
Bensyiana Ul-Syeloff, ini bukanlah malam hari, ini bukan pula pagi hari, di antara waktu-waktu itu, ia berdiri di hadapan sebilah cermin berbingkai kayu trembesi, persis di pojok kamarnya. Sudut paling atasnya bersentuhan dengan pojok dinding, sedangkan sudut paling bawahannya menjauhi sekitar sehasta dari dinding; terganjal, dimaksudkan untuk mendapat bayangan pada cermin yang lebih baik ketika melihat tubuh secara utuh.
Cermin itu menampakkan tubuhnya yang tinggi, bahkan panjang kakinya melebihi alis apabila diukur dari pangkalnya menurut perbandingannya. Lehernya, lengannya dan kakinya melayu semampai, karena kulitnya yang rada coklat kegelapan. Perempuan yang baru melewati masa remajanya ini memiliki rambut hitam yang bergelombang walaupun akan terlihat agak mengkuning-kemerahaan ketika terbias cahaya.
Sangat ringan timbangannya dan lingkar pinggangnya kecil, namun terlihat sangat sehat dan bersinar-sekian, Bensyiana Ul-Syeloff.
Jika jadwal rutinitas hariannya ia catat dan ditempelkan pada permukaan cermin, maka sebagian cermin itu akan tertutup, itu sebabnya ia tak perlu mencatatnya dan menempelkannya, kecuali hanya cukup dengan berdiri di hadapan bilah-depan cermin itu saja; lalu berandai-andai apa yang telah ia catat seandainya ia menempelkannya. Seperti,
03:00 am – 04:00 am : Bangun |lalu|Membaca
04:00 am – 05:00 am : Bersepedah & Olahraga
05:00 am – 09:00 am : Menonton & Membaca
09:00 am – 10/11 am : Berjemur & Ritual (seminggu sekali)
10/11 am – 14:00 pm : Berfikir & Berkarya
14:00 pm – 15:00 pm : Makan |lalu| Tidur
Sebelumnya, Bensyiana sedang minum teh hangat-tawarnya. |Jadwal itu berlaku ketika ia sedang sendiri di rumah keluarganya yang besar, untuk itu ketika pukul 05:00 am, ketika seharusnya ia menonton dan membaca sepuasnya, ia malah mandi, segera mengenakan tas ranselnya, setelah itu keluar rumah, dengan mengenakan sepatu kulit lusuh, lalu kaos hijau lusuh yang terbalik supaya gambarnya tertutup dan flared jeans. Setelah itu, ia malah berjalan kaki menuju stasiun, sementara kedua telapak-tangannya mengikat rambut, sehingga leher melayunya jadi kelihatan, tujuannya adalah; untuk naik kereta| Sebenarnya, Bensyiana tetap membaca salah satu bukunya yang tipis di dalam gerbong, yaitu Perempuan Di Titik-Nolnya; Nawal El Saadawi.
Jika jadwal rutinitasnya tidak ia catat, artinya ia memang selalu malas mencatat apa pun (kecuali untuk orang lain), itu sebabnya walaupun sebenarnya ia terlihat sedang membaca bukunya, , , , , , ,dengan serius! ia tetap saja; sedang berandai-andai apa yang akan dicatat untuk ayahnya. Seperti,
Françoise Hardy - Françoise Hardy
Nico - Chelsea Girl
Fiona Apple - Tidal
Frank Zappa - The Old Master
Aerosmith - Box 'O Fire
Akhbu Imala Bin Sheloff, ayahnya. Dia adalah yang ketika pagi mengantar istrinya\ibunya ke bandara dan ketika pulang ke apartmennya tiba-tiba mendengar Saltz Molto vivace/Sinfonie Nr. 9, karena anaknya telah menunggunya sejak pagi di sana, sedang membaca. Dia kaget, walaupun merasa bahagia, baru saja tiba dari; tapi selain tadi pagi dia mengantar, dia juga sempar ke rumah-sakit. Tangannya, membawa amvelop yang sangat besar, dirinya; dia masuk melalui pintu, tak menduga melihat putrinya ada dan hadir menahan senyum dengan, 'Ayah sakit, dari rumah sakit,' sekilas memperlihatkan wajah penuh penderitaan sebab sakitnya sambil mengelus dada.
Dan Bensyiana masih membaca buku, penuh pengabaian.
'Ingin sarapan apa, biar ayah belikan?' Meletakan apa yang dibawanya ke dalam laci.
'Tolong ambilkan kertas dan pensil!'
'Catatlah!'
Bensyiana mencatatnya, lalu memberikannya.
'Ingin sarapan apa?'
'Beli itu semua!'
'Ingin sarapan apa? Nasi uduk, lontong sayur, bubur atau ketoprak? Ayah sakit.'
'Ayah sudah tahu sarapan membawa penyakit, malah menawarkan adik sarapan. Ayah tahu kenapa ayah sakit? itu sebab ayah selalu makan.'
'Ayahkan sayang sama anaknya, jadi siapa tahu adik lapar dan ingin makan,' dia duduk di samping Bensyiana yang sedang duduk di ranjang, 'aduh dik, dada ayah sakit.'
'Itu kan salah ayah, siapa suruh ayah merokok waktu dulu. Belikan semua yang adik catat!'
'Tapi ini banyak sekali, cukup beli satu saja, ayah akan belikan.'
'Ayah,' dia menatap wajahnya, 'minggu lalu, hari rabu ayah ke rumah, terus hari jum'at juga, terus ayah masuk ke kamar adik, terus ayah bilang ayah mengambil cangkir di kamar adik padahal cangkir itu di kamar mandi, terus ayah melipat selimut adik, terus ayah menggeser karpet kayu adik dan ayah meninggikan jok sepedah adik!'
'Memang apa masalahnya?'
'Ayah harus beli semua itu!'
'Beli satu saja.'
'Piringan hitam dan CD di rumah kan sudah ribuan,' ayahnya menggoyangkan tangannya seakan memang ribuan dengan wajah yang penuh kebingungan, 'kenapa harus selalu beli yang baru, harus diganti? kenapa tidak di dengarkan saja semua itu?'
'Adik biasanya hanya meminta satu, tapi ayah tidak pernah mengerti. Ayah kira adik ingin itu semua? Adik meminta itu semua hanya agar ayah tahu.'
'Tahu apa?'
'Tahu jika ayah harus mengikuti semua kata-kata adik.'
'Bukannya terbalik? Seharusnya anaklah yang mengikuti kata-kata ayahnya.'
'Seharusnya orang bodoh lagi munafik mengikuti kata-kata orang pintar lagi bijaksana, tapi ayah terlalu munafik lagi bodoh.'
'Ayah sendiri kamu bilang bodoh?'
'Tenang saja karena bukan hanya ayah yang adik anggap bodoh. Ada banyak orang yang adik anggap bodoh dan ayah tidak sendirian.'
'Lalu kamu sendiri, hanya mendengarkan musik seumur hidup, menyumpal telinga kamu!'
'Ayah tahu kakak umur berapa?:
Akhbu hanya diam menahan marah.
'24,' setelah menarik nafas lalu, 'ayah tahu ayah menghasilkan uang yang hampir menyamai dengan ibu, sedangkan ayah sama sekali tidak menghasilkan apa-apa di umur ayah sekarang. Ayah tahu adik umurnya berapa?'
Akhbu hanya diam menahan kekecewaan.
'19,' dan menarik nafas sebelum, 'ayah pasti setuju mencari uang dengan jalan yang haram lebih mudah dari pada mencari uang dengan jalan yang halal. Tapi ayah tidak tahu jika mencari uang dengan seni yang buruk itu lebih mudah dari pada mencari uang dengan seni yang bagus,' hening dan, 'apa adik tidak benar?'
'Kenapa adik tidak lupakan saja semua itu. Adik bisa hidup tanpa harus mencari uang, menikah agar ayah punya cucu. Adik bisa membuat seni apa saja, tak perlu mencari uang. Siapa itu namanya, Renabas, dia cukup tampan,' Akhbu tersenyum menahan.
'Ayah tahu ketika ada dua orang yang mengadu kepada Nabi Daud, jika salah satu orang itu memiliki hewan ternak yang menghancurkan kebun tanaman orang yang lainnya, lalu Nabi Daud bilang jika hewan ternak itu diberikan kepada pemilik kebun untuk mengganti tanamannya yang hancur? Nabi Sulaiman bilang jika meminjamkan hewan ternak itu ke pemilik kebun untuk diambil manfaatnya sedangkan pemilik hewan ternak akan mendapatkannya kembali ketika tanamannya sudah di perbaikinya itu jauh lebih adil. Nabi Sulaiman itu anak Nabi Daud dan Nabi Daud mengikuti kata-kata anaknya.'
'Kamu salah!'
'Adik lebih baik salah, karena jika adik benar, adik sekarang sudah menikah, sedang merawat ayah yang sedang tertawa bahagia mendapatkan semua nafsu duniawi itu! Apa adik tidak benar?'
'Lalu kamu ingin ayah bagaimana?'
'Ayah adik suruh menulis buku saja, ayah tidak menulisnya padahal ayah penulis. Adik suruh ayah mengabdi di sekolah ayah sendiri saja, ayah tidak mengabdi padahal ayah punya sekolahan. Adik suruh ayah puasa setahun saja, ayah tidak pernah puasa padahal itu ide ayah sendiri.'
'Ayah sedang sakit, jadi ayah harus minum obat, itu sebabnya ayah tidak puasa.'
'Ayah tahu kenapa ayah sakit? Itu karena ayah tidak puasa. Dulu ayah bilang jika adik adalah sesat dan kafir, hingga ayah ingin berpuasa setahun agar hati adik terbuka, sekarang bagaimana ayah bisa membuka hati adik dengan hati yang jauh lebih tertutup? Uh-huh?'
'Ayah tidak pernah menganggap adik sesat dan kafir!'
'Ayah itu bukan hanya bodoh lagi munafik. Ayah juga pelupa, buktinya sebenarnya sepedah itu ayah turunkan joknya bukannya dinaikan, tapi ayah sama sekali tidak pero . . .'
'Ayah membawa sepedah itu ke bengkel dengan menuntunnya. Apa kamu tega melihat ayah pulang dengan menuntunnya juga? Ayah 'kan kakinya pendek.'
'Siapa suruh ayah membawanya ke bengkel?'
'Kan ayah mengikuti kata-katamu untuk membetulkan sepedah itu.'
'Jika ayah membawa sepedah itu dengan mobil ke kota bersama adik, itu baru mengikuti kata-kata adik. Adik 'kan juga bisa membawanya sendiri jika hanya ke bengkel.'
'lalu mengapa kamu tidak membawanya sendiri?'
'Kan ayah sudah membawanya!'
'Nanti, jika ayah sudah meninggal, kamu akan menyesal telah memperlakukan ayah seperti ini.'
'Sebenarnya, adik akan meninggal lebih dulu dari pada ayah.'
'Jangan bilang seperti itu! Apa kamu ingin bunuh diri? Itu namanya melawan takdir Tuhan.'
'Tuhan pasti malu jika ada orang yang bisa melawan apa yang ditakdirkannya. Adik tidak percaya jika Tuhan itu memalukan.'
Akhbu masih memegang dadanya, ekspresinya menjadi memilukan, 'dada ayah sakit dik,' dia berdiri lalu membuka laci dan mengeluarkan amvelop, 'ayah di ronsen,' tunjuknya.
'Ayah sakit karena salah ayah sendiri, dan 13 tahun lagi adik akan meninggal, ayahlah yang akan menyesal karena tidak mengikuti adik, tapi itu lebih baik karena setelah adik meninggal ayah akan menulis buku, satu-satunya buku yang ayah tulis karena ayah tidak pernah menulis buku walaupun ayah sudah menulisnya. Jadi jam berapa ke toko Vinyl?'
'Nanti siang, setelah sembahyang Jum'at.'
'Beli semuanya! Setelah sembayang Jum'at, tapi hanya ayah yang sembahyang.'
'Beli satu.'
'Beli semuanya atau tidak sama sekali!'
'Ayah kemarin 'kan pulang karena ada alasannya, tidak bisakah adik memaafkan ayah?'
'Memaafkan ayah?'
'Iya.'
'Ayah pulang ke rumah hari rabu, minggu . . .'
'Ayah kan sakit ketika di jalan menuju sekolah, sehingga harus pulang. Apa kamu tega melihat ayah ambruk di tengah jalan?'
'Adik adalah orang yang tidak punya hati, tapi tenang saja karena adik bukan hanya tega kepada ayah, jadi ayah tidak sendirian. Adik tega terhadap Daindi karena dia ingin menghianati Gehutu sehingga adik sekarang sedang pura-pura di luar kota sehingga adik bisa melepas persahabatan. Adik tega terhadap Gehutu karena adik harus melepas persahabat dengan dia juga agar dia bisa mandiri padahal dia tidak salah apa-apa, kecuali menurut Daindi dia melambatkan kesuksesan kita bertiga. Adik tega terhadap ibu karena ibu harus mengeluarkan uang banyak karena kesalahan-kesalahan yang ayah perbuat. Adik hanya tidak tega terhadap kakak karena dia punya akal.'
'Adik memang sudah memaafkanya. Lalu ayah masuk ke kamar . . .'
'Memang apa salahnya? Ayahnya sendiri masuk kekamar anaknya sendiri?'
'Lalu ayah berbohong, karena ayah bilang cangkir itu di kamar adik, padahal cangkir itu di kamar mandi. Lalu ayah melipat seli . . .'
'Ayah tidak meli . . .'
'Ayah menggeser karpet kay . . .'
'Karpet kayu itu mengganjal pintu kam . . .'
'Adik sudah memaafkan semua itu. Semuanya hingga adik tahu bahwa ayah menurunkan jok sep. . .'
'Ayah kan sudah bilang jika kaki ayah pendek. Ayah tidak bisa menaiki sepedah itu jika joknya setinggi itu.'
'Belikan semua yang adik catat!'
'Memang apa salahnya ayah pulang kerumahnya sendiri? Apa kamu sudah lupa ayah itu orang tua kamu?'
'Dari dulu adik selalu menjadi pengingat yang baik, itu masalahnya. Adik ingat semuanya berbeda dengan ayah yang selalu lupa dan lupa jika ayah pelupa,' kali ini Bensyiana tidak hanya menghadapkan pandanganya saja tapi tubuhnya juga, 'ayah kira adik di rumah karena adik ingin? Dulu ketika adik ingin keluar kota untuk tinggal sendiri, berkali-kali ibu membawa adik, dibawa ke psikolog. Adik di bawa ke 5 psikolog, yang 2 menyerah, yang 1 menganggap adik idiot dan ayah tahu itu, ayah memendamnya hanya karena takut menyakiti hati adik padahal itu hanya menambah kebahagiaan adik. Idiot itu label yang sangat hebat dan ayah tidak tahu itu. Dia bahkan menduga adik seorang pecandu. Tapi ayah lupa jika yang 2 setuju dengan semua penjelasan adik. Salah satu psikolog itu bahkan meyakinkan ayah dan ibu agar mengikuti keinginan adik dan dia menawari dirinya sebagai konselor, bahkan menawari adik untuk ikut pelatihannya agar dapat menjadi psikolog seperti dirinya dan ayah sudah tahu jika adik lulus. Ketika dia meyakinkan itu, dengan mudahnya ibu bilang jika membuat rumah kosong itu hal yang mudah, tapi nyatanya ayah selalu mengganggu. Apa ayah tahu apa intinya?'
'Tidak ayah tidak tahu,' ayahnya menjawab dengan cepat bukan karena ayahnya ingin mengetahui jawabanya, tapi itu hanya sebuah sarkasme.
'Intinya adik jelaskan setalah ayah tahu jika ayah dan ibu sudah membawa adik ke 2 kiayi, dan yang satu bilang jika semuanya terserah adik dan yang satu lainnya bilang sebenarnya masalahnya terdapat pada ayah dan ibu, dan lebih baik adik kembali bersekolah agar damai. Jadi apa intinya?'
'Intinya ayah salah, ibu salah semuanya salah. Kamu selalu benar,' ayahnya tetap menjawab dengan nada sarkasmenya walaupun apa yang ditatap matanya adalah gramophone yang sudah sangat berbunyi membuatnya semakin pusing kepalanya, 'kepala ayah sakit nak.'
'Intinya ayah benar-benar pelupa dan tidak teliti, karena sebenarnya adik belum memberi tahu intinya. Bukannya ayah balik bertanya, ayah malah menjawab sendiri.'
'Ya, terserah kamu, apa intinya . . .'
'Intinya adalah, itu semua terjadi 3 tahun yang lalu dan adik hanya mendapati diri adik sendirian di rumah selama seminggu penuh baru 1 kali. Intinya jika ayah ingin menjadi orang paling hemat sedunia, beli semua yang adik catat, lalu ayah bisa mulai dari awal lagi tanpa membuat kesalahan sedikit pun.'
'Ayah tidak punya uang nak.'
'Ayah punya uang, buktinya adik hanya meminta susu 4 liter, telur 1 kg, tomat dan sayur, akan tetapi ayah memberi uang lebih dari itu setiap minggu.'
'Ayah kan tidak tega, barang kali adik butuh uang.'
'Apa lagi ibu, karena dia memberi uang jauh lebih banyak lagi.'
'Apa yang salah dengan itu semua, ibu hanya berpikir uang itu digunakan untuk berjaga-jaga barangkali kamu ingin jajan sesuatu.'
'Adik memang ingin jajan, karena itu adik tidak ingin di beri uang itu semua.'
'Ya jika adik ingin jajan tinggal jajan saja, mengapa harus repot-repot menahan-nahan?'
'Karena itu hal yang tidak berguna. Jika ayah dan ibu memberi uang, adik akan membeli Terang Bulan, dan itu akan membuat adik gemuk dan tidak sehat.'
'Tapi kamu sendiri sudah kurus nak.'
'Itu mengapa harus di pertahankan!'
'Ayah dan ibu memberi uang saku karena sayang kepada adik.'
'Ayah sekarang sudah mulai mengerti masalahnya ternyata. Jika ayah sayang adik, beri uang ketika adik meminta, itu lebih masuk akal. Sekarang ketika adik meminta, ayah pura-pura miskin seperti ini.'
'Tapi ayah memang tidak punya uang.'
'Jika ayah tidak punya uang, ayah akan bilang uang ayah habis. Siapa saja yang bilang tidak punya uang, itu artinya dia masih mungkin mendapatkan uang. Jadi siapa yang akan berangkat, adik sendiri atau ayah ikut?'
'Ayah ikut.'
'Beli semuanya!'
'Beli satu!'
'Beli semuanya atau tidak sama sekali karena adik akan memberi tahu ibu ketika ibu pulang dan ibu pasti akan memberikannya karena ibu punya akal sehat. Sepedah itu sendiri ibu belikan juga 'kan, karena ketika adik memutuskan untuk pergi, lalu adik memberi pilihan jika adik tetap, semuanya harus teratur dan membelikan sepedah sebagai gratitude.'
'Apa itu gratitude?'
'Gratitude itu adalah harga yang harus di tebus karena suatu kesalahan yang sudah terjadi karena hal yang diniatkan.'
'Jika beli satu, setelah sembahyang jum'at akan ayah belikan.'
'Adik sudah mencoba, tapi setiap ayah membeli satu, ayah selalu melakukan kesalahan lagi. Jadi adik ingin semuanya berakhir sekarang. Beli semuanya atau tidak sama sekali?'
'Beli satu.'
'Baiklah, adik selalu memberikan keringanan sepertinya kepada ayah, karena jika adik jahat, adik sudah meninggalkan ayah dari dulu. Beli semuanya kecuali yang Box!'
'Beli satu-satu saja nak. Jangan serakah!'
'Ayah yang serakah, karena ayah ingin memiliki adik seutuhnya. Adik tahu jika ayah sendirian karena ayah takut dengan apa yang berada di luar. Ayah takut apa yang diluar mempengaruhi ayah terhadap hal-hal buruk dan ayah takut adik terpengaruh oleh hal-hal itu, padahal apa yang terjadi adalah sebaliknya. Ayah ingin adik seperti ayah, berbeda dengan adik yang sendirian karena adik sudah mengkhatamkan apa yang berada di luar. Apa ayah tahu berapa jumlah CD dalam Box O'Fire?'
Akhbu diam melihat gramophone, dia bahkan hanya mendengar suara-suara angin yang mengganggu bukannya seharusnya mendengar suara sinfonie.
'12!' Tatapan Akhbu terlihat seperti kecewa, tapi Bensyiana membalas dengan luapan kekecewaan, yang tak sepertinya, 'bagai mana dengan The Old Master, apa ayah tahu jumlah CD di dalamnya?'
'Boleh dimatikan musiknya? Kepala ayah sakit,' mengelus-elus keningnya, memohon belas kasihan.
'Ayah selalu mengganti topik pembicaraan ketika ayah sudah sakit kepalanya. Ayah hanya tidak sadar jika yang membuat ayah kepalanya sakit adalah karena hati ayah berbeda pendapat dengan kepala ayah yang penuh perhitungan, menghitung-hitung hal yang terus merugikan padahal menurut hati ayah itu hal yang,' musik berhenti, Bensyiana baru mematikanya, 'adil.'
'Kepala ayah sakit nak!'
'The Old Master, berjumlah 22, sehingga jika dijumlah semuanya sama dengan 34. Jadi, karena kemurahan hati adik, ayah bisa pilih, membeli 34 atau hanya 3?'
'Ayah hanya bisa membelikan 1 nak. Kamu tidak kasihan kepada ibu yang mencari uang?'
'Adik kasihan, terbalik dengan ayah yang tega membuat ibu terus mengeluarkan uangnya karena kesalahan ayah terhadap kesepakatan.'
'Beli satu saja ya nak?'
'Adik bahkan sudah baik hati hanya 3 vinyl saja, dan ayah masih meminta satu.'
'Beli satu saja nak.'
'Jika beli satu maka akan rugi karena harus mengimpor, jadi lebih baik beli banyak.'
'Tidak papa rugi, beli satu saja.'
'Beli satu atau tidak sama sekali?'
Akhbu diam sejenak.
Bensyiana menunggu jawaban dengan jengkel.
'Tidak sama sekali.'
'Baiklah. Itu artinya, setelah adik pulang dari rumah Hortudukh, adik menganggap ayah bukan siapa-siapa. Adik akan terus di kamar ketika akhir pekan ayah berada di rumah, hingga ayah pergi. Adik tidak bertemu dengan ayah selama-lamanya. Ketika sudah waktunya, ayah akan tinggal dengan kakak, bukannya dengan adik. Ayah bukan siapa-siapa adik lagi walaupun adik tetap memanggil ayah, "ayah," karena susah menghilangkan kebiasaan,' Bensyiana memberikan tanganya untuk salaman, 'bersalaman!'
Akhbu diam lalu membuka mulutnya untuk berbicara tapi menahannya.
'Bersalaman!' Bensyiana menunggu jawaban ayahnya, tapi karena ayahnya tidak menjawab dia menarik tangannya kembali, memutar gramophone, kembali membaca buku. Mereka berdua dalam diam, kecuali hanya sejenak.
'Apa kamu sudah membeli tiket?'
'Kakak yang membelikannya.'
'Apa dia sudah membelikannya?'
'Adik tidak tahu!'
'Jika dia tidak membelikannya, ayah akan membelikannya.'
'Dia akan membelikannya,' Bensyiana menunggu pertanyaan selanjutnya tapi Akhbu diam dan Bensyiana kembali membaca dengan wajah yang jengkel karena dia sendiri gagal berkonsentrasi karena pikirannya dipenuhi oleh rencana-rencana yang akan ia lakukan setelah menganggap ayahnya bukan siapa-siapa lagu. Setelah itu, mereka berdiam kembali kecuali sejenak.
'Apa Hortudukh sudah dikabari untuk menjemputmu?'
'Tuh kan! Adik sedang membaca dan ayah berbicara, ketika seharusnya ayah berbicara ayah diam. Bersalaman!' Bensyiana memberikan tanganya untuk berjabat.
'Ayah minta maaf. Ayah selalu salah,' Akhbu memberi tangannya, tapi Bensyiana menarik tangannya kembali. Dia berkata dengan sangat serius bahwa, 'ini bukan jabat tangan saling memaafkan. Ini adalah jabat tangan jika ayah semua mengerti apa yang dikatakan adik sehingga adik tidak perlu meladeni ayah lagi seumur hidup. Ayah tidak ingat ketika adik mengajak kakak bersalaman dalam hal seperti ini?'
'Manusia kan harus saling memaafkan.'
'Adik sudah memaafkan ayah selama bertahun-tahun, jadi apa ayah akan membelikan semuanya atau tidak sama sekali dan bersalaman?'
Akhbu diam sejenak, memperhatikan tangan itu. Pikirannya yang takut, menenangkan dirinya sendiri dengan berpikir bahwa anak perempuan satu-satunya yang paling kecil tidak serius. Bahwa ia nanti akan berubah pikiran, suatu saat akan datang dan meminta maaf akan kesalahannya dan seperti ketika Bensyiana masih kecil, ia akan kembali kepangkuannya. Bahwa ia dapat berpikir seperti itu, bahkan berpikir; semua, apa saja yang dikatakannya hanya karena ia masih muda sehingga ia bersemangat karena belum merasakan kegagalan. Pikirannya salahnya berhasil menenangkannya sehingga mereka berdua bersalaman.
Ia tidak tahu bahwa Bensyiana membutuhkan waktu selama 4 tahun untuk melepaskan diri dari Daindi dan 19 tahun untuk melepaskan diri dari Ayahnya.
Bensyiana yang terlalu baik memiliki kebiasaan buruk dengan sulitnya dirinya bisa melepaskan diri dari hubungan yang buruk kecuali ia sudah menghitung dengan matang-matang bahwa kesalahannya benar-benar sangat banyak hingga mustahil orang itu akan berkutik ketika ditinggalkannya.
Akhbu tidak tahu sebenarnya Bensyiana menyesal mengapa ia tidak menuruti kata-kata Akhbu untuk membeli 1 saja, Karena jika ia mengikutinya, dia bisa mendapatkan minimal 1 box. Sayangnya Bensyiana tidak tahu bahwa Akhbu sedang berada dalam fantasinya.
Ketika Bensyiana masih kecil, mereka berdua menghabis waktu berdua dan dia pikir itu akan terjadi lagi ketika waktunya tiba sehingga dia tak perlu tinggal bersama kakak laki-laki Bensyiana Ul-Syeloff.