Sugar B [BL]

Sugar B [BL]
SUGAR B 06



Hening bercampur pilu. Tubuh Fajar seolah mati rasa. Cerai. Satu kata itulah yang begitu terngiang-ngiang di benaknya. Derai air mata sang ibu, ingin ia ulurkan tangan tuk mengusapnya, namun raga ini terlalu berat tuk melangkah. Ia pun berpaling dari sang ibu. Baru saja ia mencoba menghirup udara segar di luar selama beberapa jam, dan jikalau ia harus keluar lagi, bagaimana pandangan para tetangga nanti? Benar, mengurung diri di kamar lebih baik, daripada ia harus meninggalkan rumah ini sebentar seperti tadi.


Fajar menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu menguncinya. Ia rebahan di atas kasur tanpa dipan itu sembari mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah album foto masa kecil Fajar dan Nora. Di sana ada foto Fajar—yang sedang merayakan ulang tahun yang pertama. Fajar tersenyum sumringah sambil memegang balon. Lalu, ada juga pose di mana ia duduk di antara Diajeng dan Thahir—yang tengah menatap dirinya dengan senyuman. Diajeng dan Thahir m e n c i u m pipi Fajar, lalu ada juga saat di mana Fajar berada dalam gendongan Thahir.


Bulir-bulir mutiara itu kembali mengalir deras tanpa permisi. Terlebih saat ia melihat selembar foto dengan pemandangan pantai nan indah, serta hamparan pasir putih bersih. Di sana Diajeng dan Thahir baru saja mengucap janji suci pernikahan, dan berfoto berdua di tepi pantai—yang di mana Diajeng memegang sebuket bunga. Lihatlah foto itu. Betapa mereka sangat bahagia, dan tersenyum sambil bergandengan tangan. Tapi, kini semua itu seolah sirna, dan digantikan oleh bayang-bayang hampa, derita, dan luka. Fajar rebahan dalam posisi miring ke samping kanan. Ia memeluk album foto itu hingga pada akhirnya ia pun terlelap.


Langit sudah berubah menjadi jingga. Sore mulai berganti dengan senja. Uh, sebentar lagi mau maghrib, batin Nora. Dia baru saja tiba di depan jalan raya, diantar oleh Dana. Dana memperhatikan sekeliling. Jalanan juga sudah mulai sepi. “Dek Nora? Tunggu,“ seru Dana—pun menghampiri Nora—yang beberapa langkah lagi akan masuk ke dalam gang. “Biar aku anter ampe depan rumah,“ ucap Dana. Depan rumah? Bagaimana jikalau nanti Dana melihat pertengkaran ayah dan ibunya? “Uhm, nggak usah, kak. Sendirian aja nggak papa kok,“ ucap Nora menolak secara halus.


“Dek, maaf, tapi kakak nggak bisa biarin kamu jalan sendirian. Udah mau maghrib, jalanan juga sepi banget, kakak takut kamu kenapa-napa,“ ucap Dana. Dana tidak sengaja melihat raut wajah Nora yang berubah seketika. Dia terlihat cemas dan takut. Ingin Dana bertanya lebih lanjut. Tapi, ia tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Dana pun tiba di depan rumah kontrakan Nora. “Makasih banyak ya, kak? Udah ngajakin aku jalan-jalan sama nraktir makan?“ ucap Nora berterima kasih. Dana pun menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. “Kalo gitu kakak pulang dulu, ya?“ ucap Dana berpamitan.


Dana pandangi rumah kontrakan kayu yang terlihat tua dan lapuk itu dari kejauhan. Sesulit itu, kah? Ekonomi keluarga Nora?, batin Dana. Dana jadi teringat kembali, bagaimana Nora begitu antusias dan senang, saat ia mengajak Nora membuat vlog bersama. Tapi, senyuman yang merekah di wajahnya itu pun mendadak memudar, sesaat setelah ia tiba di rumahnya sendiri. Dana merasa seperti ada sesuatu terjadi pada Nora, meski ia tidak tau itu apa.


Suasana rumah begitu terlihat tenang setelah Nora menginjakkan kaki pertama kali masuk ke dalam. Di depan pintu dekat jendela, terdapat tas besar. Tas itu sepertinya berisi pakaian. Tapi, pakaian siapa? “Ma? Pa? Kak Fajar?“ seru Nora. Nora pun menghampiri kamar Fajar. Pintu kamar Kak Fajar dikunci?, batin Nora. “Kak Fajar? Kakak di dalem?“ seru Nora. Fajar pun membuka mata. Nora berkali-kali memanggil dirinya. Tapi, Fajar tidak bergeming jua. Ia diam membisu. Setelah merasa tidak ada tanggapan apapun. Nora pun ke dapur, barangkali di sana ada sang ibu.


“Nora? Kamu mau ikut sama mama ato papa?“ tanya Diajeng. Nora tidak mengerti. Apa maksud perkataan Diajeng barusan? Kenapa Nora harus memilih untuk ikut mama atau papa? Nora menatap Diajeng dengan tatapan bertanya-tanya. “Mama sama papa udah nggak bisa bareng kek dulu lagi, nak. Mama udah mutusin buat cerai dari papa kamu,“ ucap Diajeng menjelaskan. D a d a Nora terasa sesak. Cerai? Tapi, kenapa? “Ng-nggak ma..,“ gumam Nora. “AKU NGGAK MAU MAMA SAMA PAPA CERAI! MAMA JAHAT!“ ucap Nora berteriak histeris. Ia pun lari, dan mengunci diri dalam kamar.


Pada akhirnya anak lah yang akan menjadi korban dari perceraian kedua orang tua mereka. Kalian tau? Hal-hal kecil seperti kebersamaan satu keluarga terkadang adalah hal yang paling diinginkan oleh seorang anak, meski mereka harus makan makanan sederhana sekali pun seperti tahu dan tempe. Benar kata pepatah, bahwa kebahagiaan itu mahal harganya. Nora duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Ia menangis tanpa henti. Bahkan Fajar saja mampu mendengar suara tangisan sang adik. Hancur sudah asa untuk memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.


Bisma sedang diadili oleh Toidin di ruang keluarga. Di sana juga ada Dana sebagai saksi atas perbuatan tidak terpuji—yang dilakukan oleh Bisma. “Kamu tau kesalahan kamu apa? Hm?“ ucap Toidin geram. Toidin mencoba menahan emosi dalam diri. Bisa-bisa tangan ini melayang tuk memukul Bisma, jikalau dirinya tidak bisa mengontrol emosi. “Jangan pernah ngerasa kamu paling hebat di sekolah, cuman karna kamu anak papa,“ ucap Toidin lagi. Bisma? Heh, dia tidak perduli. Bahkan jikalau dia harus diusir dari rumah ini, dia juga tidak akan perduli.


Hilma, sebagai ibu dari Bisma—juga tidak bisa berbicara banyak. Di sisi lain ia juga merasa bersalah telah terlalu memanjakan Bisma selama ini. Dana juga tidak mungkin berbohong, akan cerita yang ia sampaikan tadi siang. Betapa Bisma sampai hati mengganggu alias menindas murid lain. Terlebih murid itu adalah orang dari keluarga miskin. “Gue nggak paham sama jalan pikiran lu, Bis. Lu tega gangguin anak orang, padahal dia sama sekali nggak ngegigit lu,“ cetus Dana.


“Gue cuman maen-maen doang. Dia aja yang sensi,“ sahut Bisma masa bodoh. “Wah, sakit jiwa lu,“ ucap Dana sarkasme. Dana juga geram melihat sikap tidak perduli si Bisma ini. “Bisma,“ seru Toidin. “Semua fasilitas kamu papa cabut. Kamu nggak boleh naik motor apalagi mobil. Terserah kamu mau naik apa ke sekolah nanti. Papa nggak mau tau, dan uang bulanan kamu papa potong 50%,“ ucap Toidin final. Toidin tau, hukuman seperti itu juga tidak akan membuat Bisma jera. Tapi, setidaknya dia sudah memberi peringatan kepada sang putera. Hah, entah dosa apa—yang telah Toidin lakukan di masa lalu, sehingga membuat Bisma tumbuh menjadi seorang anak yang sangat nakal, dan tidak penurut.


Tunggu aja lu, Fajar. Semua gara-gara lu, dan gue bakalan ngasih lu perhitungan, batin Bisma mendendam. Bisma memakai pakaian serba hitam. Dia terlihat sangat gagah. Setelah membenarkan posisi topi hitam di kepala. Bisma pun melompat dari jendela kamar. Tentu saja karna ia ingin mengunjungi arena balap, dan balapan bersama teman-teman jalanan di luar sana.