
"Ayo dek kita makan disana, tenang aja aku yang traktir." ajak Bayu.
Sebenarnya bukan soal uang yang Tantri hiraukan akan tetapi sesuatu di dalam rumah makan tersebut yang membuat Tantri berbohong soal perutnya.
"Bukan gitu mas... kita cari rumah makan lain aja yuk mas, jangan disini." ajak Tantri sedikit ragu.
"Loh kenapa memangnya dek? Kamu gak suka ya masakan di warung itu?" tanya Bayu merasa heran.
"Aku, pokoknya jangan makan disini yah...." pinta Tantri kembali memohon dengan memasang wajah so imut.
...*...
Wajah so imut kaya apa memangnya? Astaga bengek othor ga tau wajah so imut kaya mana yang cocok buat Tantri, coba kasih tau di kolom komentar readers tercintah...
...*...
"Kenapa sih dek? Aku jadi kepo." tanya Bayu kembali.
"Ck coba deh Mas lihat, masa Mas Bayu ga lihat disana ada apa!" Tantri menunjuk ke arah rumah makan tersebut dengan lirikan matanya.
Bayu pun mengikuti permintaan Tantri untuk melihat kesana, dia mengerutkan dahi dan hampir saja kedua alisnya bertautan menyatu saking keponya Bayu.
"Astaga... Aku kira cuma di luar saja ternyata ke dalamnya juga ada." ucap Bayu sambil mengelengkan kepalanya.
"Hilih Mas Bayu ternyata bisa ga fokus juga ya sama begituan." ledek Tantri, ia pun segera menaiki motornya dan mengajak Bayu kembali.
"Kita ke tempat lain saja yuk mas, ke sekitaran daerahmu ada rumah makan yang enak dan cocok di lidahku."
"Jauh dong keburu kenyang aku makan angin." gerutu Bayu, pasalnya perut Bayu memang sudah sangat kelaparan.
"Ga apa-apa lah dek kita makan disana, asalkan kita berdoa sebelumnya makanan itu ga akan bahaya buat kita." kata Bayu.
"Tapi aku ga mau Mas, lihat deh mereka meludahi semua makanan-makanan itu... geli, jijik banget lihatnya. Hilang selera makanku melihatnya. Mendingan makan angin daripada makan itu."
"Iya Mas, sepertinya pesugihan atau penglaris." Tantri menjawabnya dengan mantap tanpa ragu.
"Tapi aku penasaran jadinya, kamu ga mau lihat ke dalamnya dek?" tanya Bayu. "Atau memang sudah pernah kesana?"
"Aku pernah kesana sama temenku dan suaminya, tapi mereka itu ga bisa lihat. Temenku itu lagi ngidam dan keukeuh pengen makan disana padahal udah ku rayu dan ku ajak makan dintempat lain tapi maksa maunya disana. Makhluk-mahluk itu ada lima sepertinya, satu taruh di luar sebagai penarik pembeli dua di dekat etalase masakan dan dua lagi ada di dapur. Aku kira tadinya sama kaya yang Mas Bayu fikirkan, mungkin hanya hantu tersesat tapi ternyata pas makanan yang ku pesan datang di mejaku tiba-tiba makhluk itu meludahi makananku. Aku kaget juga pada waktu itu, aku pura-pura ga lihat aja dan gak kumakan lah jadinya. Untung juga temenku tiba-tiba mules perutnya sedikit kram dan buru-buru ku bayar lalu pergi ke puskesmas sana tapi pas nyampe depan Puskesma perutnya ga mules lagi sepertinya bayi dalam kandungannya tau bahwa makanan itu tidak layak untuk dimakan manusia." kata Tantri panjang lebar.
"Mungkin sebegitu sulitnya menarik pembeli sampai-sampai miara makhluk-makhluk itu ya dek?"
"Ga juga lah Mas, orang mah harus sabar nanti juga kalau ketemu jalannya pasti akan indah pada waktunya. Jangan patah semangat untuk menemukan jalan yang tepat bukannya semakin tersesat lebih jauh."
"Dek Tantri paham benar ya tentang kehidupan?" ucap Bayu tersenyum membuat Tantri ikut tersenyum, tersipu lebih tepatnya.
"Sudahlah mas ayo kita pergi dari sini, ga enak dilihatin terus sama pocong-pocong itu." ajak Tantri karena memang Tantri juga sebenarnya sudah lapar dan berencana makan di rumah makan yang ia sebutkan tadi sebelum bertemu dengan Bayu di lokasi kejadian kecelakaan.
"Iya hayu deh, males juga diplototin sama mereka. Mereka mungkin tau kalau lagi digibahin sama kita." kata Bayu terkekeh sendiri.
"Dih memang mata mereka kaya gitu lah Mas dari dulunya, mana ada mata pocong yang sayu menahan rindu."
"Malah curhat...." ledek Bayu.
"Aku manusia ya bukan pocong!" jawab Tantri sambil tertawa.
Mereka berdua tertawa bersama, sepertinya Bayu sudah bisa menguasai diri berbicara dengan lawan jenisnya.
Kemudian Bayu pun menaiki kendaraanya dan menstaternya lalu melaju beriringan dengan kendaraan Tantri.
......................
bersambung,