Six Sence In Love

Six Sence In Love
ExP 40. Hampir mati yang kesekian kali



Malam semakin larut, seluruh anggota keluarga telah terlelap dalam tidurnya, hanya Bayu yang senantiasa membolak-balikkan tubuhnya diatas pembaringan karena tak bisa tidur. Bayu sangat gelisah karena kegalauan di hatinya, sebagai lelaki normal, Bayu juga terkadang merasakan hasrat ingin bersama dengan lawan jenis dan entah mengapa malam ini ia sangat susah mengalihkan fikiran kotor di dalam otaknya, saat demikian tiba-tiba saja terdengar kaca jendela kamarnya yang diketuk dari luar.


'tok tok tok.'


Bayu yang samar-samar mendengar ketukan segera mengalihkan pandangan ke sumber suara, terlihat sekelebat bayangan menjauh dari sana.


Bayu melihat jam di dinding menunjukkan pukul 00.15, ia merasa penasaran siapa yang tengah malam begini mengetuk kaca jendela. Lalu ia mengingat teman-temannya memang sering melakukan itu untuk mengajak meronda dadakan atau sekedar mengerjainya saja.


Tanpa fikir lagi, Bayu kemudian membuka jendela kamarnya. Terlihat sosok wanita melambaikan tangan padanya, wanita yang sangat cantik, rambutnya yang sedikit bergelombang berwarna kecoklatan terurai hingga pinggangnya, wanita itu menggunakan dress lengan pendek berwarna putih tulang selutut. Wajahnya yang terkena sorotan lampu malam terlihat begitu cerah, dengan senyum mengembang yang mempesona membuat Bayu lupa diri.


Tanpa memikirkan apa pun, Bayu melompat keluar dari jendela mencoba menghampiri wanita tersebut. Wanita itu tersenyum dan berlari kecil meninggalkan Bayu dengan tangan yang melambai seraya ingin di ikuti oleh Bayu.


"Hai tunggu...." teriak Bayu.


Bayu yang terbuai tetap melangkahkan kakinya mengejar wanita tersebut, tanpa ia sadari, ia sudah berada di atas jalan khusus untuk kereta api. Wanita tersebut terus berlari semakin jauh namun semakin memperlambat langkahnya pelan-pelan hingga Bayu pun berhasil menangkapnya.


"Tunggu, siapa kamu?" Bayu mencekal pergelangan tangan wanita tersebut.


Wanita itu berbalik ia menampakkan wajah cantiknya, ia tertawa kecil dengan dada naik turun dan nafas menderu karena habis berlari.


"Hai Mas Bayu, aku Nilam."


"Nilam? Kamu tau namaku?" Bayu mengernyitkan dahinya sedikit terheran, karena ia tak pernah sekalipun melihat wanita tersebut.


"Jangan heran begitu, siapa sih yang ga kenal sama kamu Mas?" ucap wanita itu.


Wanita tersebut meraih lengan Bayu, tanpa penolakan dari Bayu membuat wanita yang mengaku bernama Nilam tersebut dengan leluasa mengusap lengan Bayu dengan lembut.


Bayu yang terhipnotis sejak awal, ia merasakan tubuhnya meremang, ada sensasi yang aneh mengalir dalam darahnya.


'Baru disentuh saja, rasanya semua bulu sudah berdiri tegak.' batin Bayu.


"Mas Bayu, kamu sangat tampan. Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, biasanya kamu sangat sulit untuk ku temui sehingga membuatku berfikir jika kamu tak akan pernah bisa ku gapai."


Bayu tetap tertegun memandangi bibir Nilam yang sedang berbicara tanpa mendengarkan apa yang wanita itu utarakan. Bayu benar-benar hilang akal.


'Kenapa bibir itu seolah-olah memintaku untuk mendekat?' batin Bayu.


"Mendekatlah, sudah kubilang kita akan menghabiskan malam ini bersama."


Tanpa Bayu sadari, wanita tersebut menyeringai dan memancarkan wajah penuh kemenangan yang sangat menakutkan. Seperti si pucung, Bayu terus saja mengikuti perkataan yang keluar dari bibirnya Nilam. Bayu mendekatkan wajahnya ke arah bibir Nilam, sebagai lelaki normal hal demikian tak perlu lagi di ajari karena memang mengalir begitu saja. Di bawah rembulan yang membulat sempurna dengan sinarnya yang terang benderang keduanya menumpahkan hasrat mereka. Akan tetapi, ketika Bayu mulai menyentuh area bagian bawah wanita tersebut. Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat sehingga ia memutuskan tautan di bibirnya. Bayu hendak menatap kembali wajah wanita yang sedang bercumbu dengannya, namun sorotan cahaya menyilaukan menerobos kedua bola matanya membuatnya memejamkan mata dan juga suara klakson kereta api yang memekakan telinganya membuatnya tersadar segera melompat melemparkan dirinya kesamping.


Bayu jatuh terhempas pada ilalang di tepian jalan kereta api tersebut, ia memejamkan kedua matanya mencoba menenangkan diri. Dengan perlahan ia bangun, matanya memindai ke tubuhnya yang sudah tak menggunakan kaos dan celana kolor yang sudah hampir melorot.


Ia lalu teringat apa yang telah terjadi tadi, bukankah tadi dia sedang akan hohohihi bersama dengan seorang wanita bernama Nilam? Lalu dimana wanita itu sekarang?


"Nilam... kamu dimana?" teriak Bayu masih belum menyadari siapa wanita itu sebenarnya.


Bayu menyusuri rel kereta api dengan panik, pandangan matanya mengedar mencari kesana kemari namun tak ada juga sautan atau tanda-tanda kehidupan lain. Pada saat itu ia kemudian menyadari ia telah diperdaya oleh makhluk dunia lain mengingat bau busuk yang tak asing di indera penciumannya.


"Sial, hampir saja nyawaku melayang dalam kenikmatan syetan," sesal Bayu sesaat "untung saja aku masih hidup. Hufft!"


Tak ingin berlama-lama disana, Bayu segera berjalan kencang menuju arah rumahnya. Sungguh memalukan fikiran kotornya membuatnya hampir kehilangan nyawa untuk kesekian kalinya, sesampainya di depan pekarangan rumah ia mendapati sesosok makhluk yang selalu mengikutinya. Namun Bayu tak menghiraukannya dan segera berlalu berbelok ke arah jendela kamarnya yang masih terbuka.