Six Sence In Love

Six Sence In Love
Bertemu Tantri



Bayu akhirnya menjalankan sepeda motornya, entah mau pergi kemana dia sendiri bingung. Bayu hanya menyusuri jalan raya tanpa tujuan, sampai-sampai bensin dalam motornya pun habis tanpa dia sadari. Tiba-tiba saja mesin sepeda motornya berhenti, ia menepikan kendaraannya di bahu jalan, Bayu mengedarkan pandangannya clingak clinguk ketika menyadari dia sudah tidak ada di sekitaran Desanya. Ia ingat melaju ke arah perbatasan provinsi, sekarang di depan matanya ada pos polisi dan diseberangnya ada puskesmas Desa B.


Bayu terdiam mematung, sekelebat kejadian tiba-tiba melesat di otaknya kemudian selang beberapa saat kejadian itu pun terjadi persis di depan matanya. Ada sebuah truk pasir sedang berlalu dan dari arah berlawanan ada sebuah angkutan umum melaju perlahan akan tetapi tiba-tiba sebuah sepeda motor menyalip angkutan umum tersebut yang padahal di kanan jalan bertepatan dengan truk pasir yang melintas dan tanpa aba-aba terjadilah tabrakan maut.


Bayu pun spontan kaget, di depan sana ada pos polisi tapi tidak ada yang menjaganya. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu hanya sibuk memfoto serta memvidiokan dan menyebarkan di media sosial, tidak ada yang berusaha menolong pengendara motor tersebut. Pada akhirnya Bayu terpaksa membuka jaketnya dan menutup wajah si pengendara motor, sepertinya ada perdarahan di kepalanya karena benturan keras di aspal dan menyebabkan dia tewas seketika.


Saat Bayu bangkit dari jongkoknya, dia melihat ada seseorang menghampiri tubub jenazah tersebut. Dia hanya berjongkok dan menunduk, lalu mengucapkan terimakasih kepada Bayu.


Bayu berdiri dan memperhatikan serta bertanya-tanya. Siapa dia? Apakah dia temannya atau keluarganya? Tapi mengapa hanya menangis dan menunduk saja? Kenapa tidak buru-buru mengamankan jenazahnya dan menghubungi keluarganya? Akan tetapi pertanyaan itu langsung terjawab manakala orang itu mendongak melihat ke arah Bayu. Bayu menghela nafasnya... "hufft ternyata dia orang yang kecelakaan itu," orang itu memandangi tubuhnya yang sudah kaku dan bersimbah darah.


Menyadari itu, Bayu kemudian mundur dan segera mencari penjual bensin eceran. Dia ingin segera pulang.


Saat dia sedang mencari penjual bensin, sebuah panggilan terdengar di telinganya.


"Mas Bayuu... "


Bayu melirik ke arah suara tersebut, rupanya ada Tantri juga disana.


"Dek Tantri... "


"Mas Bayu mau kemana? Ko ada disini?" tanya Tantri.


"Ini aku lagi jalan-jalan saja dan tiba-tiba kehabisan bensin. Kamu tau penjual bensin sekitaran sini dek?"


"Aku tau, tapi jaraknya lumayan agak jauh mas. Capek kamu nanti dorongnya."


"Sebelah mana memangnya dek?"


"Memangnya kamu bisa?" dalam benak Bayu, bukan meremehkan tapi biasanya seorang wanita agak kesulitan jika harus men step sepeda motor.


Seperti mendengar apa yang ada dalam batin Bayu, Tantri menjawabnya.


"Aku bisa ko mas, sudah biasa. Lagipula cuma dekat sana saja jadi ga masalah buatku."


"Baiklah kalo gitu, ayo bantu aku."


Tantri tersenyum, ia segera menaiki kendaraannya begitu juga Bayu. Tantri men step motor Bayu mendorongnya menggunakan kaki kirinya, akhirnya mereka berdua sampai di tempat penjual bensin eceran dan membelinya. Di depannya ada rumah makan, kebetulan sekali Bayu juga lapar. Bayu kemudian mengajak Tantri untuk makan di Rumah makan tersebut.


"Dek Tantri lapar ga?"


"Kenapa? Mas Bayu lapar ya... "


"Iya aku lapar, lupa kalau ini sudah lewat jam makan siang."


"Tapi aku sudah makan tadi," sahut Tantri akan tetapi tidak dengan sahutan perutnya yang berbunyi seolah belum makan sedari pagi.


"Dek Tantri bohong ya... itu bunyi apa di perutmu?" goda Bayu.


"Hilih Mas Bayu, lagi ini perut ga bisa di ajak kompromi." Sungut Tantri.


......................


bersambung,