Strange Love

Strange Love
cinta pertamaku 4



Suara berteriak dan balonn meledak dihadapan wajahku. Aku terkejut dan melompat kaget. Ternyata mereka semua ada disini baik keluargaku maupun teman-temanku. Mereka sudah merencanakan ini sejak lama dan aku tidak mengetahuinya. Mereka mengucapkan happy birthday to you dan menyuruhku meniup lilin di kue itu.


" Selamat ya sayang, kamu sudah 17 tahun. Semoga panjang umur ya, do'aku selalu menyertaimu, sayang". Ucap mamah dan papahku.


" Iya mba, happy bitthday!". Teriak adikku.


" Selamat ya, cin". Ucap angel dan anggun.


" Terima kasih semua. Aku menyangka kalian lupa denganku dan aku seorang diri di sekolah. Apakah kalian yang merencanakannya?". Tanyaku dengan girang.


" Emm, sepertinya iya". Jawab angel.


" Hei, apakah kalian saja yang memberi selamat padanya, gantian dong". Sahut luciver.


" Selamat ya". Kata luciver dengan lagak sombongnya.


" Huu, beraninya cuman gitu doang" . Jawab angel.


" Hei girls, hargai dia sekali, hahaha". Jawabku menenangkan suasana.


" Iya, makasih. eh, tunggu. tapi ada syaratnya?". Tanyaku.


" Apa?, kenapa harus ada syarat sih?, aku salah apa sih sama kamu?, syaratnya yang gampang ajah deh". Usul dia.


" Kamu takut?, mau tahu?, emm apa ya?". Aku sambil berpikir. Ku aduk-aduk otakku tapi lama. Syarat buat luciver itu nggak gampang.


" Hah takut?, kau yang takut. Udah, jangan kebanyakan mikir, nanti kamu pingsan lagi deh. hahahha". Ucap luciver.


" Oh ya. aku tahu, aku ingin masuk ke anggota tim basketmu, boleh kan?. Itu syaratnya". Usulku yang aneh ini.


" Apa!, masuk ke tim basketku?, emangnya kamu bisa hah!, kena bola juga pingsan, heh". Jawabnya.


" Jangan menguji kemampuanku ya. Aku bisa kok". Jawabku dengan percaya diri.


" Oke. Tapi ada tesnya". Jawabnya.


" Apa!, aku yang beri syarat kenapa kamu beri syarat juga?". Tanyaku dengan marah.


" Ya, itu terserahmu. Mau atau enggak?". Tanyanya.


" Menyebalkan, oke aku siap dengan tantanganmu". Jawabku tegas.


" Besok di sekolah waktu pulangnya, jangan sampai kalah ya?". Ejeknya.


" Takkan kalah. Aku tantang dirimu". Jawabku.


Anggun dan angel menghampiriku. Mereka bertanya,


" Cin, apakah kamu sanggup menerima tantangannya itu?". Tanya angel.


" Iya aku sanggup, memangnya kenapa?". Tanyaku.


" Dia kan ketua tim basket". Sahut angel lagi.


" Iya aku tahu. Mau ketuanya kek atau kepalanya. Aku nggak mau tahu. yang penting aku bisa mengalahkan sok belagunya itu. Tenang ajah, aku juga jago main basket kok". Jawab kegiranganku.


" Iya udah, aku mendukungmu. Kita pulang dulu ya. Ini sudah malam. bye-bye cinta. have a nice dream". Dukung anggun.


" Iya terima kasih. bye-bye juga, hati-hati di jalan". Ucap doaku.


" Tante kita mau pulang. Malam sudah datang". Ucap anggun.


" Iya hati-hati, terima kasih ya sudah datang". Ucap mamahku.


" Sama-sama tan, kita pulang dulu ya". Ucap amgel.


Hariku terlelap lagi. Aku memikirkan masalah yang di depan mataku ini. aku bahkan berkata seperti itu. Hampir tak percaya. Lagian luciver sok belagu sih makanya aku tantang, pikirku. Pikir keri ( terjemahan:pikir nanti), jawabku dalam bahasa ngapak.


Esok hari tiba. Sinar mentari menyinari dunia. Langit begitu terang seperti rembulan. Udara segar terasa hingga turun ke hati, ehh maksudku ke paru-paru. Dunia meyambutku dengan bahagia. Kegiatan mulai padat. Mimpi indah terpotong. Saatnya beraksi.


" Cin, semangat ya". Dukung angel.


" Iya nanti kalo menang eat to eat ya?". Ucap anggun.


" Iya beres, tenang ajah. aku pasti akan menang". Geloraku.


" Hai, cin. kamu mau ikutan apa?". Tanya alexander teman sekelasku.


" Eh alex. iya nih aku mau masuk ke tim basketnya luciver tetapi aku harus menangin tes yang dia berikan padaku". Jawabku.


" Emangnya kamu udah tahu tesnya akan seperti apa?". Tanya alex.


" Belum sih. Tapi aku yakin, aku pasti menang". Jawabku.


" Ya, aku tahu. Kamu pasti menang, kan udah kelihatan. Enggak usah diuji sih, tapi kalau mau buktiin kan berat". Usulnya.


" Ah, biasa ajah, udah ya. Aku cabut dulu, nanti dikira mundur sebelum perang lagi". Gurauku.


Aku berlari ke lapangan menemui anak jahil itu untuk mengikuti tantangannya. Semua orang melingkari lapangan hingga padat untuk menonton. Aku berpikir, aku harus membuktikan kemampuanku di depan semua orang agar mereka percaya padaku. Aku berdo'a kepada Alloh tuhanku untuk menang dari pertandingan ini. Ku yakinkan diriku agar aku selalu menang.