![Sugar B [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/sugar-b--bl-.webp)
Para pemuda itu ramai berkumpul di arena balap liar di depan Graha Pena Batam Center. Di sini memang sering dijadikan tempat arena balap. Pada malam hari ini akan ada hadiah uang tunai sebesar lima juta rupiah, bagi siapa saja yang mampu memenangkan pertandingan. Berhubung motor Bisma ditahan oleh Toidin, dan ia harus meminjam motor sesama joki yang lain. Ia pun harus memberi 50% dari apa yang didapat, jikalau ia mampu memenangkannya.
Sahal menyentuh pundak Bisma saat Bisma sedang memasang sarung tangan. Sahal menaruh harapan penuh pada Bisma. Semoga dia bisa menang malam ini. “Lu tenang aja. Gue pasti menang,“ ucap Bisma. Di sini juga ada beberapa orang gadis nan cantik jelita sebagai penghibur untuk menyemangati para joki. Salah satu di antara mereka juga ada yang berperan sebagai wasit. Tatapan dingin Bisma membuat para gadis itu terpesona. Padahal bisa dibilang gadis-gadis itu jauh lebih tua dari Bisma. Pesona nan mematikan yang dipancarkan oleh Bisma seolah membuat para gadis itu lupa akan usia.
Bisma pun duduk di atas motor sambil memasang helm. “Duh, damagenya,“ puji salah seorang gadis. Suara deru mesin motor itu pun mulai menggema. Semua orang berteriak; memberi dukungan penuh dengan menyebut nama masing-masing joki. Di sini sama sekali tidak ada permusuhan atau apapun, dan murni cuma karna ingin bertanding secara sehat saja. “Satu dua tiga,“ ucap gadis berbaju k e t a t merah muda, dan celana jeans di atas lutut. Lalu, motor-motor dengan berbagai tipe itu pun melesat jauh seperti angin dengan kecepatan tinggi.
“Bisma! Bisma! Bisma!“ ucap para gadis itu meneriaki nama Bisma. Saat sinar lampu motor yang dikendarai oleh Bisma terlihat. Para gadis itu bersiap menyambut Bisma dan joki lain. “Pemenang malam hari ini adalah Bisma Hertanto,“ ucap Gadis itu. Seorang pria bernama Helmi pun turun dari motor. Ia memberi uang tunai sebesar lima juta kepada Bisma sambil tersenyum penuh arti. “Gue berharap bisa ngalahin lu. Tapi, keknya itu cuman angan gue doang,“ ucap Helmi. Bisma cuma tersenyum samar sembari menerima uang tersebut, lalu membaginya dengan Sahal. “Suatu saat,“ sahut Bisma.
“Hal, anterin gue,“ ucap Bisma. Tiba-tiba Helmi menggenggam pergelangan tangan Bisma. “Biar gue aja yang nganterin lu. Lagian kita searah. Kasian Sahal musti muter balik lagi dia,“ ucap Helmi. Bisma menatap Helmi sesaat. Jujur ia tidak begitu menyukai Helmi tanpa sebab. Entah mengapa di mata Bisma, Helmi itu tidak lebih dari seorang remaja kelas 2 SMA yang cuma ingin pamer saja di depan orang lain. Bisma mendengus, dan mau tidak mau ia pun menerima tawaran Helmi. “Pegangan,“ ucap Helmi. Bisma memutar bola mata malas, lalu melingkarkan tangannya di p i n g g u l Helmi. Helmi pun tersenyum simpul di balik Helm yang ia kenakan.
Dimas Bhaskara adalah putera dari pasangan Cahaya dan Haris Bhaskara. Dia baru berusia empat belas tahun, namun kedua orang tuanya telah bercerai sejak lama. Lalu, bagaimana dengan Dimas? Tidakkah ia bersedih? Tentu saja saat itu Dimas amat sangat sedih dan tidak terima. Tapi, di sisi lain, ayah dan ibunya juga berhak memilih kebahagiaan masing-masing, meski harus dengan cara bercerai. Saat Dimas menginjak usia sebelas tahun. Cahaya, sang ibu pun menikah lagi.
Lalu, dengan siapa Dimas memilih untuk tinggal? Tentu saja Dimas membagi hari untuk tinggal secara bergantian di rumah Cahaya dan Haris. Dari senin sampai jum'at, Dimas akan tinggal di rumah sang ayah. Sedangkan dari sabtu sampai minggu di rumah sang ibu, dan keluarga barunya tentunya. Sangat adil sekali, bukan? Lalu, bagaimana pula cara Dimas beradaptasi dengan keluarga baru? Hm, gimana, ya? Dimas memang tipikal orang yang tidak terlalu mempermasalahkan suatu hal. Itulah mengapa ia juga tidak ingin ambil pusing.
Satu unit mobil Audi A7 itu pun tiba di halaman rumah 264 meter persegi itu. Betul. Dimas mengendarai mobil itu sendiri secara langsung tanpa didampingi oleh seorang supir. Padahal dia baru berusia empat belas tahun, kan? Kehidupan orang kaya memang berbeda, ya? Dimas dengan celana jeans hitam, hoodie abu-abu, dan topi hitam itu pun masuk ke dalam. Lalu, m e n c i u m tangan Budi, Cahaya, dan Samsuri bergantian. “Tumben kamu kesorean, Dim?“ seru Samsuri, ayah tiri Dimas. “Biasa pa~ Jalan sama pacar dulu,“ sahut Dimas tersenyum.
Budi mengerutkan alis. Dia adalah putera tunggal Samsuri berusia 22 tahun, dan berprofesi sebagai seorang pilot. Sebagai saudara tiri, bukankah menjalin hubungan baik adalah sebuah keharusan? Tapi, nyatanya Budi selalu bersikap begitu dingin kepada Dimas. Uhm, bukan cuma ke Dimas saja, sih. Tapi, ke semua orang mungkin? “Bang! Bang minta duit~“ ucap Dimas langsung duduk di sebelah Budi sambil menengadahkan tangan. “Duit? Mobil kamu aja 1,8 miliar masih minta duit juga sama abang?“ ucap Budi menohok.
“Lu bisa nggak sih jangan serius-serius amat jadi orang?“ ucap Dimas sebal. Budi? Dia cuma diam membisu sambil membaca berbagai artikel berita di internet. Persis seperti orang tua jaman dulu saja. Hadeuh, batin Dimas geleng-geleng kepala. “Papa kamu gimana, Dim? Sehat?“ tanya Cahaya. “Lebih dari sehat, ma. Tiap hari pacaran mulu,“ sahut Dimas. Di seberang sana, tiba-tiba Harus bersin tanpa sebab. “Siapa sih yang lagi ngomongin aku?“ gumam Haris, lalu duduk di kursi.
Budi pun menghela nafas, lalu menoleh. “Pernah,“ sahut Budi singkat. “Siapa?“ tanya Dimas lagi. Budi terlihat sedang berpikir sambil mengingat-ingat kembali, artis mana yang pernah ia temui. “Nggak tau,“ sahut Budi. Budi juga tidak tau siapa artis tersebut. Tapi, banyak yang bilang kalau dia adalah penyanyi terkenal. Huft, entahlah, Budi tidak terlalu suka mengikuti perkembangan artis tanah air. Dimas mendengus.
Satu minggu telah berlalu. Diajeng dan Thahir resmi bercerai. Entah di mana Thahir sekarang tinggal. Diajeng juga tidak tau dan tidak ingin tau. Selama itu pula Fajar mulai berubah. Dia jadi lebih pendiam, dan jarang berbicara. Tiap pulang sekolah, dia pasti akan langsung mengurung diri dalam kamar. Kecuali saat ingin ke toilet atau makan dan minum. Barulah ia keluar dari sana. Fajar juga jarang tersenyum, dan seperti telah kehilangan semangat hidup. Terutama saat ia berada di dalam kelas. Biasanya saat guru bertanya, siapa yang ingin menjawab soal di papan tulis, maka Fajar adalah orang pertama yang akan mengangkat tangan. Dia begitu bersemangat tiap kali maju ke depan.
Sekarang semua semangat itu seolah perlahan sirna. Dia selalu berdiam diri di dalam kelas tanpa berbicara sepatah kata pun. Hanifa saja sampai kebingungan. “Fajar? Lu nggak papa?“ tanya Hanifa. Entah kali ke berapa Hanifa bertanya seperti itu kepada Fajar. Lalu, bagaimana tanggapan Fajar? Fajar pun menoleh sedikit sambil tersenyum simpul. “Gue nggak papa,“ sahut Fajar. Lalu, ia pun membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya di atas meja. Ia berusaha untuk terlelap. Tapi, suara bising itu membuat Fajar cuma bisa sekedar memejamkan mata saja.
Tiba-tiba tamu tak diundang pun masuk ke dalam kelas sambil marah-marah. Tatapan nyalangnya itu cukup menjadi gambaran seberapa besar kebencian yang ia miliki kepada Fajar. “Bangun lu bangsat!“ ucap Bisma meminta Fajar untuk segera beranjak dari bangku. “Lu mau ngapain, Bis?“ tanya Fajar tidak tau apa-apa. Di mata Bisma; Fajar begitu amat sangat memuakkan. Bisma pun meraih kerah seragam Fajar, hingga membuat Fajar otomatis berdiri. “Gara-gara lu ampe sekarang fasilitas gue dicabut. Bangsat!“ hardik Bisma.
.
.
IG @soominid
W A T T P A D: thewinofspring77