
"aduuh...perutku lapar sekali..." keluh Remi memegangi perutnya yang terasa perih dan terus berbunyi.
Remi melangkah menuju ke bangku dibawah pohon rindang di salah satu sudut taman kota.
Remi memandang sekitar, entah kenapa tampak begitu ramai.
Banyak mobil2 yang terparkir, ada juga beberapa mobil model van dengan logo perusahaan siaran televisi ternama.
"dengar2 akan ada Mr. Randall.."
"benarkah??"
"yap! Mr. Randall adalah penyumbang terbesar untuk proyek taman kota ini!"
" Oh my Gosh !! sudah kaya, tampan !!"
Remi mendengarkan pembicaraan segerombolan wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Remi pun semakin penasaran saat melihat beberapa mobil berhenti dan banyak pria berpakaian hitam2 turun dari sana.
Kemudian di susul dengan sebuah mobil sedan mewah yang berhenti.
Remi membola sempurna melihat sosok yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.
Dia ???
Remi melihat bagaimana pria yang ditemuinya kemarin malam begitu tampak di hormati dan di puja.
Hampir semua orang yang datang di taman kota tampak berdesakan untuk dapat melihatnya, bahkan memotret sosoknya.
" sebenarnya siapa dia ya ?" gumam Remi penasaran.
Rasa penasaran membuat Remi tanpa sadar berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas.
Brukk!
"dasar gadis kumuh! minggir!"
Remi yang sudah terjatuh pun menerima makian dari seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dengannya.
Remi menggigit bibirnya sambil membersihkan baju kumalnya yang kotor.
"apa kau baik2 saja?"
Remi mengangkat wajahnya. Dan betapa terperanjatnya Remi melihat siapa yang mengulurkan tangan padanya.
"a-ku...eh..sa-ya baik..Tu-Tuan..." gugup Remi saat semua perhatian tertuju ke arahnya.
"apa kau bisa bangun?"
Remi mengangguk pelan.
Duval membantunya berdiri. Remi tampak meringis saat merasakan nyeri di kakinya, yang ternyata terluka.
Tanpa aba2, Duval mengangkat tubuh Remi dengan gaya bridal style.
Para wanita pun menjerit melihat aksi Duval yang membopong tubuh Remi dan melangkah pergi, menjauh dari kerumunan.
"aiisshhhh....sungguh keren sekaliii..." pekik beberapa wanita.
Remi yang berada dalam dekapan Duval menjadi salah tingkah.
Dekapan yang hangat.Tubuh gagah yang harum.
Remi melirik ke atas, ke rahang kokoh Duval yang berwajah dingin dan datar.
"Tuan?" Mike tampak kaget melihat Duval membopong seorang gadis berjalan mendekat ke arahnya.
"kita pergi!"
Mike langsung mengangguk dan mengerahkan para pengawal.
******
Remi memandang ke sekeliling saat memasuki mansion milik Duval.
"panggil pelayan wanita untuk membantu membersihkan dirinya!" titah Duval begitu memasuki mansion.
Carlos pun langsung tergopoh2 memanggil2 beberapa pelayan wanita.
"Tu-tuan...saya tidak apa2, sungguh..."
"aku tidak pernah di tolak seumur hidupku, Nona Muda!" kata Duval dengan tatapan tajam.
Remi menelan saliva nya dengan ketakutan.
"mari, Nona...mereka akan membantu anda..."
Carlos datang dengan di iringi beberapa pelayan wanita.
"ta-tapi ..."
"pergi!" seru Duval dengan suara menggelegar memenuhi mansion.
"mari, Nona.."
Remi pun dengan lemas mengikuti para pelayan menaiki tangga yang entah akan membawanya kemana.
"Tuan..."
"bagaimana?"
"saham kita naik 20% sejak video anda diunggah ke media sosial..." terang Mike.
"dengan begini reputasiku semakin tak tercela, Mike ..." kekeh Duval.
"anda memang hebat, Tuan..."
*****
Para pelayan wanita mendecak kagum saat melihat penampilan Remi.
Kini Remi seperti cinderella, yang pada saat datang tampak kumal, kini sudah berubah menjadi Nona Muda kelas atas yang anggun.
Rambutnya digerai setelah di beri kesan curly pada ujungnya, mengenakan dress tanpa lengan berwarna biru dengan hiasan pita dibagian bawah dada, yang serasi dengan sepatu heels 5 centi yang dipakainya.
Sempurna! decak para pelayan wanita.
"seharusnya ada berlian dilehermu..."
Serentak mereka menoleh bersamaan ke sumber suara.
"kami permisi, Tuan..."
Remi berdiri gugup saat melihat Duval berjalan mendekat ke arahnya dan akhirnya berdiri dengan jarak yang dekat.
"well...ada yang ingin kamu katakan?"
"terimakasih, Tuan...anda sudah menolong gadis kumuh ini.." ucap Remi getir sambil menundukkan kepalanya.
Duval mengulurkan tangannya, dipegangnya dagu Remi supaya terangkat wajahnya untuk bisa ditatapnya.
"apa kamu tahu, kamu adalah sebongkah berlian yang belum bertemu dengan seseorang yang bisa memolesmu?" kata Duval menatap mata bening Remi dengan mata biru nya yang tajam.
"anda terlalu berlebihan, Tuan..." geleng Remi pelan seraya tersenyum.
"benarkah?" Duval menaikkan sebelah alisnya.
Remi semakin melebarkan senyumnya.
"saya cuma gadis kumuh, Tuan...ibu saya wanita penghibur di rumah bord*l, dan sialnya saya juga ikut bekerja di sana untuk membayar kontrakan dan makan...lalu? bagaimana mungkin jika saya adalah berlian?" jelas Remi
Duval tertegun mendengarnya.Rahangnya pun mengetat.
"berapa harga saat kau melayani tamu?" tanya Duval dengan napas berat
"mahal...mahal sekali, Tuan...."
"cih, sebutkan saja! tidak ada yang tidak bisa kubeli di dunia ini !" angkuh Duval
"saya tidak menjual tubuh, karena itu adalah harga diri saya yang tersisa..."
Mata biru Duval menggelap mendengar penuturan Remi.
"apa saya boleh pulang, Tuan?" tanya Remi melepaskan tangan Duval yang masih mengamit dagu indahnya.
"aku akan membayarmu $1 juta untuk perawanmu...." kata Duval
Remi menggeleng dan tertawa kecil.
"terima kasih, Tuan...maaf, saya tidak menjualnya..." geleng Remi lagi.
Duval menatap Remi yang perlahan menjauhinya.
"jadilah istriku!"
Remi pun berhenti melangkah, jantungnya serasa berhenti berdetak.
Ditariknya napas dalam2 dan menghembuskannya perlahan.
"sudah cukup hidup ini mempermainkan saya, Tuan...tidak juga anda..." kata Remi
Remi pun meraih handle pintu, dan berjalan keluar.
"cih, sombong sekali dia! lihat saja, gadis kecil, kau akan kubuat bertekuk lutut memohon padaku!"
*******
"dasar pria gila! kamu pikir aku wanita murahan?!"
gerutu Remi sambil berjalan menuju kontrakan rumahnya.
"wah...wah, Remi??"
Remi berhenti melangkah,
"bagus sekali gaunmu?? dan juga tampak ma-hal! darimana kau mendapatkannya??"
"itu bukan urusanmu, Mrs.Martha..." ketus Remi
"Ooww tentu saja urusanku!" sengit Mrs.Martha
"apalagi....?" ucap Remi malas
"apa benar kau bekerja di rumah bord*l?"
"itu bukan urusanmu lagi, Mrs.Martha! urusanmu denganku hanya bayar sewa!"
"Wah2 berani sekarang kamu ******* kecil!"
"apa?" Remi menaikkan sebelah alisnya
"ternyata anak dan ibu sama saja!"
"apa maksudmu??"
"setelah ibumu pensiun menjual diri, ternyata digantikan olehmu?? well...well...ibu dan anak sama2 haus belaian laki2! murah..."
PLAK!
Wajah gemuk Mrs.Martha sampai menoleh ke samping karena tamparan keras Remi.
"kamu boleh menghinaku sesuka hatimu, tapi tidak ibuku!" teriak Remi
"jika bukan karena beban membayar kontrakanmu, aku juga tak sudi bekerja di sana!!"
Remi langsung memasuki rumah dengan membanting pintu, dan segera dikuncinya.
"dasar ja*lang kecil!! awas kamu !! aku akan membuat perhitungan denganmu!!"
Mrs.Martha terus berteriak2 marah.
******