![Sugar B [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/sugar-b--bl-.webp)
Suara-suara benda di lempar—pun adu mulut antara Diajeng dan Thahir kembali terdengar sampai keluar. Fajar dan Nora tidak berani masuk ke dalam. Telinga Fajar serasa berdengung. Ia benar-benar tidak tahan mendengar u m p a t a n - u m p a t a n kasar yang keluar dari bibir kedua orang tuanya. “Dek, kakak mau jalan-jalan bentar,“ ucap Fajar. “Berani kamu mukul aku, mas? Pukul! Pukul!“ ucap Diajeng. Saat Thahir mencoba melayangkan pukulan, namun berhasil ia tahan. Fajar semakin gelisah. Lalu, ia pun meninggalkan Nora seorang diri, dan pergi ke suatu tempat nan sunyi.
Hening. Itulah suasana di pinggiran sawah—yang ada di tepi kota Batam. Para petani di tanah lapang itu sedang membuat bedengan, untuk persemaian atau pembibitan padi. Bedengan demi bedengan pun berhasil dibuat; hanya dengan menggunakan satu alat saja, yaitu cangkul. Para petani itu sesekali menyeka keringatnya dengan lengan baju mereka. Tanpa merasa lelah ataupun letih, mereka terus mencangkul tanpa henti. Fajar pun tersenyum samar. Sesaat ia seolah bisa melupakan, apa yang telah terjadi di rumah. Terlihat sepele, tapi mampu menjadi pelipur lara bagi Fajar.
Uh, rebahan bentaran aja kali, ya?, gumam Fajar. Belum sempat Fajar rebahan di pinggir jalan bebatuan itu. Terdengar suara seorang wanita paruh baya menegur dirinya. “Fajar! Jangan rebahan di situ! Comot!“ seru Bu Jumariah—atau biasa dipanggil dengan sebutan Bu Jum. “Kenapa kamu rebahan di sini? Nanti baju kamu kotor,“ ucap Bu Jum sambil memegang cangkul di tangan sebelah kiri. Bu Jum berbicara dalam keadaan berdiri. Sedangkan Fajar dalam keadaan duduk sembari mendongakkan kepala.
“Lagi mau nyantai aja, bu,“ sahut Fajar. Bu Jum ini adalah tetangga sebelah rumah Fajar. Beliau juga salah satu tetangga—yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Bu Jum juga sangat peka sekali terhadap apa yang Fajar rasa saat ini. Pasti suasana hati Fajar lagi nggak bagus? Dia ke sini pasti juga gara-gara Diajeng ama Thahir berantem?, batin Bu Jum iba. Fajar masih remaja berusia 15 tahun. Tapi, dia harus menelan pahitnya kehidupan, terutama konflik antara Diajeng dan Thahir mengenai problema ekonomi di kehidupan rumah tangganya, sehingga berimbas kepada anak-anaknya.
“Fajar?“ seru Bu Jum. Beliau pun duduk di sebelah Fajar. Beruntung cuaca tidak terlalu panas—pun semilir angin berhembus kencang, dan meninggalkan perasaan sejuk. Sehingga bisa bersantai-santai dengan nyaman di sini. Fajar pun menoleh. Tatapan perih nan pilu dari dua bola mata itu membuat hati Bu Jum serasa disayat-sayat. Fajar memang tersenyum. Tapi, siapa tau? Betapa pisau itu telah menancap jauh ke dalam lubuk hatinya yang terdalam. Fajar tidak bisa apa-apa. Ia terpenjara dalam rasa—yang setiap harinya bagaikan duri-duri tajam—yang mampu menembus setiap pori-pori kulitnya dari segala arah.
“Cerita sama ibu, nak,“ ucap Bu Jum meminta Fajar untuk segera bercerita, mengutarakan semua keluh kesah dalam d a d a. Semoga dengan begitu mampu membuat Fajar jadi sedikit lebih lega. “Biasa, bu. Papa sama mama lagi berantem,“ sahut Fajar. Tatapan mata Fajar berubah jadi sendu. Secercah rasa iri hinggap di hati, tatkala ia melihat teman-teman sebayanya memiliki orang tua yang begitu rukun dan menyayangi mereka. Hah, kapankah saat itu akan datang?, batin Fajar.
Diajeng sudah terlalu sakit hati. Bersuami tapi seperti tidak bersuami. Diajeng sudah menasihati Thahir berkali-kali untuk mencari pekerjaan sampingan lain—yang lebih menjanjikan. Tapi, apa tanggapan Thahir? Dia malu harus berjualan keliling. Padahal bisa dibilang berjualan keliling, seperti sayur mayur, ikan, ayam, dan lain-lain memiliki pendapatan yang lebih tinggi. Diajeng juga lelah harus menasihati Thahir setiap hari. Namun, Thahir sama sekali tidak mau mengerti.
“Pergi kamu dari sini, mas,“ ucap Diajeng dengan nada mengusir. Toh, ada Thahir atau tidak, semua sama saja. Diajeng juga masih sanggup menghidupi dua putera puterinya. Diajeng melempari baju-baju sang suami keluar. Putus sudah urat malu dalam diri. Diajeng tidak perduli. Thahir tidak bergeming. Pergi dari sini? Ke mana ia harus pergi? Thahir juga seorang sebatang kara—pun anggota keluarga lain tidak ada lagi yang mau perduli.
Diajeng menarik-narik baju Thahir—meminta Thahir untuk segera keluar dari rumah ini. “Cepetan mas! Keluar!“ ucap Diajeng untuk ke sekian kalinya. Nora yang sedari tadi mengurung diri di dalam kamar pun muak, mendengar pertengkaran kedua orang tuanya itu. “STOP!“ ucap Nora berteriak. Nora kesal dan marah. Telinga Nora juga panas melebihi panasnya baja yang dilebur. Kedua mata Nora memerah. Lalu, ia pun pergi keluar entah ke mana. “Nora!“ teriak Diajeng. Nora berpura-pura tuli.
Saat ini Nora sedang berada di Citra Kebun Wisata. Ini adalah agro wisata terbaru di Kota Batam—mengusung konsep perkebunan, dan sebagian besar tanah dengan luas 18 hektar ini ditumbuhi oleh pohon durian. Dengar-dengar sih ada pohon rambutan juga. Entahlah, Nora lelah, ia tidak ingin berjalan lebih jauh lagi. Oh! Di sana ada rumah panggung!, batin Nora. Nora pun ke sana, ia membayar tiket masuk terlebih dahulu sebesar 15rb rupiah, barulah ia masuk ke dalam rumah panggung tersebut.
Nora tidak benar-benar masuk ke dalam. Ia cuma naik ke atas saja, dan berdiri di teras depan. Lalu, ia pun mengeluarkan hp dari tas selempangnya. Satu dua tiga. Ia pun berhasil mengambil puluhan foto, karna nantinya akan dipilah mana yang lebih bagus. “Errr misi? Kamu murid di SMP Negeri 37, kan?“ seru seseorang. I-itu Da-Dana?, batin Nora dengan kedua mata membola. Siapa sangka jikalau Dana adalah seorang perempuan? Siapa pun yang melihat, pasti akan berpikir dia adalah seorang laki-laki. “Kamu sendirian?“ tanya Dana lagi. Nora melongo dengan mulut setengah menganga.
Di mana-mana, seorang fans akan terkejut, saat melihat idolanya sendiri datang secara tiba-tiba seperti ini. “Hai halo?“ seru Dana tertawa melihat Nora yang nampak bengong seperti orang bodoh saja. Hahaha lucu banget asli, batin Dana. “Eh? I-iya, kak. A-aku sendirian,“ sahut Nora salah tingkah. Hm, begitu?, gumam Dana beroh ria. Dana berniat mengajak Nora membuat vlog bersama. Daripada ngomong sendiri kek orang gila, mending ngajakin orang juga kan, ya?, batin Dana.
“Maaf, nama kamu siapa?“
“Nora, ya? Uhm, mau ngevlog bareng sama kakak nggak? Kakak lagi sendirian juga soalnya. Ntar kakak traktir makan, deh,“
“Eh? Ngevlog bareng? Serius kak?“
“Serius~“
Bola mata Nora berbinar. Dia amat sangat gembira, bisa diajak ngevlog bareng oleh Dana. Duh, kapan lagi, sih? Bisa sedeket ini sama idola? Kalo gue posting foto di fb, pasti banyak yang ngiri!, batin Nora. Nora pun diajak berkeliling kebun. Nora benar-benar terlihat seperti anak kecil. Bagaimana tidak? Tinggi badan Nora cuma 150cm saja. Sedangkan Dana 176cm. Nora cuma sebatas bahu Dana saja. Dana dan Nora tertawa bersama-sama, saat mereka saling berbagi cerita dan pengalaman lucu. Sesaat ia pun mampu melupakan apa yang sedang terjadi di rumah.
Fajar tiba di rumah pada sore hari. Oh, astaga, apa-apaan ini?, batin Fajar. Saat ia melihat baju-baju Thahir berserakan di luar. Fajar pun segera masuk ke dalam. Thahir tidak ada di sana, karna mungkin dia sedang menenangkan diri di suatu tempat. Fajar pun ke dapur mencari sang ibu. Benar saja. Diajeng sedang berada di dapur sambil menggoreng tahu tempe. Fajar menghembuskan nafas lega. Beruntung Diajeng baik-baik saja. “Fajar,“ seru Diajeng dingin.
Entah mengapa perasaan Fajar jadi tidak enak. Cara sang ibu memanggil namanya terdengar sedikit aneh, dan tertahan. Bisa jadi dia sedang mencoba untuk menahan sesak di dalam d a d a. “Mama mau cere sama papa kamu, nak,“ ucap Diajeng pelan. Hah? Ce-cerai? Haha mama cuma becanda doang, kan?, batin Fajar. Dia amat sangat terkejut, mendengar Diajeng berkata demikian. “Ma.. Uhm, mama tolong—“ ucap Fajar, langsung dipotong oleh Diajeng. “Maafin mama, nak. Mama udah nggak tahan lagi sama papa kamu,“ ucap Diajeng menitikkan air mata. Fajar membeku sambil mengepalkan tangan.
Fajar serasa mendengar suara petir di siang bolong. Hancur sudah semua asa—pun mimpi buruk yang menghantui Fajar selama ini akhirnya jadi kenyataan. Perih. Fajar tidak kuasa lagi tuk membendung embun-embun kepedihan di pelupuk mata. Oh Tuhan, kenapa semua ini terjadi kepada hamba?, batin Fajar—pun mulai berderai air mata. “Fa-Fajar nakal ya, ma? Fajar janji nggak bakalan na-nakal lagi. To-tolong jangan marahin papa, ja-jangan pisah sama papa,“ ucap Fajar sesenggukan. Ia memohon supaya Diajeng menarik kata-katanya kembali. Diajeng pun menoleh. “Maafin mama, Fajar,“ gumam Diajeng.
.
.
IG @soominid
W A T T P A D: thewinofspring77