![Sugar B [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/sugar-b--bl-.webp)
Setiap hari pasangan suami istri itu bertengkar. Tiada hari tanpa pertengkaran, dan hal itu membuat Fajar selalu mengurung diri di kamar sambil menutup kedua telinga. Begini lah kehidupan seorang Fajar Caturangga. Selalu berhadapan dengan problema ekonomi di tengah-tengah perpecahan keluarga. Dua orang kakak tertuanya Logan dan Lucas pun, bahkan terlihat tidak perduli; mereka sibuk bekerja, dan tinggal di tempat yang berbeda. Ya, meski tidak bisa dipungkiri, mereka rutin mengirimkan uang setiap bulan. Itu pun cuma cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Pulang pun jarang.
Fajar juga tidak bodoh, mereka pasti juga muak dengan kedua orang tua sendiri, itu lah mengapa mereka lebih memilih tinggal di tempat lain. “Dasar binatang!“ ucap Thahir sembari duduk di kursi. Dia terlihat sangat emosi. Dihina oleh istri sendiri terus menerus juga membuat batas kesabarannya menipis. Dia kira kerja jadi supir angkot enak ap?!, batin Thahir. Di dapur; Diajeng sedang mencuci beras. Jangan berpikir bahwa seorang Diajeng akan menitikkan air mata. Demi lelaki pemalas itu? Cih! Air mata ini terlalu berharga untuk menangisi pria seperti Thahir.
Fajar rebahan di atas kasur kapuk yang keras itu. Ia menutup kedua telinganya dengan bantal. Tuhan, bisa kah engkau berikan ketentraman kepada keluarga ku?, batin Fajar berdo'a. Fajar cuma seorang siswa SMP biasa. Sebentar lagi ia akan menghadapi ujian nasional dan lulus. Tapi, dilihat dari keadaan keluarganya saat ini, sepertinya Fajar tidak begitu didukung dalam hal pendidikan. Sudah pasti Diajeng dan Thahir akan berkata, “Mau dapat biaya dari mana?“.
Harus kah aku mencari pekerjaan?, batin Fajar. “Fajar?“ panggil Diajeng dari dapur. Fajar pun perlahan menepis bantal itu dari telinga. Hah, syukurlah papa sama mama udah nggak berantem lagi, batin Fajar menghembuskan nafas lega. Ia pun keluar kamar. Ia melihat Thahir, sang ayah tertidur di kursi kayu depan TV. Pasti dia kelelahan setelah pertengkaran yang panjang. “Iya, ma,“ sahut Fajar. Lalu, ia pun menghampiri sang ibu di dapur.
Fajar pun keluar rumah menuju warung. Dalam perjalanan ia bertekad dalam hati. “Suatu saat aku pasti bisa sukses,“ batin Fajar—pun mengukir senyuman terbaik. Lalu, menuju warung dengan langkah setengah berlari. Jangan bersedih, masa depan masih panjang, aku pasti bisa, batin Fajar. “Bu, telur dua biji, garem satu, sama tepung seperempat, ya?“ ucap Fajar terlihat sangat bersemangat. Saat dalam perjalanan menuju rumah. Dia melihat seorang pedagang keliling ramai dikerumuni oleh pembeli. Langkahnya pun terhenti. Hembusan angin membuat rambutnya bergerak-gerak. “Kenapa aku nggak coba jualan juga? Siapa tau bisa nabung?“ batin Fajar. Semoga masa depan nan cerah menanti dirinya.
Itulah kisah seorang Fajar Caturangga. Lalu, bagaimana kah kelanjutan dari kisah ini? Kita lihat kisahnya di chapter berikutnya. Jangan lupa tekan jempolnya, ya!