
Remi membuka mata perlahan merasakan silau matahari melalui sela2 gorden.
Kepalanya terasa berat dan pening.
Remi pun menggeser tubuhnya perlahan ke posisi terlentang.
Rasanya separuh nyawanya sudah melayang.
Dengan pelan Remi memusatkan pandangannya ke langit2 kamar.
Warna putih.Dengan lampu gantung kristal yang mewah.
Mewah???!
Remi langsung terlonjak kaget ke posisi duduk.
"arrgghh..." erang Remi sambil memegangi kepalanya.
"selamat pagi, Nona Muda..."
Beberapa pelayan wanita langsung menyerbu masuk dengan membawa masing2 paper bag.
Hah???
"saya akan menyiapkan air hangat untuk mandi anda..."
"ini gaun anda, juga sepatu dan perhiasan.."
"saya sudah menyiapkan make up anda, Nona..."
"Tuan sudah menunggu anda untuk sarapan di taman belakang..."
"mari, Nona... Essence apa yang anda suka untuk berendam? Saya akan menyiapkannya..."
Remi semakin pusing dengan pertanyaan dan beberapa pelayan yang tampak sibuk mondar mandir dihadapannya.
"saya pusing sekali..." keluh Remi
"aahh....saya akan menambahkan aromatherapy chamomile kalau begitu, supaya anda bisa relaks untuk menghilangkan pusing..."
pelayan ini gila , batin Remi.
"mari, Nona Muda...air nya sudah siap..."
"ayo bergegas, Tuan sudah menunggu..."
"aku bisa sendiri!!" teriak Remi saat 2 orang pelayan mendekatinya hendak membantu melepaskan bajunya.
"Nona Muda, Tuan menyuruh kami untuk membantu anda bersiap..."
"katakan pada Tuanmu, aku tidak butuh!"
"Nona, jangan persulit kami..."
"Hah??"
"kami bisa dipecat jika Nona Muda menolak pelayanan kami..."
"apa?"
"Nona...kami mohon..."
Remi mendengus sebal menatap para pelayan wanita yang berjajar dihadapannya.
Ooohh Tuhaann....cobaan apalagi ini...pekik Remi
********
Carlos berdiri di ujung tangga menunggu Remi yang berjalan pelan menuruni anak tangga satu per satu.
Pagi ini Remi memakai gaun terusan berwarna putih bersih sepanjang di atas lutut.
Gaun bertali kecil itu berhias pita dibawah dad@ Remi yang terbuka.
Rambut Remi dibiarkan tergerai, harum shampoo Chamomile.
Tindik berlian menghias telinga Remi.
Remi menolak saat pelayan akan memakaikan kalung berhias liontin berlian ke leher jenjangnya.
"selamat pagi, Nona Muda..." sapa Carlos tersenyum ramah
"selamat pagi, Tuan..."
"panggil saja saya Carlos, Nona..."
"Oohh...."
"Tuan sudah menunggu, mari ikuti saya..."
Remi pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Carlos yang akan membawanya menemui sang 'Tuan'.
Remi sampai terperangah saat keluar dari pintu kaca yang menuju ke arah kebun belakang.
Disana terdapat kolam renang juga berhias kebun bunga di salah satu sisinya.
Hamparan rumput jepang yang menghijau lembut terasa menggelitik kaki Remi yang hanya mengenakan flatshoes bertali saat berjalan diatasnya.
Ada sebuah set meja kursi berwarna putih di samping kolam renang.
Beberapa menu makanan terhidang di atas mejanya, dengan vas bunga berisi mawar putih yang segar.
"selamat pagi, Tuan..."
Carlos menyapa hormat sang Tuan yang sudah duduk angkuh di salah satu kursinya.
Tampak dingin tapi begitu rupawan dengan setelan jas berwarna hitam dipadu dengan kemeja putih bersih serta dasi bergaris hitam dan biru.
Sebuah jam tangan seharga mobil yang melingkar di pergelangan tangannya menambah aura kekuasaannya yang tak tersentuh.
"silahkan duduk, Nona Muda..."
Carlos menarik salahsatu kursi yang berada dihadapan sang Tuan.
Remi pun mengangguk dan segera duduk.
"ada lagi yang anda butuhkan, Tuan?"
"tidak, tinggalkan kami!"
"baik, selamat menikmati sarapannya, Tuan..."
Carlos menundukkan kepalanya hormat sebelum pergi.
Remi duduk dengan tegang dihadapan Duval yang menatapnya dengan tajam.
"well..."
Remi sampai menahan napas mendengar suara berat Duval.
"aku tidak salahkan? Kau memang berlian kumuh yang perlu dipoles..." kata Duval sambil meraih gelas berisi jus jeruk.
Duval senang pagi ini.
Make up flawless membuat wajah Remi yang muda belia tampak semakin cantik, rambutnya tergerai indah membingkai wajahnya yang halus.
Duval mengernyit saat melihat leher jenjang Remi yang tampak polos.
"dimana kalung yang aku berikan?"
"aku tinggal dikamar..."
"pakai!"
"aku tidak mau, Tuan Besar...!" tolak Remi
"aku tidak pernah menerima penolakan!"
"mulai sekarang belajarlah menerima penolakan Yang Mulia Tuan Besar!"
"apa?"
"aku bukan boneka yang bisa menuruti semua keinginanmu!"
Remi menatap nyalang ke arah Duval yang begitu tampan dihadapannya.
Duval duduk bersandar sambil memainkan dagunya yang licin karena sudah bercukur.
"menarik....selama ini tidak ada yang berani menentangku!"
"oh ya?? Haruskah aku bangga mendengarnya??"
Remi tersenyum mengejek sambil mengangkat gelas berisi air mineral di hadapannya.
"menarik!" angguk Duval menyeringai tampan.
Remi mengedikkan bahunya yang terbuka sambil menyuap salad sayur segar di mangkuknya.
"bagaimana kalau kita bunuh ibumu jika kamu membangkangku, Nona...?"
Remi langsung menghentikan suapannya.
"pasti sangat menarik, apalagi ibumu yang penyakitan akan lebih mudah beristirahat dengan tena..."
PLAK!
Entah keberanian darimana tangan Remi bisa melayang menampar wajah Duval hingga berpaling ke samping saking kerasnya.
"aku akan membunuhmu lebih dulu, Tuan Besar!" teriak Remi begitu keras.
Duval langsung berdiri, meraih tangan Remi dan mencengkeramnya erat.
"aku pastikan kau menerima balasan yang setimpal, Nyonya Randall!"
"apa??"
"kau akan menikah denganku secepatnya!"
"jangan bermimpi!"
"aku selalu mendapat apapun yang aku inginkan!"
Remi menatap mata biru Duval yang berkilat penuh amarah.
"aku tidak sudi menjadi istrimu!"
"aku tidak peduli, aku tidak butuh persetujuanmu!"
Duval menyentak lepas tangan Remi hingga Remi terhempas duduk ke kursinya.
"menikah denganku atau kubunuh ibumu?"
"apa?"
"pikirkan baik2,"
Duval merapikan jas nya dan beranjak pergi meninggalkan Remi.
"Dasar pria gila! Sinting! Aku tidak sudi menikah denganmu!!" teriak Remi keras
Remi menunduk menatap pergelangan tangannya yang memerah.
Sebulir airmata menetes ke pipi nya yang halus.
"ibu...." isak Remi
**********
Seorang security membukakan pintu mobil untuk Duval.
'' selamat pagi, Mr.Randall.." sapa security dengan hormat.
Duval hanya melirik sekilas dan berjalan melewati security memasuki lobi perusahaan miliknya.
Gedung pencakar langit berlantai 30 dimana semua pusat bisnisnya bernaung dibawah kekuasaannya.
Mike sudah berdiri di depan pintu lift khusus untuk CEO.
"apa jadwalku hari ini?" tanya Duval sembari menunggu pintu lift terbuka
"ada meeting dengan direktur keuangan pukul 10 nanti, Tuan...kemudian dilanjutkan dengan approve dokumen2 saja..."
Duval pun melangkah memasuki lift diikuti Mike.
"tolong urus pernikahanku,"
Mike langsung memalingkan wajahnya terkejut.
"iya,Tuan?"
"aku tidak suka mengulang perkataanku 2x Mike!"
"3hari lagi aku mau semua beres!"
Mike menelan saliva nya susah payah.
Tuannya ini ingin menikah? Tapi dengan siapa?
"ta-tapi Tuan...dengan sia..."
"dengan gadis yang kau culik kemarin!"
Mike langsung ternganga seperti ikan mas koki.
Tuannya yang berkuasa bahkan Tuhan pun tahu Tuannya ini bukan pria miskin, memilih gadis miskin untuk jadi istrinya??
Padahal banyak wanita2 cantik kelas atas yang silih berganti menggodanya pun tak ada yang menarik perhatiannya.
Apa yang dimiliki gadis miskin itu? Hanya anak seorang pelac*ur di tempat prostitusi kumuh.
Apa istimewanya gadis yang umurnya saja mungkin belum ada 20 tahun???
*******