sehari.'
'Ya, terserahlah.'
'Nanti sore lari lagi tidak?'
'Masa lari setiap hari.'
ROUTINITAS SENJA
Suara mesin ketik itu ternyata suaranya terdengar hingga ke kamar Daysyun, yaitu salah satu dari 2 kamar yang berada di ujung lorong, tepatnya samping tangga depan bagian pertama. Naedan sendirian kecuali keripik singkong di mangkok dan air putih di teko menemaninya, sedang menonton televisi, sama sekali tak menyangka bahwa Jaydir yang sedang naik ke puncak tangga belakang, masuk ke lantai 4, melewati pintu kamar satu-satunya di lantai itu dan satu-satunya kamar paling besar, lalu turun
melalui tangga depan bagian kedua itu, sedang diikuti oleh Sihitam dari belakang. Dan Naedan bukan hanya mendengar suara mesin ketik yang bertik-tik-tik-tik saja, melainkan dia mendengar kicau burung yang bercit-cit-cit-cit, karena mereka sudah kembali. Masalahnya, pendengaran Naedan berbeda dari Jaydir, yang ketika membuka pintu masuk ruang tangga depan bagian kedua hingga berdecit mengilukan, ditambah kucing yang mengeong sesekali itu, mendengar semuanya dengan teliti, hingga dia mengira bahwa semuanya itu berirama dalam koma-koma tertentu yang hanya dapat dihitung oleh seseorang yang lebih rajin dari dirinya, Jaydir sangat menikmatinya. Sungguh berbeda karena Naedan sedang menonton telivisi dengan fokus hingga dia tidak menyadari bahwa telah lewat beberapa menit, hingga akhirnya Jaydir masuk mendecit pintu, membawa gelas besinya.
Menistri Pangan
Tidak ada yang menyenangkan Jaydir setelah berjemur seharian selain merebahkan diri di kasur sementara matanya menembus langit-langit. Tidak ada yang lebih membosankan bagi Naedan, itu sebabnya menonton telivisi yang sebenarnya memang sudah membosankan menjadi pilihan akhirnya dan itu sebabnya berbincang dengan Jaydir cukup menyenangkan.
'Badan situ merah-merah.'
'Nanti lama-lama hitam.'
'Saya rasa kulit situ nanti malah ngelupas, seperti ketika saya naik gunung Tolampanaya. Di sana udaranya dingin, tapi mataharinya panas. Jadi kulit terbakar walaupun terasa dingin,' tangannya mendorong keripik singkong di mangkok, 'nih makan!'
'Nanti saya makanya, ketika matahari terbenam.'
'Oh, situ puasa. Untuk apa bawa gelas?'
'Untuk minum,' Jaydir menuangkan air dari teko ke gelas, lalu meminumnya hingga gelas itu kosong, 'saya tidak puasa.'
'Makanlah, tenang saja, keripik tidak akan bikin gendut, lagi pula kamu sudah gendut.'
'Jika saya makan, saya gagal menggunakan lemak saya sebagai energi. Saya berencana untuk kurus, mungkin bulan depan.'
'Situ makan nasi tidak?'
'Makanlah.'
'Nasi itu buruk, paling bagus makan singkong.'
'Kenapa nasi buruk?'
'Nasi itu paling cepat dijadikan energi oleh tubuh, jadi kamu akan lebih cepat lapar. Dan nasi memiliki kandungan glukosa paling banyak.'
'Kenapa situ makan nasi?'
'Saya hanya kadang-kadang makan nasi, nanti ketika istri saya hamil dan memiliki anak, saya akan mewajibkan keluarga saya makan singkong untuk makanan pokok.'
'Jadi jika saya makan singkong setiap hari saya akan kurus?'
'Jika makanya banyak kamu akan tetap gendut. Laki-laki itu sehari membutuhkan 2000 kalori untuk masuk dan perempuan 1500, tapi sebagian orang ada yang lebih dan kurang juga, ini hanya umumnya.'
'Kalori itu apa?'
'Kalori itu ada hitung-hitunganya, saya lupa, intinya ada pembagian berat dan perkalian dan hitung-hitungan seperti itu. Anggap saja karena sehari makan wajib 3 kali sehari, berarti seporsi jam makan normal 700 kurang lebih. Lagi pula, setiap bahan makanan berbeda-beda, saya menghitung seperti itu agar lebih mudah saja.'
'Jadi saya harus makan di bawah 2000 setiap hari agar kurus.'
'Tepat sekali.'
'Oh, jadi orang yang makan lebih dari 2000 itu pasti jadi gendut.'
'Pasti.'
'Jadi jika saya hanya makan seporsi singkong sehari saya pasti kurus bulan depan.'
'Jangan hanya fokus pada makanan pokok, situ harus ingat tubuh tidak hanya butuh karbohidrat untuk hidup. Makan sayur, buah-buahan dan lain-lain untuk kebutuhan vitamin.'
'Itu akan menambah biaya, saya sedang menabung untuk sesuatu.'
'Berarti bagus, karena singkong itu karbohidrat paling murah.'
'Lalu bagaimana cara memasaknya?'
'Direbus, walaupun cukup lama.'
'Bagaimana jika dibakar, itu lebih murah?'
'Untuk apa dibakar, lihat di pojok,' tanganya menunjuk, 'ruangan itu, ada penanak nasi elektrik, saya biasa merebus singkong menggunakannya. Tapi, situ tidak boleh hanya makan singkong, apa ya, biar saya pikir bahan makanan yang murah dan komplit kandungan gizinya.'
'Tunggu sebentar, jika singkong itu yang terbaik dan paling murah, mengapa masyarakat memilih nasi?'
'Itu karena sudah turun temurun saja. Sudah menjadi budaya, padahal menurut saya, nasi adalah makanan terjajah. Karena beras yang diproduksi tidak memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, sehingga negara lebih banyak mengimpor. Mungkin, dulu ketika masyarakat memakan beras yang ditanamnya sendiri, itu baik-baik saja, tapi mengapa kita harus makan nasi dari beras yang lainnya ketika bisa makan singkong.'
'Sepertinya saya harusnya sudah makan singkong sejak kecil, apalagi menurut saya singkong itu hanya ditancap ke tanah dan tiba-tiba jadi. Singkong paling murah, mudah ditanam. Mungkin singkong tidak enak sehingga mereka sibuk makan nasi.'
'Singkong lebih enak, buktinya singkong di goreng saja sudah enak tanpa bumbu apa-apa. Jika situ sudah makan singkong dengan lauk-pauk situ bisa ketagihan. Apalagi singkong tinggal dikupas ketika padi harus mengalami proses banyak hingga jadi nasi.'
'Jangan-jangan, beras menjadi makanan pokok karena budaya India yang datang kemari ratusan tahun yang lalu, hingga akhirnya menjadi akar.'
'Saya tidak tahu, tapi itu bisa jadi.'
Jaydir terpesona dengan kata-kata yang dijelaskan Naedan, wajah berkulit coklat dan tampan menggunakan kacamata Naedan berkaca-kaca menjelaskan seluk-beluk tentang pangan. Sejak saat ini, Naeden diangkat oleh Jaydir menjadi Menistri Pangan pribadinya.
ROUTINITAS TERBENAM
Dari halaman, tedengar tapak-tapak kaki yang berketuk-ketuk berjumlah tak terhingga, sedangkan apabila dihitung dengan seksama, berjumlah 12. Sepasang kaki pertama, mengenakan sendal wanita, kehilangan gemanya, itu artinya sudah keluar dari pintu ruang tangga, kaki itu milik Ininan, seorang wanita yang menikah dengan Mohamer, dia adalah kakak Jaydir. Selanjutnya, yang kedua adalah sepasang kaki yang mengenakan sendal wanita pula, kehilangan gemanya pula, itu artinya sudah keluar dari pintu ruang tangga pula, akan tetapi kaki itu milik Alinia, akan tetapi seorang wanita yang hendak dinikahi oleh Naeden, suatu saat dia akan menjadi partner Jaydir untuk masalah membuat rujak. Namun, untuk saat ini di bagian paling belakang, sepasang kaki yang menggunakan sendal wanita juga, berupa rajutan rotan warna warni yang indah, tidak kehilangan gemanya namun berhenti menapakanya, itu artinya masih berada di dalam dalam diam, kaki itu milik Jaydir. Alasan Jaydir tetap di dalam adalah karena dia mendengar tapak-tapak yang jauh lebih banyak, walaupun itu sebenarnya adalah tetes-tetes air hujan yang menderas diantara tapak-tapak yang jauh lebih terburu dari 5 pasang kaki yang berebut untuk masuk kembali ke ruang tangga. Hujan membuat mereka panik hingga melupakan balkon lantai pertama, atau biasa di sebut teras, karena tempat itu teduh. Di sana ada Mak Kea sedang duduk di kursi goyangnya, melupakan restoranya sejenak.
ROUTINITAS BERLARUT
Jaydir merasa sangat senang|Jaydir mendengar musik bosanowa|Jaydir melihat langit
Setelah itu dia mengakhiri paragraf-paragraf terakhir dalam suratnya;
. . . sekarang, tugas bibik hanya 2;
Pertama : Bibik harus memberi tahu saya di mana alamat pengrajin cermin yang dapat saya datangi.
Kedua : Mencium tidak ada bau.
. . . tertanda, Muhajid Jaydir
Balkon Lantai 3
Balkon lantai 3 adalah balkon yang berbahaya karena tidak dipagari, sehingga siapa saja dapat jatuh ke bawah, dengan pintu masuk yang tersembunyi karena terselip di sebelah kamar Naeden. Dari pintu masuk, melewati balkon yang sangat sempit ketika berada di samping bangunan, lebih sempit lagi ketika berada di depan bangunan, bukan itulah balkon yang dimaksud. Balkon yang dimaksud adalah atap beton yang berada di atas restoran, bukannya di atas balkon lantai 2. Atap itu adalah atap pintu masuk restoran.
Balkon Lantai 4
Satu-satunya kamar yang paling besar, satu-satunya kamar yang berada di lantai 4 dan satu-satunya kamar yang memiliki balkon pribadi, tanpa pagar juga tentunya. Jaydir yang sedang berada di balkon lantai 3 sedang melihat 4 kaki yang melayang-layang di ujung sisi balkon lantai 4, sepasang milik perempuan dan sepasang milik laki-laki.
Balkon Lantai 2
Balkon lantai 2 adalah balkon yang aman. Satu-satunya balkon yang memiliki pagar.
Balkon Lantai 1
Balkon ini bukan balkon, kecuali terasnya melayang. Memiliki lantai karena berbeda dari balkon yang lainya, memiliki 2 kursi empuk yang nyaman, meja dan tentunya kursi goyang. Hal yang penting terdapat di balkon ini yaitu pintu masuk utama bangunan.
Setelah mengakhiri paragraf terakhir dalam suratnya;
BENSYIANA & JAYDIR
BENSYIANA : Aku hanya melakukan sesuatu karena itu adalah hal yang benar. Aku tidak peduli yang kulakukan itu baik atau buruk selama itu benar.
JAYDIR : Kamu melakukan sesuatu karena itu benar menurut kamu dan semua orang pasti melakukanya.
BENSYIANA : Tidak! Aku benar-benar tahu kebenaran itu.
JAYDIR : Aku juga tahu kebenaran itu, namun menurut pendapatku sendiri.
BENSYIANA : Aku benar-benar tahu kebenaran dan semuanya akan percaya kepadaku jika mereka tidak bodoh.
JAYDIR : Semua orang tidak ada yang bodoh dan mereka semua berhak berpendapat akan kebenaran menurut pendapat mereka masing-masing dan kamu tahu itu.
BENSYIANA : Apa kamu mendengarnya?
JAYDIR : Mendengar apa?
BENSYIANA : Mendengar Mohamer yang sedang membaca sesuatu dengan lantunan yang terdengar indah.
JAYDIR : Ya, aku mendengarnya.
BENSYIANA : Jika aku mengatakan bahwa kebaikan adalah membaca kitab suci dan keburukan adalah mengabaikanya lalu, kebenaran adalah memahami dan mengerjakan isi kitab suci dan kesalahan adalah membacanya seperti mantra-mantra kuno, apakah kamu setuju?
JAYDIR : Bukankah di dalam kitab itu sendiri dijelaskan bahwa kalimat-kalimat itu adalah mukjizat sehingga dapat digunakan sebagai mantra untuk mengusir mala petaka?
BENSYIANA : Bukankah ada sebuah kisah dimana seorang narapidana laki-laki sedang dikerumuni beberapa laki-laki. Beberapa laki-laki itu ingin mensetubuhi laki-laki yang terkepung itu dan memaksanya untuk melakukan oral ****. Ketika laki-laki itu sudah benar-benar terkepung, dia membaca kalimat-kalimat dari jurnal yang dia baca dan hilanglah mala petaka itu. Jika kamu hanya menganggap kitab suci yang sedang dibaca Mohamer hanya semacam jurnal yang menceritakan tentang seseorang yang tidak akan melepaskan gigitanya ketika sedang mengalami kepanikan dan tekanan batin, sehingga mala petaka bisa hilang begitu saja, sepertinya sya ir\-sya irku jauh lebih pantas dari pada kitab suci itu. Seekor burung merpati mengantar kitab suci itu kerumah-rumah dengan melupakan buku panduannya dan kamu harusnya tahu itu.
JAYDIR : Tunggu sebentar! Sepertinya otakku buntu.
BENSYIANA : Aku hanya mengantarmu ke perempatan dan kamu malah semakin tersesat hingga berkata buntu padahal kamu memiliki 4 pilihan.