
"Jadi, nak Regan ini tinggal dimana?" tanya Anna yang baru saja menyantap dan menelan makanannya.
"Kalau dari villa ini sih agak jauh tante, Perumahan Garzenia, tante." ujar Regan.
"Ah, tinggal sama siapa?"
"Mah ...," ucap Azea sambil melirik ke arah Anna karena menurut dirinya, Anna terlalu banyak menanyakan tentang kehidupan Regan.
"Ayah saya tante," jawab Regan.
Azea hanya menikmati santapan makanannya dengan kursi yang berhadapan dengan Regan, dan hanya mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ibunya kepada Regan, sepertinya Anna sangat antusias terhadap Regan ini daripada pacar Azea yang sebenarnya, Genta.
"Ibu kamu kemana? Berdua doang? Bagus dong, nih ayah Azea mah, orangnya-"
BRUK!
Azea kesal hingga memukul meja makannya dengan telapak tangannya hingga membuat Regan dan Anna kaget melihat tingkah Azea.
"Azea!" teriak Anna.
Azea langsung beranjak dari kursinya dan pergi ke lantai atas menaiki tangga dan berjalan ke arah kamarnya.
Keadaan menjadi canggung antara Anna dan Regan, mereka tak berkata apapun sejak itu tapi untungnya Regan yang memulai terlebih dahulu.
"Tante, aku susul Azea dulu." ujar Regan.
"Oh iya." Anna hanya tersenyum kecil dan entah kenapa dirinya menunjukkan matanya berkaca-kaca.
Regan langsung beranjak dari kursinya dan menuju ke lantai atas, dia mencoba menyusuri langkah Azea tadi hingga tepatnya dia menemukan kamar Azea dengan bertuliskan di depan pintunya sebuah stiker bertuliskan nama Azea.
Saat mau masuk dia langsung membuka pintunya tanpa mengetuknya, dan untungnya pintu kamar Azea tak dikunci.
Ternyata, Azea sedang berdiri di balkon luar kamarnya, melamun tentang percakapan tadi saat makan malam, dan dia menghisap sebuah permen mint.
Regan menghampirinya tepat berada di sampingnya, dan menyodorkan telapak tangannya.
"Apaan?" Azea yang menyadari itu langsung bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan oleh Regan hingga dia menyodorkan telapak tangan kanannya.
"Minta permen."
"Ya ampun, ini anak, ambil tuh deket tempat tidur."
Regan langsung mengambil permen tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya, dan dia kembali menghampiri Azea yang sedang menatap langit-langit malam yang kini benar-benar indah untuk dilihat.
Dengan cara itu Azea dapat membersihkan pikirannya dengan tenang dan tentram.
"Mau cerita soal tadi?" tanya Regan.
Azea yang tadinya menatap langit malam, kini perhatiannya tertuju pada Regan.
Menatap Regan dengan rahang yang kuat, matanya yang sangat indah berwarna kecoklatan, itu membuatnya melupakan seolah-olah dirinya mempunyai pacar yang baru saja tadi baikkan.
Bibir Regan yang entah kenapa berwarna kemerahan, padahal Azea tahu bahwa Regan itu perokok karena sesekali Azea mencium tubuh Regan yang bau rokok, tapi itu tak membuat Azea berhenti memandanginya.
"Kenapa?" Regan bertanya-tanya karena Azea menatapnya dengan tatapan yang beda, seakan-akan itu membuat Regan juga menatap balik Azea.
Entah apa yang dirasakan oleh Azea malam ini, tapi dirinya ingin sekali mencium bibir milik Regan.
Cuph....
Bibir Azea mendarat di bibir Regan dengan kedua matanya yang terpejam. Regan yang tentu tak ingin melewatkan kesempatan itu dia mulai membuka bibirnya, membuat Azea dapat mengakses mulutnya.
Untungnya Regan telah mengunyah permen mint sebelumnya, hingga tak ada celah untuk memberhentikan ciuman dari seorang Azea.
Regan tersenyum dikala Azea terus melahap bibir Regan, tak lupa kedua tangan Azea di tempatkannya ke kedua pundak Regan.
Mereka saling beradu lidah satu sama lain, kedua tangan Regan menarik pinggang Azea hingga tubuh mereka benar-benar berdekatan.
Oh tidak, Azea benar-benar hanyut dengan ciuman yang dia berikan kepada Regan, membuatnya tak sadar bahwa ini benar-benar melampaui batas.
Tetapi entah kenapa, Azea sendiri malah menikmatinya, apa karena dia kesal karena ibunya membahas tentang ayahnya dan melampiaskan kekesalan ini dengan sebuah ciuman?
Regan sesekali menggerakkan kepalanya agar ciuman yang mereka lakukan tidak kaku. Ciuman yang berlangsung beberapa menit ini, berubah menjadi ciuman panas.
Tetapi, tak lama kemudian, mereka melepas pagutannya karena kehabisan stok nafas, mereka-pun bernafas dengan berat, bisa terasa oleh Azea maupun Regan, hembusan nafas yang keluar dari hidung mereka benar-benar membuat mereka merasa hangat.
"A ... Aku pikir, kamu harus pulang...," ucap Azea dengan nafasnya yang menggebu, kini memegang kerah baju Regan dan menatapnya dengan pelan.
Regan hanya mengangguk pelan sembari menatap Azea balik, dia sangat dibuat buai oleh Azea malam ini, ciuman ini benar-benar sangat berarti oleh Regan dan tak akan pernah dia lupakan.
Seorang Azea, gadis baik, pintar, teladan, dan lugu ini ternyata merupakan seorang pecium yang handal dimata Regan, dan sukses membuat Regan sangat dibuat jatuh cinta padanya.
Azea menarik lengan Regan dan membuat Regan yang tadinya menatap mata Azea kini mulai mengikutinya dari belakang.
Azea membawa Regan keluar dari kamarnya dan turun dari tangga, serta keluar dari Villa Azea.
"Aku mau pamitan sama mamih kamu dulu." ujar Regan.
"Hm, kayaknya udah tidur ... Udah kamu pulang gih, udah mulai malam juga," kata Azea.
"Baru jam delapan,"
"Bye!" Azea kembali ke Villa nya dan berusaha tak mengingat kejadian di balkon kamarnya tadi, kejadian dia yang tiba-tiba ingin sekali mencium bibirnya Regan.
"I love you Azea!" Regan berteriak dan membuat Azea panik entah kenapa dan buru-buru masuk ke Villanya, tetapi itu membuat Regan tersenyum.
Regan tersenyum beberapa kali saat perjalanan pulang di taxi online yang sudah dia pesan.
Mengingat bagaimana Azea menciumnya dan meresapinya serta bagaimana bibir Azea yang kenyal itu berlabuh di bibirnya, oh tidak, sekarang wajah Regan kini memerah, memikirkan kejadian tadi.
Sedangkan Azea dikamarnya kembali dibuat bimbang dan bersalah, tadi siang dia sudah baikkan dengan pacar kesayangannya dan malam ini, dia malah mencium seorang Regan yang terkenal Bad Boy disekolahnya, cowok yang sangat disukai oleh sahabatnya, Sisi.
Tiba-tiba pikiran Azea melambung tinggi, dia memikirkan bagaimana nantinya jika Sisi mengetahui rahasianya dengan Regan. Apakah Sisi, sahabatnya itu akan membencinya?
"Hhh!" Azea membanting bantal empuknya ke lantai, tetapi anehnya lagi dia malah mengambil bantalnya lagi yang sudah berada di lantai.
Ah! Hari yang rumit dan menegangkan bagi Azea, tetapi, di satu sisi ada yang sangat bahagia dengan hari ini dan dia berharap ingin mengulang kejadian ini lagi, iya seseorang itu adalah Regan.
Di sisi lain, seorang Azea benar-benar terlelap, berharap hari esok adalah hari yang bisa dia hadapi, dan semoga hari yang baik.
***
Bersambung....