![Sugar B [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/sugar-b--bl-.webp)
Bisma dan Fajar saling bertatapan satu sama lain. Seolah-olah terdapat aliran listrik bertegangan tinggi mengalir, hingga menimbulkan percikan api. “Lu tenang aja. Gue pasti bayar kok,“ sahut Fajar. “Nor, pegangan,“ ucap Fajar. Dia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Toh, cuma uang sepuluh ribu saja. Fajar pun mulai mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Dari rumah ke sekolah, dan sebaliknya. Fajar harus menempuh jarak kurang lebih 2,5KM. Sangat jauh, bukan? Tetapi, meski begitu, ia sama sekali tidak merasa letih.
Gue harus ngubah nasib keluarga gue sendiri. Gue nggak bisa ngarepin orang lain, apalagi Bang Lucas sama Bang Logan, batin Fajar. Setiap orang pasti bertanya-tanya dalam hati; mengapa dua putera tertua di keluarga Caturangga itu bernama Lucas dan Logan? Padahal mereka cuma orang miskin, dan tidakkah nama itu terdengar sangat berlebihan untuk orang seperti mereka? Dulu Fajar pernah bertanya karna penasaran; alasan sang ibu memberi dua nama aneh tersebut kepada sang kakak. Lalu, Diajeng pun menjawab, bahwa ia ingin suatu saat Lucas dan Logan bisa menjadi orang besar, dan mengharumkan nama keluarga.
Lalu, bagaimana dengan Fajar? Diajeng kembali berkata, bahwa Fajar lahir sebelum matahari terbit—pun berharap bisa menjadi seorang anak yang tekun, rajin ibadah, pintar dalam agama, dan cerdas. Itulah alasan Diajeng memberikan nama Fajar. “Fajar!“ seru seorang wanita paruh baya—berdiri di samping pagar rumah. Dia adalah pembantu di rumah besar bernuansa serba minimalis itu. “Ini ada sisa makanan. Kamu bawa pulang, ya? Baru dimasak kok,“ ucapnya. “Eh? Terima kasih banyak, bi,“ sahut Fajar—pun menerima bungkusan plastik itu, lalu menggantungnya di setir sepeda.
Hampir setiap hari juga Fajar mendapatkan makanan sisa ini. Kalian tau sendiri, kan? Sebagian besar orang yang kaya raya dan harta berlimpah, selalu memasak berbagai macam menu untuk sekali makan, dan selalu saja ada sisa. Jangan salah paham, ya? Karna semua makanan sisa itu masih layak untuk dimakan kok. Tiba di rumah; Nora turun dari sepeda, dan langsung masuk ke dalam begitu saja dengan semangat tinggi. Ya, dia selalu saja seperti itu, tiap kali mendapatkan makanan sisa dari rumah besar itu.
Nora langsung ke dapur, dan menaruh lauk pauk itu di atas piring. “Hua! Ada gonggong sama sup ikan batam!“ ucap Nora dengan mata berbinar. Dia terlihat begitu sangat senang. Setiap hari makan telur, tempe, dan tahu. Wajar sekali jikalau Nora bisa sesenang itu. “Dek? Sisain buat mama sama papa juga, ya?“ ucap Fajar, lalu ke kamar berganti pakaian sebentar. Fajar pun membuka lemari baju. Ia ambil buku di bawah lipatan baju itu—yang di mana di sana terdapat uang tabungan Fajar selama hampir satu tahun. Lalu, ia ambil uang lima ribuan selembar.
Fajar berniat ingin pergi ke warnet dengan uang tersebut. “Eh? Kak Fajar mau ke mana?“ tanya Nora. Saat ia melihat Fajar terlihat rapi; seperti ingin pergi ke suatu tempat. Di tangan Fajar juga ada buku tulis dan pulpen. “Uhm, kakak mau ke warnet. Dek, nanti tolong bilangin ke mama, ya? Kalo kakak ke warnet,“ ucap Fajar. “Iya, kak,“ sahut Nora. Setelah Fajar dipastikan telah pergi. Nora pun masuk ke dalam kamar. Diam-diam dia mengambil sebuah benda berbentuk persegi panjang dari bawah kasur. Huft, aman, batin Nora sambil menghela nafas.
Itu adalah hp pemberian dari Logan. Nora terpaksa menggunakan hp ini secara sembunyi-sembunyi. Kalau Fajar atau sang ibu tau, bisa-bisa Nora dimarahi nanti—atau terjadi pertengkaran hebat antara Logan dan sang ibu. Diajeng memang mampu memaklumi keinginan Logan dan Lucas—yang ingin tinggal di luar. Tapi, tidak dengan Fajar. Diam-diam dia juga begitu membenci dua abangnya itu. Fajar seringkali diam; dikala Diajeng, Nora, atau Thahir menyebut nama itu. Seseorang seperti Logan dan Lucas tidak pantas disebut keluarga. Begitulah Fajar berpendapat.
Drrt drrt drrt. Hp itu berdering. Nora pun langsung mengangkat telepon dari Logan. “Dek, assalamu'alaikum?“ ucap Logan dari seberang sana. Saat ini Logan masih berada di kampus. Sudah jam pulang, sih. Tapi, dia tidak berniat untuk langsung pulang sama sekali. Bersantai-santai sebentar, tidak apa-apa, kan? “Wa'alaikumussalam,“ sahut Nora. Logan terdiam selama beberapa saat. Jauh dari dalam hati, ia amat sangat ingin menemui kedua orang tua dan dua adiknya itu lebih sering lagi. Tapi, karna satu dan lain hal, Logan tidak bisa. Ia pun memilih untuk selalu menghubungi sang adik untuk saling bertukar kabar.
“Dek? Sekolah kamu akhir-akhir ini gimana? Seru nggak?“
“Uhm, nggak gimana-gimana sih, kak. Cuman..,“
“Cuman? Cuman apa? Sini cerita sama kakak,“
“Itu.. Uhm, a-ada temen satu sekolah. Trus dia ganteng banget,“
“Nggak nggak naksir kok. Cuman kagum doang,“
“Iya deh iya~ Tapi, pesen kakak cuma satu, dek. Jangan ampe salah pergaulan, ok?“
Jujur Logan juga cemas, karna masa remaja adalah masa di mana seseorang mencari jati diri. Setelah mendengar curhatan Nora. Logan malah semakin cemas dan khawatir. Semoga Fajar bisa memberi arahan yang baik kepada Nora, batin Logan. Logan pun memutuskan untuk pulang ke kosan, setelah selesai menelepon Nora. Tiga hari lagi Logan gajian, dan saat itu pula lah ia akan pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Saat ini Fajar sedang berada di warnet. Ia telah membayar lima ribu rupiah kepada si pemilik warnet untuk main selama dua jam ke depan. Dua jam ini bisa jadi adalah penentu masa depan Fajar. Kenapa? Karna Fajar ingin mempelajari beberapa bahasa asing. Ia berharap suatu saat bisa mengandalkan ilmu yang ia miliki untuk mencari rupiah. Semangat!, batin Fajar. Ia mencatat materi demi materi dari banyak artikel di internet. Sampai-sampai membuat tangannya jadi kebas.
Dua jam itu pun tak begitu terasa. Ia keluar dari sana dengan hati gembira. Lalu, ia pun memutuskan untuk langsung pulang saja. Berbeda dengan orang-orang seusianya—yang akan bermain bersama dengan teman-temannya yang lain. Fajar? Huh, ayolah, siapa yang mau berteman dengan si miskin? Fajar bisa apa memangnya? Itu adalah realita. Di mana orang berduit cuma akan berteman dengan yang berduit pula. Terlebih kebanyakan mereka yang berduit selalu menghambur-hamburkan uang.
Tiba di rumah. Fajar melihat Diajeng dan Nora sedang menonton TV bersama. Nora juga sedang melipat jemuran. “Lama banget kamu ke warnet, Jar? Ngapain aja?“ cerca Diajeng. “Belajar, ma,“ sahut Fajar—pun ikut duduk di sebelah Nora. Beruntung Diajeng tidak marah sama sekali, karna ia tau, bahwa Fajar juga butuh hiburan, meskipun cuma main di warnet saja. “Jar, bentar lagi kamu lulus, kan?“ ucap Diajeng, lalu menoleh pada sang putera. Fajar pun menganggukkan kepala pelan.
“Maaf, mama nggak punya biaya buat bantu kamu lanjutin pendidikan kamu ke jenjang SMA, nak,“ ucap Diajeng lagi. Dia terlihat sangat sedih. Fakta ini begitu menyakitkan hati. Diajeng juga ingin Fajar bisa mengecap pendidikan setinggi mungkin hingga ke menara gading. Tapi, apa mau dikata? Kemiskinan adalah penghalang terbesar. “Uhm, iya, ma. Fajar ngerti, kok. Tapi, tolong ijinin Fajar buat cari uang sendiri, ya? Fajar nggak mau putus sekolah, ma,“ ucap Fajar. Diajeng mengerutkan alis. Fajar mau bekerja? “Kamu mau kerja apa, nak?“ tanya Diajeng. “Itu sih Fajar belum tau. Tapi, Fajar ada ide mau jualan Luti Gendang sama Bilis Molen,“ sahut Fajar.
.
.
JANGAN LUPA MAMPIR KE W A T T P A D GUE KARNA MUNGKIN GUE BAKALAN LEBIH SERING UP DI SITU
W A T T P A D: thewinofspring77