Sya`Ir Bensyiana

Sya`Ir Bensyiana
Bab Dua



BENSYIANA & JAYDIR


Jaydir, dia menutup matanya dan melihat Bensyiana dalam gelap. Bensyiana, ia tidak perlu menutup matanya, untuk menatap Jaydir.


JAYDIR : Bensyi, aku akan menikahimu.


BENSYIANA : Jay, aku penasaran mengapa makhluk selain manusia bisa hidup tanpa manusia, sedangkan sebaliknya tidak mungkin.


JAYDIR : Bensyi, apa kamu mau menikahiku?


BENSYIANA : Jay, kamu tidak perlu menjawabnya karena aku sudah tahu.


JAYDIR : Aku mencintai dirimu. Tidak, sebenarnya aku mencintai lengan panjangmu. Aku mencintai kaki jenjangmu. Aku mencintai leher melayumu, tulang rusuk yang terlihat jelas dan tulang pipi. Rambutmu lebat dan matamu memiliki pupil yang ada warnanya.


BENSYIANA : Apa saja yang dianugrahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahanya.


JAYDIR : Bensyi, aku tidak perlu jawabanmu.


BENSYIANA : Seandainya aku menjawab pertanyaanmu, apa kamu mau menjawab pertanyaanku, walaupun akulah yang berakhir menjawabnya?


JAYDIR : Baiklah. Apa pertanyaanmu?


BENSYIANA : Mengapa makhluk selain manusia bisa hidup tanpa manusia, sedangkan sebaliknya mustahil.


JAYDIR : Mengapa manusia harus membutuhkan makhluk hidup lainya agar tidak mati sedangkan makhluk hidup lainya tetap hidup tanpa manusia? Tentu saja karena tumbuhan tidak memakan manusia, hewan tidak memakan manusia bahkan ada hewan yang makan rumput dan serangga. Dan manusia tidak mungkin makan manusia. Sebenarnya mereka bisa hidup karena mereka bermacam-macam, singa juga mustahil hidup jika hanya bersama rasnya.


BENSYIANA : Ternyata aku benar. Kamu akan melenceng dari pertanyaan dan membuat jawabanmu seakan benar, padahal jawaban yang benar adalah makhluk selain manusia bisa hidup tanpa manusia karena mereka saling memakan satu sama lain dan masing-masing makhluk memiliki makanan kesukaanya. Bahkan tak ada yang berani bekerja sama untuk membunuh puncak rantai makanan. Itulah sebabnya manusia seharusnya berbeda.


JAYDIR : Bensyiana, kamu belum menjawab pertanyaanku.


BENSYIANA : Aku tidak ingin menikahi siapapun!


TAHAPAN BUNTU


Bensyiana kini lenyap. Jaydir kini benar-benar ikut lenyap. Sebelumnya dia melihat kegelapan lalu dia memejamkan mata agar dapat melihat, sebelumnya sama sekali tidak ada cahaya kini sama sekali bahkan tidak ada kegelapan. Jaydir kini benar-benar lenyap, bersama Bensyiana yang kini ikut lenyap.


Jaydir, sungguh kasian dia. Dia tidak bisa tahu apa-apa lagi, kecuali indra pendengarannya yang masih aktif. Masalah yang bahkan dia sendiri belum menyadarinya adalah, sebenarnya indra pendengarannya sendiri sudah lenyap juga, akan tetapi ada suatu bagian di dalam pikirannya yang bisa berbunyi sendiri.


Suara pikiran yang tidak berpikir berbunyi lebih tajam dari mesin apapun. Suaranya berdenging hingga bisa dianggap sunyi. Picisan-picisan suara yang seperti sehelai saling terputus dan berubah menjadi hal-hal berbeda seperti semestinya.


Terbagilah hal-hal berbeda itu semua menjadi sesuatu yang hanya dapat dihitung oleh orang yang sadar. Kini Jaydir sedikit beruntung, karena dia sadar jika dia mendengarnya, namun sebaliknya dia rugi karena dia akhirnya bangun dari tidurnya. Dia berusaha mencari-cari Bensyiana yang sudah lenyap, bahkan sebelum pikirannya sunyi kembali. Kini pikirannya sunyi dan semakin Bensyiana dilupakannya, semakin berisik pikirannya hingga terkesan sunyi kembali.


Ketika pikirannya sudah benar-benar berisik, setiap suara yang berbeda-beda itu merefleksikan kisah nyata yang fiksi. Jaydir benar-benar melihat Bensyiana yang sebenarnya sudah dilupakan dan lenyap, malah semakin terlihat jelas.


Bensyiana berdiri di samping sungai yang jernih, tangannya mengelusi rambutnya sendiri. Matahari bulatnya kebesaran, hingga cahayanya redup seredup-redupnya.


Warna matahari itu putih seperti semestinya dan rumput-rumputnya tidak terbakar walaupun hangus tergerogoti angin setiap dia melihatnya.


Jaydir hanya mendengar suara angin yang tersedat-sendat seperti semestinya dan melihat sawah terhampar di samping Bensyiana yang berwajah laki-laki.


Sawah yang terhampar itu memiliki luas yang bermotif lesu, airnya keras padat dan memantulkan apa saja yang berada di hadapannya.


Jaydir melangkahkan kaki tembus pandangnya. Setiap langkahnya menyebabkan dia merasa berputar setengah, secara vertikal seperti semestinya.


Setiap putarannya, ayah Jaydir yang mengelusi kepala botaknya, tersenyum menunggunya datang.


Jaydir berkata sambil berputar, 'Bensyiana sayang, aku akan mengambilkan bulan untukmu jika kamu percaya,' lalu kakak ipar laki-laki Jaydir yang sedang mengusapi kepala ayahnya menjawab, 'aku tidak ingin menikahi siapapun.'


Bensyiana sedang mengusap cermin yang luasnya bermotif lesu. Di dalam cermin itu terdapat bulan yang sangat besar, warnanya merah seperti terbakar.


Bensyiana memasukkan tangannya ke dalam air dan meraup bulan itu dari air yang bergejolak, di mana rumput-rumput tumbuh keluar dari air satu-persatu, terputus dan melayang terserap angkasa seperti semestinya.


Ketika bulan itu dirapu, tangannya mendapatkan lendir yang paling menjijikan. Di dalam lendir itu terdapat telur-telur yang beraneka ragam.


Ketika hujan datang, tiap tetes hujan selalu bertabrakkan dengan rumput yang terserap ke angkasa. Setiap telur di dalam cairan jernih yang paling mulia, menetaskan tiap-tiap sepesies hewan.


Cairan itu sangat indah seperti kristal yang lesu. Beberapa telur masih tetap seperti telur terutama yang sangat kecil, kecuali ketika rumput berselubung tetes hujan menembus kristal dan masuk membuahinya.


Jaydir, memiliki lima belas butir telur yang tersusun di tangannya. Lima belas butir telur ayam itu dipegang dengan cekatan dan ujung telurnya dihadapkan pada kristal.


Jaydir dengan yakin mengarahkannya ke kristal seiring dia bisa melihat kakinya dan tangannya.


Telur yang paling ujung pecah, Jaydir merasakan hentakan tembakannya dan putih telurnya muncrat, tentunya kuning telur dengan cepat melesat menuju kristal seperti semestinya dan seterusnya setelah Bensyiana berkata, 'aku telah mengambil bulan dan kamu tidak akan dapat mengambilnya lagi setelah ini.' Bensyiana berada di sampingnya, mengusap rambut Jaydir yang sedang menembak. Setiap kelusannya, Jaydir merasakan kebahagiaan yang paling dalam.


ROUTINITAS MENYINGSING


Ada suatu lagu yang selalu dinyanyikan oleh salah satu agama di setiap fajar, lagu itu sedang dinyanyikan oleh semuanya dan sepertinya setiap menara melancangkan landuannya. Lagu itu terdengar dari tempat yang jauh dan semakin menggema-gema seperti semestinya karena setiap menara saling bersautan. Bukan hanya setiap orang yang bangun tapi ada juga yang tetap tidur karena ini belum pagi dan adapun yang memang masih membuka matanya.


Kamar persegi panjang yang cukup sedang, memiliki 2 pintu, sebuah untuk keluar dan sebuah untuk masuk. Di salah satu pojok kamar ada cermin persegi panjang yang tinggi, sudut atasnya menatah rapat ke sudut siku tembok, sudut bawahnya tertatah di atas lantai dengan ganjalan barbel 9 kilogram, jauh dari rapat tembok. Jaydir duduk menyila di depan cermin itu.


Di cermin terlihat Jaydir berambut hitam cepak, laki-laki remaja yang gemuk, berjerawat dan berkulit putih. Kulitnya bukan hanya putih akan tetapi dia juga terkena penyakit Skabies. Jaydir sedang memandangi dirinya sendiri. Jaydir berdiri, berjalan melewati ruangan yang kosong, membuka pintu dan masuk. Terdengar suara air mengucur.


'Pukul 04:45. Trimakasih Allah untuk senandung lagu yang telah membantu membangunkan manusia dan membiarkan makhluk hidup lainnya tetap tidak sadar. Maret 4, 1995. Saya sekarang telah sendirian, yang berarti saya bisa sepenuhnya sendiran sepanjang waktu sesuka saya setiap hari, minggu, bulan dan tahun. Ini sepi, tapi ini malah membuat saya semakin sibuk. Saya bahkan bisa menghemat uang lebih dari yang dipikirkan. Saya berpikir sepanjang waktu, bangun, tidur, tidak ada bedanya menurut saya -ada menurut sebagian orang. Sebagian orang yang terkelabuhi- sialnya, tidak ada bedanya bagi saya. Mereka semua jelmaan lagi pula. Semua yang menjelma menjadi sebagian manusia yang terkelabuhi hidup di mana-mana bereinkarnasi tidak pernah mati; Penipu, pemalas, orang bodoh, orang yang iri dengan hal bodoh, orang yang rakus hingga marah-marah dan orang yang rakus karena nafsu.


Suatu hari senandung lagu yang sebenarnya akan membangunkan alam semesta beserta isinya. Setiap malam, ketika saya beranjak tidur saya harus membersihkan pikiran saya yang kemasukan pikiran bodoh dari jelmaan-jelmaan itu. Sebagian malam, terlalu banyak yang harus dibersihkan hingga saya terjaga semalaman.'


Pintu masuk terbuka, keluarlah Jaydir. Pintu keluar dibuka, masuklah Jaydir ke ruang tengah.


Ruangannya memanjang seperti semestinya, namun dihadapan kamar Jaydir terdapat ruang persegi yang luas. Di sepanjang lorong, ada 3 pintu kamar, salah satunya dihuni oleh Jaydir.


Lorong itu penuh debu, berantakan dan sangat kotor, hingga harus menggunakan alas kaki. Setelah pintu kamar di tutup, suara air mengucur terkedap.


Suatu lagu yang selalu dinyanyikan oleh salah satu agama di setiap fajar sudah terdengar sangat dekat, tentunya sautan yang jauh mulai hilang dan memunculkan sautan lain yang terdengar di kejauhan yang baru. Suara alarm jam di kamar sebelah pun tiba-tiba ikut masuk dalam irama yang sudah sepenuhnya berantakan.


Sepasang gedung berada di dalam halaman, di balik pagar. Sebuah gedung memiliki 4 lantai seloteng dan sebuahnya hanya 2 lantai. 4 lantai itu memiliki 2 pasang balkon, tentunya salah satu balkonya di sebut teras. 2 lantai itu sayangnya hanya memiliki sebuah balkon. Setiap pagi, sebuah gedung selalu mendapatkan sinar matahari terbit, dan setiap pagi juga ada sebuah buku terletak di pagar balkon beserta alat tulisnya.


Jaydir berada di sebuah warung kecil di depan pagar halaman, meminta seorang Ibu yang sudah cukup tua, selalu menggunakan kerudung india, daster beserta kalung-kalung. Di hidungnya ada kutil yang terlihat indah.


Ibu itu sedang membuatkan Jaydir kopi, di dalam gelas besi yang tinggi. Gelas itu lalu di letakan di mangkok dan Jaydir dengan hati-hati membawanya, meninggalkan warung kecil, masuk ke pintu, menaiki tangga ke lantai 2. Setiap lantai memiliki motif tangga yang berbeda.


Pagar balkon itu cukup besar dan rata hingga Jaydir menganggapnya meja. Seperti pada umumnya, meja selalu memiliki kursi dan di kursi itulah Jaydir duduk. Kopi itu di letakan di samping buku yang berjudul, "Syair Bensyiana." Jaydir hanya mengenakan kain dan bertelanjang dada, menikmati mentari pagi.


Setelah meminum kopi itu, pahit rasanya karena tanpa gula tak seperti biasanya, kopi itu diletakan lagi di samping buku, di tempat yang dianggapnya meja, yaitu pagar balkon yang rata.


Buku itu dibuka, tangannya mencari halaman yang ditandainya oleh lipatan, kertas-kertas tua yang telah menguning itu menyebarkan bau yang khas.


Di temukanya halaman itu, halaman itu setengah terisi, dia membacanya dalam hati. Dia membaca dengan mata tertutup, sementara itu, sinar matahari terus menghangatkan tubuhnya. Dia bisa merasakanya.


ROUTINITAS MEMUNCAK


Senandung lagu itu di nyanyikan kembali, kali ini lagu ini sekiranya meringankan pekerjaan untuk beristirahat, kecuali Jaydir yang tetap berada di puncak.


Di puncak anak tangga, terdapat tanki air yang besar. Dari puncak itu, terlihat tikungan tangga yang memiliki ruang yang cukup luas untuk seorang bersantai.


Tangga ini dipagari dan pagarnya telah menjadi jemuran, dipenuhi pakaian. Di tikungan tangga itu, diletakan kursi bersandar yang dapat dilipat namun tak berkaki, dan kursi itu diduduki Jaydir. Kulitnya mulai terbakar.


Ada kamar di lantai 3, dimana kakak ipar Jaydir yang bernama Mohamer tinggal. Dia keluar dari kamarnya, berjalan melewati lorong lantai 3 dimana banyak pintu-pintu kamar di lewatinya, hingga 2 kamar mandi hingga berhadapan tempat mencuci piring. Di samping itu, ada tangga untuk menuju puncak tangga belakang, dia menaiki untuk menemui Jaydir.


Mohamer melihat Jaydir yang sedang terlentang menghadap matahari, dia berniat menawarinya makan siang. Tapi ketika Jaydir ditawarinya, dia menolaknya dan menitip Es Teh Tawar. Mohamer pun meninggalkannya.


Dia kembali melewati lorong, masuk ke salah satu dari 2 kamar yang berada di ujung lorong. Dia masuk ke kamar di samping tangga depan bagian pertama berujung. Ruangan itu hanya satu, akan tetapi memiliki 2 bagian lantai dengan tinggi berbeda. Di bagian lantai yang lebih tinggi itulah, tampak Daysyun dan Naedan.


ROUTINITAS SENJA


Senandung lagu itu kembali di nyanyikan lagi, kali ini harusnya sebagai tanda untuk pulang ke rumah masing-masing, menikmati senja bersama kerabat dan siapa saja yang dikenal dan ingin dikenal. Namun sepertinya tak semuanya berhak, tapi untuk saat ini Jaydir tidak peduli dan dia sekarang sedang berada di dalam kamar Mohamer.


Jaydir sedang tidur-tiduran di ranjang, Mohamer sedang sibuk di hadapan mesin ketiknya. Jaydir memandangi langit-langit karena dia sedang membaca sesuatu walaupun langit-langit itu sendiri kosong, Mohamer sedang mengetik sesuatu karena kepalanya sedang di penuhi sesuatu.


Beberapa menit itu berlalu, cukup lama hingga Mohamer telah mengosongkan isi kepalanya ke halaman-halaman kertas. Jaydir senang mendengar ketukan mesin ketik yang dipukul oleh jari-jari hingga membuat sebuah irama yang berantakan. Dia senang mendengarnya, meraba-raba ketukan seperti apa yang terjadi selanjutnya, begitu terus menerus seperti semestinya.


Mohamer berdiri, meregangkan badan, mengembil sesuatu dari dalam lemarinya. Itu adalah dua celana pendek dan salah satunya dilemparkan ke perut Jaydir. Lalu, pintu kamar terbuka, terlihat Daysyun.


Enam kaki yang terpasangi sepatu, turun melewati anak tangga depan bagian pertama di lantai ketika, anak tangganya memiliki lantai.


Di putaran, tersimpang pintu ke balkon lantai 2. Kaki-kaki itu turun, berbunyi dengan irama mesin ketik yang berantakan, turun lagi ke lantai pertama melewati anak tangga yang hanya dilapisi semen saja. Kaki-kaki itu akhirnya keluar dari pintu masuk ruang tangga, berkeliaran di halaman. Setelah melewati gerbang pagar, mereka bertiga terus berlari.


ROUTINITAS TERBENAM


Senandung lagu itu kali ini dinyanyikan untuk yang keempat kalinya dan untuk keberkali-kalinya setiap orang pulang kerumahnya, walaupun hanya sebagian saja yang menyadarinya. Untuk saat seperti ini, lagu itu memanggil lebih banyak orang dari biasanya, untuk saat itu juga, sebagian berkumpul bersama keluarga atau orang-orang terdekat untuk makan, apa saja.


Kaki-kaki yang turun dari lantai tiga kini lebih banyak lagi, ada lebih dari 6. Kaki-kaki itu berjumlah 12, melewati anak-anak tangga yang sama, pintu yang sama, pagar yang sama untuk makan malam seperti yang sama-sama sebelumnya. Selalu menghabiskan waktu yang cukup lama untuk hal berbeda.


ROUTINITAS BERLARUT


Akhirnya mereka bisa bertemu diri mereka sendiri, karena lagu yang terakhir ini, lagu yang terakhir kali dinyanyikan, untuk melepas. Lagu ini bahkan hanya terdengar samar-samar, bagi yang sadar ataupun yang tidak. Setelah itu dia bisa mengakhiri paragraf terakhir dalam suratnya,


. . . . saya mungkin adalah seorang jenius dalam bidang saya, tetapi bibik adalah orang yang jenius dalam bidang bibik.


Muhajid Jaydir


BENSYIANA & JAYDIR


BENSYIANA : Memangnya mau seperti apa lagi? Sekalipun dihancurkan, akan tetap seperti itu.


JAYDIR : Aku sudah berbeda sekarang.


BENSYIANA : Kamu akan kembali seperti dulu lagi.


JAYDIR : Aku sudah bangun pagi, mandi 2 kali sehari, berjemur, makan sehari sekali, berfikir lebih keras, membaca lebih banyak dan mengikuti rutinitas yang disiplin.


BENSYIANA : Fisikmu memang akan berubah, skabiesmu-


JAYDIR : Skabiesku, lemakku dan wajahku yang berjerawat ini bahkan kulit putih ini, semua akan berbeda. Hanya butuh waktu beberapa waktu lagi.


BENSYIANA : Jaydir, kamu seperti salah mengira maksudku. Dirimu akan tetap sama, walaupun kamu merubah semua itu.


JAYDIR : Aku akan berbeda.


BENSYIANA : Kamu kira dengan pindah ketempat seperti ini, tempat yang jauh dari kampung halamanmu, tidak ada orang tua dan orang yang mengenalmu, dengan seperti itu kamu akan berbeda? Kamu akan selalu sama.


JAYDIR : Aku tidak sama!


BENSYIANA : Kamu ingin berubah, tapi kamu sendiri menyamai rutinitasmu dengan orang-orang itu.


JAYDIR : Aku menyamainya karena memang itu yang terbaik.


BENSYIANA : Kamu tidak tahu apa-apa, kamu akan menyadarinya nanti jika kamu tetap sama. Sekuat apapun kamu mencoba, kamu hanya berakhir menjadi dirimu yang sama.


JAYDIR : Aku akan berbeda dan kamu tahu itu!


BENSYIANA : Aku tahu segalanya dan yang berbeda hanya penampilannya saja, kamu juga sepertinya sudah tahu itu.


Jaydir, dia membuka matanya dan melihat ruangan kosong dalam gelap. Ruangan gelap kosong, hanya berisi cermin, Jaydir melihat sebagian dirinya terpantulkan, dia melihatnya dan menyadari bahwa dia masih sama, dia merogoh buku yang tidak jauh darinya dan memeluknya, lalu terpana melihat langit-langit yang kosong.


'Aku berada disini karena Bensyiana. Aku meninggalkan orang tuaku karena figur mereka menghambat gerakanku. Aku juga meninggalkan semua teman-temanku karena aku tahu kelemahanku yang selalu ingin menyenangkan mereka, berbanding terbalik dari aku terhadap kedua orang tuaku. Menyenangkan teman-temanku hanyalah hal yang sepele sehingga mudah dilakukan tak seperti sebaliknya. Bensyiana berada di tempat yang sangat jauh tapi dia selalu datang kedalam pikiranku. Aku selalu ingin bertemu denganya, tapi aku yakin nanti ada waktu ketika aku siap. Ketika aku sudah siap, aku akan langsung meminangnya. Ketika menemuinya, aku yakin aku sendiri sudah tidak ingin meminangnya. Bensyiana mungkin benar, seberapapun aku mencoba berubah, aku tetap sama. Mungkin aku akan terlihat berbeda, tapi Bensyiana selalu benar.'