
"Mike, ke ruanganku sekarang!"
Duval mematikan interkom dan duduk bersandar di kursi kebesarannya.
"selamat siang, Tuan..." sapa Mike setelah mengetuk pintu.
"masuklah!"
Mike pun memasuki ruang kerja Duval yang luas.
"apakah anda membutuhkan sesuatu, Tuan?"
"ya, aku ingin kau mencari informasi tentang gadis itu.."
" gadis?"
"gadis yang kutolong saat di taman.."
Mike menatap terkejut Tuannya itu.
"aku ingin besok pagi laporan tentang gadis itu sudah berada di atas mejaku!"
Mike mengangguk patuh.
"ada lagi, Tuan?"
"hubungi Juan, apakah dia masih berminat untuk membeli kawasan rumah bor*dil itu, jika dia masih berminat, aku akan membantu menghancurkannya.."
Mike menelan saliva takut melihat seringai di wajah tampan Tuannya itu.
"baik, Tuan..."
"pergilah,"
Mike mengangguk dan kembali keluar ruangan.
*****
"Duval mau membantuku?"
Juan yang duduk di kursi kerjanya menatap Mike tak percaya.
"benar, Tuan.." angguk Mike
"kamu sudah tahu sendiri bagaimana pemilik rumah bord*il itu kan?"
"Ya,Tuan...dan Tuan Duval akan melakukan apa pun untuk membantu anda memiliki kawasan itu..." jelas Mike
"woaahhhh..." Juan sampai bertepuk tangan.
"bagaimana Tuan? kapan saya bisa mulai membereskan rumah bord*il itu...?"
Juan menatap Mike dan tersenyum menyeringai.
"lebih cepat lebih bagus Mike!"
Mike pun tersenyum, dan beranjak berdiri dari kursinya.
"seminggu dari sekarang?" kata Mike
"aku tunggu,"
Juan pun menjabat tangan Mike.
******
Remi memantas sekali lagi dirinya di depan cermin buram yang berada di ruang ganti pelayan.
Remi menghembuskan napasnya dan beranjak keluar dari sana.
"lama sekali! ini antar ke meja no 15!"
Tergagap Remi menerima baki berisi minuman ker*as.
Remi menghentikan langkahnya melihat siapa yang terduduk di sana.
Seorang pria separuh baya yang duduk bersama ibunya! Astaga!!!
"hei!!! mau kemana kau! mana minumanku?"
Si tamu berteriak marah melihat Remi yang kembali memutar balik tubuhnya.
Bagaimana ini? batin Remi panik.
"hei!!! apa kamu tuli???"
Tuhaaannnnn.... pekik Remi dalam hati.
Tangannya mulai bergetar dan berkeringat dingin.
Tiba2 saja pundaknya di tarik paksa untuk berbalik.
"Remi??!"
Remi menggigit bibir bawahnya mendengar teriakan nyaring ibunya.
"apa yang kau lakukan disini??"
"aku bekerja 'bu..." lirih Remi
Renatta yang hendak memarahi putrinya menutup mulutnya kembali karena terdengar keributan dari pintu masuk.
"mana pemilik rumah bord*il ini?!"
"sial! ada apa ini??"
Para tamu pun berteriak marah saat segerombolan pria berjas hitam memasuki rumah bord*il.
DOORR!!
Satu tembakan dari pistol salahsatu milik pria berjas hitam meletus ke arah atas dan mengenai langit2 yang terkelupas catnya.
Semua orang pun langsung berlutut ke lantai sambil menutupi kepala mereka.
"heiii ada apa ini??"
Pablo keluar dari ruangannya dan berteriak marah.
"siapa kamu?"
"aku pemilik gedung ini!"
"bawa dia!"
2 orang pria berjas pun langsung mencekal tangan Pablo.
Remi yang bersembunyi di bawah meja memandang ketakutan.
"siapa kalian?! kenapa membawaku??!"
"diam! atau aku lubangi mulutmu!"
Pablo terus meronta saat di seret paksa.
Rosa yang melihat semuanya hanya menutup mulutnya ketakutan.
"ada apa ini??!" teriak Pablo.
"masuk!" titah pria berjas sambil menodongkan senjatanya di belakang kepala Pablo, memaksanya masuk ke dalam mobil.
"selamat malam, Tuan Pablo..."
Pablo sampai bergidik ngeri saat masuk ke dalam mobil yang sudah berpenghuni.
"siapa kamu?" tanya Pablo memicingkan matanya, mencoba memperjelas pandangannya.
Suasana mobil yang temaram, membuat wajah lawan bicaranya tampak buram.
"tidak perlu tahu siapa aku, kamu cukup mematuhi perintahku..." kekeh Duval sambil menghisap cerutu mahalnya.
"aku tidak ada urusan denganmu, Tuan!"
"ck, tentu saja ada karena aku akan mengambil alih gedungmu..."
"hahaha...jangan membuatku tertawa, Tuan! aku tak berminat menjualnya!"
"oh ya?"
"tentu saja, Tuan! sekalipun anda memberiku jutaan dollar!"
"ckck, bagaimana kalau kau ku jebloskan dalam penjara?"
"apa?" Pablo menaikkan alisnya.
"apa kau tahu, bisnis esek2 ladang uangmu itu melanggar hukum? dan akan sangat menyenangkan jika aku melaporkannya.."
Pablo menelan saliva nya kasar.
"pilihan ada ditanganmu...serahkan gedung itu atau kau mendekam di penjara?"
Duval mengintimidasi Pablo dengan tatapan mata birunya yang tajam dan kejam.
"aku tidak akan pernah menyerahkan gedung itu!"
desis Pablo dengan suara yang bergetar.
Duval menyeringai mendengar tolakan mentah2 Pablo.
"urusan kami sudah selesai, bawa dia keluar!"
Sementarra di dalam, keadaan masih sama, orang2 bersembunyi di bawah meja, dengan ketakutan menatap pria2 berjas hitam yang tampak beringas.
"Remi! kau mau kemana?" pekik Renatta melihat Remi beranjak bangun dari bawah meja.
"aku mau keluar bu," kata Remi berdiri dan langsung mendapat tatapan tajam dari para pria berjas hitam.
Dengan langkah berani, Remi berjalan menuju pintu utama, dan yang mencengangkan, para pria berjas hitam cuma memandanginya.
Pablo yang keluar dari mobil tersenyum miring.
Berjalan dengan congkaknya sambil membetulkan jas usangnya.
"tembak dia,"
DOR!
"aaarrgghhhh!!!"
Remi yang berada di pintu utama melebarkan matanya melihat Pablo yang berhenti melangkah ke arahnya.
Sepersekian detik tubuh Pablo tumbang dengan bersimbah darah.
"aaaaaaaahhhh!!!"
Remi menjerit histeris.Pablo tewas dihadapannya.
Duval yang mendengar teriakan pun turun dari mobil.
Mata birunya memandang tajam ke arah Remi yang bersimpuh sambil menutup mulutnya.
Airmata terus membanjiri wajahnya yang halus.
Duval menyeringai melihat Remi yang tampak gemetaran.
"bawa dia!" titah Duval
Remi yang mendengar langsung membulatkan mata.
Remi menepis tangan salah seorang pengawal Duval yang hendak menyentuhnya.
"jangan sentuh aku, brengs*ek!" maki Remi
Remi beringsut berdiri masih dengan wajah penuh air matanya.
"turuti perintah Tuan kami, Nona muda!" hardik salah satu pengawal.
"aku tak sudi menurut pada pembunuh!" tolak Remi.
Duval menyeringai mendengarnya.
"aku hanya membunuh orang2 yang tak mau menurut.."
"lebih baik aku dibunuh daripada ikut denganmu!"
ketus Remi sambil mengangkat dagunya angkuh.
Duval menyeringai dan membuang cerutunya kasar.
Dengan cepat di raihnya senjata salah satu anak buahnya, segera di arahkannya dimana Remi berdiri menantangnya.
"aku turuti permintaanmu gadis kecil!" kata Duval
Remi membola saat senjata yang berada dalam genggaman Duval bergeser pelan.
Remi memutar tubuhnya.
"ibu!!" pekik Remi
Tubuh Renatta di tarik paksa salahsatu pria berjas hitam itu.
"apa yang kau lakukan?! lepaskan ibuku!!" teriak Remi melihat tubuh Renatta yang di sekap.
"ikut aku atau aku lubangi kepalanya?"
Remi meronta saat tubuhnya di pegangi 2 pengawal dengan erat.
"dasar baji*ngan! kepa*rat!!" maki Remi terus meronta.
"Remi..." lirih Renatta
"lepaskan ibuku! dasar pecundang!!pengecut!!"
Remi terus meronta2 yang akhirnya dengan terpaksa salah seorang pengawal Duval memukul tengkuknya hingga tak sadarkan diri.
"Remi???!!!"
*******