Strange Love

Strange Love
cinta yang pudar



Sungguh hatiku tak berkutik lagi tak ada rasa seperti sebelumnya. Rasa yang begitu mengulum hati. Tak adalagi rasa itu. Sakit sungguh.


" Itu dia sudah datang". Teriak luciver.


" Sekarang tes pertama. Kamu lawan temanku dan yang paling banyak memasukkan bola ke keranjang itu yang menang, Kau berani?". Ejeknya.


" Aku berani, ayo sekarang". Jawabku.


Aku terus melompat melambungkan bola itu. Dengan mudahnya aku bisa melawan temannya dan memasukkan bola dengan variasiku. Sepertinya luciver kesal karena temannya kalah denganku. Dia mencoba berpikir mencari kelemahanku, mencari tes yang tidak mudah sekaligus tidak masuk akal untuk aku raih. Aku menikmati tes ini dan terasa menyenangkan.


" Priiit, selesai". Teriak peluit temannya sebagai wasit.


" Hei kamu kesini, tes yang kedua. kamu harus menangin pertandingan ini jika kamu mau masuk ke timku. Sekarang kamu harus melawan tim kami semua, kamu berani?". Tanya luciver dengan tak ada otak. Kenapa seperti itu. Ahh, aku hampir melotot marah.


" Kenapa diam, ayo kumpulkan keberanianmu, kamu mampu atau tidak?". Tanyanya.


Aku berpikir satu lawan lima. Apa yang akan terjadi?, aku harua bisa, semangat cin semangat, pekik hatiku.


" Ayo cin, semangat!, kamu pasti bisa!" . Teriak angel dan anggun.


" Ya, aku berani dan aku pasti menang ". Semangat jawabku tegas.


" Okey, pertandingan dimulai, priiit!". Teriaknya.


Pertandingan semakin panas. Belum pernah pertandingan itu berlangsung satu lawan lima itu pertandingan yang menegangkan. Aku mencoba lagi dan lagi. Aku mencoba memasukkan bolanya tapi aku dihadang banyak orang, bolanya diambil olehnya. Mereka punya taktik yanf handal yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya. Aku mencoba mengeluarkan kombinasi dan variasi yang ku pelajari dan aku berhasil. Aku mencoba membaca pikiran mereka. Melihat gerak-gerik mereka arah apa yang akan mereka akan lakukan. Waktu terus berputar dan akhirnya waktu sudah hampir habis.


" Prriiitt!, waktu selesai. Pemenangnya adalah cinta!". Teriak wasit.


Mereka kesal dan bercampur marah. Aku sangat senang bisa mengalahkan mereka yang handal tetapi kepalaku pusing dan terasa sakit sekali. Seperti ada yang menggerogoti kepalaku. Aku terhuyung, badanku gemetar dan jatuh, bruugk. Luciver tiba-tiba langsung berlari memelukku. Dia melihatku berlinang air mata dengan merasa bersalah.


" Lu-ci-ver, a-ku bi-sa me-ngalahkan tim bas-ketmu". Pekik lirih suara terbata-bataku.


" Cinta kamu kenapa?, bangun, katanya kau kuat, ayo bangun!!!". Teriak luciver.


Mataku tertutup rapat, semua ini gelap benar-benar gelap. Tiba-tiba aku pingsan dan semua orang mengkhawatirkanku. Detak jantung pun melemah. Alunan denyut nadi dan nafas pun lemah. Luciver merasa bersalah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia sangat gugup dan khawatir padaku. Dia tidak pernah merasakan hati yang tersentuh dan bergetar sebelumnya. Pertanda apakah ini?, pekik hatinya. Luciver beserta teman-temanku membawaku ke rumah sakit. Tiba-tiba ia teringat, ia harus menghubungi orang tuaku. Ini sangat darurat.


" Halo iya, Cinta kemana ya?, kok belum pulang?". Tanya ibuku.


" Iya, cinta di rumah sakit. Tante dan om datang ke sini ya ada sedikit darurat". Jawab luciver.


" Iya, terima kasih". Jawab dengan nada gerogi ibuku.


Andhit adikku dititipkan ke rumah tetangganya karena orang tuaku tidak mau menambah sedih anaknya. Andhit walau masih SD tapi bisa merasakan sedih juga. Andhit, dia masih SD usia 7 tahun dan ia adik laki-laki satu-satunya.


Lalu dokter beserta suster langsung menangani pasiennya yaitu aku, Cinta. Mereka bekerja keras untuk menyelamatkan nyawaku.


" Dok". Bergegas suster itu. Aku walau pingsan tetapi masih mendengar suara-suara mereka. Tapi pikiranku melayang entah kemana.


" Dok, dia kritis". Kata suster.


" Cepat masukkan ventilatornya, clopidrigel 320 mg". Saran dokter.


" Detak terus turun dok". Sela suster.


" Ambil defibrillator sekarang". Teriak dokter mengejutkan suster itu.


" Baik". Jawab suster dengan tegas.


" 1 2 3 hupp". Dokter menangkup alat pacu jantung di dadaku.


" 1 2 3 hupp". Teriak dokter.


" 1 2 3 huppp". Teriak lagi.


" Ritmenya naik dokter lihatlah monitor itu". Teriak suster.


" Alhamdulillah". Syukur dokter.