
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di tempat tujuan, rumah makan yang juga sering dikunjungi oleh Bayu, rumah makan biasa hanya saja ramainya luar biasa. Apalagi saat jam makan siang, pasti ramainya tak terkira.
"Jadi disini ya dek Tantri?" tanya Bayu setelah menepikan kendaraan mereka di tempat parkir.
"Iya Mas, masih ramai ya padahal sudah lewat jam makan siang."
"Iya sudah biasa."
"Mas Bayu pasti lebih tau, ini kan daerahnya Mas Bayu." ucap Tantri tersenyum.
Bayu pun membalas senyuman Tantri. Mereka pun masuk ke dalam rumah makan tersebut, dan disambut hangat oleh pelayan disana dan juga si empunya yang kebetulan sedang membantu melayani para pembeli.
"Eh Mas Bayu, tumben rapih... sama siapa tuh?" tanya pelayan disana menggoda Bayu.
"Wah pantas saja susah dihubungi, persediaan air sudah habis padahal. Aku jadi beli ke orang lain."
"Gapapa lah Mbak itung-itung bagi-bagi rejeki sama yang lain," Bayu mengurai senyumnya.
"Mas Bayu emang baik ya, ganteng lagi." kata salah seorang pelayan disana.
Mereka berdua kemudian memesan makanan dan berbincang-bincang.
"Dek Tantri kakinya kuat ya, bisa step motorku sejauh itu." kata Bayu.
"Aku udah biasa Mas, kadang kalo lagi touring bareng temen-temen suka ngalami hal kaya gitu jadi harus bisa juga kan." jawab Tantri tersenyum seadanya.
"Wah Dek Tantri suka touring juga rupanya. Pasti seru ya, sudah kemana aja pergi touring?"
"Kenapa ko takut?" tanya Bayu kembali.
"Aku sering melihat penampakkan-penampakkan yang sangat menyeramkan, aku hanya manusia Mas aku juga merasa takut sekali apalagi jika mereka berusaha berkomunikasi. Terkadang mereka sangat memaksa."
"Iya benar apalagi jika kita selalu di ikuti, diganggu. Aku juga kadang tidak mengerti apa yang mereka inginkan dari kita." ucap Bayu.
Obrolan demi obrolan mereka hanyalah seputar kelebihan mereka saja, tak terasa pesanan mereka telah dihidangkan kemudian mereka berdua menyantapnya dengan lahap karena memang makan disaat lapar adalah sesuatu kenikmatan. Setelah selesai mereka pun beranjak dari restoran tersebut, mereka pergi ke arah berlawanan sebab Tantri berpamitan akan pulang begitupun juga dengan Bayu. Namun sebelumnya mereka juga berjanji akan bertemu kembali di hari libur selanjutnya.
Bayu yang gabut malah pergi ke tempat Nano, padahal Bayu tau pasti Nano di rumanya sangat sibuk seperti biasa sedang membantu istrinya yang seorang penjahit terkenal di Desanya.
Saat berhenti disana, sudah terlihat di luar rumah, Nano yang sedang sibuk memotong kain dan ada beberapa pelanggan juga disana yang sedang dilayani oleh istri Nano membuat Bayu mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke rumah Nano. Sekilas Nano melirik ke arah Bayu yang sudah pergi menjauh.
...----------------...
Setelah pergi dari sekitaran rumah Nano Bayu pergi juga ke rumah teman-teman lainnya namun mereka semua sama-sama terlihat sibuk membuat Bayu putar arah kembali ke rumahnya.
'Semua orang sepertinya sibuk dengan pekerjaan mereka hanya aku saja yang sibuk dengan perasaanku sendiri.' batin Bayu.
Di perjalanan, tepatnya di jalan sekitar kebun bambu Bayu melihat sesosok makhluk kerdil yang pernah ia lihat dalam mimpinya. Makhluk itu sedang bermain sendirian diantara batang-batang bambu yang penuh dengan daun bambu kering yang berserakan ditanah.
Bayu menghentikan laju kendaraannya, ia penasaran dengan makhluk kerdil itu. Siapa sangka saat Bayu mengendap-endap mencoba mendekat tiba-tiba ada seekor ular ikut mendekat juga kearah makhluk kerdil itu.
...----------------...
bersambung,