Sugar B [BL]

Sugar B [BL]
SUGAR B 08



Bisma terus saja menyudutkan Fajar. Fajar? Tentu saja dia cuma bisa pasrah. Fajar bisa apa untuk melawan seorang Bisma? Dia tidak punya apa-apa. Uang sepuluh ribu saja dia harus berhutang. Huh, mencoba melawan Bisma sama saja dengan membuat orang lain menertawakan dirinya. Siapa perduli? Biarlah Bisma berbuat sesuka hati. “Gue musti ngasih lu perhitungan,“ ucap Bisma menatap Fajar nyalang. Fajar malah tersenyum. “Gue terima. Terserah lu mau ngapain gue,“ ucap Fajar pasrah. Bagaimana bisa Fajar berkata seperti itu dengan mudah? Dia terlihat tidak takut sama sekali. Cuih! Perduli apa memangnya si Bisma?


Bisma pun mendorong Fajar hingga membuat Fajar jatuh tersungkur ke lantai setelah menimpa kursi. Fajar sempat meringis kesakitan, lalu bangkit sendiri. Sedangkan Bisma keluar dari kelas ini begitu saja sambil menendang beberapa meja. Hanifa memperhatikan mimik wajah Fajar sedari tadi. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Fajar. Satu mingguan ini Fajar terlihat datar dan tidak bersemangat. Jangan bilang kalo lu..?, batin Hanifa. Jangan sampai apa yang Hanifa pikirkan saat ini benar adanya.


Suara Hanifa menggema di seluruh ruangan rumah; memanggil-manggil sang ayah. “Ifa? Kamu kenapa manggil-manggil papa kek gitu, nak? Hus, pelanin suara kamu,“ tegur Darmi, sang ibu. Darmi sedang mengelap kitchen set setelah memasak beberapa menu masakan. “Papa mana?“ tanya Hanifa. “Tuh,“ sahut Darmi sembari mengangkat dagu sedikit sebagai isyarat memberitahu keberadaan Istadi, sang ayah. “Kenapa manggil-manggil papa? Hm? Ganti baju aja belom kamu, Fa?“ ucap Istadi menuruni anak tangga.


“Pa, ada yang mau aku omongin sama papa, penting,“ ucap Hanifa serius. Hal ini berkaitan dengan Fajar. Bagaimana pun Fajar adalah sahabat karib Hanifa di sekolah. Jujur sampai saat ini ia belum tau, apa yang telah menimpa Fajar, hingga membuat dia berubah drastis seperti itu. Terutama perubahan emosional dalam diri Fajar. Fajar, lu tenang aja, sebagai sahabat gue bakalan selalu ada buat lu, lu musti baik-baik aja, lu nggak boleh kenapa-napa, batin Hanifa.


“Nah, papa udah di sini. Tadi kenapa manggil-manggil papa kek toa gitu?“ tanya Istadi. Hanifa menatap Istadi sebentar. “Uhm, papa punya kenalan dokter gitu nggak?“ tanya Hanifa. Istadi mengerutkan alis. “Dokter? Uhm, banyak, sih~ Mau dokter apa? Dokter cinta?“ sahut Istadi bercanda. Hanifa mengerucutkan bibir sebal. “Ih, papa, lagi serius juga~ Itu lho uhm, maksud aku dokter psikolog gitu?“ ucap Hanifa ragu-ragu. Kedua alis Istadi saling bertautan. Ia heran mengapa Hanifa bertanya tentang dokter psikolog? Mau apa dia cari-cari dokter begituan?, batin Istadi.


“Ngapain kamu nanya dokter psikolog sama papa? Kamu ada masalah apa, Fa?“


“Bukan aku, pa~“


“Trus?“


“Sahabat aku, Fajar,“


“Fajar?“


Hanifa pun menjelaskan semua hal tentang Fajar kepada Istadi secara detail, tanpa kurang satu pun, mulai dari latar belakang kemiskinan serta prestasi di sekolah. Cerita dari Hanifa itu pun menarik perhatian Istadi. “Kalo udah kek gitu. Dia emang butuh konseling ke dokter psikolog, Fa,“ ucap Istadi mengomentari perubahan emosional dalam diri Fajar. Hanifa menaruh harapan penuh pada sang ayah. “Tolongin temen aku ya, pa? Tolong gratisin semua biaya konseling dia?“ ucap Hanifa memohon dengan amat sangat.


“Hanifa? Kamu tau kita nggak pernah dan mungkin nggak akan pernah kekurangan apapun, kan? Papa seneng kamu bisa bersimpati dan berempati dengan orang-orang di sekitar kamu tanpa pandang bulu. Kamu tenang aja. Serahin semuanya sama papa, dan untuk jadwal konseling, papa bakalan atur secepatnya. Jadi, kamu tinggal cari cara buat bujuk Fajar, supaya dia mau ketemu dokternya langsung,“


“Iya, pa. Pasti,“


“Iya, pa. Makasih banyak ya, pa?“


“Sama-sama~“


Tiba-tiba Istadi teringat akan satu hal. Hm, gimana respon Hanifa kalo aku bilang jujur sama dia, ya?, batin Istadi. “Fa?“ gumam Istadi. “Hm?“ sahut Hanifa. Istadi menghela nafas. “Kamu inget sama Jehan anaknya Om Slamet nggak?“ tanya Istadi. “Jehan? Kak Jehan? Inget lah~ Masa nggak?“ sahut Hanifa. Ingatan Hanifa tidak seburuk itu untuk mengingat nama dan wajah orang lain, meski baru sekali bertemu. “Uhm, sebenernya papa ada ngobrol masalah perjodohan gitu sama Om Slamet. Om Slamet bilang, Jehan sih setuju-setuju aja dijodohin sama kamu, asal kamu setuju juga. Jadi, ya misal dua belah pihak udah sama-sama mantap, papa mau kalian nikah pas kamu udah lulus SMA nanti. Gimana? Kamu mau nggak?“ ucap Istadi panjang lebar.


Hanifa cengo. Je-Jehan?, batin Hanifa. Sungguh hal ini terdengar seperti mimpi. Jehan menerima perjodohan ini? “Pa, a-aku mau istirahat dulu, daaah,“ ucap Hanifa tiba-tiba kabur begitu saja. Dia gugup—juga salah tingkah. Lihatlah semburat merah di kedua pipinya itu. Hanifa pun langsung menghempaskan diri di atas ranjang queen size. Ia membenamkan wajahnya di bantal. Ia sungguh tidak percaya. Hah? Perasaan aku sama Kak Jehan baru ketemuan dua kali, deh? Itu pun pas acara formal gitu? Huh!, gumam Hanifa sebal.


Fajar melihat pintu rumah terbuka lebar. Di luar juga terdapat dua pasang sepatu mahal. Hah, sepatu mahal, ya?, batin Fajar. Nora masuk ke dalam terlebih dahulu. Sudah pasti pemilik dari sepatu ini ialah Logan dan Lucas. Fajar enggan masuk ke dalam jikalau dirinya harus bertatap muka dengan dua kakak tertuanya itu. Tapi, apa mau dikata? Fajar tetaplah harus masuk jua pada akhirnya. “Fajar?“ seru Diajeng; saat Fajar ingin melesat ke kamar. Fajar pun menoleh. Ia memperhatikan mereka satu per satu. Papa nggak ada di sana, batin Fajar.


Saat ia sadar Thahir tidak ada di antara mereka. Ia pun menjadi sedih. Tatapan mata Fajar berbeda dari biasanya. Dia terlihat sendu. Hal itu juga disadari oleh Logan dan Lucas. “Dek? Sini duduk bareng sama abang,“ ucap Logan meminta Fajar untuk duduk bersama. Tatapan sedih dan pilu itu mendadak berubah menjadi tatapan nan tajam dan sinis. Logan sampai terkejut melihat perubahan secara tiba-tiba itu. “Heh, dasar penjahat,“ gumam Fajar, lalu masuk ke dalam kamar. Logan menelan ludah. Ia tau Fajar begitu membenci dirinya. Tapi, tatapan seperti tadi, Logan baru pertama kali ini melihatnya.


Di dalam kamar; seperti biasa Fajar duduk di atas kasur tanpa dipan itu sambil senderan di dinding. Dia menangis. Papa, Fajar kangen, batin Fajar. Selalu saja seperti itu. Goresan luka itu rupanya masih begitu membekas di hati Fajar. Bahkan semakin membesar dan melebar. Fajar tidak tau lagi harus bagaimana. Dia cuma bisa menangis dan meratapi, terhadap semua apa yang telah terjadi. Diam-diam Logan berdiri di depan pintu kamar Fajar. Fajar nangis?, batin Logan.


.


.


IG @soominid


W A T T P A D: thewinofspring77