
Aku ingin beranjak pergi ke sekolah dengan meneteng sepedaku. Tiba-tiba mobil temanku lewat di depanku.
" Hei, bareng yuk?, kamu ga usah pake sepeda". Tawarnya.
" Emm....., boleh, emangnya muat nih?, nanti malah nggak muat, hehehe". Bujukku.
" Ya elah, ya muat cin, masa enggak sih, kami kan cuma berdua, tempat duduk masih ada keleus, ditumpangin gajah mungkin juga muat, hahahaha...". Guraunya.
" Ya udah, aky masukin sepedaku dulu ya ke garasi. Tungguin aku lho ya". Buru-buru ke garasi dan balik lagi ke depan mobil temanku.
" Eh, udah siang nih nanti malah terlambat apalagi hari ini pelajarannya bu fatimah, yuk?". Celoteh temanku.
" Oh Iya nih, yuk". Jawabku. Aku langsung teringat pelajarannya bu fatimah.
Dengan serentaknya kami menjawab.
" Berangkat...."
Dalam perjalanan fokus ke depan dan ku perhatikan mereka satu persatu mereka sibuk dengan wajah meraka. Ada yang berebut lipstik ingin mencoba dan aku sibuk mengerjakan PR tapi dalam kamus PR bukan pekerjaan rumah ku singkat saja menjadi PS pekerjaan sekolah.
" Masuk ke kelas yuk?". Tanya temanku Angel.
" Ah, nantilah, aku laper nih, aku belum sarapan tadi, kita ke kantin yuk?". Ajak temanku Anggun.
" Yah, kamu sih kerjanya cuman makan doang, tapi aku lapar juga sih, kita ke kantin yuk?". Aku memberi usul.
" Aku enggak ya, aku harus menbaca di kelas untuk ujian besok". Sela Angel.
" Yah, kita nggak bisa sama-sama nih, kamu kan anak pintar di sekolah ini Angel, jadi aku nggak bisa melarangmu karena kan kita teman, walau pikiran kita enggak sama tapi kita tetap teman". Pendapatku.
" Ih, kamu kaya Mario Cinta deh, hahahaha..". Seru Anggun menghangatkan suasana yang dingin dan canggung ini. Haru bercampur bahagia kami berpelukan bersama kami seperti teletabis.
Aku dan Anggun memesan makanan untuk mengganjal perut kami yang kelaparan belum sarapan sampai-sampai anggun tambah lagi padahal aku saja cuma rames, mendoan anget dan es teh. Dia memang ratunya makan dan dia tidak memikirkan pola makan dan postur tubunhnya walau dia mencoba untuk diet tetapi dia tidak bisa menahannya lagi, ketika dia melihat makanan akibatnya tubuhnya seperti gentong air. Aku bahkan memikirkannya sudah terpingkal-pingkal saking gendutnya dia. Walaupun dia sering diejek teman-teman kelas tapi dia tetap tabah dan sabar, aku salut padanya.
" Emmm, angel ehmm kenyapa ya?, kok mmmm gak bayeng kita sih mmmm?". Tanyaku dengan mulut penuh. Anggun tak mengerti ucapanku. Akhirnya ketika aku akan mengulangi ucapanku.
" Inihh, air minumnya, jangan sampai tersedak lagi, inih cepat minum". Suara anak laki.
" Iya, terima kasih". Jawabku. Aku langsung meminumnya tanpa memperhatikan siapa yang memberi dan air apakah itu. Ternyata airnya pedas dan aku langsung meyemburkannya ke wajah yang memberiku minum.
" Lu-ci-ver...!" . Teriakku dengan marah.
" Apakah kamu tau, ini air apa?, kenapa kau berikan padaku, hah?". Teriakku dengan mengepalkan tangan.
Ia langsung menggertakku. " Iya, emang kenapa?, wajahku yang tampan lihat, basah karena semburanmu untung tidak bau dan ku tutup mataku jadi tidak pedas, kau mau apa?, menantangku?, seharusnya aku yang menantangmu, pergi dari hadapanku".
Aku menjawab," Kau jangan....". Anggun menghentikanku.
" Sudah, jangan dilayanin, dia memang seperti itu kerjanya cuman usil tapi.... dia ganteng". Bela anggun.
" Kau bukannya membelaku mlah, iiihhh!". Aku saking kesalnya.
Tetetetetete... bel berbunyi untuk pelajaran berlangsung dan guru pun masuk ke kelas kami. Buku pun dikeluarkan dan manaruhnya di atas meja dan membukanya berpura-pura sedang membaca.
" Wah, murid-muridku rajin sekali". Tegur bu fatimah.
" Baik, anak-anak sekarang kita kumpulkan PR kalian yang ibu berikan kemarin, okey?". Gertaknya.
" Okey bu". Jawab kami semua.
Aku mengambil bukuku tetapi bukuku hilang tiba-tiba begitu saja.
" Yang tidak mengerjakan, silahkan keluar". Atur bu fatimah. Dia adalah guru bahasa inggris yang galak dan ditakuti oleh anak muridnya. Sekali marah tidak pernah terampuni.
" Bu, saya sudah mengerjakannya tapi saya tidak membawanya, maafkan saya ya bu?". Tanyaku dengan muka minta belas kasihan. Sedihnya hatiku ini.
" Cinta, ibu sudah bilang kan, you are understand?". Tanya bu fatimah dengan muka menginterogasi mukaku ini.
" Yes, mom". Jawabku dengan langkah berat dan sedih.