
"Uhuk, uhuk.... " suara batuknya yang tiba-tiba, terasa sangat gatal di tenggorokannya membuatnya terbagun dari tidur nya di sofa seusai mandi.
"aduh, Kayanya gue demam deh" ucapnya dirasa kondisi badanya yang panas terasa tidak enak sambil memegang dahi dan lehernya sendiri.
Tubuhnya yang terasa lemas dan kepalanya yang masih berdenyut nyeri membuatnya sempoyongan berjalan untuk mangambil air minum dan obat demam di laci dekat tempat tidurnya. Setelah berhasil menemukan obat demam dan sakit kepala, ia pun langsung meminumnya lalu segera merebahkan tubuhnya di kasur agar terasa lebih nyaman. Sudah lama leon tidak pernah merasakan sakit hingga membuatnya lemas seperti ini, ia sendiri merasa bingung sakit kepala yang secara tiba-tiba itu malah membuatnya drop bahkan benar-benar drop. Yang ia ingat saat dirinya masih kecil pernah merasakan sakit panas tinggi hingga kejang-kejang membuatnya harus di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan ekstra karena sakit seperti itu sangat berbahaya bagi anak-anak, kalau telat sedikit mendapatkan perawatan ia bisa saja kehilangan nyawanya. Namun yang ia heran, seakan ada memory yang hilang dalam ingatannya. Mencoba mengingat namun malah membuatnya sakit kepala, alhasil mama tercintanya meminta untuk melupakannya saja tidak ingin melihat putra nya kesakitan. Sejak saat kejadian itu leon selalu menjaga kondisi tubuhnya dengan menekuni berbagai olahraga basket, running dan futsal sehingga ia menjadi makin populer karena kelincahan serta ketampanannya. Gimana gak ada cewe-cewe yang histeris melihatnya jago olahraga dan tampan.
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu kamar leon yang diketuk Bik hasti tidak membangunkan leon dari tidurnya, Bik hasti membangunkan leon untuk sarapan pagi dikarenakan sudah pukul 09:00 majikannya itu belum nampak di meja makan untuk sarapan tidak seperti biasanya, yang bahkan jam segini sudah berangkat kerja fikir bik hasti. Namun sayang tidak ada respon dari dalam kamar leon. Bik hasti merasa khawatir namun merasa tidak sopan jika harus membuka kamar majikannya itu, ia pun menelpon Rama untuk menginfokan perihal ini.
"Hal... Halo, den Rama" Ucap bik hasti panik dari sambungan telp rumah.
"Eh, bik hasti kenapa? Kok suaranya panik gitu?? " tanya Rama yang kenal suara yang menelponnya ini, ia yang baru saja tiba di kantor mendapati suara handphonenya berdering bertuliskan nomor tlp rumah leon langsung segera di angkatnya.
"Itu den leon pintu kamarnya bibik ketok-ketok tapi gak ada jawaban, bibi khawatir terjadi apa-apa sama den leon.gak biasanya den leon belum bangun seperti ini" cerita bik hasti khawatir.
"bibik buka aja pintu kamarnya leon ya, minta tolong cek kondisi leon. gak apa rama izinin. Ini rama langsung ke rumah leon, info ya bik kalau terjadi sesuatu sama leon" pinta rama ke bik hasti yang paham kalau bik hasti merasa gk sopan jika harus membuka pintu majikannya dan ia sambil bergegas menyetir mobil menuju rumah leon. Merasa sudah mendapati izin untuk membuka kamar leon, bik hasti langsung membukanya dan di lihatnya leon masih tertidur dengan muka pucat dan bulir-bulir keringat membasahi tubuh leon.
"Astagfirullah den leon, panas banget tubuhnya" ucap bik hasti khawatir sambil memegang dahi leon yang masih terasa panas. Dengan panik bik hasti mencoba membangunkan leon namun leon tak kunjung bangun, ia pun segera mengabari rama perihal kondisi leon. Rama menjadi semakin panik, dan segera menelpon dokter pribadi keluarganya untuk segera datang periksa keadaan leon. Sambil menunggu kedatangan dokter dan rama, bik hasti mengopres dan meyeka keringat leon dengan handuk kecil dan air dingin agar panasnya turun. Sudah puluhan tahun bik hasti kerja di keluarganya leon dan mengurus leon dari kecil sehingga ia tahu tentang sakitnya leon dulu waktu kecil dikarenakan apa dan kenapa bisa sakit. Semoga saja leon tidak mengingat kejadian tersebut, karena takut terjadi sesuatu dengan majikan kesayangannya itu yang seumuran dengan putranya sendiri.
Selang 15 menit, rama datang bersamaan dengan dokter yang dihubunginya tadi. Dokter pun langsung memeriksa keadaan leon, melihat raut wajah dokter yang serius pasti terjadi sesuatu dengan leon. Benar saja dokter segera meminta menghubungi ambulans, untuk segera di rawat di rumah sakit karena tensinya benar-benar rendah dan panasnya tinggi.
Dokterpun menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans ke alamat rumah leon. Tidak berlangsung lama karena jarak rumah sakit tidak jauh dari rumah leon, ambulans sudah tiba dan dengan bantuan infus serta tabung oksigen leon di bawa menggunakan ambulans. Bik hasti ikut kedalam ambulans dan rama mengekor dengan mobilnya, tidak lupa ia mengabari papanya melalui sambungan handphone tentang kondisi leon. Walau sang papa dan leon sering bertengkar, ia tahu sang papa amat sangat cemas jika terjadi apa-apa dengan leon.
Dirumah sakit leon sudah mendapatkan penanganan di ruang IGD, muka cemas rama dan bik hasti akhirnya mereda saat dokter bilang kondisi leon sudah teratasi. Leon segera di pindahkan ke ruang rawat, dimana bik hasti dan rama masih setia menunggu leon siuman. Rama yang melirik jam tangan nya sudah menunjukkan pukul 13:00 dimana waktu terasa cepat sekali, ia sampai belum makan siang. Ia pun mengajak bik hasti untuk sekalian makan siang bareng dikantin rumah sakit, baru kembali lagi ke ruang rawat leon. Tidak lupa rama menyuruh asisten pribadinya untuk mencancel semua skedjul meetingnya hari ini karena baginya keluarga lebih penting. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan leon lagi seperti dulu saat waktu kecil yang hampir merenggut nyawanya. Ia yang dulu terpaksa kuliah di luar negri karena permintaan ayahnya dan mengetahui sang adik korban penculikan hingga sakit betapa sangat terpukulnya rama karena sebagai abang harusnya melindungi adiknya tapi ia tidak mampu melawan kerasnya sikap sang ayah pada dirinya yang harus tiba-tiba pindah kuliah ke luar negri.
***
"emmm, auuu... Aduhh" ucap leon baru tersadar menggerakkan tangan kanannya terasa sakit karena tertusuk jarum infus.
Rama dan bik hasti yang sudah tiba di depan pintu kamar rawat leon itu pun terkaget, melihat leon makan buah dengan rakusnya seperti orang kesurupan. Leon yang baru menyadari kedatangan bik hasti dan abang tersayangnya itu langsung tersedak. "uhuk.... Hukkk... "
Bik hasti dengan sigap, mengambil air untuk majikan konyolnya itu. Bisa-bisanya setelah buat khawatir sekarang malah bertingkah konyol.
"terima kasih bik" ucap leon tersenyum
"den leon lapar? " tanya bik hasti tiba-tiba melihat cara makan leon tadi.
"hehhee iya bik, laper banget. Karena gak ada makanan jadi makan buah yang ada aja deh" ucap leon lagi tertawa malu
"Bang rama bawa makanan kah? " tanya leon dengan wajah berbinar melirik tangan rama, yang memang membeli makanan untuk adiknya itu saat makan di kantin tadi.
"humm, ia ini makanan tapi makanan ini buat bang rama sendiri lah. Kamu kan udah sehat kelihatannya. Jadi beli sendiri sana. " ujar rama mencoba meledek leon.
"yah bang rama pelit, leon masih lemes banget ini bang sumpah deh" ucap leon padahal sudah sedikit lebih bertenaga karena makan buah yang hampir habis tadi.
"ok dimakan ini, habisin ya" kata rama menyerahkan makanan nasi kotak dengan lauk ayam goreng, sayur capcay seafood dan telur dadar itu langsung dimakan dengan lahapnya.
Rama dan bik hasti yang melihat leon makan dengan lahap seperti mukbang menelan ludahnya sendiri karena merasa ikut tergugah makan lagi padahal sudah makan tadi. Tidak ingin melihat lagi bik hasti memilih untuk pamit ke rumah karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum di selesaikan tadi, begitu juga dengan rama yang harus menemui dokter untuk menanyakan kondisi leon. Dibalik pintu ada sang papa yang memperhatikan anak-anaknya tersebut, bibir itu tersenyum melihat tingkah leon yang kelihatannya sudah baik-baik saja. Sebelum rama dan bik hasti melihatnya, sang papa pergi lebih dulu agar tidak ketahuan jika ia menjenguk putra kesayangannya itu. Namun rama sempat melirik ada bayangan seperti papanya tengah memperhatikan dirinya dan leon maupun bik hasti. Jika memang benar papa, rama hanya bisa mendoakan agar sifat gengsi papa bisa diturunkan jadi keluarga mereka bisa benar-benar berkumpul harmonis seperti dulu meski tanpa mama.
To be continued....
Kira-kira apa yang terjadi sama leon ya dimasa lalu?
ikuti terus ceritanya ya teman-teman dan para author...
terima kasih dan mohon dukungannya selalu🙏