
BENSYIANA & JAYDIR
BENSYIANA : Apa yang harus aku lakukan?
Bensyiana sedang berada di kamar mandi. Ia duduk di kursi menghadap ke dalam cermin, melihat wajahnya. Rambutnya berantakan, tatapannya lesu. Cermin itu kecil sehingga hanya menampakkan wajahnya saja. Ia terlihat sangat menderita, padahal sebenarnya Ia tidak menderita. Walaupun ia merasa senang, sebenarnya ia memang sangat menderita, tapi menderita dalam konteks yang berbeda karena dia memang senang menderita dan ia merasa semakin menderita bila ia semakin senang. Sesekali ia menghirup udara dengan cekatan seperti seharusnya. Ia merasa tenang setiap melihat wajahnya di cermin karena ia bisa tahu bahwa wajahnya memang terlihat penuh dengan penderitaan. Ia mengelusi rambutnya dengan perlahan, menyisirnya agar lebih berantakan. Ia tidak menangis dan ia tidak pernah tahu mengapa ia harus menangis.
BENSYIANA : Semakin aku benar, semakin aku terlihat salah.
Bensyiana selalu menyalahkan dirinya sendiri kecuali ketika ia sedang membenarkan pembenaran, ketika itu terjadi, ia mungkin akan menyalahkan hal yang patut disalahkan. Terkadang orang tidak ingin menerima itu, walaupun orang itu sendiri tahu bahwa Bensyiana benar. Namun bagi orang-orang yang mempercayai kesempurnaan karena mereka takut jatuh kedalamnya, mereka semua saling bekerjasama untuk saling tolong-menolong agar selamat. Hal yang paling dibenci oleh Bensyiana adalah mereka ingin menyelamatkan dirinya juga, yang sebenarnya ingin jatuh. Bensyiana benci dengan kekhawatiran dan kasih sayang mereka terhadap dirinya, jika mereka malah ingin menyelamatkan dirinya. Keuntungan adalah kata yang lebih tepat dari pada kekhawatiran dan kasih sayang.
BENSYIANA : Aku rela membuat neraka di dalam kepalaku dan memasukkan semua diriku bersama pemikiranku kedalamnya, membakarnya bersama nafsuku sebagai hukuman apabila aku salah.
Bensyiana tersenyum, ia menaikkan-alisnya, menggoyangkan-hidungnya dan menggeleng-gelengkan-kepalanya. Ia melihat lebih ke dalam cermin, terus menerus. Ia mengangkat wajahnya ke atas untuk meregangkan lehernya.
Hidupku terlihat mewah ketika aku sendiri merasakan penderitaan. Bensyiana menganggap orang-orang yang takut dengan neraka adalah orang-orang yang takut akan kebenaran. Bensyiana merasa pikiran dan batinnya sudah cukup menderita, ia yakin dia sendiri bisa menyiksanya lebih lagi apabila ia salah sebagai hukuman di dunia ini. Sebenarnya ia lebih berpikir, seandainya Tuhan salah dan ia benar, tapi Tuhan membela kesalahan-kesalahan itu, ia rela dimasukkan di neraka bersama pemikirannya dan tentunya pemikiran-Tuhan itu sendiri, dan ia akan marah. Bensyiana marah karena ia terbakar bersama pemikirannya dan pemikiran-Tuhan sedangkan Tuhan tidak ikut membakar dirinya sendiri sebagaimana Bensyiana rela membakar dirinya sendiri dengan membuat neraka di dalam kepalanya dan memasukkan dirinya bersama pemikirannya kedalamnya, membakarnya bersama nafsunya sebagai hukuman apabila ia salah.
'Penderitaanmu disebabkan,' suara laki-laki, dari Sheloff-Sardujik Anfyn Jaj, kakak Bensyiana, 'oleh dirimu sendiri.'
'Tentu saja, kadang aku ingin,' suara perempuan, dari Bensyiana, adik Sardujik, 'menjadi psikopat atau seorang skizrofenia sekalian saja.'
'Saya hanya bisa berkata jika lebih baik kamu, lebih baik ke suatu tempat untuk menuntut ilmu.'
'Untuk apa?'
'Kamu selalu mengeluh bahwa dunia ini dipenuhi orang bodoh. Mungkin jika kamu belajar, kamu bisa memintarkan mereka.'
'Apa maksudmu, aku pergi ke suatu tempat untuk belajar dengan orang bodoh sehingga aku menjadi pintar seperti mereka lalu aku mengajarkan orang-orang bodoh lainnya agar pintar seperti setelah saya belajar dengan orang bodoh itu?'
'Kamu harus berpikir bahwa di suatu tempat pasti ada tempat di mana ada seseorang yang lebih pintar darimu sehingga kamu dapat belajar banyak! Aku tahu kamu, dan kamu memang tidak bodoh! Kamu akan lebih cepat berkembang ketika kamu di kelilingi orang yang lebih pintar dari dirimu sehingga kamu tergerak untuk menyaingi mereka.'
'Aku selalu merasa bodoh jika aku sendirian, itu sebabnya aku lebih suka sendirian.'
'Kamu harusnya pasti tahu jika orang-orang di desa, ingin ke kota agar mereka lebih pintar. Orang di kota ingin ke ibu kota agar mereka lebih pintar. Orang di suatu negara ingin ke negara lain agar mereka lebih pintar. Dan sekarang mungkin orang di bumi ini selalu ingin keluar angkasa agar lebih banyak lagi ilmu yang di dapat.'
'Kamu harusnya juga pasti tidak mengerti jika sedikit orang tidak sadar bahwa di dalam kepalanya terdapat dunia yang lebih dari pada yang terdapat di alam semesta ini. Maksudku, aku bisa memejamkan mata dan menuju tempat yang jauh lebih bagus dari pada apa yang ada di dunia. Ketika aku membaca buku, orang seperti kamu, atau seperti kalian yang selalu ke luar untuk mencari ilmu akan membaca buku untuk mencari informasi, berbeda dengan diriku yang sedang ingin tahu sesuatu. Aku hanya ingin tahu, apa aku sendirian, atau seseorang di masa lampau telah meninggalkan sesuatu di dalam buku yang sebenarnya aku sendiri sudah tahu apa isinya. Aku hanya senang membacanya karena aku merasa tidak sendirian. Bahkan sebenarnya aku bisa ke tempat-tempat itu walaupun mataku terbuka.'
BENSYIANA : Aku tidak peduli aku sendirian. Aku senang sendirian. Aku hanya benci benar sendirian.
Bensyiana masih melihat ke dalam cermin. Ia melihat lebih dalam agar lebih paham dengan apa yang terjadi. Ia yakin bahwa hal ini akan terus begini walaupun hal ini menurutnya pernah dimulai. Apapun yang dimulai akan berakhir kecuali hal ini. Ia tahu cara menyelesaikan semuanya tapi itu akan memperparah. Ia lebih takut lagi hal yang dia pikir memperparah, sebenarnya akan memperbaiki tapi dirinya terlalu malu untuk melakukannya. Namun pikirannya yang paling dalam menganggap bahwa itu akan memperparah karena semua orang di dunia ini akan berlomba-lomba memilikinya seutuhnya, salah satunya seperti yang dilakukan ayahnya. Kini ia menatap matanya dalam-dalam dan terlihat sangat sedih dan pilu ketika mengatakan sesuatu untuk dirinya sendiri.
BENSYIANA : Aku bisa saja meninggalkan semua ini, aku hanya akan semakin menderita karena-nya. Penderitaanku didasari atas penderitaan orang. Aku ingin berhenti berpikir dan membuat orang senang supaya mereka berhenti menderita. Aku hanya tidak rela membuat neraka di dalam kepalaku dan memasukkan semua diriku bersama pemikiranku ke dalamnya ketika aku tahu aku salah. Aku rela menderita demi kebenaran dan aku benci bahagia karena kesalahan. Aku hanya mementingkan pemikiranku. Aku dulu tahu apa yang harus kulakukan dan aku telah melakukan setengahnya. Ada satu hal yang hanya dapat dimengerti oleh diriku sendiri, walaupun aku akan menjadi orang yang sombong ketika mengatakannya bahwa setengah yang kulakukan itu lebih dari kesempurnaan yang dilakukan orang pada umumnya. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa tidak selalu kebenaran harus dikatakan. Sepertinya itu benar dan aku malah semakin yakin bahwa kebenaran tidak harus dilakukan karena semua orang membencinya. Sebenarnya, ketika orang itu memberitahuku akan hal itu, bahwa kebenaran tak selalu harus diungkapkan, aku senang. Aku merasa terbebas. Aku merasa tertekan karena terlalu banyak kebenaran yang harus kupendam dan sekarang aku merasa lebih bebas dari tanggung jawab. Akhirnya aku menolak pikiran menyenangkan itu. Ada sebuah benteng di dalam pikiranku yang dapat membedakan kebenaran dan kesalahan yang berselimut kebenaran.
JAYDIR : Aku bermimpi buruk. Aku bermimpi jika kau bertanya kepadaku apa yang aku paling impikan dan hal buruklah yang terbayangkan. Kau lalu bertanya tapi aku tak dapat mengingat apa yang aku impikan. Aku tidak dapat mengingatnya tapi aku merasakannya.
TAHAPAN BUNTU
Darah mengaliri, termembiru seperti semestinya, sekarang sedikit demi sedikit sekali mulai menipis, alirannya tenang. Rasanya seperti daging yang diraba-raba. Rasanya daging itu menenang seiring alirannya menenang, saling mengikuti. Setelah sekian lama, kaki itu mulai terasa bebannya. Kaki itu terasa hilang, walaupun bebannya masih terasa. Setelah kaki itu, Jaydir baru sadar ternyata tubuhnya, jarinya, lengannya, lehernya sudah terasa hilang . Kesadaran itulah yang membuatnya tetap terjaga walaupun kelopak matanya sudah berlapis-lapis lemasnya. Sekarang Jaydir menyadari hal-lainnya bahwa lidahnya masih terasa belum hilang. Dia melemaskan lidah itu hingga setiap detik terasa semakin lemah dan jatuh lebih dalam. Hingga lidah itu benar-benar hilang dan menyumbat pernafasannya. Kesadarannya masih membuatnya sulit tidur hingga dia menyadari hal-lainnya. Nafasnya terasa dan paru-parunya terus mengembang dan menghempit. Setelah dia menahan nafasnya semuanya berjalan dengan baik hingga dia tidak bisa bernafas. Dia selalu sadar, itu sebabnya dia tidak kunjung bermimpi. Bermimpi tentang Bensyiana, bertemu dengannya. Melihat wajahnya dan segala anggota tubuhnya. Ketika ada seseorang yang memiliki wajahnya dia akan tahu bahwa itu bukan. Ketika ada seseorang yang memiliki anggota tubuhnya dia akan tahu bahwa itu bukan. Karena dia mengenal semuanya, setiap detailnya. Ketika dia menyentuh telapak tangannya, seorang anak tidak mengetahui bahwa salah satu beruang albino telah tiada. Beruang albino itu adalah seorang anak dari beruang yang lainnya. Tinggal di tempat yang dipenuhi dengan salju yang tercipta dari air laut yang membeku. Tidak ada hujan walaupun itu. Ibunya tidak peduli lagi karena tubuh anaknya sudah terkoyak-koyak. Nafasnya sudah hilang dari paru-paruya. Lidahnya sudah jatuh ke dalam, sudah hilang. Kelopak matanya tidak menutupi matanya karena matanya sendiri sudah hilang. Hilang sudah lehernya, lengannya, jarinya dan kakinya. Namun masih ada bebannya sama sekali. Daging itu, seakan mengikuti aliran dan merah itu, seakan bukannya membiru. Aliran darah itu sudah tenang. Tenang bukannya berhenti mengalir deras. Ketika anak seorang anak itu tahu, dia sangat bergembira. Ketika ibunya itu tahu, dia sangat sedih. Anak itu memeluk bangkai seperti semestinya dia sangat bergembira dan ibu itu memeluk hatinya seperti semestinya dia sangat sedih. Semuanya hilang ketika jarinya melepaskan sentuhan dari telapak tangannya. Ketika dia menyentuh, ketika dia, ketika, dia, menyentuh, selalu dapat dirasanya masing-masing perbedaannya.
Jaydir masih terjaga karena belum tertidur. Dia sudah menghilangkan semuanya kecuali apa yang berada di dalam kepalanya. Dia mulai menghitung dan berharap setiap detiknya, pikirannya akan mulai menghilang sekakan perasaannya. Dia hanya baru sadar bahwa dia hanya dapat melepaskan pikiran dan perasaannya bukan menghilangkannya. Karena dia sendiri belum mengetahui apa.
Satu-Dua-Tiga-Empat-Lima- Eman-7-Dela8an-Sem9-Se10-11-2
Jaydir sudah menghitung semua angka 1x, mungkin itu sebabnya kini setiap angka itu ditandai dengan angka 1 di depannya.
'Jika Tuhan 0 dan Bensyiana adalah 1, maka itu sempurna. Jika 1 ada karena 0, 8 sisanya akan jatuh dan tak berurut jika tidak ada 1. 2 yang tanpa satu, dia akan jatuh dan menempati posisi 1 walaupun dia hanya 2 dan begitupun seterusnya. Walaupun angka-angka itu sama, terlalu banyak menghitung menyebabkan keyakinan baru–
3-4-5-6-7-8-9-20-101-21-22-23-24-25-26-27-28-9-30-1-32
–Memiliki banyak keyakinan itu bagus jika tidak berhenti ketika menghitungnya. Jika keyakinan itu adalah kebenaran, jika hitungan itu belum dibatasi bahkan oleh Tuhan sendiri, itu tidak lebih buruk dari membenarkan satu keyakinan. Daku melupakan 0 yang pertama ketika menghitung. Daku terus melanjutkan hitungan daku, menemukan setiap 0 yang selanjutnya. Baru menyadari itu ketika sudah banyak 0 yang sudah daku temukan. Tapi itu bukan 0 tanpa 0 yang pertama. Semua 0 itu hanyalah kesalahan yang terlihat sama dengan kebenaran.'
ROUTINITAS MENYINGSING
Jaydir kembali sebelum matahari terbit, Mohamer yang sedang membaca kitab suci, bertanya, 'dimana kamu tidur tadi malam?'
'Saya tidur di kamar, tetapi ketika tengah malam tiba-tiba terdengar konser dangdut sangat berisik sehingga saya bangun. Itu sebabnya saya keluar dan tidur di mana saja yang sepi.'
'Situ biasa mendengar musik dari walkmanmu itu hingga tak mendengar apa-apa, tetapi situ terbangun hanya karena suara bising konser dangdut yang tak seberapa.'
'Berbeda dengan mendengar apa yang kita inginkan dan apa yang mau tidak mau terdengar.'
'Ya memang berbeda.'
Setelah keluar dari kamar Mohamer dia kembali untuk berkata karena dia ingin meluruskan sesuatu.
'Sebenarnya, ketika saya sedang tidur, saya masih mendengarkan walkman saya, lalu tiba-tiba saya terbangun. Saya bahkan tidak tahu mengapa terbangun hingga akhirnya setelah saya menghentikan walkman saya, saya menyadari bahwa ada konser dangdut yang sangat bising. Lalu saya bangun dan membuat Mie Goreng karena saya frustasi.'
Setelah tersenyum kepada Jaydir yang sebelum keluar, dia mengikuti Jaydir dari belakang untuk ikut menuju kamarnya, di kamarnya dia berkata karena ingin meluruskan sesuatu.
'Sebenarnya akan datang kebisingan sepanjang hari ini lebih dari tadi malam, bagaimana jika saya akan mengajak situ ke perpustakaan lokal nanti sore?'
ROUTINITAS TERBIT
Ada Gerak Jalan Sehat pagi ini, Bahkan sebuah marsing band yang memainkan.
ROUTINITAS MEMUNCAK
Ada Gerak Jalan Sehat pagi ini, Bahkan sebuah pameran busana yang mengenakan.
ROUTINITAS SENJA & ROUTINITAS TERBENAM
'Lebih tepatnya situ kurang peduli dengan sekitar situ,' setelah Jaydir baru menyadari bahwa meja ini bertisu.
'Saya hanya peduli dengan sekitar dalam taraf yang sebenarnya,' setelah Mohamer mengajaknya untuk makan malam di sebuah restoran dan mereka masih, 'ni sudah yang sebenarnya.'
'Jika begitu, artinya saya peduli dengan sekitar yang tidak sebenarnya.'
'Situ dengan mudahnya berganti-ganti pendapat.'
'Saya sebenarnya tetap memiliki pendapat yang sama, saya hanya tidak mengetahui bahasa yang tepat, itu sebabnya ketika ada seseorang menyalahkan pendapat saya, sebenarnya mereka menyalahi bahasa saya. Barusan situ tidak setuju dengan pendapat saya, dan terimakasih telah membenarkan bahasanya.'
Perpustakaan
Penjaga perpustakaan, sedang menonton televisi. Dia sebenarnya memang menonton televisi kecuali ketika Jaydir dan Mohamer datang ketika petang, karena dia sedang tidak. Dia menonton televisi untuk menjaga perpustakaan agar tetap dalam kondisi tutup.
Masjid
Penjaga masjid, sedang mengaji. Dia sebenarnya masih ingin sembahyang, akan tetapi dia sudah sembahyang, bahkan bersama dengan Jaydir dan Mohamer ketika datang ketika petang. Dia mengaji untuk menjaga dirinya agar tetap dalam kondisi terjaga.
Restoran
Penjaga restoran, tentu saja sedang bersantai membaca majalah Health saat ini. Dia bahkan tidak mengetahui bahwa salah satu pelayan restoran telah membawa 2 mangkuk Es Campur sebelum Bebek Bakar dan Rawon Iga dengan sambal tambahan, kepada meja tak bernomer. Mohamer dan Jaydir sudah menyantap menu utama, Jaydir sudah kehabisan Es Campurnya sedangkan Mohamer mengaduki esnya.
'Pesan lagi saja jika masih ingin,' Mohamer membebas.
'Serius?'
'Iya, tidak apa-apa.'
'Mbak! Pesan 1 Es Campur lagi,' ketika salah satu pelayan melewatinya.
'Tahu kenapa saya tersenyum?'
'Karena jika situ tersenyum, situ mirip Robert De Niro.'
'Itu aktor hebat, dia `kan wajahnya sama seperti saya.'
'Ketika dia masih muda, wajahnya memang tidak kotak. Memang kenapa situ tersenyum?'
'Karena, tadi kamu meminta sambal tambahan, lalu kamu masukkan semuanya ke dalam mangkuk rawon itu. Menurut saya lebih baik jika tadi kamu masukkan satu wadah sambal itu ke piring, lalu kamu masukkan kuah secukupnya.'
'Agar tidak pemborosan sambal?'
'Ya, itu benar.'
'Sebenarnya, tadi setelah saya memasukkan 2 wadah sambal itu ke dalam mangkuk rawon ini, saya juga berpikir begitu. Namun, beberapa saat kemudian saya menyadari bahwa saya tidak memiliki pikiran, itu artinya, itu adalah pikiran situ yang masuk ke dalam pikiran saya sehingga saya sudah tahu apa yang situ pikirkan.'
'Terimakasih mbak,' kepada pelayan yang baru saja meletakan semangkuk Es Campur.
Jaydir memakan Es Campur itu hingga setengah habis, lalu dia mensendokkan kuah sisa Rawon Iganya, lalu bilang, 'saya baru sadar, sebenarnya, semakin lama kita berada di sini, semakin benar diri saya. Karena sambal yang sudah bercampur kuah ini akan tidak tersia-siakan.'
'Itu sebabnya saya menunggu.'
'Itu sebabnya itu hanya menjerumuskan situ kepada kebenaran tingkah laku saya yang saya sendiri kadang menganggap itu sebuah hal yang bodoh sebelum saya benar-benar mengerti.'
'Ingusmu itu!'
Jaydir mengelapnya dengan tangan.
'Pakai tisu itu,' menunjuk kepada kotak tisu.
'Saya bahkan baru sadar ada tisu di sana. Sepertinya karena saya terlalu banyak berkhayal, saya sering tidak menyadari hal-hal di sekitar saya.'
'Lebih tepatnya situ kurang peduli dengan sekitar situ,' setelah mengatakan bahwa hidup itu tidak dapat hanya berada dalam khayalan.
'Saya hanya peduli dengan sekitar dalam taraf yang sebenarnya,' setelah mengatakan bahwa berada dalam khayalan adalah pekerjaannya.
'Ini sudah yang sebenarnya,' setelah mengatakan bahwa suatu hal tidak akan menjadi kenyataan jika hanya dilamun saja.
'Jika begitu, artinya saya peduli dengan sekitar yang tidak sebenarnya,' setelah mengatakan bahwa dia bisa membuktikan bahwa lamunan dan masa lalu adalah hal yang sama, itu sebabnya pelamun bisa membedakan mana realita dan khayalan dibanding seorang realist.
'Situ dengan mudahnya berganti-ganti pendapat,' setelah meminta bukti yang lebih jelas dari pada sebuah teori yang abstrak.
'Saya sebenarnya tetap memiliki pendapat yang sama, saya hanya tidak mengetahui bahasa yang tepat, itu sebabnya ketika ada seseorang menyalahkan pendapat saya, sebenarnya mereka menyalahi bahasa saya. Barusan situ tidak setuju dengan pendapat saya, dan terimakasih telah membenarkan bahasanya,' setelah bertanya kepadanya, apakah dia bisa melihatnya? Karena jawabannya adalah mungkin bisa, mungkin juga tidak kepada kedua pernyataan. Karena Mohamer tahu itu adalah pertanyaan jebakan, dia hanya menjawab satu. Karena Jaydir sudah tahu jebakannya berhasil, dia hanya menjelaskan bahwa dia sudah tahu bahwa itu pertanyaan jebakan dan sekarang dia sudah sebaiknya menganggap dirinya logis. Itu semua disebabkan atas pernyataan Jaydir yang pertama bahwa dia akan memasukkan sebuah lamunan kedalam pikirannya tentang jalan ke bulan dan pernyataan yang kedua bahwa dia akan menceritakan kembali pengalaman mereka berdua jalan ke pantai bulan lalu. Masalah kecil muncul ketika Jaydir menceritakan perjalanan ke pantai bulan lalu dengan mengubah-ubah secara halus hingga Mohamer tidak menyadari itu. Itu bahkan sudah menjadi suatu bukti besar bahwa seorang realist bisa dirubah pengalamannya tanpa kesadarannya dan akan menganggap perubahan yang fiksi itu adalah sebuah fakta. Masalah besar muncul ketika Jaydir bertanya apakah sekarang dia bisa melihat bulan itu (ketika menceritakan tentang jalan ke bulan) dan apakah sekarang dia bisa melihat pantai itu (ketika menceritakan tentang jalan ke pantai bulan lalu). Itu bahkan sudah menjadi suatu bukti yang tidak patut dibesar-besarkan bahwa seorang realist yang takut dianggap tidak memiliki imajinasi yang tinggi karena itu dianggap akan menurunkan tingkat inteleknya, sehingga dia akan mengatakan mungkin iya jika dia berkonsetrasi melihatnya dan mungkin tidak karena dia sebenarnya sedang berada di restoran. Bahkan jawaban yang aman dan moderat sama sekali tetap menjerumuskannya ke dalam pernyataan dan pertanyaan jebakan yang tingkat kedalaman logistiknya sudah sangat padat.
Perpustakaan
Kini sudah waktunya untuk dirinya pergi ke;
Masjid
Kini sudah waktunya untuk dirinya tidak memikirkan;
Restoran
Kini sudah waktunya untuk dirinya tidak memikirkan; Es Campur. Jaydir sangat menyukai Es Campur itu, terutama tapainya. Namun tapai itu sedikit seperti;
'Iga ini pasti sangat mahal,' memegang sehelai tulang iga yang sangat pendek.
'Ya` pastinya.'
'Lagian, harganya sangat mahal dan dagingnya hanya sedikit, padahal itu yang paling lezat. Tapi menikmati kuah ini ketika sedang bebincang hampir selezat daging itu sendiri. Sepertinya saya tahu mengapa ada pepatah mengatakan bahwa ketika memasak daging, buatlah kuahnya yang banyak.'
'Pepatah itu bermaksud, agar ketika sedang menikmati daging, kita dapat membagikan kuahnya kepada orang di sekitar terutama yang kelaparan.'
Jaydir menengok ke meja sebelah, lalu ke meja lainnya lagi.
'Sepertinya semua disini sudah tidak lapar.'
'Saya sedang mencari sesuatu, tapi saya telah lupa karena kata-kata situ barusan. Mungkin ide saya terlalu bodoh sehingga situ tidak patut mendengarnya. Tapi, jika saya berlebihan, saya akan memasukkan kuah ini kedalam plastik untuk dibawa pulang, sayangnya saya sudah menghabiskannya tanpa memperdulikan sekitar saya.'
'Pesan lagi saja jika masih ingin,' Mohamer membebas.
'Tidak perlu.'
'Tidak apa-apa.'
'Saya sebenarnya masih ingin, tapi saya kasihan dengan situ.'
'Kasihan kenapa?'
'Baiklah,' Jaydir akan memesan satu Es Campur lagi, dia tidak lupa memesan agar mendapatkan tapai tambahan walaupun pelayan itu akan lupa dengan pesanannya sehingga mereka harus bertanya lagi dan memesan lagi bahkan berikut tapai tambahannya, masalah terjadi karena tapai tambahan itu dilupakannya. Karena Jaydir akan menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan peduli kepada sekitar pada taraf yang sebenarnya. Dia hanya peduli pada apa yang dia maksud dan ingin Mohamer tahu bahwa apa yang dimaksud sekitar oleh Mohamer memang sama sekali tidak dipedulikannya.
'Terimakasih mbak,' kepada pelayan yang baru saja meletakan semangkuk Es Campur.
'Mengapa makhluk selain manusia bisa hidup tanpa manusia, sedangkan sebaliknya tidak mungkin?'
Ada Gerak Jalan Sehat pagi ini, Bahkan dari semua kalangan yang berumur.
'Saya baru tahu jika Gerak Jalan Sehat hingga malam hari,' tanya Jaydir.
'Ini bukan Gerak Jalan Sehat. Ini jalan-jalan saja.'
Bahkan barisan-barisannya keluar dari pintu masuk jalan menuju jalan pulang dan ternyata ini bukan Gerak Jalan Sehat.
ROUTINITAS BERLARUT
Setelah tertawa, Jaydir bertanya, 'apa situ pernah menonton, "Rease-Rease|Klien nan Kultur?'
'Sudah, film komedi lawas jaman SMP,' jawab laki-laki bersuara dalam sehingga berkaki sepasang di balkon lantai 4.
'Kalo saya menontonnya waktu jaman SD, kakak saya yang beli VHS-nya. Menonton film seperti itu ketika SD, planga-plongo, eh pas saya menonton ulang lagi ketika saya sudah besar, astagah! Musik latarnya Iklim Hunian,' Jaydir tertawa lalu, 'walaupun sih sebenarnya. Film "Ambruk!!!|Klien nan Psikotik" juga, musik latarnya Iklim Hunian.' Setelah beberapa saat, 'bahkan saya baru sadar kalo komposer sama penulis skenarionya dia juga.'
'Salah satu film "Sialan!" juga nih, dengan "Blacky Souldier, Black Souljah," depresif sekali.' VHS dengan sampul berjudul, "Secarik Baratan|Klien nan Western,' diperlihatkan oleh tangan laki-lakinya. Sampul itu berwarna hitam-putih dengan seluet wajah perempuan hanya separuh.
Perempuan berkaki sepasang sehingga bersuara jauh lebih dalam dari laki-laki itu, dia menyentuh kaki Jaydir dan berkata, 'Muhajid Jaydir! Musik latarnya "Ambruk!!!|Klien nan Psikotik," bukannya lagu dari solo albumnya juga?' itu memang bukan pertanyaan dan perempuan itu tahu akan hal itu sehingga dia menyentuh kaki laki-laki yang lainnya dan berkata, 'jangan tanya lagi deh kalo soal Ada Mana Hemta, film-filmnya emang sinting,' perempuan itu menyeringai walaupun bukan dia yang membuat semua itu, 'jika tentang seniman lokal, saya tidak bisa membuat list karena terlalu banyak manusia dalam satu Ada Mana. Tetapi bila soal sutradara dunia, dari beberapa nama yang khususnya dari jepang, silahkan lihat film-filmnya Kinji Fukasaku.'
'Itu, benar,' Jaydir mnyentuh kaki perempuan itu juga dan ikut berkata, 'seperti sebelumnya, saya berkata bahwa musik latar "Rease-Rease|Klien nan Kultur," Iklim Hunian semua, padahal bukan! Saya punya penyakit ketika yang bernyanyi adalah Ada Hemta, saya katakan Iklim Hunian dan astagah! Saya tidak pernah menonton film jepang, tapi film paling ngiklim itu, "2001: A Space Odyssey." Astagah! Sutradara jepang yang saya tahu hanya Akira Kurosawa.'
'Baru menonton "Tora-Tora-Tora," dan "Battle Royale."' Laki-laki itu tiba-tiba berkata seperti sebagaimana seharusnya setelah gilirannya tiba bahkan tanpa menyentuh apa-apa.
'Astagah! Saya hanya tahu judulnya yang "Tora-Tora-Tora,"' lebih dari tiba-tiba Jaydir menjawab.
'Muhajid Jaydir,' sentuhannya semakin tegas pada kakinya, lalu tersenyum dan tertawa, 'kuno sekali Akira Kurosawa! Artinya sudah khatam `ya "Seven Samurai?"' Menyentuh kaki laki-laki itu lebih lembut, 'sangar! Beruntunglah karena sudah menonton karya yang masterpiessey!'
'Hanya, "Seven Samurai" saja yang sudah. Saya juga tahu sutradara itu karena film itu,' jawab Jaydir tanpa menyentuh kaki.
'Saya kira Akira Toriyama,' canda laki-laki itu dengan dingin.
Setelah tertawa dengan jauh lebih dingin dia berkata, 'Itu yang menciptakan Goku seingat saya.' Setelah menyentuh kaki dengan jauh lebih keras dia berkata, 'Muhajid Jaydir! Berarti harus menonton karya Akira yang lain. Dia termasuk handal pada zamannya, karena dia yang pertama dari jepang yang doyan buat film tema; "Noir." Beberapa yang saya rekomendasi: "The Hidden Fortess" (1958), "Yojimbo" (1950), "Stray Dog" (1949) dan "Ran" (1985).'
'Astagah, saya baru tahu Akira Toryanama! Astagah!' Jaydir mengeluarkan tawa satu hentakan setelah ingat dia telah mengatakan, 'astagah!' dan ingat dia telah lupa berkali-kali, 'saya memang penasaran sama "Yojimbo." Nanti saya lihat semua rekomendasi situ. Saya juga sudah kehabisan film barat.'
Laki-laki itu mengikuti tawa satu hentakan dengan dingin, "Iya, itu empu`nya Dragon Ball."
"Muhajid Jaydir!" Lalu perempuan itu menyentuh kaki dengan lembut, tetapi mengikuti tawa satu hentakannya jauh lebih dingin lagi seirama dengan sentuhannya dan, "Ula-Biba,"-nya Ada Mana Hemta sudah lihat belum?'
'Memangnya itu ada filmnya?'
'Itu komposernya baru Iklim-Hunian semua. Itu memang berbeda jauh dari bukunya, tapi adaptasinya sempurna. Film tadi yang saya rekomendasi semua ada di Kios-Kiosan Filem-Fileman kok, tinggal disewa. Tapi film "Ula-Biba," memang belum ada.'
'Saya belum pernah menontonnya, saya bahkan baru mendengarnya. Astagah!' kali ini dia ingat dengan tawa satu hentaknya, 'saya kebetulan langganan juga di kios itu, akan tetapi film-film Ingrid Bergman jarang, dan saya juga baru tahu kios itu memiliki cabang di sini. Sepertinya saya malas menonton "Ula-Biba," saya lebih tertarik ke si Akira-Akira yang tadi situ sebutkan itu.'
'Ula Biba itu film barunya si Hemta.'
'Astagah!,'~, '"Ula-Biba," ternyata film barunya si Hemta.'
Perempuan itu menunjukkan sampul theater-nya karena dia menyimpannya di dalam lemari laki-laki itu.
'Astagah!'~, 'saya suka sampul ini, lalu saya sudah pernah melihat ini sebelumnya. Mungkin dulu sampul ini ada di mana saja hingga saya tidak memperhatikan.'
Laki-laki itu pergi dari balkon dan meninggalkan mereka berdua saja.
'Apa situ pernah menonton "Raging Bull?"'
Kali ini bahkan tanpa sentuhan, 'pernahlah. Jika ingin bertanya film-film yang cast-nya si De Niro, saya sudah semua,' akan tetapi seringai tawa yang jauh dingin ke dalam menyentuh, 'itu salah satu film terbaiknya Martin Scorsese, urutan kedua, pertama sih "Taxi Driver," menurut saya, De Niro juga yang main.'
'Jika menurut saya, urutan pertama, "Raging Bull," kedua, "Taxi Driver," ketiga baru "Goodfellas." Sebenarnya, "Taxi Driver" sama "Goodfelllas," boleh saling bertukar, akan tetapi "– Bull," selalu pertama bahkan saya sendiri tidak tahu mengapa. Saya kira, hanya saya orang lokal yang pernah menontonnya.'~, "You **** My Wife?"
'Salam hangat dari Travis mbak!' Laki-laki itu tiba-tiba datang menodongkan revolver dengan gaya yang sama persis dengan salah satu adegan di film "Taxi Driver," ketika sedang latihan menembak di kamarnya.
Jaydir meminjam revolver itu seraya berkata, 'You Lookin` At Me?' dan memegangnya dan menyentuhnya, setiap detailnya.
'You Talkin` To Me?' jawabnya, lalu bertanya kepada perempuan itu, "Mean Streets," gimana? Kenapa kita jadi bercerita mengenai film seperti ini? Tidak papalah.
'Saya belum,' Jaydir menjawab walaupun tidak ditanya, 'pernah menonton "Mean Streats," film Martin yang masuk ke hati saya sih baru 3 itu saja. Astagah!'~, 'di film "Taxi –," dia berbicara sendiri di depan cermin dan di "Raging Bull," dia juga berbicara sendiri di depan cermin lagi.'
'4:20 mode-on detected,'
'"Mean Streets" asyik sekali,' setelah mendapat giliran berbicara, 'Johnny Boy yang sebenarnya sangat saya kasihani.'
'Gara-gara situ bilang asyik, saya jadi tertarik untuk menontonnya,' jawab Jaydir tiba-tiba. Ketika dia memberikannya kepada laki-laki itu, dia sekaligus bertanya kepadanya, 'situ kuliah di Botani `ya?'
'Saya kuliah di IPB.'
'Saya kira Bogor Agri Kultur Institusi disingkat dengan Botani. Silahkan tebak dimana rumah saya?'
"Muhajid Jaydir!"~,_ 'singkatan dari mana?' perempuan itu tiba-tiba bertanya walaupun itu bukan gilirannya untuk menjawab, 'sepertinya situ sudah mulai weirdo, nih. Silahkan tenangin diri dulu. Abisin dulu siemengnya!'
"Ahyu Sim Amanda!"~,_ 'kan saya arahin mata saya ke muka dia, lalu keluar muka dia yang lain, lalu di dompetnya ada tulisan dia kuliah di Bogor Agri sret-sret-sret, lantas saya mengingat kata Botani yang katanya ada universitas yang memiliki taman botanikal, dari situlah asal singkatannya. Saya saja mendengar kata IPB aneh, biasanya saya mendengar ITB. Woy! Serius! Coba tebak rumah saya di mana?'
"Muhajid Jaydir!"~,_ 'saya paling anti melihat isi dompet orang, saya tebak rumah situ pasti di Bongsyi Yuang?' Lalu dia tertawa dengan seringai yang beku.
'Saya melihat isi dompetnya gara-gara ada tulisan Bogor. Astagah!'~, 'sangar situ tahu jika saya orang Bongsyi Yuang. Sangarkan saya orang Bongsyi Yuang.'
"Muhajid Jaydir!"~,_ 'sedih sekali harus penasaran dengan seorang laki-laki, mas. Apa jangan-jangan situ, "Gay?" Memangnya serius situ di Bongsyi Yuang? TPST Bongsyi Yuang?'
'Gara-gara situ nonton "Raging Bull," saya tertarik mengarahkan mata saya ke muka situ sehingga keluar muka situ yang lain, ternyata muka situ yang lain tidak keluar sehingga mungkin saya bisa mengetahui hal yang sama dari orang yang berbeda dan melihat muka dia, dan ternyata saya berhasil melihat dompetnya. Ternyata dia seorang Ilustrator, saya malah yakin jika situ yang pasti sudah menonton "2001:–" juga karena dia Ilustrator dan dia dari bogor sehingga mungkin situ dari bogor juga hingga saya semakin penasaran. Sepertinya harusnya saya harus bertanya kepada laki-laki yang sudah pernah menonton "Raging Bull," karena sebenarnya saya lesbi,' ~~~~~, 'saya di Bongsyi Yuang, tapi saya sendiri tidak tahu apa TPST tidak ada di sini,', 'woy! Apa jangan-jangan situ lesbi juga?'
"Muhajid Jaydir!"~,\_ 'saya? "Saya jenius, miliyarder, playboy, philantrophist."–Tony Stark.~~~~, 'maksud situ, "2001: A Space Odyssey?"'
"Ahyu Sim Amanda!"~,_ 'jika "Saya coudda been a contender. Saya could`ve been somebody, instead of a bum, which is bagaimana saya begitu,"–Terry Malloy\Jake La Motta. Dan, film itulah yang memang saya maksud.'
"Muhajid Jaydir!"~,_ 'Otot situ gede-gede berarti!'
'Tentu saja tidak. Situ saja miliarder, jenis, playboy, picekantropus bisa jadi perempuan,'~~~~~
"Muhajid Jaydir!"~,\_ 'saya sedang menganggur setelah proyek Age Of Ultron, sekarang sedang berlibur di Maldive sambil menjadi perempuan,'~~~~~
'Setahu saya, Tony Stark tidak menggunakan kaca mata,'~~~
'It mean?'
'It meant to be that I said, "Picekatropus," not, "philantrophist." As we know you did not listen well, I suppossed you must not; Tony Stark at all, because he wears no glasses.'~~~
"Good statement," setelah itu perempuan itu pergi . . . .
. . . . Setelah itu perempuan itu datang, membawa sebuah kartun bergambar Tony Stark mengenakan kaca matanya dengan jarinya memberikan ibu jari kepada siapa saja yang melihatnya.
"Good understanding," setelah itu Jaydir pergi . . . .
. . . . Setelah itu Jaydir datang, membawa sebuah kartun bergambar Pac Man yang berhadapan dengan bola-bola kecil. Setelah itu barulah dia menunjukkan poster dengan wajah Steven Tyler yang sedang tersenyum dan meletakkan telapak tangan berjari dipenuhi cincinnya di pipi.
"Good Bye," setelah itu laki-laki itu pergi . . . .
'Sama-sama tidak mendengar dengan benar itu artinya kita berdua,'~~~
'Sebenarnya kaca mata untuk mengelabuhi situ untuk berfikir bahwa Picekantroppus tidak bisa memahami sesuatu, karena Tyler mirip dengan Picekantropus, jadi saya tunjukan kepada situ wajahnya,'~~~~~
'Hayyi! Saya dikelabuhi,'~~~~~
'Itu semua disebabkan karena situ satu-satunya orang yang menonton "Raging Bull."'
'Lantas setiap orang yang menonton "Raging Bull," harus situ kelabuhi?'~~~
'Hanya orang yang teliti yang menonton "Raging Bull," dan orang teliti suka detail-detail kecil yang diabaikan orang. Padahal, hal itu sengaja dibuat oleh si pelaku untuk memanggil orang-orang. Jadi, begitulah cara saya memanggil orang.'~, 'maafkan saya yang telah memanggil situ dengan cara mengelabuhi situ. Situ saja tahu Mr. Bungle,'~
"Muhajid Jaydir!"~,_ 'dan menurut situ, situ adalah orang yang teliti? It`s okay mas, tidak ada yang salah di antara kita. Saya tahu Mr. Bungle karena mereka Avant-Garde. Dan saya mengikuti mereka sejak SMA.'
'Saya orang yang sok teliti, tapi jika saya sudah dewasa, soknya akan hilang. Saya juga tahu karena mereka Avant-Garde, dan menurut saya yang sok teliti, mereka berantakkan, itu sebabnya saya lebih suka Frank Zappa,'~~~ 'saya punya 2 bukti ke-Ragging Bull-an situ; "terus setiap orang yang nonton Ragging Bull harus situ kelabuhi?" dan, "sama-sama tidak mendengar dengan benar itu artinya kita?" dan sebenarnya ada 1 lagi, "Suka atau tidak suka itu selera. It`s all up to you."
'Sepertinya memang benar apa yang situ katakan tentang sok teliti, karena, (teliti versi situ,) situ bilang Tyler mirip "picekantropus," (kadang situ pake versi Picekantroppus,) belum tentu saya bilang mirip juga seperti apa menurut situ. Saya sih tidak termakan, "Word-Sword," milik situ~ Situ selalu menggunakan kosa-kata baru, (yang cukup situ sendiri yang mengerti.) Saya masih tidak mengerti tentang ke-Ragging Bull-an yang situ maksud, (maklum di diri saya tidak ada unsur teliti ataupun sok teliti.)'
Setelah itu laki-laki itu datang, membawa sebuah kartun bergambar 4 spesies manusia prasejarah, di mana spesies yang paling modern dan berada di paling kanan berjalan kembali berhadapan dengan spesies sebelumnya, mulutnya seraya mengatakan di dalam kotak dialek, "Go Back! We Fucked Up Everything." Lalu laki-laki itu berkata di dalam kamarnya sendiri dengan, "saya pamit dulu mas, mbak."~
'Benarlah, saya kan jujur dan jika situ pergi sebelum saya mengeluarkan 3 bukti ke-Raging Bull-an, saya akan percaya jika situ tidak termakan "Word-Sword" milik saya dan, ASTAGAH!,~ saya mengira Tyler seperti kera, ternyata belum tentu semua orang berpendapat seperti itu, HURRAY! ~~~~~~, 'di diri situ tidak ada unsur sok teliti dan di diri situ ada unsur teliti karena situ takut menafsirkan kata ke-Ragging Bull-an itu. Ketika situ sok teliti, pasti situ langsung mengetahui artinya, tapi karena situ teliti, situ jadinya salah takut dalam menafsirkannya.'
'Ketika berpendapat, yang jelas! Jangan anomali! Saya tidak termakan karena saya tidak pernah berusaha untuk mengerti. Saya anggap angin lewat saja. Kebetulan yang situ bilang mirip kera itu punya prestasi, by the way. 3 bukti yang situ bilang sampe sekarang saya belum mengerti, karena saya tidak berusaha mengerti,'~~~~~~, '3 bukti yang situ bilang, saya katakan hanya karena saya ingin tahu orientasi cara pikir situ saja, by the way. Karena saya rasa, "Premis," yang sudah situ bangun dari awal itu berantakkan, (didukung cara tulis yang juga tidak oke,) NO OFFENSE! Muhajid Jaydir!'~,_
'Oke, 3 bukti itu hanya dikeluarkan oleh situ yang sedang ingin tahu cara berpikir saya, sedangkan saat itu saya tidak tahu, itu sebabnya saya berusaha mencari tahu kenapa ada orang yang tahan meladeni saya yang berpendapat tidak jelas dan sudah berantakkan dari awal itu, (didukung cara tulis saya yang juga tidak Oke [Computer] NO DEFENSE! Bahkan tidak ikut pergi bersama dia dan kebetulan yang saya katakan mirip seperti kera itu musisi paling saya suka.'~~~
Balkon Lantai 4
!6 kaki itu terus melayang-layang di;
ujung sisi balkon lantaian 4,
sepasang milik;
perempuan dan 2 pasang milik laki-laki.
!3 pikiran itu terus melayang-layang di;
ujung sisi otak gulungan 4,
sehelai milik;
perempuan dan 2 helai milik laki-laki.
!6 kaki itu terus melayang-layang di;
ujung sisi balkon lantaian 4,
sepasang milik;
perempuan dan 2 pasang milik laki-laki.
!3 perasaan itu terus melayang-layang di; ujung sisi hati ruangan 4,
sealir milik;
perempuan dan 2 alir milik laki-laki.
!6 kaki itu terus melayang-layang di;
ujung sisi balkon lantaian 4,
sepasang milik;
perempuan dan 2 pasang milik laki-laki.
BENSYIANA & JAYDIR
Sebelum ke tempat tidur, dia menyiapkan pena dan lembar kosong untuk membalas surat dari pamannya.
Setelah ke tempat tidur, dia meletakan pena dan lembar kosong dan mulai menulis, di atas lantai.
18 agusta, 1998
Lamirand,
Paman Gamni Lesik
Walkman dan kasetnya sudah saya terima, maafkan saya belum bisa mengkasih.
Paman, terima kasih atas kiriman hadiahnya. Sekarang saya bisa mendengar musik kembali. Terima kasih atas pilihannya. Sekarang saya bisa mendengar musik kembali. Ok Computer adalah album yang sangat bagus, sebagus sebagaimana mestinya album direkam dan dikomposkan.
Paman, terima kasih atas tawaran bantuannya, itu akan sangat membantu. Saya membutuhkan sepedah untuk berolahraga. Agar meringankan paman, saya akan meminta setiap kebutuhan saya setiap bulan.
Muhajid Jaydir
BENSYIANA : Kau hanya bermimpi buruk. Kau bermimpi jika aku bertanya kepadamu apa yang kamu paling impikan dan hal buruklah yang terbayangkan. Aku lalu bertanya tapi kau tak dapat mengingat apa yang kau impikan. Itu hanya perasaanmu saja, kau sendiri sudah melupakannya begitu saja.
JAYDIR : Itu bukan perasaanku, itu adalah perhitunganku.
BENSYIANA : Bagaimana kau dapat menghitung ketika kau tidak memiliki pikiran?
JAYDIR : Bagaimana aku dapat berpikir?! . . . .
BENSYIANA : Bagaimana kau dapat berpikir jika kau menganggap sekumpulan jin ataupun tidak, mereka sering menyertai angin.
Bagaimana kau dapat berpikir jika kau sendiri tidak dapat melihat?
JAYDIR : Aku berpikir jika sekumpulan jin sering menumpang dengan angin ketika bepergian karena aku dapat merasakan perasaan mereka sewaktu-waktu.
BENSYIANA : Bagaimana kau memikirkan sesuatu bahkan ketika kau sendiri berkata bahwa kau merasakan mereka, bukannya kau memikirkan mereka.
JAYDIR : Aku tidak memiliki perasaan.
BENSYIANA : Itu sebabnya kau akan menganggap perasaan makhluk lainlah ketika kau merasakan sesuatu.
JAYDIR : Memang seperti itu kenyataannya, dan begitu juga aku merasakan manusia.
BENSYIANA : Jika kau benar, akan tetapi kau memang benar karena entah mengapa kau menjadi semakin pintar, kau harus mengetahui bahwa selalu ada 3 sejarah berbeda dalam setiap satu waktu yang berlalu.
JAYDIR : Bagaimana hal itu dapat dibenarkan?
BENSYIANA : Kau hanya hidup di dalam salah satu sejarahnya saja.
JAYDIR : Bagaimana aku dapat mengetahui sejarah lainnya?
BENSYIANA : Kau harus berpikir lebih keras untuk mengetahui sejarah di dalam dimensi sejarah kau sedang hidup di dalamnya, itu sebabnya kau harus merasa lebih lembut untuk mengetahui sejarah dalam dimensi kau mati di dalamnya.
JAYDIR : Bagaimana cara aku bisa mengetahui sejarah di dalam dimensi sejarah yang kau belum sebutkan.
BENSYIANA : Orang munafik selalu berpikir dengan keras dan merasa dengan lembut, itu sebabnya kau harus menjadi orang munafik untuk dapat mengetahui sejarah dalam dimensi yang bertabrakkan itu. Itu sebabnya, bukanlah seorang munafik ayahku itu, dia adalah seorang pemikir yang jujur. Aku hanya membencinya karena dia tidak akan mengerti bahwa aku sedang menghinanya jika aku berkata bahwa dia adalah pemikir yang jujur. Dia bahkan tidak mengerti bahwa mengandalkan pikiran saja adalah lebih bodoh dari pada mengandalkan perasaan saja, karena orang yang mengandalkan perasaan saja akan terlihat bodoh di dalam dimensi sejarah di mana manusia hidup.