Sweet Scars

Sweet Scars
#SS 2



"permisi, Tuan...."


"ada apa, Maria?" Mike menjawab Maria yang membuka pintu ruang kerja Duval.


"Tuan Juan ingin bertemu, Tuan Mike...beliau saya minta menunggu di depan.."


Mike menatap Duval yang tampak duduk bersandar sambil menatap layar laptopnya.


"suruh dia masuk," titah Duval tanpa mengalihkan pandangnya dari layar.


"baik, Tuan Randall...permisi," pamit Maria


Tak berselang lama, muncul sesosok pria tampan berambut cokelat dengan mata berwarna hijau.


Senyum menghiasi bibirnya, menambah kadar ketampanannya.


"selamat siang, Tuan Juan.." sapa Mike hormat


"siang juga, Mike...bagaimana kabarmu?"


"baik, terimakasih," jawab Mike sopan


"ada apa kemari?" tanya Duval masih saja menatap layar laptopnya.


"hanya memastikan kamu akan datang ke klub ku nanti malam..."


"cih, membuang waktuku saja," decih Duval


"heiii!!" seru Juan tidak terima.


"apa??" Duval menatap Juan dengan mata biru nya yang tajam.


"ada hal lainnya juga,sialan!"


"jika tidak penting aku akan pergi,"


"bantu aku membebaskan lahan,"


Duval berhenti mengancing jas nya.


"aku ingin membeli lahan tapi pemilik rumah bord*l sialan itu tak mau melepasnya!"


"kirim saja datanya, Mike akan membereskannya,"


Senyum Juan mengembang.


"kamu memang sahabatku, Duval..."


Duval hanya melirik Juan dan segera berlalu.


"aisshh dasar pria arogan!" dumal Juan yang mengikuti Duval keluar dari ruangannya.


*****


"Remi !! buka pintunya!!"


Remi yang membuka matanya yang terasa berat mendengar pintu rumahnya di gedor2 dengan kuat.


"argghhh kenapa dia datang lagi?!" pekik Remi


"buka Remi!! atau aku dobrak paksa!!"


Remi pun turun dari ranjang reyotnya, dan berjalan dengan malas ke arah pintu.


"Mrs. Martha...aku belum punya uang..."


"kemasi barangmu!!"


"Mrs. Martha...beri aku waktu lagi..."


"sudah tidak ada waktu lagi !!"


Remi menarik napas kalut.


"bagaimana kalau anda bawa televisi saya dulu, dan aku akan menebusnya besok..."


Martha menatap Remi yang tampak memelas.


"apa kamu tidak akan bohong lagi??"


"aku akan cari uang, bukan kebohongan..."


Martha menaikkan sebelah alisnya.


"oke, aku pegang kata2mu! jangan coba2 membohongiku Remi!" sentak Martha dan berjalan masuk untuk mengambil televisi


"beri saya waktu 1 bulan..."


"ngelunjak kamu! 1 minggu !"


"2 minggu Mrs. Martha...saya mohon,.."


"1 minggu atau angkat kaki sekarang !"


Remi pun menunduk pasrah.


"ingat Remi, 1 minggu lagi aku datang mengambil uangnya!"


Martha pun meninggalkan rumah kontrakannya sambil membawa televisi Remi pergi.


"arrrrgghhhh dasar mak lampir sialan!" maki Remi


mengacak2 rambutnya jengkel.


Darimana ia bisa mendapat uang dalam 1 minggu??


Menemui ibunya pun juga tak mungkin, karena pasti ia akan semakin stress dengan beban pikiran.


Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? teriak Remi dalam hati.


*****


"aku tidak akan melepas gedung ini, Tuan, ini lahanku mencari dollar!"


Mike sudah habis kesabaran menghadapi pria bernama Pablo ini.


Pablo adalah pemilik gedung, tempat rumah bord*l dimana Renatta bekerja.


"kami sudah memberi harga di atas dari harga yang kau minta!" kata Mike berang


"itu harga gedung, apa anda tidak memikirkan nasib anak buahku kehilangan pekerjaan?" senyum Pablo licik


"kami tidak bisa lebih dari harga tadi!"


"aku tidak memaksa, Tuan yang terhormat!"


Mike mendengus jengkel, dan berjalan menuju mobilnya.


Diraihnya ponselnya dan menghubungi Juan.


"ada apa, Mike?"


"maaf, Tuan...rupanya pemilik gedung orang yang licik," lapor Akira


"saya sudah memberi harga sesuai dengan perintah anda," imbuh Akira.


"argghh...ingin rasanya ku temb*k pria itu!" teriak Juan dari seberang membuat Mike menjauhkan ponselnya.


Mike pun memutuskan sambungan daripada telinganya sakit mendengar Juan yang berteriak2.


"dasar!" dumal Mike dan melajukan mobilnya pergi.


******


Rosa berhenti melangkah dan memutar tubuhnya menghadap Remi yang memanggilnya.


"apa kamu??" judes Rosa menatap Remi


"aku ingin bicara!" kata Remi berjalan mendekat


"aku tidak ada waktu anak kecil!"


Dengan berani Remi meraih tangan Rosa, mencegahnya pergi.


"aku mohon, Nona..." pinta Remi memelas


"lepaskan tangan kotormu," sentak Rosa


"Nona...beri aku pekerjaan..."


Rosa mengangkat sebelah alisnya.


"disini tidak butuh pembantu!"


"aku bisa mengerjakan apa saja.."


"apa kamu tidak takut dengan ibumu??"


"jangan beritahu ibuku..."


Tiba2 Rosa tersenyum licik.


"atau kau mau menggantikan melunasi hutang ibumu...?"


Remi menelan saliva nya takut.


"aku mau jadi pelayan saja..." lirih Remi


"tidak ada lowongan pelayan disini..."


"ada apa sayang??"


Seorang pria datang mendekati mereka.


Rosa dan pria itu berciuman di depan Remi tanpa tahu malu.


"Pablo sayang....anak ini bersikeras meminta pekerjaan..." ucap Rosa sambil bergelayut manja.


Pablo menatap Remi dari atas ke bawah.


Dekil, tapi jika di poles boleh juga...batin Pablo.


"wajahmu tak asing??" kata Pablo tersadar sesuatu


"sayang...dia anak jal*ng tua mu..."


arrghh,, ingin rasanya Remi mencakar wajah Rosa jika ia tidak ingat butuh uang untuk melunasi Mrs.Martha.


"benarkah?? kamu anak Renny??"


"iya Tuan..." angguk Remi


"dia bisa jadi ladang uang kita, dia masih perawan.." bisik Rosa membuat Pablo membola.


"berilah aku pekerjaan, Tuan..."


"aku bisa kena sanksi memperkerjakan anak dibawah umur!" tolak Pablo


"saya sudah 18 tahun..."


Pablo dan Rosa sama2 tersenyum licik.


"saya mohon Tuan...."


Pablo menatap Remi sambil bersedekap.


"aku hanya punya pekerjaan seperti ibumu, bagaimana?" tawar Pablo


Remi lagi2 menelan saliva takut.


"apa...apa tidak ada yang lain, Tuan..."


"tidak ada, kamu boleh pergi jika tidak mau!"


Pablo pun memutar tubuhnya hendak meninggalkan Remi.


"a-aku mau, Tuan...tapi saya mohon jangan pertemukan aku dengan ibuku..."


Pablo menyeringai mendengarnya.


"ikutlah Rosa, dia akan membantumu!"


Pablo pun melangkah pergi dengan tersenyum membayangkan lembaran2 dollar jika berhasil menjual Remi.


*****


"kamu istirahat saja!"


Renatta menghentikan kegiatannya memakai lipstik berwarna merah menyala, mendengar suara seorang pria yang berdiri bersandar di pintu.


"hutangku akan semakin lunasnya jika aku beristirahat sekarang!" tolak Renatta


"cih! masa emasmu sudah berlalu Ren!"


Pablo melangkah masuk, menatap Renatta, primadona rumah bord*lnya dimasa lalu itu dengan pandangan mencemooh.


"tapi aku masih punya banyak pelanggan setia sampai sekarang, Pablo..."


Pablo tertawa keras.


"istirahatlah, selagi aku bermurah hati padamu,"


kata Pablo sambil setengah tertawa menghina


"aku tetap akan..."


"dengarkan aku sialan! istirahatlah malam ini, aku punya barang baru yang bisa menggantikanmu!"


"apa?"


"ingat Renny, aku tak ingin berbuat kasar, jadi menurutlah!" ancam Pablo menatap tajam Renatta.


"apa maksudmu barang baru??"


"kau tak perlu tahu! tugasmu hanya menuruti semua perintahku!"


"ya dan bunga hutangku semakin membengkak!"


Pablo langsung mencengkeram pipi tirus Renatta yang berwarna merah karena blush on.


"aku bos nya Renny dan kau? cuma jal@ngku yang memaksa untuk laku!!" desis Pablo


"malam ini aku tak mengijinkanmu keluar, ingat itu!"


Pablo melepaskan cengkeraman tangannya dan memutar tubuh berbalik untuk keluar ruangan.


arrrgghhhhh dasar bedeb@h sialan !


******