Strange Love

Strange Love
Cinta pertamaku 1



Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terus berputar dengan keegoisannya tidak sekali pun aku ditunggu ataupun berhenti. Kegiatan mulai penuh, matahari beranjak naik. Sinarnya dapat membuat semangat seseorang untuk memulai kegiatan hingga terus menerus lambat laun dikerjakan.


Hari pertama masuk SMK saat yang ku tunggu. Usiaku remaja saat ini. Usia seperti ini biasanya hati yang penuh dengan penasaran dan kekaguman pada seseorang. Suatu mimpi diwaktu tidur. Aku mengkhayal dan mengkhayal. Aku terus mengukir imagination yang sekiranya itu baik tapi kadang dan kebetulan imagination itu menjadi reality kehidupan yang nyata.


Sebenarnya hari pertama masuk sekolah, aku sangat malu. Jiwaku yang polos dan keberadaanku sekarang adalah hari baruku. Hari dimulai di kota baru. Perjalanan menuju tujuanku. Kejadian berawal mengenai hidupku. Hidupku yang penuh dengan teka-teki dan rahasia. Jiwaku dipenuhi oleh kekuatan magis dari yang berasal.


" Mahhhh, dasiku kemana ya?". Tanyaku. Sepertinya mamahku sibuk di dapur dan tidak mendengarku juga tidak merespon. Dia menyiapkan segala kebutuhan keluarga kami, aku sangat bahagia, aku sangat sangat menghormati dan menyayanginya. Aku berlari menemui mamahku.


" Mahh, mamah tahu dasiku dimana?". Tanyaku penuh rayu.


" Mamah kan sudah bilang kemarin, suruh disiapkan, ehhh...., jangan ganggu mamah nanti sayurnya gosong, mamah sudah taruh di rak, sudah sana". Jawab mamahku sambil sembari mengusirku dari hadapannya.


" Makasih mah, mamah baik banget". Pelukku. Walaupun dia sering memarahiku tapi aku tetap sabar menghadapinya dan akan selalu menyayanginya.


" Mah, aku berangkat?, nanti aku terlambat". Aku sambil berlari menghampiri mamahku dan mencium tangannya.


" Sarapan dulu?". Tanya mamahku.


" Enggak mah, nanti di sekolahan ajah, dadah mamah, assalamu'alaikum?". Teriakku.


" Iya hati-hati, jangan lupa jajan yang higienis!". Saran mamahku. " Huh, anak itu kalau terlambat sedikit ajah". Pekik hatinya.


Aku mengayuh sepeda. dengan kecepatan tinggi sampai otot-ototku seperti keluar semua. Keringatku mengucur deras sampai membasahi dandananku yang ayu rupawan ini. Setiba di sekolah seperti di kuburan, sepi sekali. Ku pikir-pikir, apakah ini hari libur atau terlalu pagi atau bahkan terlambat. Jantungku berdetak kencang, seperti pikiranku melayang di udara dan berlari seperti dikejar anjing dan masuk ke dalam kelasku ternyata semua siswa sudah ada dikelas bersama seorang guru. Aku tersipu malu melihat diriku sendiri. Guru itu baik memberiku ijin dan menyilahkanku duduk. Dada dan nafasku tersengal-sengal, hiruk pikuk aku duduk. Pukul tujuh lebih ditunjukan maka dari itu seperti kuburan. Aku senyum-senyum sendiri lalu guru itu langsung menegurku.


" Kamu kenapa baru datang senyum-senyum sendiri?". Tanya guru itu padaku.


Semua siswa di kelasku menertawakanku. Aku merasa hari ini hari sial dalam hidupku. Seiring pelajaran berlangsung bel berbunyi dan mengganggu konsentrasiku.


Tiba-tiba, bruukkk!, aku terjatuh dari tempat tidur. Tubuhku terbanting dan sakit sekali rasanya. Aku melihat jam menunjukan pukul 12 malam. Ternyata hanya mimpi, aku menghembuskan nafas lega. Kulihat bagian tubuhku yang terasa sakit, ternyata ada dibagian wajah. Menorehkan warna biru dan bengkak dipipi. Aku risau jika teman-temanku melihat hal ini pasti mereka akan menertawanku. Aku mencari handsaplas untuk menutupi luka lebam ini. Aku balik tidur lagi lalu aku teringat bahwa tadi pukul 12 malam. Kata orang-orang, terbangun dari mimpi pukul 12 malam akan menjadi kenyataan, tidakkk! pekikku.


Kriinggg!... alarm berbunyi. Aku cepat-cepat bersiap ke sekolah sambil berpikir cari alasan untuk menutupi kejadian tadi malam.


" Cinta, ayo turun!". Teriak mamahku.


" Iya, mah". Jawabku.


" Kamu mau sarapan ap....hahaha". Mamahku sambil tertawa melihatku.


" Kenapa mah?, apa pakaianku salah?". Tanyaku.


" Tidak nak, tapi pipimu, hahhahh, habis ngapain kamu nak, nak, berantem sama tikus? atau ada monyet di atap plafon kita?". Ledeknya.


" Pah lihat, anakmu itu". Seru mamahku.


" Ihh...mamah, nggak seru". Aku mengalihkan pembicaran ini. Aku merasa sangat tidak nyaman didadaku ini.


" Udah ya mah, pah, ndhit, assalamu'alaikum". Aku salam pada mamah, papah serta adiku untuk membuyarkan ledekan mereka padaku.


" Rotinya?, wa'alaikumsalam". Teriak mamahku. Ada-ada ajah itu anak, Pekik hati mamah.