Six Sence In Love

Six Sence In Love
Jangan melamun nanti juga ngalamin



Bayu yang menyadari kehadiran ular tersebut juga menghentikan langkahnya, ia tau bahwa ular tersebut bukanlah ular biasa pada umumnya terbukti dengan ukuran ular itu yang semakin mengecil mengikuti ukuran makhluk kerdil di sana. Hari pun semakin larut, Bayu memutuskan untuk berbalik arah dan pulang saja tetapi saat melangkah suara pijakan kaki Bayu yang menginjak dedaunan bambu kering di tanah membuat suara nyaring sehingga terdengar oleh makhluk tersebut.



Menyadari itu makhluk tersebut segera berlari menyusup ke dalam rimbunan rumput-rumput liar di sana. Bayu yang melihatnya hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya menuju luar kebun bambu. Saat itu hari sudah terlihat remang-remang, suara hembusan angin sore yang menabrak batangan bambu semakin membuat seram ditelinga, tiba-tiba saja terdengar seseorang memanggilnya sehingga ia menghentikan langkahnya.


"Bayy... kamu lagi ngapain disitu?"


Bayu mengernyitkan dahinya, sudah sesore ini masih ada orang yang datang ke kebun bambu ini seperti dia.


"Hilih di tanya ko malah mikir?" seru suara tersebut. "Eh tapi iya juga ya kalo jawab pertanyaan kan mesti mikir dulu," sambil cengengesan si penanya membatin.


Sambil celingukan Bayu mencari sumber suara, "siapa itu?"


"Astaga... ini aku Bayy, moso kamu ndak lihat?" jawabnya.


"Ko suaramu mirip Nano? Itu kamu kah No?" tanya Bayu kembali dengan suara sedikit nyaring.


"Lah emang dikira siapa? Jelas-jelas orang ganteng no.70 di kampung ini ko."


"Idih no.70 jauh amat Noo... " ucap Bayu sambil berjalan ke arah Nano.


"Yo maunya sih aku no.1 tapi takut dosa."


"Ko dosa?" tanya Bayu heran.


"Yaa kalo bohong kan dosa jatuhnya."


Mereka pun tertawa bersama. Bayu merasa lega ternyata itu beneran Nano teman sejerawatnya.


"Kamu ngapain sih Bayy sore-sore ada di sini? serem tau," ucap Nano sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Ga ngapa-ngapain No, cuma lihat-lihat saja sambil cari angin." jawab Bayu.


Mereka melangkah beriringan menuju ke luar kebun bambu.


"Kamu sediri ngapain kesini No?"


"Aku juga ga ngapa-ngapain, tadi aku lihat motormu di luar sana. Kan aku jadi kepo?"


"Kepo melulu kamu No kaya emak-emak."


"Ya kan siapa tau kamu kenapa-kenapa atau kamu nemuin sesuatu gitu, biar aku ga ketinggalan info."


"Kamu ini No, ngomong-ngomong habis dari mana kamu No? Padahal tadi aku ke rumahmu kamu lagi sibuk banget keliatannya." tanya Bayu.


"Aku habis dari beli lampu, tadi ada konsleting listrik di rumahku. Ternyata ada lampu yang meleduk."


"Owalah."


Mereka akhirnya berada di luar kebun bambu dan menghampiri motor mereka.


"Kamu mau langsung pulang kah No? tanya Bayu.


"Iya, istriku nungguin ini lampu." tunjuk Nano yang menenteng kresek hitam berisi lampu neon. "Gelap kalo ga ada lampu, kasian ketumak tumuk gelap-gelapan."


"Iya Bayy aku juga."


Mereka pun akhirnya pergi melaju menggunakan motornya ke rumah mereka masing-masing.


......................


Beberapa saat kemudian Bayu telah sampai di rumahnya, ia memandangi bangunan itu kemudian menghembuskan nafas seolah ada beban berat di dalamnya dan bergumam. "Kemana lagi aku akan pulang selain ke tempat ini, ya Tuhan inikah takdirku?"


Sementara itu di dalam rumah, Sekar melihat apa yang dilakukan kakaknya lewat jendela kaca.


"Bu, itu Mas Bayu lagi ngapain di luar? Kaya orang melamun." tanya Sekar.


Ibu segera melongok memandang ke arah luar jendela, "mungkin Masmu lagi galau."


"Kenapa lagi Bu?" tanya Sekar kembali mengerutkan dahinya.


"Biasa soal jodoh sepertinya." ucap ibu.


"Iya kasian Masku itu, apa ibu sama bapak ga punya kenalan perempuan yang baik gitu buat Mas Bayu."


"Sudah berkali-kali ibu mengajak Masmu bertemu dengan anak-anaknya teman ibu, tapi ya gitu memang belum ketemu jodohnya."


"Seandainya perasaan cinta bisa dipaksakan, aku pasti maksain temen-temenku biar mau sama Mas Bayu."


"Masmu itu bukan ga ada yang mau tapi ga ada yang tahan, padahal ga di apa-apain juga tapi pada kabur."


"Aneh ya bu."


"Sudahlah jangan di bahas lagi, ibu jadi sedih. Lebih baik kamu samperin saja Masmu itu, mau sampai kapan dia di situ." titah ibu.


"Iya bu."


Sekar kemudian membuka pintu dan menghampiri Bayu di pintu pagar rumah mereka yang sebenarnya sudah terbuka lebar itu.


"Mas ngapain di situ? Ayo buruan masuk, nanti kemasukan anu loh."


"Kamu dek ngagetin aja." Bayu akhirnya mendorong sepeda motornya ke dalam pekarangan dan memarkirkannya.


"Idih kaya gitu aja kaget, makanya jangan kebanyakan ngelamun tar juga ngalamin ko yang penting sabar." Sahut Sekar sambil mengikuti Bayu dari belakang.


"Apaan sih dek, kamu sok tau."


"Ih ya tau dong, aku kan adiknya orang Indihouse." ucap Sekar sambil terkekeh.


"Indihouse opo? Cemacem aja kamu ini." kata Bayu yang kemudian berlalu pergi meninggalkan adiknya itu. Sesampainya di pintu rumah ia kemudian berbalik dan berucap, "ayo masuk ngapain kamu masih di situ nanti kemasukan anu loh."


"Idih nyontek kalimatku."


...----------------...


^^^bersambung^^^