She Kissed The Bad Boy

She Kissed The Bad Boy
Chapter 1 : Titik Mula



"Selamat kepada Azea Azzenkia kelas 11 MIPA 2 yang berhasil memenangkan kontes membuat puisi untuk juara kesatu ditingkat provinsi!" Suara tersebut berasal dari mikrofon pengumuman yang terpasang di sekolah dengan tujuan menginfokan sebuah pengumuman.


Pengumuman yang sangat-sangat baik didengar untuk seorang Azea itu membuatnya mengukir senyuman yang manis terpancar di wajahnya itu.


"Wah... Azea, selamat ya..." ucap salah satu siswa yang ada dikelas Azea.


"Azea! kamu keren!"


"Sumpah, Good girl always shine!"


Dua sampai tujuh siswa datang ke bangku Azea dan mengucapkan selamat kepadanya.


"The Good Girl always savage!!!" Sisi, sahabat Azea itu mencubit pipinya Azea.


"Awh! Sakit..."


Puisi yang dia buat dan dikirimkan oleh guru ke lomba tersebut, tak menyangka akan memenangkan juara kesatu, dia benar-benar sangat senang akan hal itu.


"Untuk Azzea Azzenkia, dimohon untuk ke ruangan informasi, sekian terima kasih."


"Ayo, gua antar." ujar Sisi kepada Azea.


Azea menganggukkan kepalanya dan mulai berdiri dari bangkunya lalu mulai meninggalkan kelas, berjalan ke ruang informasi.


Di perjalanan menuju ruang informasi, mereka berpapasan dengan salah satu cowok yang sangat-sangat dikenal oleh satu sekolah dengan predikat 'The Bad Boy' yang bernama Regan itu.


Sisi yang melihat itu mulai tergirang-girang, sedangkan Azea? Dia malah merasa acuh tak acuh terhadap Regan itu.


Rambut acak-acakan, baju dikeluarin, pakai dasi yang nggak bener, membuat Azea ingin sekali mencubitnya.


Tetapi, tetap di poin pertama, Azea tidak peduli akan hal itu.


Regan melewati mereka berdua dengan acuh, bahkan tanpa melihatnya sedikitpun.


"Astaga, Aku bener-bener gak habis pikir, kenapa doi ganteng banget," ucap Sisi yang baru saja mengatakannya, setelah Regan melewatinya.


"Hih..." Azea bergidik bisa-bisanya sahabatnya menyukai anak berandalan di sekolah ini.


Azea masuk ke ruang informasi, sedangkan Sisi menunggu di luar.


Tak lama kemudian, Azea keluar dengan membawa sebuah Trophy bertuliskan,


'Juara Pertama Kontes Membuat Puisi Tingkat Provinsi'


Azea tersenyum kepada Sisi dan memeluknya.


"Damn, you go girl." ujar Sisi.


***


"Sayang, kamu ada waktu nggak? buat rayain kemenangan aku, cukup kita berdua aja kok, nggak apa-apa," tanya Azea kepada pacarnya yang bernama Genta dan merupakan Ketua Osis di sekolahnya ini.


"Yah... Aku jam 4 ada acara sama anak-anak osis, terus malemnya aku ada les." ujarnya dengan nada yang kecewa.


"Ah gitu, yaudah nggak papa, aku nanti ajak Sisi aja..." Azea tersenyum kepada Genta, tetapi sepertinya Genta ini tidak peka dengan Azea rasakan, faktanya dia kini benar-benar kecewa, karena pacarnya yang satu-satunya ini tak bisa menemani merayakannya hari ini.


"Udah, nanti besok gimana? Rayainnya?" Genta memegang pipi Azea.


Entah kenapa, Azea tersenyum kepadanya dan mengangguk senang.


***


Ting... Ting... Ting!!!


Bell sekolah berbunyi Azea yang kini sedang berada di lab kimia, akhirnya tersenyum karena bell akhir itu berbunyi, namun, masih ada catatan yang harus ia tulis sebelum dia pulang.


Para siswa dan siswi yang ada di kelas MIPA 2 telah pulang meninggalkan lab kimia, hingga sekarang hanya tersisa Azea dengan Sisi.


"Sisi, pulang duluan aja, gua ini masih banyak yang di catet, kalau aja gua ga ke toilet tadi, udah jangan nungguin gua. Pulang duluan aja." ucap Azea yang kasihan sahabatnya harus menunggunya hingga selesai menulis rangkuman.


"Beneran nih? Tapi yang penting nanti malem jadi kan?" tanya Sisi yang menanyakan acara traktir Azea, merayakan kemenangannya.


"Iya nanti, kontek-kontek aja." ujar Azea.


"Yaudah bye... Jangan lupa kunci pintu lab nya terus serahin ke ruang informasi ya."


"Gua udah tau, nyonya sisi..."


Sisi terkekeh, lalu dia bangkit dari mejanya dan meninggalkan Azea sendirian di lab sekolah.


Azea menulis lagi di bukunya, masih ada dua lembar yang harus dia kerjakan dari buku paket Kimia yang besarnya itu.


BRAK!!!


Azea sontak kaget, dengan pintu lab yang tertutup dengan keras.


Dia langsung menatapnya dengan sinis. Bagaimana bisa seorang Regan datang ke lab kimia dan menutup pintu lab dengan keras dan sengaja?


Regan berjalan ke arah meja paling pojok, mencari sesuatu di setiap meja.


"Bisa gak? Tutup pintunya biasa aja?" ledek Azea kepada Regan yang masih mencari sesuatu di setiap kolong meja.


Regan menghiraukan seorang Azea, dia tidak mendengarkannya.


"Akhirnya ketemu!" Regan ternyata menemukan handphonenya yang dia sendiri lupa untuk mengambilnya di lab kimia.


"Sial, baterainya abis." Regan mengumpat ketika dia ingin menyalakan handphonenya itu.


Azea tidak peduli, dia kembali menulis rangkumannya.


Regan melihat Azea yang sedang fokus menulis itu, hanya melihatnya sekilas dan langsung berjalan ke arah pintu lab.


Sesuatu yang tidak beres terjadi, pintu lab tidak bisa dibuka!


Regan menarik-narik pintu lab tersebut, namun, nihil dia tidak bisa menariknya.


Dia mulai memakai otot bisepnya itu, ditariknya pintu lab dengan kasar, namun tetap tidak bisa dibuka.


"Hei... kamu!" Regan memanggil Azea, tentu saja Azea menolehnya.


"Ini tidak bisa dibuka, can you help me at least?" lanjutnya.


"Ck... Tinggal buka aja apa susahnya." Azea memutar bola matanya.


Regan kembali menarik-narik pintu tersebut, tetapi tetap saja, tidak bisa.


"See?"


Azea mulai menunjukkan wajah khawatirnya, dia beranjak mendekati arah pintu dan membukanya, tetapi sama seperti Regan, dia juga tidak bisa membukanya.


"Ah! Kuncinya ada diluar, sial!" umpat Azea, dia lalu mengambil handphonenya yang berada di tas. "Sial mati juga."


"Ck." Regan berdecak.


"Lo sih!" Azea menyalahkan Regan karena menutup pintunya dengan sangat keras.


"Kok gua si!" Regan merasa tak pantas untuk disalahkan, bukan salah dia kalau pintu ini pintu yang tua.


Azea berlari ke arah jendela, namun, tak ada siapa-siapa yang melewati lab tersebut, lagipula jendela tersebut tidak bisa dibuka, dan parahnya lagi lab kimia ini berada di ujung sekolah.


Azea berjongkok menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kenapa juga dia harus berduaan bersama Regan ini?


Sudah-mah, AC dingin.


"Sialan." Regan kembali membuka pintu dengan cara menariknya.


Sesekali dia mendobraknya dengan kakinya, namun, usaha itu sia-sia.


"Udah deh lu diem, berisik tau ga." Azea benar-benar kesal, kalau saja dia pulang duluan dan menyelesaikan rangkumannya di rumah saja, tetapi takdir berkata lain, dan malah mempertemukannya dengan Regan.


Sungguh benar-benar hari yang sial untuk Azea.


***


2 Jam Kemudian


***


Azea dan Regan tak saling berbicara selama dua jam kedepan. Jam yang ada di dinding menunjukkan jam 6 Sore, hari mulai gelap, udara mulai dingin, namun, AC tetap menyala.


Mencoba berteriak pun tidak akan ada yang menjawab karena sebelumnya dia sudah mencoba. Azea tak menemukan remot AC dimanapun, dia mencari kunci cadangan di lemari dan meja guru pun itu tidak ada.


Dia stay di dekat jendela siapa tahu, ada yang lewat, dia bisa minta tolong kepadanya.


Regan dari tadi hanya diam. Merasa bersalah, Regan mulai mendekati Azea yang sedang duduk di meja ke arah jendela.


"Maafin gua." itulah yang dikatakan oleh Regan.


Azea menghiraukannya, kali ini dia mengusap-usap tangannya, merasa sangat dingin.


Regan duduk disebelahnya Azea, mendekatkan dirinya bersampingan, tetapi, hal itu membuat Azea beranjak dari meja nya dan berpindah tempat.


Tak lama kemudian, Azea benar-benar sangat kedinginan, hanya memakai rok span yang hanya menutupi kakinya sampai tengkuknya dan baju putih pendek, membuatnya sangat-sangat kedinginan.


"Gua peluk ya, lo pasti kedinginan." ujar Regan.


"Enak aja lo! Mentang-mentang keadaan kaya gini, lo berani cari-cari kesempatan!" Azea kesal.


Tetapi, Regan tak mendengarkan celotehan Azea dan kini dia malah memeluk Azea.


Azea membulatkan matanya, pelukan seorang Regan itu benar-benar membuat pipinya memerah panas.


Entah kenapa, pelukan dari seorang Regan itu dapat membuatnya tenang dan benar-benar terasa hangat ditubuh Azea.


"Nah kan?" Regan tersenyum penuh kemenangan.


Azea benar-benar merasa malu, tubuh mereka berhimpitan dengan tangan kekarnya Regan yang berada di punggungnya, dan samping kepala Azea yang berada di dada bidang milik Regan.


"Ada satu lagi, yang benar-benar membuat lo bakal hangat," ucap Regan.


Azea menggerakkan kepalanya menatap Regan, dan menaikkan kedua alis matanya.


"Ciuman."


***


Bersambung...