
"Lo lagi, lo lagi!" Azea kesal karena mendapati Regan yang mengikutinya dari belakang.
"Kenapa si?" tanya Azea.
Regan melirik ke arah lain dan menghiraukan Azea yang menatapnya dari depan.
"Ck! Lo tau gak? Gua tuh udah punya pacar, so please, jangan deketin gua lagi, masih banyak cewek diluar sana yang pasti ngantri sama lo." ujar Azea mengungkapkan kekesalannya pada Regan.
"Ya, gua maunya sama lo!"
"Heuh!"
Azea kembali melanjutkan jalannya, meninggalkan Regan dari belakang. Tetapi, tetap saja Regan kembali mengikutinya, tetapi kali ini lebih dekat.
"Zea, lo bisa nggak sih kasih kesempatan sama gua," ucap Regan yang berada di belakang Azea.
Azea berhenti dan membuat Regan menabraknya dari belakang. Azea menoleh ke belakang, membalikkan badannya dan menatap ke arah kepala Regan, dengan mendongak ke atas, karena tubuh Regan terlalu tinggi.
"Gua itu udah punya pacar, denger nggak sih tadi gua ngejelasin?!" tegas Azea.
"Lo, serius nggak mau sama gua?" Regan menghimpit tubuh Azea hingga dia terpojok di gang tembok berbata coklat kemerahan itu.
Gang yang sepi dan jarang orang lewati, membuat Regan tambah berani mendekatkan kepalanya ke arah Azea.
Tubuh Azea kembali berdesir, rasa yang sama seperti saat di lab kimia, jantungnya kembali berdebar saat Regan menatapnya.
Wajah yang tampan itu membuat Azea tak mampu membalas tatapan Regan. "Kenapa si lo nggak ngedengerin gua?" Azea melirihkan suaranya.
"Bibir lo...," ucap Regan dengan menyentuh bibir Azea yang merah muda itu dengan ibu jari tangan kanannya.
"Regan ... Gua nggak bisa ngelakuin ini ke Genta,"
"Boleh gua cium nggak?" tanya Regan yang mengalihkan pembicaraan dan matanya tertuju pada bibir pink kemerahan itu.
"Nggak...," balas Azea.
"Aw!" Regan mengerang, karena tengkuk kaki Azea menendang selangkangannya yang tentu area sensitif para lelaki dan membuat Regan menjauh dari Azea.
"Rasain! Haha." Azea tertawa keras saat Regan mengerang, dia harus menolak Regan, tak boleh geser hatinya selain Genta, harus setia sama Genta.
"Gila lo!"
Azea masih tertawa dengan keras meskipun kini Regan tak mengerang, tapi melihat Azea tertawa seperti itu membuat Regan tersenyum saat melihatnya.
"Cantik... Lo cantik banget kalau lagi ketawa, gua tambah suka."
Mendengar ucapan Regan, membuat Azea berhenti tertawa seketika dan menatap Regan. "Terus kalau gua nggak ketawa, gua nggak cantik? Sialan lo,"
"Eh, bukan gitu maksudnya, astaga,"
Azea terkekeh melihat Regan yang gugup itu. "Udah deh, lo deketin sahabat gua aja, Sisi, dia suka banget sama lo,"
"Nggak, perasaan gua gak bakal berubah sama lo, apalagi pas di lab kimia,"
"Gan, anggap aja itu cuma kesalahan oke? Kita lupain aja," ucap Vania dengan kembali berjalan meninggalkan Regan.
"Ck! Gua nggak bisa!" Regan kembali menarik tangan Azea, hingga Azea kembali terpojok ke tembok berbata itu.
"Lo nggak bisa boong, gua nggak bisa boong, kita sama-sama suka, kita sama-sama menikmatinya." ujar Regan.
"Tapi... Gu-"
'Cuph'
Ya, Regan dengan beraninya mencium bibir Azea yang manis, kenyal, dan berwarna kemerahan itu.
Regan sangat candu akan bibir mungil milik Azea itu.
"Stop...," Azea melepaskan tautannya dengan menggerakan kepalanya kebawah hingga bibir Regan dan bibirnya terlepas.
"Lo, kenapa si... Nggak bisa gitu ngelepas gua seharian aja, please, gua nggak mau selingkuh, gua udah punya pacar."
"Tapi, lo udah selingkuh Zea ... Lo nggak bisa ngelak akan hal itu," ucap Regan.
"Cih! Udah lah jangan bahas itu, sekarang lo bantuin bawain tas gua, sama kresek ini." perintah Azea.
Regan? Tentu saja dia nurut, apalagi sudah jatuh hati kepada Azea. Dia dengan sigap langsung membawakannya demi Azea dan sekarang berjalan ke arah rumah Azea dengan dirinya di belakang dan Azea berjalan di depannya, tanpa mereka berbicara satu kata pun, karena tak ada yang memulainya baik Regan maupun Azea.
***
"Udah, kamu pulang sana," ucap Azea yang sekarang dia dan Regan berada di tepat depan Villanya.
"Ehem, kamu." goda Regan.
"Ish! Sana!" perintah Azea dengan nada yang tinggi.
Pim! Pim!
Sebuah mobil civic berwarna silver masuk ke dalam area Villa tersebut dan membuat Regan dan Azea memandangi mobil tersebut.
"Ish, cepetan pergi sana,"
"Nggak."
Seorang perempuan memakai high heels dan memakai gaun berwarna biru yang teruntai ke bawah, muncul dan keluar dari mobil yang tak lain yaitu ibunya Azea.
"Eh, pacarnya Azea?" Ibunya langsung menanyakan itu ke Regan yang sedang berdiri di samping Azea.
"Iya tante, kenalin saya Regan tan," ucap Regan dengan santai.
"Ih mih! Pacar Azea itu Genta, jahat bisa lupa!" protes Azea.
"Ah? Iya tah? Kok, dia bilang kamu pacarnya?"
"Saya pacar barunya Azea tante, Azea udah putus sama Genta, saya pacar barunya." Regan meraih tangan Anna dan mencium tangan Anna dengan lembut. Anehnya, Anna menerima saja perlakuan Regan terhadapnya dan menerimanya dengan tersenyum.
"Ih!" Azea melepaskan tangan Regan dari tangan Ibunya itu.
"Weh, yaudah masuk dulu, kita makan dulu," ajak Anna kepada Regan dan Azea.
"Regan katanya mau pulang duluan mih, iya kan gan?" Azea menatap Regan dan mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat lalu mencubitnya di bagian pinggangnya.
Regan hanya bergidik saat Azea mencubit pinggangnya dengan menatapnya yang dia akui itu adalah tatapan manis.
"Tante, anak tante manis banget tante... Regan jadi tambah cinta." goda Regan dengan tersenyum kepada Azea dan memegang kedua pipinya.
Azea langsung menepis tangan Regan dan menampilkan senyumnya yang dia buat-buat, dengan perasaan yang sebenarnya kesal.
"Nggak, aku nggak buru-buru kok tante, kita makan malam tante!" Regan sangat antusias akan hal itu.
"Azea, tuh manis banget dia, mamih kayaknya support kamu sama si Regan ini." Anna tersenyum melihat tingkah Regan.
Anna sebenarnya sudah bertemu dengan Genta, tapi hanya sekali karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan bahkan dia lupa wajah Genta seperti apa, karena sudah lama tidak bertemu.
Azea memasang senyum palsunya kepada Regan, dia agak menyesal karena telah membawa Regan ke villanya. Ya, apalagi dia harus menerima itu karena telah membawa Regan ke villanya yang tak disangka Ibunya datang disaat dia dan Regan tiba. Regan tersenyum puas karena dia langkah demi langkah dapat mendekati Azea.
Mereka bertiga masuk ke villa tersebut, dengan Regan yang terus memandangi Azea selagi dia berjalan masuk ke dalam.
***
Bersambung...