She Kissed The Bad Boy

She Kissed The Bad Boy
Chapter 3 : Menghindar



"Ah tuhkan telat!"


Untuk pertama kalinya di hidup Azea, dia kini merasakan apa yang namanya 'telat', karena sibuk memikirkan Regan yang semalam memenuhi otaknya hingga lupa memasang alarmnya. Perasaan khawatir beserta rasa takut akan di hukum oleh guru BK, mulai memenuhi dirinya.


Jam menunjukkan pukul setengah 8 lebih, gerbang di tutup jam setengah 8 pas.


"Mati aku!" Azea merutuki dirinya sendiri.


"Jangan mati dong, entar yang cium gua siapa lagi?"


Regan tiba-tiba muncul dari belakang Azea, dan memegang pundak bagian kanan Azea.


"Ih, l-lo lagi!" Azea kesal karena bertemu dengan Regan lagi.


"Kenapa? Kangen?" Regan menggoda Azea dengan mengelus-elus pipi Azea dengan sisi telunjuk tangan kanannya.


"Ih!" Azea menyingkirkan telunjuk tangan Regan dengan tangannya.


"Sini...." Regan menarik tangan Azea dengan cengkeramannya yang kuat dan itu membuat Azea terpaksa mengikuti Regan yang berlari hingga ke belakang bangunan sekolah dengan pagar bertembok yang agak tinggi.


"Di-disini se-sepi! Ma-mau ngapain!!!" Azea tiba-tiba gugup dan berpikiran yang aneh-aneh, melihat situasi yang sangat sepi di belakang bangunan sekolah dan hanya berduaan dengan Regan.


"Kamunya mau kita ngapain?" Regan berbisik di telinga Azea dan membuat tubuh mereka berhimpitan hingga Azea bersender ke pagar bertembok itu.


Azea mulai mengeluarkan semburat merahnya, dan mendorong Regan dengan sangat panik. "Apaan si! Udah ah gua pergi!"


"Eh, bentar dong, mau masuk sekolah nggak?" Regan menarik tangan Azea dari belakang.


Azea menoleh dan menaikkan kedua alis matanya.


"Ini ada tangga, cepetan naik, kelas bentar lagi kan masuk," ucap Regan yang mengambil tangga yang tersembunyi dibalik rerumputan.


"Keliatan banget suka telat," sindir Azea dengan nada yang kecil.


"Apa-apa?"


"Eh... Nggak, ja-jangan ngintip!"


"Yee... Kalo itu mah bonus."


"Dih!"


Azea tidak ingin terlambat dan dia juga tak ingin bolos sekolah, jadi satu-satunya cara agar bisa masuk ke sekolah tanpa ketahuan, ya dengan caranya Regan.


Baju sekolah Azea yang pendek dan memakai rok span yang juga pendek, membuat Regan tersenyum menang.


"Kamu aja yang naik duluan," ucap Azea.


'Sialan.' umpat Regan di dalam hatinya.


"Eh... Nggak bisa dong," kata Regan yang kini sudah memegang tangganya. "Udah ah cepetan, bawel, aku yang pegang," lanjutnya.


"Pft... Jangan ngintip pokoknya!"


Azea berjalan dan menaiki tangga tersebut, tangan kanannya memegang pegangan pada tangga tersebut, sedangkan tangan kirinya menutup rok span agar tidak melebar ke mana-mana.


Tetapi, baru setengah jalan, Azea tak bisa lagi menutupi rok span pendeknya itu, sekarang kedua tangannya berpegangan penuh pada tangga tersebut.


Regan yang melihat itu dari bawah hanya tersenyum puas, kapan lagi dia bisa melihat paha yang putih dan mulus, seperti yang Azea punya?


"Jangan ngintip!" Azea menoleh ke bawah tepatnya ke kedua mata Regan.


Regan langsung menutup kedua matanya seketika sesaat Azea menoleh ke arahnya.


Kini, Azea sudah berada di area sekolah, "Aku ke kelas duluan...."


"Tung-"


"Bye!"


Azea berlari meninggalkan Regan sendirian yang kini masih naik tangga.


Tetapi, bukannya kesal dengan kelakuan Azea, Regan malah tersenyum.


***


"Sis, maafin banget ya, malem nggak jadi, gua tiba-tiba pusing,"


Azea yang rencananya akan mentraktir Sisi, merayakan kemenangannya, tetapi rencana itu dibatalkan oleh Azea, karena sesuatu yang terus mengganjal di otaknya. Apalagi kalau bukan Regan.


Azea harus melupakannya, itu hanya insiden kecil. Dia harus tetap setia terhadap pacarnya, Genta.


"Nggak papa ko Zea, lagian kemarin kan gua juga ketiduran," Sisi tersenyum.


"Yaudah gua traktirnya di kantin gimana?" tanya Azea.


"Siplah kuy, otw." jawab Sisi.


Mereka berdua pergi dari kelasnya untuk pergi ke kantin.


Mendengar pertanyaan dari Sisi, Azea kembali gugup. "Eh... Itu ... Anu, udahlah nggak usah dipikirin hehe."


"Dih, ni anak, traktir gua baso jumbo pokoknya." Sisi menyenggol badan Azea.


***


Untuk yang kedua kalinya, Azea dan Sisi kembali berpapasan dengan Regan.


Azea benar-benar terlihat malu, dia bahkan menundukkan wajahnya dan berjalan dibelakang Sisi, menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh Regan.


"Astaga Zea, he's here!" Sisi mulai girang dan menoleh ke arah belakang, tetapi, saat Sisi menoleh ke arah belakang, Azea malah menundukkan kepalanya di punggung Sisi.


"Hey...." Regan menghampiri dan menyapa mereka berdua, tetapi tepatnya bukan mereka berdua, melainkan Azea. Ya, Regan melihat Azea, walaupun dia bersembunyi dibelakang Sisi.


"Sisi, cepetan ayo ke kantin!"


Azea buru-buru lalu menarik tangan Sisi untuk pergi ke arah kantin dan meninggalkan Regan sendirian.


Dia takut, Regan akan membahas dan menggodanya lagi tentang ciuman yang mereka lakukan di lab kimia dan hal itu terdengar oleh Sisi.


Sisi terbawa lari oleh Azea, bahkan dia pun tak sadar dengan itu, sedangkan wajahnya melirik dan menatapi Regan dengan tersenyum.


"Azea, apa-apaan si?!" Sisi mulai sadar seketika saat di pertengahan jalan.


"Udah ah gua keburu laper." ucapnya sambil mengelus-elus perutnya.


"Yee..."


Mereka sampai di kantin beberapa saat setelah itu.


"Hai sayang!" Genta sang Ketua Osis alias pacarnya Azea, dia menghampiri Azea dan Sisi yang kini sedang mengantri untuk pesan makanan.


"H-Hai...." Genta memeluk Azea, tak peduli banyak kerumunan yang melihat mereka berdua.


"Bu, Baso jumbo 2 porsi ya bu!" teriak Sisi kepada Ibu Penjual Baso yang ada di kantin sekolah.


Azea, Genta dan Sisi, mereka bertiga kemudian duduk di kursi yang kosong.


"Ze, kayaknya hari ini aku bisa nemenin kamu lagi, acara Osis nih, nggak boleh di skip nih."


"Nyebelin," Azea memasang wajah kecewanya.


"Ya ampun, manis banget pacar aku," ucap Genta sambil mencubit kedua pipi Azea dan memainkannya ke kanan dan ke kiri.


Sisi yang agak skeptis saat melihat itu dia langsung pergi dan mengambil baso untuk dirinya dan Azea.


Pipi Azea masih di mainkan oleh pacarnya itu dan perhatiannya masih tertuju ke kedua matanya masih tertuju pada Genta.


Tetapi, beberapa saat kemudian, cowok dengan bergelar Bad Boy alias Regan, mengalihkan perhatian Azea yang tadinya menatap kedua mata Genta, kini dia melirik ke arah Regan.


Para siswi-siswi yang berada di kantin tentunya mereka melihat Regan yang gawatnya kini menghampiri ke arah Azea.


Azea membelalakan matanya saat Regan berjalan menghampiri dirinya.


"Aku ke toilet sebentar!" Azea panik dan langsung meninggalkan Genta dan Sisi yang masih ada di kantin dan dia berjalan ke toilet.


***


"Astaga... Semoga nggak ketemu dia lagi." Azea berada di toilet dan sedang bercermin di kaca toilet, meyakinkan dirinya agar tidak bertemu dengan Regan.


Dia berjalan ke luar toilet untuk kembali ke kantin.


Pas sekali saat Azea keluar, seseorang menarik lengannya dengan cepat dan berlari hingga membuat Azea juga berlari.


Siapa lagi kalau bukan Regan, ternyata Regan daritadi menunggu Azea di samping toilet perempuan, menunggunya untuk berbicara dengannya.


"Lepasin!" Azea berontak karena lengannya dicengkeram dan di berhasil melepaskan tangannya yang dicengkeram oleh Regan.


Mereka kini berada di gedung belakang sekolah, yang tempatnya benar-benar sepi dan jarang ada siswa yang berada di belakang gedung sekolah.


"Gua suka sama lo," ucap Regan dengan menatap kedua mata Azea.


"Gua juga tau, kalo kita itu sama-sama menikmatinya." tutur lanjutnya.


Azea yang mendengar itu langsung menunjukkan wajahnya yang memerah dan menamparnya tepat di pipi Regan tanpa berbicara sedikitpun.


Apa yang dipikirkannya? Azea hanya menganggap kejadian itu merupakan sebuah insiden kecil, hanya karena insiden kecil itu dia langsung menyatakan cintanya kepadanya?


Sungguh benar-benar membuatnya tak habis pikir!


***


Bersambung...


Please follow, vote & comment :') See you on the next chapter!