
"selamat pagi, Tuan...."
Carlos, sang kepala pelayan tampak membungkukkan badannya hormat kepada seorang pria berpenampilan sempurna yang membalut tubuh tegapnya saat keluar dari lift mansion.
Duval Moreno Randall, pria berusia hampir kepala 4 yang masih gagah dan semakin tampan diusianya yang matang.
Carlos bergegas mengikuti Tuannya menuju ruang makan yang luas.
Duval pun duduk di kursi utama, di meja kursi makan yang muat untuk menampung 20 orang sekaligus.
Mata birunya menatap makanan yang terhidang, bermacam2 menu, padahal hanya untuk sarapan dirinya seorang.
"selamat pagi, Tuan Randall..." sapa Mike, sang asisten sambil membungkuk hormat.
"apa jadwalku hari ini?" tanya Duval sambil menyesap jus jeruk yang disediakan Carlos.
"kita akan meeting dengan perusahaan JC corp dan meninjau proyek di beberapa daerah, dan malam harinya, Tuan Juan mengajak anda untuk ke club baru miliknya..." terang Mike
"Hemm..." angguk Duval sambil menikmati sarapannya.
Setelah 3 suapan, Duval pun menghentikan sarapannya dan beranjak berdiri setelah menyesap habis jus jeruknya.
Duval pun beranjak pergi setelah mengancing jasnya.
Inilah salah satu orang terkaya, kekayaannya tidak akan habis beberapa generasi.
Perusahaan miliknya menguasai beberapa sektor, dan bisnis gelapnya pun menghasilkan jutaan dollar yang tak bisa diremehkan.
Beberapa pengawal tampak berbaris menyambut Tuan mereka yang melangkah keluar dari pintu utama mansion.
Salah satu dari mereka pun membukakan pintu mobil, dan Duval pun masuk ke sana, mobil yang akan membawanya ke perusahaan Randall co. , salahsatu perusahaannya yang bergerak di ekspor-impor.
"jalan," titah Duval dingin
"baik, Tuan.." angguk sopir patuh.
*****
"Remi!" teriak seorang wanita paruh baya melengking.
Tubuh gempalnya mencoba berlari mengejar gadis muda yang juga tengah berlari.
"maafkan saya, Mrs.Martha!" teriak gadis itu.
Aksi kejar2an pun menarik perhatian orang2 sekitar yang tinggal di daerah pemukiman kumuh itu.
"Remi! kamu harus membayarnya! atau aku buang barang2mu!!" teriak Martha
"aku janji ! aku akan membayarnya!!"
Gadis bernama Remi itu pun terus berlari menjauhi Martha yang sudah berhenti berlari dengan napas tersengal2.
Remi menghentikan larinya saat merasa Martha sudah tak lagi mengejarnya.
Remi terduduk di jalanan aspal mengatur napasnya yang terengah2.
"Ya Tuhan...rasanya ingin mati saja karena berlari..." keluh Remi sambil menepuk2 dadanya yang terasa sesak.
Setelah merasa lebih baik, Remi kembali bangkit, berjalan perlahan menuju ke sebuah gedung kuno berlantai 3 yang masih berdiri kokoh.
Remi perlahan memasuki pintu yang dijaga oleh pria berkulit hitam, berbadan besar dan bertampang sangar.
"hei anak kecil ! dilarang masuk kesini!!" sergah penjaga itu membuat Remi berjengkit kaget.
"aku hanya ingin menemui ibuku!"
Pria itu pun menatap Remi tajam.
Wajah yang cantik, hidungnya mancung tapi mungil, bibirnya merah alami dan mata bulat berwarna cokelat itu tampak berkilat menawan.
"siapa ibumu?!"
"Renatta!" teriak Remi jengkel
"Ooww...jadi kau anak Mrs. Renatta? pantas kamu cantik sekali..."
Remi mendengus sebal.
"masuklah, apa kau mau menggantikan ibumu??"
"sialaan !" umpat Remi sambil mengacungkan jari tengahnya.
Remi berjalan perlahan memasuki gedung yang tampak temaram.Bau asap rokok dan minuman keras terasa menyengat.
"hei, cantik...mau temani aku minum..?" salah satu pria mabuk menghampiri Remi,
"dalam mimpimu tuan!" bentak Remi sambil mengibaskan tangan si pria mabuk yang hendak menyentuhnya.
"Remi!"
"ibu!"
Remi langsung berjalan cepat menghampiri Renatta, mantan primadona di gedung itu.
Gedung tua yang menjadi rumah bord*l terselubung.
Remi menatap sang ibu.Kecantikannya mulai memudar karena penyakit paru2 yang membuat tubuhnya kurus dan layu.
"kenapa kamu kesini??" tanya Renatta menarik putrinya menjauh dan masuk ke dalam ruangan.
"Bu...ayo kita pulang..."
Renatta menghembuskan napas berat.
"Ibu tidak bisa, Re..."
"kenapa 'bu...??"
Renatta menatap nanar wanita berdandan menor dan berpakaian ketat yang tiba2 masuk.
"perjanjian apa 'bu??"
"ibumu tidak akan keluar dari sini sampai semua hutangnya lunas!"
"apa?"
"sudahlah, Rosa...anakku tidak ada urusannya..."
"berapa hutang ibuku??"
"kenapa? kamu mau membayarnya??"
"katakan saja!" teriak Remi
"seratus ribu dollar!"
Remi langsung membola, mulutnya terbuka lebar.
"se-seratus ribu....??"
Tubuh Remi langsung luruh ke lantai.
Rosa tersenyum miring, menatap ibu dan anak yang sama2 terduduk di lantai.
"pulanglah...ini tidak ada urusannya denganmu..." pinta Renatta menarik tangan Remi.
"kenapa hutang ibu bisa banyak sekali??"
"sudahlah...pulanglah..." usir Renatta memukuli lengan Remi.
"ibu...!!" pekik Remi hampir menangis.
Kenapa hidup begitu kejam padanya? pada ibunya??
"hei...aku punya tawaran..." seru Rosa
"pergilah Rosa!" bentak Renatta
"anakmu bisa gantikan dirimu! pasti lebih laku Renatta!" sadis Rosa tersenyum licik
"pergi!" usir Renatta
"apalagi anakmu masih perawan, pasti harganya tinggi!!" imbuh Rosa dengan tertawa keras
"pergi kamu jal*ng !!" teriak Renatta
"huh, kamu juga jal*ng sialan!" maki Rosa
Renatta pun melepas sepatunya dan melemparkannya pada Rosa.
"awas kamu!" umpat Rosa melenggang pergi
Renatta menahan dadanya yang terasa sesak.
"ibu...."
"pergi dari sini!"
"aku tidak mau bu!!"
"pergi!! sejak kapan kamu jadi anak pembangkang?!"
Remi tersentak kaget.
Sambil berlinang airmata, Remi bangkit berdiri, dan berlari keluar meninggalkan Renatta sendiri.
Renatta pun terbatuk2 saat sudah tak kuat lagi menahannya.
"maafkan ibu...maafkan ibu 'nak...."
airmata Renatta mengalir melihat telapak tangannya yang sudah ternoda darah.
*****
Remi terduduk di kursi taman.
Pandangannya kabur oleh air mata yang tak mau berhenti menetes.
Tuhan...kenapa diriMu begitu kejam? kenapa hidup selalu terpaku pada uang dan uang??
Remi mengusap airmata nya dengan punggung tangan.
Segerombolan gadis2 lewat di depan Remi.Mereka tampak asyik bersendau gurau.Penampilan mereka modis khas mahasiswi.
Remi menekan dadanya yang terasa nyeri.Rasa iri hati menghunjam tepat di jantungnya.
Kenapa hidup rasanya tidak adil? Remi pun ingin merasakan kehidupan seperti mereka.Bisa menjadi mahasiswi, menikmati masa2 sekolah, pergi dengan teman2 gadis seusianya, dan berbicara tentang pria2 tampan yang menjadi idola.
Jangankan bisa bersekolah di universitas, Remi bisa lulus dari sekolah menengah atas pun harus bersyukur.
Ibunya bekerja di rumah bord*l, sementara Remi pun tak tahu siapa ayahnya, karena ibunya selalu bilang ayahnya sudah mati sebelum Remi lahir.
Remi menghembuskan napasnya, menatap langit yang begitu biru, cerah tidak seperti hidupnya yang kelam.
"jika aku menjadi wanita kaya raya, aku ingin membangun sebuah gedung besar, aku akan menolong semua orang yang memiliki hidup seperti hidupku sekarang ini..." batin Remi dalam hati.
Remi tersenyum sendiri, mengingat keadaannya yang menyedihkan.
Lalu bagaimana caranya ia bisa menjadi wanita kaya raya??? impossible Remi....
arrrghhhhh sialllaaannn..!!! jerit Remi dalam hati.
******